Tanya Jawab



Silahkan mengirimkan pertanyaan yang berhubungan dengan agama Islam melalui google form berikut ini. Apabila kami mendapati jawabannya maka insya Allah kami akan menampilkan jawabannya di rubrik Tanya Jawab ini. Kerahasiaan penanya akan dijaga biidznillahi ta'ala

Pertanyaan Keutamaan Qurban


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Hari raya 'Ied 10 Dzulhjjah telah berlalu, dan menyisakan pertanyaan ketika khatib berkhutbah lalu menyampaikan beberapa keutaman tentang qurban,

setelah saya browsing ternyata ada juga yang membuat artikel yang isinya hampir serupa dengan beberapa yang disampaikan oleh khatib di lapangan ketika itu.

Saya jadi bertanya-tanya apakah ini shahih atau tidak???, karena saya tidak pernah mendengar sebelumnya dari ustadz-ustadz yang berfahaman salafush shalih.


yaitu tentang riwayat beberapa ini........mohon pencerahannya. jazaakumullaahukhairan


Keutamaan kurban


Adapun keutamaan menyembelih hewan qurban sebagai berikut:

Pertama, setiap helai (bulu) diperoleh kebajikan, begitu juga dengan darah dan tanduknya. Rasulullah saw bersabda: “Sembelihlah qurban itu dan senangkanlah hatimu karena tidak ada seorang muslimpun yang mengharapkan binatang sembelihannya, melainkan darah binatang, tanduk dan bulunya merupakan kebajikan yang diletakkan pada timbangannya di hari kiamat.” (HR. Baihaki dari Aisyah ra);


Kedua, amalan yang paling disukai Allah swt sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Tidak ada suatu amalan anak Adam di hari nahar yang paling disukai Allah selain dari menyembelih kurban. Kurban itu pada hari kiamat akan datang dengan segala anggotanya, yaitu bulunya, kukunya dan tanduknya. Darahnya sebelum jatuh ke bumi lebih dulu jatuh ke suatu tempat yang telah disediakan Allah, karena itu bergembiralah dirimu dengan kurban itu.” (HR. Turmidzi dan Ibn Majah dari Aisyah ra);


Ketiga, menghapuskan dosa yang lalu, Rasulullah saw bersabda: “Hai Aisyah berikanlah qurbanmu dan saksikanlah,Sesungguhnya Allah akan menghapuskan semua dosamu yang telah lalu melalui tetesan darah kurban pertama kalinya. Aisyah berkata; Apakah itu khusus untuk kita atau untuk orang beriman semuanya. Rasul menjawab untuk kita dan untuk orang beriman umumnya.” (HR. Baihaki dari Aisyah ra).


Keempat, menyelamatkan seseorang dari kejahatan dunia dan akhirat. Rasulullah saw bersanbda: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya qurban itu termasuk amal yang menyelamatkan kamu dari kejahatan di dunia dan akhirat;


Kelima, menjadi kenderaan di akhirat, Allah berfirman: “Pada hari itu Kami giring orang-orang yang bertakwa dengan kenderaan.” Rasulullah saw juga menegaskan: “Perbesarlah qurban kamu karena kurban itu akan menjadi kenderaanmu melewati shiratal mustaqim.”


Keenam, dimintakan ampun kepadanya oleh para malaikat. Saidina Ali pernah mengatakan: “Barang siapa keluar dari rumahnya untuk membeli hewan kurban, maka tiap langkahnya mendapat sepuluh kebaikan dan dihapuskan kejahatan serta diangkat derajatnya sepuluh kali. Tawar menawar harganya adalah tasbih dan harga dari hewan itu untuk setiap dirham mendapat tujuh ratus kebaikan. Dan jika diletakkan di atas tanah untuk dipotong semua makhluk sekitarnya memohon ampun untuk pemiliknya yang berkurban dan setiap tetesan darah diciptakan Allah sepuluh malaikat untuk memohonkan ampun untuknya sampai hari kiamat dan daging yang dibagi bagikan sama nilainya dengan memerdekakan hamba”


Jawaban Redaksi


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Berikut ini beberapa penjelasan singkat mengenai sebagian riwayat yang ditanyakan


Pertama:



مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا.


Tidak ada suatu amalan anak Adam di hari nahar yang paling disukai Allah selain dari menyembelih kurban. Kurban itu pada hari kiamat akan datang dengan segala anggotanya, yaitu bulunya, kukunya dan tanduknya. Darahnya sebelum jatuh ke bumi lebih dulu jatuh ke suatu tempat yang telah disediakan Allah, karena itu bergembiralah dirimu dengan kurban itu.


Hadits ini dikeluarkan oleh imam At-Tirmidzi, Abwabul Adhahi, bab Ma Jaa a fi Babil Udhiyah no.1493 dan dikeluarkan oleh imam Ibnu Majah Kitab Al-Adhohi, bab Tsawab Al-Udhiyah no.3126 . Hadits ini dihukumi lemah oleh syaikh Al-Albani, lih. Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhoifah wal Maudhu'ah 2/14 no.526 dan Dhoif At-Targhib wa At-Tarhib 1/170 no.671



Kedua:

Kami tidak mendapati riwayat yang pas sekali dengan yang ditanyakan, tapi kami mendapati yang mirip dengannya.


يَا فَاطِمَةُ قَوْمِي إِلَى أُضْحِيَّتِكَ فَاشْهَدِيهَا فَإِنَّهُ يُغْفَرُ لَكِ عِنْدَ أَوَّلِ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْ دَمِهَا كُلُّ ذَنْبٍ عَمِلْتِيهِ وَقُولِي: إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهُ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ " قَالَ عِمْرَانُ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا لَكَ وَلِأَهْلِ بَيْتِكِ خَاصَّةً .... أَمْ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً؟ قَالَ: «لَا بَلْ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً»


“Hai Fatimah berdirilah kepada qurbanmu dan saksikanlah,Sesungguhnya Allah akan menghapuskan semua dosamu yang telah lalu melalui tetesan darah kurban pertama kalinya. Dan ucapkanlah: inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin, la syarika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimin. Imran berkata; wahai Rasulullah Apakah itu khusus untuk keluarga anda dan keluarga atau untuk seluruh kaum Muslimin. Rasul menjawab: untuk untuk kaum Muslimin secara umum.


Hadits ini diantara yang mengeluarkannya adalah imam Al-Hakim dalam mustadraknya kitab Al-Adhohi no.7524 . Hadits ini dihukumi Mungkar oleh syaikh Al-Albani lih. Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhoifah wal Maudhu'ah 2/15 no.528


Ketiga:

Berikut ini matan dari riwayat yang ditanyakan:

عظموا ضحاياكم فإنها على الصراط مطاياكم

Besarkanlah hewan-hewan qurban kalian, karena sesungguhnya hewan itu akan menjadi tumpangan kalian di shirath “

Riwayat ini tidak ada sanadnya, Ibnu Shalah berkata: hadits ini tidak dikenal dan tidak ada. Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifah wa Al-Maudhu'ah oleh Al-Albani 1/173

Ada juga riwayat yang lafadznya lain:

استفرهوا ضحاياكم فإنها مطاياكم على الصراط

Pilihlah hewan yang baik untuk qurban kalian, karena sesungguhnya hewan itu akan menjadi tumpangan kalian di shirath

Hadits ini lemah sekali. Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifah wa Al-Maudhu'ah oleh Al-Albani 3/411

Berwudhu Dengan Air Bekas Basuhan Anggota Lain

Bismillahirrahmanirrahim.

Ahsanallaahu ilaika ustadz.


Pertanyaan ana, bolehkah kita mengusap kepala saat wudu dengan bekas air membasuh lengan hingga ke siku tadi, atau harus mengambil air yang baru untuk mengusap kepala ustadz?


Baarakallaah fiik.


Jawaban

Ada perbedaan pendapat di kalangan Ulama' terkait menggunakan air bekas membasuh tangan, kami pribadi condong bahwa pendapat yang kuat adalah mengambil air baru untuk membasuh kepala saat berwudhu . Imam asy-Syafi'i rahimahullahu ta'ala menerangkan dalam kitab al-Umm

ولو مسح رأسه بفضل بلل وضوء يديه أو مسح رأسه ببلل لحيته لم يجزه ولا يجزئه إلا ماء جديد.

Seandainya seseorang membasuh kepalanya dengan air dari kelebihan basahnya kedua tangannya atau membasuh kepalanya dengan sisa basah jenggotnya maka ini tidak boleh dan tidak sah kecuali dengan air yang baru.


حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ حَبَّانَ بْنِ وَاسِعٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ وَأَنَّهُ مَسَحَ رَأْسَهُ بِمَاءٍ غَيْرِ فَضْلِ يَدَيْهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَرَوَى ابْنُ لَهِيعَةَ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ حَبَّانَ بْنِ وَاسِعٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ وَأَنَّهُ مَسَحَ رَأْسَهُ بِمَاءٍ غَيْرِ فَضْلِ يَدَيْهِ وَرِوَايَةُ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ حَبَّانَ أَصَحُّ لِأَنَّهُ قَدْ رُوِيَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ وَغَيْرِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ لِرَأْسِهِ مَاءً جَدِيدًا وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ رَأَوْا أَنْ يَأْخُذَ لِرَأْسِهِ مَاءً جَدِيدًا

Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Khasyram] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Abdullah bin Wahb] berkata, telah menceritakan kepada kami [Amru Ibnul Harits] dari [Habban bin Wasi'] dari [Bapaknya] dari [Abdullah bin Zaid] bahwasanya ia melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berwudlu, beliau mengusap kepalanya dengan air yang bukan kelebihan kedua tangannya." Abu Isa berkata; "Hadits ini derajatnya hasan shahih." [Ibnu Lahi'ah] meriwayatkan hadits ini dari [Habban bin Wasi'], dari [bapaknya], dari [Abdullah bin Zaid], bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berwudlu mengusap kepalanya dengan air yang bukan sisa kedua tangannya." Dan Hadits riwayat 'Amru Ibnul Harits dari Habban lebih shahih, karena diriwayatkan tidak hanya dari satu jalur. Hadits ini dari Abdullah bin Zaid dan selainnya, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengambil air baru untuk mengusap kepalanya. Hadits ini banyak diamalkan oleh kebanyakan ahli ilmu, mereka berpendapat bahwasanya beliau mengambil air baru untuk mengusap kepalanya."[Hadits Tirmidzi Nomor 33]


Pembeli Secara Kredit Menunda Pembayaran

Pertanyaan:

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz, ijin bertanya.

A membeli sepeda kepada B.

Akad nya jual beli di kasih dp dulu, setelah dibawa pulang selama 4bulan tidak ada kejelasan pembayaran, setiap ditagih bilangnya nanti.

Apakah boleh si B berinisiatif meminta kembali sepeda kepada Si A.

Terima kasih

Jawaban

Apabila pembeli sengaja menunda pembayaran meski dia mampu membayar maka tidak masalah mengajukan pembatalan jual beli dengan konsekwensi penjual mengembalikan uang sedangkan pembeli mengembalikan barang.


Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kalau nampak menunda (pembayarannya), maka penjual diperbolehkan membatalkan. Karena sebagian orang yang suka menunda (pembayaran) kondisinya lebih jelek dibandingkan dengan orang fakir. Karena orang fakir terkadang diberi rizki oleh Allah dana, dia akan melunasinya. Sementara orang yang suka menunda kalau itu menjadi kebiasaannya, sangat sulit untuk melunasinya.

Maka yang kuat adalah penjual diperbolehkan membatalkalnya untuk menjaga hartanya. – juga – disamping menjaga dana penjual agar menjadi efek jera bagi orang yang menunda. Karena kalau orang yang menunda mengetahui, jika dia menunda maka penjualannya akan dicensel, maka dia akan berakhlak dan tidak menunda ke depannya.” Selesai dari ‘Syarkh Mumti’, (8/364).

Apabila pembeli memang tidak mampu membayar maka penanya bisa minta kewenangan perwakilan menjualkan dari pembeli kalau sudah terjual maka penjual hanya boleh mengambil senilai sisa hutang yang belum dibayar oleh pembeli, adapun sisanya maka itu wajib dikembalikan kepada pembeli

Keluar Mani Setelah Mandi Besar

Pertanyaan:

Assalamualaikum Ustadz

Terkadang ketika saya buang air kecil, saya mencium bau mani. Apakah saya harus mandi wajib karena itu?

Jawaban:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Apabila maksud penanya adalah setelah penanya mandi junub masih keluar lagi mani bersamaan dengan buang kecil maka ini tidak mewajibkan mandi

Dalam penjelasan kitab Zaadul Mustaqni, Syaikh Utsaimin rahimahulahu ta'ala menerangkan"

( فإن خرج بعده لم يُعِدهُ )

قال الشيخ ابن عثيمين رحمه الله : أي إذا اغتسل لهذا الذي انتقل ( أي المني) ثم خرج مع الحركة فإنه لا يعيد الغسل ، والدليل :

أن السبب واحد ، فلا يوجب غُسلين .

أنه إذا خرج بعد ذلك خرج بلا لذّة ، ولا يجب الغسل إلا إذا خرج بلذّة


Jika setelah itu keluar lagi, maka dia tidak perlu mengulanginya."

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, "Jika seseorang mandi karena keluar mani, kemudian keluar lagi, maka dia tidak mengulangi mandinya, dalilnya karena sebab yang sama tidak mengharuskan dua kali mandi."

Maksudnya bahwa jika setelah itu keluar mani lagi tanpa rasa nikmat, maka dia tidak wajib mandi. Kecuali jika keluar diiringi kenikmatan.

Lihat Syarh Al-Mumti, Ibnu Utsaimin, 1/281.


Shalat Sambil Duduk Karena Takut Kentut


Pertanyaan:

Takut kentut saat sholat bolehkah sambil duduk?

Jawaban

Kalau memang jelas bahwa bila orang tertentu duduk akan menahan kentutnya yang memang susah untuk dikontrol maka boleh ia shalat sambil duduk.

Syaikh Utsaimin rahimahullahu ta'ala menerangkan:

إذا صلى قاعداً انحبست الريح؟ إن كان الأمر كذلك، فليصل قاعداً، وإن كانت لا تنحبس، فلا فائدة من القعود


Jika ia melaksanakan shalat sambil duduk kentutnya tertahan? Jika perkaranya demikian maka hendaknya ia melaksanakan shalat sambil duduk, apabila tidak tertahan maka tidak ada faedahnya duduk.

Takbir Tanpa Pengeras Suara

Pertanyaan

bagaimana hukum islam mengumandangkan takbir di lingkungan mushola tanpa suara keras seperti toa yang dimulai tanggal 1 dzulhijjah sebelum hari raya idul adha tiba ?

Jawaban:

Takbir di hari-hari tertentu di bulan Dzulhijjah tidak harus memakai pengeras suara.

Dalam riwayat yang dibawakan oleh Imam Bukhari rahimahullahu ta'ala disebutkan


,وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: ” وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ: أَيَّامُ العَشْرِ، وَالأَيَّامُ المَعْدُودَاتُ: أَيَّامُ التَّشْرِيقِ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ، وَأَبُو هُرَيْرَةَ: «يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِي أَيَّامِ العَشْرِ يُكَبِّرَانِ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا


Berkata Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ta'ala anhuma, “Dan ingatlah oleh kalian di hari hari yang ditentukkan yaitu hari-hari sepuluh, dan hari-hari yang terbatas yaitu hari-hari tasyriq”, Dan dahulu Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu anhuma keluar ke pasar di hari-hari sepuluh (Dzulhijjah) dan mereka berdua bertakbir, dan orang-orang ikut bertakbir bersama mereka berdua.

Wallahu ta'ala a'lam

Wanita Memberikan Ceramah di Tempat Umum

Bismillahirrahmanirrahim

Ahsanallaahu ilaika ustadz.


Pertanyaan : Apa hukumnya wanita berdakwah dengan suaranya di sosial media ustadz? Semisal audio kajian tanpa menampilkan dirinya.


Baarakallaahu fiik


Jawaban

Suara wanita bukanlah aurat, meski demikian seorang wanita ketika berbicara dengan laki-laki yang bukan mahram tidak boleh berbicara dengan suara genit, direndahkan, dihaluskan, dimanja-manjakan, di merdu-merdukan, atau jenis suara lain yang menggoda laki-laki yang bukan mahram tersebut.

Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa pernah menerangkan:

Suara seorang wanita pada dasarnya bukan aurat, tidak diharamkan untuk mendengarnya, kecuali bila dimerdu-merdukan dan manja dalam bicaranya, maka hal itu diharamkan untuk lelaki yang bukan suaminya dan diharamkan bagi para lelaki untuk mendengarkannya kecuali suaminya berdasarkan firman (Allah) Ta'ala Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga orang yang ada penyakit dalam hatinya berkeinginan, dan ucapkanlah perkataan yang baik


Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Abdullah bin Qu'ud Anggota

Abdullah bin Ghadyan Anggota

Abdurrazzaq `Afifi Wakil Ketua

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Ketua

Fatwa al-Lajnah ad-Daimah 17/203 Pertanyaan Kedua dari Fatwa Nomor 8567

Mereka juga menerangkan:

Wanita adalah objek pemenuhan hajat lelaki, mereka akan cenderung kepada wanita karena adanya naluri syahwat. Maka apabila dia berkata-kata dengan genit, fitnahnya akan bertambah. Karena itulah, Allah memerintahkan orang-orang mukmin agar ketika meminta kepada para perempuan suatu keperluan atau benda, agar melakukannya dari belakang tabir. (Allah) Ta'ala berfirman Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka dan melarang para wanita merendahkan suaranya ketika berbicara dengan lelaki, agar orang yang di hatinya ada penyakit tidak menginginkan mereka. Apabila demikian keadaannya, padahal orang-orang mukmin berada dalam kekuatan dan kemuliaan iman, lalu bagaimana dengan zaman sekarang yang iman sudah melemah dan konsistensi kepada agama sudah minim.


Maka Anda jangan bergaul dengan para lelaki yang bukan mahram, jangan mengobrol dengan mereka kecuali untuk keperluan yang darurat dan tanpa merendahkan dan menghalus-haluskan suara saat berbicara berdasarkan ayat di atas.


Dengan demikian, Anda tahu bahwa hanya sekadar suara yang tidak direndah-rendahkan bukanlah aurat, karena dahulu para wanita berbicara kepada Rasulullah, mereka bertanya tentang permasalahan agama, mereka juga berbicara dengan sahabat untuk keperluan-keperluan mereka, dan hal itu tidak diingkari.


Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Abdullah bin Qu'ud Anggota

Abdullah bin Ghadyan Anggota

Abdurrazzaq `Afifi Wakil Ketua

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Ketua

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 17/204 Pertanyaan keempat dari fatwa nomor 5167

Terkait wanita yang berdakwah dengan suara saja di media sosial maka hal itu bila dilakukan dengan suara tegas dan tidak dengan suara suara yang bisa menggoda laki-laki (sebagaimana yang disebutkan sebagian bentuknya di atas) maka itu tidak apa-apa.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu ta'ala pernah ditanya:

هل يجوز للمرأة أن تخطب في جمع من الناس فيه رجال ونساء، وبواسطة مكبرات الصوت باسم الدين، وتصوير تلك الندوة كما يسمونها بأفلام الفيديو، ويتم توزيعها داخل وخارج البلد، وكل ذلك باسم الدين؟ وهل في الإسلام قاعدة اسمها: الغاية تبرر الوسيلة؟


Apakah boleh bagi seorang wanita untuk menyampaikan ceramah kepada sekelompok orang yang di situ terdapat para laki-laki dan perempuan. Ceramah itu disampaikan menggunakan pengeras suara, dikatakan bahwa itu dilakukan atas nama agama.

Seminar itu divideokan, mereka menamainya film video, video ini didistribusikan di dalam dan di luar negeri. dikatakan bahwa semua itu dilakukan atas nama agama? Apakah dalam Islam ada kaidah yang dinamakan: tujuan menghalalkan cara?

Beliau menjawab:


هذه الخطبة لا حرج فيها، كون المرأة تخطب الناس وتذكر الناس وإن كان فيهم رجال، لا مانع من ذلك بالصوت العادي، لا بالخضوع ولا بصوت آخر منكر كما قال جل وعلا: يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا [الأحزاب:32].

فإذا كانت الخطبة قولاً معروفاً ليس فيه شيء مما يعتبر خضوعاً في القول، والمقصود النصيحة، فقد نصح الصحابيات وغير الصحابيات نصحوا الرجال ونصحوا النساء، والله يقول سبحانه: وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ [التوبة:71]، ويقول سبحانه: وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا [فصلت:33] وهذا يعم الرجال والنساء جميعاً، فإذا خطبت وذكرت ودعت إلى الله فلا بأس بذلك بشرط الصيانة والبعد عن الخلوة بأي رجل من غير محارمها، ومع الحجاب، كل هذا لا بأس به.

أما التصوير فهذا هو الذي ينكر، فإنها لا تصور إلا إذا كان تصويرها وهي مستورة متحجبة في وجهها وكل شيء هذا لا يضر تصويرها، لكن جنس التصوير ينبغي ألا يفعل في هذه المسائل، بل ينبغي أن يسجل سماعاً من دون صورة؛


ceramah ini tidak apa-apa. Seorang wanita memberikan ceramah ke orang-orang dan mengingatkan mereka hukumnya tidak apa-apa meskipun diantara pihak yang diceramahi terdapat para laki-laki, dengan catatan ceramah itu disampaikan dengan suara biasa, tidak disampaikan dengan suara rendahdan tidak pula dengan suara yang mungkar. Sebagaimana difirmankan oleh Allah azza wa jalla



يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ ۚ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا



Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik,

Apabila ceramah terdiri dari ucapan yang ma'ruf, di dalamnya tidak mengandung sesuatu yang dianggap tunduk dalam ucapan. Ceramah ini dimaksudkan untuk memberi nasehat (maka ini boleh.pent).

Para shahabiyat dan selain shahabiyat mereka menasehati para laki-laki dan para wanita, dan Allah telah berfirman:

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar,


وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh,

ayat ini mencakup laki-laki dan perempuan seluruhnya, apabila wanita tersebut memberikan ceramah dan mengingatkan serta mengajak orang-orang kepada Allah maka itu boleh dengan syarat menjaga diri dan jauh dari khalwat dengan lelaki manapun yang bukan mahramnya, wanita itu juga perlu berhijab. ini semua dibolehkan

Adapun memvideokan maka ini yang diingkari, wanita itu tidak boleh divideokan kecuali jika dia dalam keadaan tertutup dan berhijab (termasuk wajahnya ditutup), bila demikian maka boleh divideokan, namun pengambilan video selayaknya tidak dilakukan di masalah semacam ini, selayaknya ini direkam suara saja tanpa gambar...https://binbaz.org.sa/fatwas/6093/حكم-محاضرة-المراة-للرجال-وتصوير-المحاضرة

Apabila suara da'iyah ini dikhawatirkan menimbulkan fitnah bagi para lelaki yang mendengarnya (berdasarkan penelitian) maka bisa dipertimbangkan lagi untuk memperdengarkan suara ceramah hanya untuk para wanita, apabila masih tetap tersebar suaranya di media sosial maka itu di luar tanggung jawab dari da'iyah tersebut.

Wallahu ta'ala a'lam


Puasa Muharram

Bismillahirrahmanirrahim

Semoga Allah senantiasa menjaga ustadz dari bahaya agama dan dunia.


Pertanyaan : Ana pernah mendengar bahwa, kita boleh melakukan saum(puasa) dalam dua bentuk:

Cara pertama : 9 dan 10 Muharram.

Atau

Cara kedua : 10 dan 11 Muharram.


Yang ingin ana tanyakan, manakah yang lebih afdal ustadzy?


Baarakallaahu fiik.


Jawaban


Kalau bisa tiga hari (9,10 dan 11 Muharram) maka itu bagus, kalau cuma bisa dua hari saja maka berpuasa tanggal 9 dan 10 Muharram, kalau bisa hanya sehari maka bisa berpuasa tanggal 10 saja.

Ulama' yang duduk di Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa pernah ditanya:

Apakah puasa hari Asyura itu pada hari kesembilan dan kesepuluh, kesepuluh dan kesebelas atau ketiga hari tersebut semuanya?


Mereka menjawab: Puasa Asyura, yaitu pada hari kesepuluh bulan Muharam, adalah sunah muakad. Lebih bagus lagi, seseorang hendaknya juga berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya sebagaimana telah diajarkan oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam agar berbeda dengan Yahudi. Namun, apabila seseorang berpuasa pada tiga hari tersebut semuanya, maka hal itu lebih sempurna sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu al Qayyim dalam Zadul Ma’ad


Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Bakar Abu Zaid Anggota

Shalih al-Fawzan Anggota

Abdullah bin Ghadyan Anggota

Abdul Aziz Alu asy-Syaikh Wakil Ketua

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Ketua

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 9/310 Pertanyaan Kedua dari Fatwa Nomor 18547


Apakah Perlu Sujud Syukur


Setelah dijauhkan oleh Allah dari perkara yang diinginkan pada saat sholat Istikharah, bolehkah kita sujud syukur karena telah dijauhkan dari sebuah perkara walaupun itu yang diinginkan (karena optimis rencana Allah pasti lebih baik)? Jadi bukan karena kesenangan dimudahkan jalannya

Jawaban

Disunnahkan sujud syukur disebabkan itu. Ulama' yang duduk di Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:

Bagaimana cara sujud syukur dan kapan dianjurkan untuk melakukannya? Apa doa yang dibaca di dalamnya? Kami mohon penjelasan atas hal ini dengan lengkap dan rinci.

Mereka menjawab: Sujud syukur dianjurkan ketika seorang muslim mendapatkan sebuah karunia yang diharapkan dan dinantikan, atau ketika selamat dari sebuah bencana dan sesuatu yang tidak disukai yang telah menimpa hampir mengenai dirinya. Saat dia mengalami salah satu dari kedua kondisi itu, disunnahkan baginya untuk melakukan sujud satu kali kepada Allah sambil mengucapkan tasbih, serta bersyukur atas anugerah yang diraih dan terhindar dari bencana. Untuk melakukan sujud ini tidak disyaratkan harus mengambil wudu terlebih dahulu.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Abdullah bin Ghadyan (Anggota)

Abdurrazzaq Afifi (Wakil Ketua)

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)

Fatwa Nomor: 14216

Wallahu ta'ala a'lam

Mendoakan Saudara Yang Telah Meninggal

Apakah boleh mendoakan secara khusus untuk kakak yg sudah meninggal?


Jawaban

Kalau maksud penanya adalah mendoakan dengan lafadz doa yang biasa (misalnya ya Allah ampunilah saudaraku fulan bin fulan) maka itu tidak apa. Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu ta'ala menerangkan:


لا بأس أن يدعو للميت في الصلاة وفي خارج الصلاة، يقول: اللهم اغفر لي ولوالدي في التحيات، بين السجدتين، في السجود، اللهم اغفر لأخي فلان، اللهم اغفر لشيخي فلان

Tidak apa-apa seseorang mendoakan kebaikan untuk orang yang telah meninggal, baik itu dalam shalat atau di luar shalat. Misalnya ia mengatakan saat tahiyyat, saat duduk diantara dua sujud, saat sujud: "ya Allah ampunilah saya dan kedua orang tua saya" atau ucapan:" ya Allah ampunilah saudara saya fulan, ya Allah ampunilah guru saya fulan". https://binbaz.org.sa/fatwas/17370/حكم-الدعاء-للميت-في-الصلاة

Wallahu ta'ala a'lam


Apakah Dia Mahram

Bismillahirrahmanirrahim

Ahsanallaahu ilaik ustadz.


Pertanyaan : Saya tidak lama ini disampaikan oleh ibu saya bahwa, salah satu dari bibi saya(kakak perempuan ayah saya) qaddarallah merupakan anak hasil pemerkosaan dari nenek saya. Di mana dahulu nenek saya (mohon maaf) diperkosa oleh seseorang sehingga lahir bibi saya yang ini. Artinya, ayah saya dan bibi saya yang ini seibu namun beda bapak. Dari sini saya izin menanyakannya dua pertanyaan ustadz:

1. Apakah ayah saya dan bibi saya ini adalah mahram? Karena mereka beda bapak namun seibu.


2. Apakah anak perempuan dari bibi saya ini mahram kepada ayah saya?


Baarakallaahu fiik.


Jawaban:

الله يحسن إليك


Surat An-Nisa Ayat 23

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَٰتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَٰتُكُمْ وَعَمَّٰتُكُمْ وَخَٰلَٰتُكُمْ وَبَنَاتُ ٱلْأَخِ وَبَنَاتُ ٱلْأُخْتِ وَأُمَّهَٰتُكُمُ ٱلَّٰتِىٓ أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَٰتُكُم مِّنَ ٱلرَّضَٰعَةِ وَأُمَّهَٰتُ نِسَآئِكُمْ وَرَبَٰٓئِبُكُمُ ٱلَّٰتِى فِى حُجُورِكُم مِّن نِّسَآئِكُمُ ٱلَّٰتِى دَخَلْتُم بِهِنَّ فَإِن لَّمْ تَكُونُوا۟ دَخَلْتُم بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَٰٓئِلُ أَبْنَآئِكُمُ ٱلَّذِينَ مِنْ أَصْلَٰبِكُمْ وَأَن تَجْمَعُوا۟ بَيْنَ ٱلْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا


Artinya: Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Syaikh Muhammad bin al-Mukhtar asy-Syinqiti menerangkan tentang siapa saja mahram di kitab Syarh Zad al-Mustaqni':

فالأخت محرم لك سواءً كانت شقيقةً أو كانت لأب أو كانت لأم.

Saudari adalah mahram anda baik itu saudari kandung, saudari seayah dan saudari seibu.

Jadi ayah dan bibi penanya adalah mahram. Anak perempuan dari bibi penanya juga mahram untuk ayah penanya.

Wallahu ta'ala a'lam





Tekanan Keluarga Setelah Muallaf

Assalamualaikum pak uztad, saya wanita mualaf berusia 24 tahun. Saya mengalami kendala dalam sholat karena hidup di tengah keluarga yang non Islam garis keras. Bahkan hampir beberapa waktu saya tak bisa sholat 5 waktu sama sekali. Saya hanya bisa melakukan amalan amalan ringan seperti membaca Alquran, dzikir untuk mengisi hari hari saya dan saya lakukan dengan cara diam diam. Bahkan jika ketahuan kakak saya, saya akan disindir, diolok olok, dan ditertawakan,namun dia pun tidak berani melaporkan kepada orang tua saya dan masih menjaga rahasia saya (pindah keyakinan). Hal itu membuat saya putus asa dalam beribadah. Pertanyaan saya, apakah amalan saya tersebut bisa diterima Allah SWT, disaat saya pun jarang sholat bahkan sama sekali tidak menunaikan ibadah tersebut akibat keterbatasan saya. Saya harus bagaimana pak ustadz? Apakah ada amalan lain

penebus sholat yang besar pahala nya setara di sisi Allah SWT? Terima kasih


Jawaban

Tekanan keluarga ketika seseorang menerima Islam memang diterima oleh sebagian muallaf. Namun tekanan itu jangan sampai membuat penanya dan orang-orang yang baru masuk Islam mundur dan kembali meninggalkan Islam.

Dalam salah satu riwayat shahih disebutkan tentang ibu dari sahabat Sa'ad bin Abi Waqqash yang menentang dengan keras islam Sa'ad bin Abi Waqqash.


حَلَفَتْ أُمُّ سَعْدٍ أَنْ لا تُكَلِّمَهُ أَبَدًا حتَّى يَكْفُرَ بدِينِهِ، وَلَا تَأْكُلَ وَلَا تَشْرَبَ، قالَتْ: زَعَمْتَ أنَّ اللَّهَ وَصَّاكَ بوَالِدَيْكَ، وَأَنَا أُمُّكَ، وَأَنَا آمُرُكَ بهذا، قالَ: مَكَثَتْ ثَلَاثًا حتَّى غُشِيَ عَلَيْهَا مِنَ الجَهْدِ، فَقَامَ ابْنٌ لَهَا يُقَالُ له: عُمَارَةُ، فَسَقَاهَا، فَجَعَلَتْ تَدْعُو علَى سَعْدٍ، فأنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ في القُرْآنِ هذِه الآيَةَ: {وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي} [العنكبوت: 8]، وَفِيهَا {وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا} [لقمان: 15].


“Ummu Sa’d bersumpah untuk tidak berbicara dengan Sa'ad selamanya hingga Sa'ad kembali ke kekafiran dan kufur terhadap Islam. Ia juga tidak mau makan dan minum. Ummu Sa’d berkata : ‘Engkau pasti tahu bahwa Allah telah menyuruhmu untuk berbuat baik kepada kedua orang tuamu. Dan aku adalah ibumu dan aku menyuruhmu untuk itu (kembali kafir dari agama Islam)’. Selama tiga hari Ummu Sa’d hanya diam tidak mau makan dan minum hingga keadaannya sangat kepayahan. Ketika salah seorang anaknya yang bernama ‘Umarah ingin memberinya minum, ia malah mendoakan kecelakaan bagi Sa’d. Hingga Allah ‘azza wa jalla pun menurunkan ayat ini dalam Al-Qur’an : ‘Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku’ – dan diantaranya terdapat ayat : ‘dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik’.

Penanya tetap perlu melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim dengan sembunyi-sembunyi, seperti shalat dan selainnya. Bila perlu penanya keluar rumah supaya tidak diketahui oleh keluarganya sedang melaksanakan kewajiban Islam.

Apabila memungkinkan maka penanya tinggal terpisah dengan keluarganya, bisa dalam rangka sekolah di daerah lain atau dalam rangka bekerja. Bila perlu penanya menghubungi komunitas-komunitas yang membantu para muallaf.

Semoga Allah ta'ala mudahkan penanya untuk melaksanakan Islam tanpa ada gangguan.

Kapan Orang Yang Shalat Sendirian Membaca Bacaan Berikut

Bismillahirrahmanirrahim

Semoga Allah mengistikamahkan ustadz di atas jalan para sahabat.


Izin bertanya ustadz, kapankah seorang yang salat sendirian membaca ucapan 'rabbana lakal hamdu'? Apakah bacaan ini dibaca langsung setelah 'samiallaahuliman hamidah' walaupun badan belum tegak, ataukah pas badan tegak dibaca ustadz?


Baarakallaahu fiik.

Jawaban

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه


Dalam ringkasana kitab Zad al-Mustaqni' (Ibnul Qayyim) disebutkan keterangan yang artinya:

Beliau mengangkat kepala seraya mengucapkan: “Sami’allahu liman hamidah” sambil mengangkat kedua tangan beliau, dan lebih dari tigapuluh rawi yang telah meriwayatkan bahwa beliau mengangkat tangan pada tiga keadaan, salah satunya adalah saat bangun dari ruku’. Dan terdapat sepuluh riwayat yang telah disepakati yang tidak ada satupun riwayat yang bertentangan dengan riwayat tersebut. Maka perbutan ini tetap beliau lakukan hingga meninggal dunia.

Saat sesudah tegak berdiri beliau mengucpkan: “Rabbana wa lakal hamdu” atau “ Rabbana lakal hamdu” atau “Allahumma rabbana lakal hamdu”.


Wallahu ta'ala a'lam

Dipaksa Untuk Mengikuti Metode Hisab

Assalamualaikum Ustadz, semoga Allah senantiasa menjaga anda.


Saya ingin bertanya Ustadz, tahun ini saya selalu menggunakan metode ru'yah untuk penentuan awal puasa dan idul adha. Orang tua saya selalu bersikeras menggunakan metode hisab. Jika saya tidak menggunakan metode hisab seperti yang mereka lakukan, saya diancam bahwa Ayah saya akan keluar dari pekerjaannya dan tinggal berjauhan di luar kota, serta ibu saya tidak menganggap saya sebagai anak yang berbakti. Mereka juga sulit diajak berdiskusi karena bersikeras bahwa metode yang mereka gunakan sudah benar, apalagi mengingat saya masih bersekolah.


Apakah saya harus tetap menggunakan metode ru'yah? Mohon nasihatnya Ustadz.


Jawaban:

Masalah ini adalah masalah yang diperselisihkan. Kami pribadi condong ke penggunaan metode ru'yah.

Ulama' yang duduk di Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa pernah ditanya:

Saya telah melakukan operasi pada bulan Ramadhan dan sekarang ingin mengqada puasa. Perlu diketahui bahwa kaum Muslimin yang ada di kota saya terbagi menjadi dua kelompok: Kelompok pertama sudah menyelesaikan puasa karena mengikuti Saudi dan beberapa negara Islam lain (berpuasa 29 hari), sementara kelompok kedua menyempurnakan bulan (berpuasa 30 hari) karena mengikuti Aljazair. Perlu dicatat bahwa Aljazair menentukan awal dan akhir bulan-bulan Kamariyah dengan menggunakan hisab falak. Pertanyaannya adalah, berapa hari saya harus mengqada puasa? 29 hari atau 30 hari?


Mereka menjawab: Hisab falak tidak dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan. Yang dijadikan sebagai acuan adalah melihat bulan. Oleh karena itu, jika orang-orang belum melihat hilal Ramadhan pada malam 30 Sya'ban, maka mereka harus menyempurnakan Sya'ban menjadi 30 hari, dihitung dari awal Sya'ban. Begitu juga jika mereka belum melihat hilal bulan Syawal pada malam 30 Ramadhan, mereka harus menyempurnakan Ramadhan menjadi 30 hari. Oleh karena itu, Anda harus melaksanakan puasa Ramadhan sebanyak 29 hari untuk mengqadha puasa Ramadhan yang Anda tinggalkan karena operasi, dengan mengikuti negara yang penduduknya mengerjakan puasa karena melihat hilal dan berbuka karena melihat hilal.


Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Abdullah bin Qu'ud

Abdullah bin Ghadyan

Abdurrazzaq Afifi

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 10/108 Fatwa Nomor 3127


Kalau penanya menguatkan pendapat yang menggunakan ru'yah maka penanya bisa berusaha untuk mengamalkan konsekwensinya secara rahasia supaya tidak diketahui oleh orang tua. Kami sarankan juga kepada penanya untuk mengundang Ulama yang disegani oleh orang tua penanya supaya mereka tercerahkan bahwa tidak boleh memaksa anak untuk ikut pendapat sejenis itu

Puasa Dzulhijjah


Pertanyaan:


Kapan dimulainya puasa pada bulan Dzulhijjah? Apakah dari tgl 1 s/d tgl. 9, atau hanya pada tgl 9 saja.



Jawaban:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ


Tidak ada satu hari pun yang Amalan Shaleh dilaksanakan didalamnya yang Allah lebih cintai dari sepeuluh hari ini. HR. Tirmidzi no.757


Maksudnya, amalan shaleh pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah lebih dicintai Allah dari pada amalan shaleh yang dilakukan pada waktu yang lainnya. Dalam hadits ada perkecualian, yaitu orang yang berjihad dengan diri dan hartanya kemudian tidak kembali dengan apapun.


Berdasarkan hadits diatas 10 puasa bulan Dzulhijjah disyariatkan sejak tanggal satu Dzulhijjah dan diakhiri pada tanggal 9 Dzulhijjah, adapun tanggal sepuluh Dzulhijjah maka dia tidak disyariatkan karena itu adalah hari Idul Adha yang memang diharamkan berpuasa.


Jadi penyebutan sepuluh dalam masalah puasa dimaksudkan hanya sembilan hari dimulai dari tanggal satu Dzulhijjah.


Kalau seseorang mampu maka bagusnya dia berpuasa sembilan hari tersebut, kalau seandainya dia hanya mampu pada tanggal sembilan saja maka itu tidak apa-apa. Lihat keterangan syaikh Ibnu Baz dalam bahasa Arab di http://www.binbaz.org.sa/mat/17194


Jam Shalat Terbentur Waktu Berangkat Kerja

Bismillahirrahmanirrahim.

Semoga Allah senantiasa menjaga ustadz dari fitnah agama.


Izin bertanya ustadz, bagaimana hukumnya seorang pekerja shift pagi salat Subuh sebelum masuk waktunya? Pekerja ini akan keluar rumah jam 05.30pagi dengan menaiki bis dan akan tiba di tempat kerjanya kurang lebih jam 06:50 hingga 07:00 pagi, sementara waktu Subuh adalah sekitar jam 06:00pagi. Pertanyaan ana, bolehkah pekerja ini salat sebelum waktu dengan alasan ini? Ataukah dia harus salat di dalam bis atas bagaimana ustadz?


Baarakallaah fiik.

Jawaban:

Aamiin ya Rabbal 'aalamiin wa iyyakum

Hukum asalnya shalat telah ditentukan waktunya oleh Allah ta'ala. Allah Ta’ala berfirman,

إن الصلاة كانت على المؤمنين كتابا موقوتا

“Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” QS. An-Nisaa’: 103.

Oleh karena itu bila memang jam tersebut sudah dipastikan terbit fajar shadiq maka tidak boleh melaksanakan shalat subuh atau shalat fajar sebelum itu.

Untuk mensiasati hal ini maka kami sarankan untuk melaksanakan shalat subuh di kendaraan. Memang Hukum asal sholat diatas kendaraan hanyalah boleh untuk sholat yang tidak wajib, berdasarkan riwayat:

قَالَ ابْنُ عُمَرَ: «وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَبِّحُ عَلَى الرَّاحِلَةِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ، وَيُوتِرُ عَلَيْهَا، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُصَلِّي عَلَيْهَا المَكْتُوبَةَ

Berkata, Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat sunnat diatas tunggangan Beliau ke arah mana saja menghadap dan juga melaksanakan shalat witir di atasnya. Hanya saja Beliau tidak melaksanakan yang demikian untuk shalat wajib". HR. Bukhari no.1098 dan Muslim no.700 lafadz diatas adalah lafadz Bukhari

Meski demikian, beberapa ulama' berpandangan boleh shalat fardhu di kendaraan dalam keadaan tertentu, berikut ini keterangan imam an-Nawawi yang kami terjemahkan:

Ulama' madzhab Syafi'i mengatakan: apabila masuk waktu sholat wajib sedangkan mereka dalam perjalanan dan takut terpisah dari rombongannya atau takut untuk keamanan diri dan hartanya saat berhenti untuk sholat pada waktunya di pemberhentian maka tidak boleh baginya meninggalkan sholat dan membiarkan waktu sholat habis, akan tetapi ia melaksankan sholat di atas kendaraan demi menghormati waktu sholat. Wajib atasnya kala itu untuk mengulangi shalatnya karena ini adalah alasan yang jarang terjadi. Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab 3/242, Dar al-Fikr

Kami pribadi condong kepada pendapat imam Nawawi (rahimahullahu ta'ala) ini sebagai solusi untuk masalah yang penanya hadapi.

Semoga Allah ta'ala mudahkan Penanya dan kaum Muslimin untuk melaksanakan syariat Allah ta'ala


Orang Junub Ingin Membaca Dari Mushaf

بسم الله الرحمن الرحيم

Semoga Allah mengistikamahkan ustadz di atas manhaj salaf.


Ana izin bertanya ustadz, sahkah wudunya orang yang dalam keadaan junub? Misal, seseorang dalam keadaan junub dan ingin membaca Alquran dengan memegang mushaf.


Baarakallaahu fiik.


Jawaban

وفيك بارك الله تعالى

Aamiin ya Rabbal Aalamiin

Apabila maksud penanya adalah junub sebagaimana yang disampaikan oleh syaikh Ibnu Baz rahimahullahu ta'ala berikut:


الجنابة وصف للرجل والمرأة إذا حصل منهما جماع، أو نزول المني بشهوة ولو من غير جماع. والواجب عليهما بذلك: الغسل، كما قال الله : وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا الآية [المائدة: 6]، وقال تعالى في سورة النساء: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا الآية [النساء: 43].


Janabah/junub adalah pensifatan untuk laki-laki dan perempuan jika terjadi hubungan atau keluarnya mani didorong syahwat meski tidak ada hubungan jima'. Keduanya wajib untuk mandi besar disebabkan itu, Allah ta'ala telah berfirman di surat al-Maidah ayat 6 :

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا الآية

Dan jika kalian junub maka mandilah

Allah ta'ala berfirman juga di surat an-Nisa' ayat 43:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian shalat, sedang kalian dalam keadaan mabuk, sehingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kalian dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kalian mandi.

Bila demikian maka tidak boleh memegang mushaf dan membaca al-Qur'an kecuali bila orang yang junub itu sudah mandi besar.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu ta'ala menerangkan yang artinya:

Seorang muslim tidak boleh menyentuh mushaf Al-Qur'an jika dia tidak memiliki wudu. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, pendapat empat Imam mazhab, dan fatwa para sahabat Nabi 'Alaihi ash-Shalatu wa as-Salam. Ada sebuah hadis sahih tentang masalah ini dari Amr bin Hazm Radhiyallahu `Anhu, Bahwasanya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengirim surat kepada penduduk Yaman agar tidak ada menyentuh Al-Quran kecuali orang yang sedang dalam keadaan suci."

Ini adalah hadis baik dengan sanad yang saling menguatkan satu sama lain. Dengan demikian, diketahui bahwa seorang muslim tidak boleh menyentuh mushaf (Al-Qur'an) kecuali jika dia dalam kondisi suci dari hadas besar dan hadas kecil. Begitu juga memindah Al-Qur'an dari satu tempat ke tempat yang lain jika orang yang memindahkannya tidak sedang dalam keadaan suci. Namun, jika seseorang menyentuh atau memindah Al-Qur'an dengan perantara, seperti dengan menggunakan lipatan kain, kaus tangan atau gantungan, maka hukumnya tidak apa-apa. Adapun jika dia menyentuhnya langsung sementara dia tidak sedang dalam keadaan suci, maka menurut pendapat yang benar dan diikuti mayoritas ulama hukumnya tidak boleh seperti yang kami jelaskan sebelumnya.

Mengenai membaca Al-Qur'an, seseorang boleh membaca Al-Qur'an meskipun dia tidak sedang dalam keadaan suci, baik dia membaca dengan hafalan maupun membaca langsung dari mushaf tetapi ada orang yang membantu memegang dan membukakan mushaf untuknya.

Namun, orang yang memiliki hadas besar karena junub tidak boleh mambaca Al-Qur'an karena ada riwayat dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam bahwa tidak ada yang menghalanginya dari membaca Al-Qur'an kecuali janabah. Ada pula riwayat Ahmad dengan sanad "baik" dari Ali Radhiyallahu `Anhu bahwa pada suatu ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam keluar dari WC sambil membaca beberapa ayat Al-Qur'an. Rasulullah kemudian bersabda, "Ini (membaca Al-Qur'an) adalah bagi orang yang tidak sedang junub". Adapun orang yang sedang junub, maka dia tidak boleh (membaca Al-Qur'an) meskipun hanya satu ayat.

Maksudnya adalah bahwa orang yang sedang junub tidak boleh membaca Al-Qur'an, baik langsung dari mushaf maupun dengan menghafal, sampai dia mandi junub. Adapun orang yang berhadas kecil dan tidak sedang junub boleh membaca Al-Qur'an dengan cara menghafal dan tidak boleh menyentuh mushaf. Di sini ada sebuah persoalan yang berhubungan dengan masalah ini, yaitu masalah wanita yang sedang haid dan nifas. Apakah mereka boleh mambaca Al-Qur'an atau tidak boleh? Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang berpendapat bahwa wanita yang sedang haid dan nifas tidak boleh membaca Al-Qur'an seperti halnya orang yang sedang junub. Pendapat kedua mengatakan bahwa wanita yang sedang haid dan nifas boleh membaca Al-Qur'an dengan hafalan tanpa menyentuh mushaf karena masa haid dan nifas sangat lama dan tidak seperti junub.

Hal itu karena orang yang sedang junub bisa langsung mandi dan membaca Al-Qur'an sementara wanita yang sedang haid dan nifas tidak dapat mandi kecuali setelah suci. Oleh karena itu, wanita yang sedang haid dan nifas tidak boleh disamakan dengan orang yang sedang junub berdasarkan alasan di atas. Jadi, yang benar adalah wanita yang sedang haid dan nifas boleh membaca Al-Qur'an dengan menghafal. Inilah pendapat yang paling kuat karena tidak ada dalil yang melarang hal itu.

Sebaliknya, dalil-dalil yang ada membolehkan hal itu. Ada sebuah hadis sahih di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, bahwasanya ia bersabda kepada Aisyah ketika dia haid saat mengerjakan ibadah haji, Lakukan semua yang dilakukan orang yang beribadah haji kecuali bertawaf di sekeliling Ka'bah hingga kamu suci. Orang yang sedang haji boleh membaca Al-Qur'an dan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak mengecualikannya. Hal itu menunjukkan bahwa orang yang haid boleh membaca Al-Qur'an. Rasulullah juga bersabda demikian kepada Asma` binti 'Umais ketika dia melahirkan Muhammad bin Abu Bakar saat dia sedang berada di mikat saat mengerjakan haji wadak. Ini menunjukkan bahwa wanita yang sedang haid dan nifas boleh membaca Al-Qur'an, tetapi dengan tanpa menyentuh mushaf.

Adapun hadis Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, bahwasanya ia bersabda, Seorang yang haid dan junub tidak boleh membaca sedikit pun dari Al-Qur'an adalah hadis daif (lemah) karena dalam sanadnya terdapat Ismail bin 'Ayyasy dari Musa bin 'Uqbah. Sementara itu, para ulama hadis menganggap lemah riwayat Ismail yang berasal dari dari Penduduk Hijaz. Mereka berkata, "Dia adalah orang baik saat meriwayatkan dari penduduk Syam, penduduk negerinya sendiri. Namun, dia daif (lemah) saat meriwayatkan dari penduduk Hijaz," padahal hadis ini dia riwayatkan dari penduduk Hijaz. Dengan demikian, hadis ini riwayatnya daif (lemah). Fatawa Ibnu Baz 4/384

Wallahu ta'ala a'lam


Apakah Wajib Mengikuti Suami Tinggal di Tempat Yang Jauh

Pertanyaan:

Jika suami memaksakan kehendak untuk tinggal bersama di daerah terpencil, sedangkan kami memiliki anak. Apakah saya ttp harus menurutinya?

Jawaban

Suami berhak untuk ditaati oleh istri dalam hal tempat tinggal di suatu daerah selama tidak ada pelanggaran syariat yang terjadi di tempat tinggal tersebut: contoh pelanggarannya adalah bila suami memaksa istri tinggal bersama dengan keluarga suami di kediaman yang tidak membuat nyaman istri seperti bersatunya semua fasilitas keluarga. Termasuk pelanggaran juga bila tempat tinggal yang baru itu berada di daerah yang merusak agama dan akhlak seseorang. Termasuk juga pelanggaran bila saat menikah istri mensyaratkan supaya ia bisa tinggal di tempat tertentu kemudian suami menyetujuinya , maka kala itu suami wajib untuk memegang ucapannya dan memenuhi syarat yang telah diajukan:


Imam Malik menerangkan dalam kitab al Mudawwanah


وللزوج أن يظعن بزوجته من بلد إلى بلد وإن كرهت


Suami berhak pergi bersama istrinya dari suatu negara ke negara lain, meski jika istri tidak menyukai kepergian ini

Apabila terjadi pelanggaran maka istri berhak menolak untuk tinggal di tempat yang diinginkan suami. Wallahu ta'ala a'lam


Mengamalkan Pendapat Lain Karena Was-Was

6/25/2022 22:10:25

Assalamu'alaikum, bila seorang terkena penyakit was was, bolehkah dia mengambil pendapat ulama yg paling ringan untuk sementara hingga was was nya hilang? Jazakumullah khairan.


Jawaban

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Syaikh Utsaimin menerangkan:


أما إذا لم يقم الدليل على وجود شبهة كان ذلك وسواسا وتعمقا, لكن إذا وجد ما يوجب الاشتباه فإن الإنسان مأمور بالورع وترك المشتبه


Jika tidak ada dalil yang mengarahkan ke syubhat maka itu masuk ke dalam masalah was was dan pendalaman ( yang tidak perlu didalami), namun bila ada hal yang memunculkan syubhat maka seseorang diperintahkan untuk bersikap wara' dan meninggalkan hal syubhat. Syarh al-Arbain an-Nawawiah 129

Idealnya kita melawan was-was karena itu tidak didasari oleh dalil dan bukti. Terkait mengamalkan pendapat Ulama' yang paling ringan saat was was. Sebenarnya kita perlu mengamalkan pendapat yang lebih kuat yang diiringi dalil.

Imam Al-Shawkani menerangkan dalam kitab Irsyad al-Fuhul:


وَمَنْ نَظَرَ فِي أَحْوَالِ الصَّحَابَةِ، وَالتَّابِعِينَ، وَتَابِعِيهِمْ، وَمَنْ بَعْدَهُمْ، وَجَدَهُمْ مُتَّفِقِينَ عَلَى الْعَمَلِ بِالرَّاجِحِ، وَتَرْكِ الْمَرْجُوحِ


Dan barang siapa yang melihat keadaan para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka, dan orang-orang yang mengikuti para pengikut tersebut, serta orang-orang setelahnya, dia akan mendapati mereka bersepakat untuk mengamalkan pendapat yang kuat dan meninggalkan pendapat yang lemah.


Dalam Encyclopedia of Fiqh disebutkan:


قَال الزَّرْكَشِيُّ: إِذَا تَحَقَّقَ التَّرْجِيحُ وَجَبَ الْعَمَل بِالرَّاجِحِ، وَإِهْمَال الآْخَرِ، لإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ عَلَى الْعَمَل بِمَا تَرَجَّحَ عِنْدَهُمْ مِنَ الأْخْبَارِ ... اهـ.


Hukum mengamalkan pendapat yang kuat .

Al-Zarkashi berkata: Jika terbukti pendapat yang rajih maka wajib mengamalkan yang rajih, dan mengabaikan yang lain, Ini didasari kesepakatan para Sahabat yang mengamalkan khabar-khabar yang rajih menurut mereka


Bisa jadi pendapat yang lebih kuat itu karakternya lebih ringan dibanding pendapat lain atau bisa juga sebaliknya. Oleh karena itu kami belum bisa memastikan jawaban bila belum memperoleh informasi lengkap kejadian apa yang dialami oleh penanya.

Wallahu ta'ala a'lam

Jika Salah Satu Pasangan Hidup Murtad

6/26/2022 23:52:52

Assalamu'alaikum Ustadz, Saya ingin bertanya:

1.)apa status hubungan suami istri yg salah satunya murtad, tpi tetap tidur sekamar ?

2.)Dan juga kalau pasangan suami istri ini masih berhubungan badan, Apa status hubungan suami istri ini?

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Asy Syairazi Asy Syafi’i berkata dalam Kitabnya at-Tanbih (165):


وإن ارتد الزوجان المسلمان ، أو أحدهما ، قبل الدخول : تعجلت الفرقة

وإن كان بعد الدخول : وقفت الفرقة على انقضاء العدة ، فإن اجتمعا على الإسلام قبل انقضائها: فهما على النكاح, وإن لم يجتمعا قبل انقضاء العدة : حكم بالفرقة


“Jika sepasang suami istri yang muslim atau salah satu dari keduanya yang murtad, sebelum berhubungan suami istri, maka segera untuk dipisahkan.

Namun jika kemutadan tersebut terjadi setelah berhubungan suami istri, maka perpisahan tersebut bergantung pada masa iddah, jika keduanya kembali lagi kepada Islam sebelum berakhirnya masa iddah, maka keduanya masih tetap pada pernikahan sebelumnya. Namun jika mereka belum kembali lagi kepada Islam sampai masa iddah berakhir, maka pernikahannya menjadi batal”.

Ibnu Qudamah –rahimahullah- berkata di dalam Al Mughni (7/174):


فإن ارتد الزوجان معا، فحكمهما حكم ما لو ارتد أحدهما؛ إن كان قبل الدخول تعجلت الفرقة، وإن كان بعده، فهل تتعجل، أو يقف على انقضاء العدة؟ على روايتين. وهذا مذهب الشافعي. قال أحمد، في رواية ابن منصور: إذا ارتدا معا، أو أحدهما، ثم تابا، أو تاب، فهو أحق بها، ما لم تنقض العدة


“Jika sepasang suami istri murtad secara bersamaan, maka hukumnya sama dengan jika salah satu dari keduanya yang murtad, jika kemurtadan itu terjadi sebelum adanya hubungan suami istri, maka pernikahannya segera batal. Namun jika setelah hubungan suami istri, apakah apakah pernikahannya juga batal atau bergantung pada berlalunya masa iddah ? ada dua pendapat. Inilah madzhab Syafi’i. Ahmad berkata dalam riwayat Ibnul Manshur: “

“Jika masing-masing suami istri atau salah satunya menjadi murtad, kemudian bertaubat maka dia yang lebih berhak dengan (istri)nya, selama masa iddahnya belum berlalu”.

Dalam madzhab Hanafi dan Maliki Ulama'nya berpandangan bahwa apabila salah satu pasangan hidup atau keduanya murtad maka nikahnya batal secara otomatis meski sudah melakukan hubungan suami istri ketika masih menjadi suami-istri yang sah. bisa merujuk ke al-Mughni 1/133, al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah 22/198, al-Inshof 8/216, Kasysyaf al-Qina' 5/121, Tuhfatul Muhtaj 7/328, al-Fatawa al-Hindiyah 1/339, Hasyiyah ad-Dasuqi 2/270


Apabila kita mengambil pendapat Ulama' madzhab Hanafi dan Maliki maka persetubuhan yang terjadi setelah talak hukumnya zina, apabila kita merujuk ke pendappat madzhab Syafi'i maka seharusnya orang yang murtad dipisahkan dari pasangannya sampai dia masuk Islam lagi sebelum masa iddah habis

Dalam kitab al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah disebutkan 7/34:

فإذا ارتد أحدهما وكان ذلك قبل الدخول انفسخ النكاح في الحال ولم يرث أحدهما الآخر

وإن كان بعد الدخول : قال الشافعية - وهو رواية عند الحنابلة - حيل بينهما إلى انقضاء العدة , فإن رجع إلى الإسلام قبل أن تنقضي العدة فالعصمة باقية , وإن لم يرجع إلى الإسلام انفسخ النكاح بلا طلاق

Oleh karena itu termasuk kesalahan ketika seseorang murtad kemudian dibiarkan masih tidur bersama dengan pasangannya. Wallahu ta'ala a'lam

Waktu Shalat Subuh

Pertanyaan:

6/27/2022 15:33:57

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Semoga Allah istikamahkan ustadz untuk menjalankan seluruh kewajibannya.


Saya ingin bertanya ustadz, benarkah batas akhir waktu Subuh adalah Syuruk? Biasanya di jadwal waktu salat ada tertulis waktu Subuh jam 5:55 misalnya dan disamping itu ditulis waktu Syuruk jam 7:08 misalnya, maka dalam keadaan ini apakah batas waktu salat Subuh adalah jam 7:08 ustadz?


Baarakallaahu fiik.


Jawaban:

Waktu subuh: mulai sejak terbit fajar yang kedua hingga terbitnya matahari, shalat ini lebih baik disegerakan, dan jumlahnya dua rakaat.

Dari Buraidah radhiyallahu ta'ala anhu dari Nabi ﷺ‬ bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada beliau tentang waktu shalat, beliau berkata padanya: ((Shalatlah bersama kami dua hari ini)), tatkala matahari tergelincir beliau menyuruh Bilal untuk adzan, lalu memerintahkannya agar iqamah untuk shalat dhuhur, kemudian menyuruhnya agar iqamah untuk shalat asar ketika matahari masih tinggi, putih dan cerah, kemudian menyuruhnya iqamah untuk shalat magrib ketika matahari telah tenggelam, kemudian menyuruhnya iqamah untuk shalat isya ketika hilang mega merah, kemudian menyuruhnya iqamah utuk shalat subuh ketika terbit fajar. Pada hari kedua, beliau menyuruhnya shalat dhuhur ketika hari sudah agak sore, dan shalat asar ketika matahari masih tinggi, di mana beliau mengakhirkan pelaksanaan shalat lebih dari hari sebelumnya, dan shalat magrib dilaksanakan sebelum hilangnya mega merah, dan shalat isya' setelah sepertiga malam berlalu, dan shalat subuh setelah suasana agak terang. Kemudian beliau bersabda: ((Di manakah orang yang (sebelumnya) bertanya tentang waktu shalat?)) lalu seseorang berkata: "Saya wahai rasulullah!, beliau bersabda: ((Waktu shalat kalian antara yang kalian lihat)). (HR. Muslim no.613)

Terkait waktu syuruq yang disebutkan oleh penanya, secara bahasa syuruq itu bisa bermakna waktu terbit matahari namun maka kami belum bisa memastikan jam tersebut mengingat kami tidak tahu jadwal yang dimaksud oleh penanya, namun penanya bisa mengecek, bila memang di jam itu matahari terbit berarti memang itu maksudnya adalah waktu matahari terbit.


Putri Menjadi Imam Ibunya

6/26/2022 19:10:58

Bismillahirrahmanirrahim.

Semoga Allah menganugerahi ustadz untuk melihat Wajah Allah kelak

Izin bertanya ustadz, apa hukumnya anak perempuan yang sudah baligh mengimami ibunya dalam salat wajib maupun sunnah? Dan bolehkah posisi safnya si anak di depan dan si ibu di belakang, karena terbatasnya ruang kamar namun di ruang lain masih ada tempat?

Baarakallaahu fiik.

Jawaban

Seorang anak perempuan yang sudah baligh dan bacaannya lebih bagus dari ibunya maka tidak masalah sama sekali mengimami ibunya dalam hadis yang diriwayatkan Muslim (673) dari Abu Mas’ud al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Ia menuturkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda


,يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِنا ، وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ ، وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ“


Yang menjadi imam [shalat] dalam sebuah jamaah adalah orang yang paling baik bacaan al-Qur’annya di antara mereka. Jika kemampuan mereka dalam bacaan al-Qur’an setara maka [yang menjadi imam adalah] orang yang paling menguasai Sunnah di antara mereka. Jika penguasaan mereka terhadap Sunnah juga setara maka [yang menjadi imam adalah] orang yang paling pertama hijrah di antara mereka. Jika waktu hijrah mereka juga semasa maka [yang menjadi imam adalah] orang yang paling tua di antara mereka. Janganlah seseorang menjadi imam atau duduk di atas permadani kebesaran rumah yang dikunjunginya kecuali dengan izin tuan rumah.”

Seorang wanita kalau menjadi imam bagi beberapa wanita dalam satu baris maka wanita yang jadi imam itu berada di bagian tengah dan tidak di depan mereka. Ulama' yang duduk di Komisi tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:

Jika beberapa orang perempuan berkumpul dan saya hafal beberapa ayat Al-Qur'an, bolehkah saya mengimami mereka? Saya pernah membaca bahwa perempuan tidak boleh menjadi imam.


Mereka menjawab: Perempuan boleh melaksanakan salat berjemaah dengan imam perempuan, tetapi tanpa azan dan ikamah karena azan dan ikamah khusus bagi laki-laki. Imam perempuan berdiri di tengah-tengah saf pertama, bukan di depan (tidak seperti cara laki-laki berjemaah).

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Bakar Abu Zaid Anggota

Shalih al-Fawzan Anggota

Abdul Aziz Alu asy-Syaikh Wakil Ketua

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Ketua

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 6/262 Pertanyaan keempat dari fatwa nomor 19136

Apabila penanya hanya berdua dengan putrinya melaksanakan shalat berjamaah, dan putrinya menjadi imam maka si ibu berada di sebelah kanan imam. Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu ta'ala menerangkan:

لا بأس أن تصلي بأمها أو ببناتها جماعة حتى يتعلمن ويستفدن، كل هذا طيب، إن كانت واحدة تكون عن يمينها

Seseorang boleh menjadi imam shalat jamaah untuk ibunya atau makmumnya adalah putri-putrinya sehingga mereka belajar dan mengambil faedah, ini semua baik. Kalau seandainya makmumnya hanya satu maka ia berdiri disamping kanan imam. https://binbaz.org.sa/fatwas/13078/حكم-صلاة-المراة-بامها-وفي-اي-الركعات-ترفع-صوتها

Wallahu ta'ala a'lam

Menelan Sisa Air Wudhu Saat Shalat


6/27/2022 15:39:29

بسم الله الرحمن الرحيم

Semoga Allah menganugerahkan surga Firdaus untuk ustadz.


Pertanyaan ana, apa hukum seorang menelan sisa air wudu kumur-kumurnya tadi ketika salat ustadz?


Baarakallaahu fiik

Jawaban

Apabila maksud penanya adalah sisa air wudhu yang memang sudah tidak bisa dikeluarkan setelah wudhu karena kuantitasnya yang sedikit maka ini tidak membatalkan shalat. Sebagaimana seseorang yang shalat tidak batal shalatnya saat menelan ludah yang memang susah dikeluarkan karena kuantitasnya yang sedikit dan terus muncul.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apa hukum sisa makanan diantara gigi dalam shalat?Maka beliau menjawab, “Terkait sisa makan di gigi, tidak mengapa tetap berasa di antara gigi meskipun seseorang menunaikan shalat. Akan tetapi kalau lepas darinya, jangan ditelan. Terkadang masih ada di antara gigi kemudian setelah beberapa waktu keluar di antara gigi atau terkadang lidahnya menggerakkan dan keluar. Kita katakan, “Ini tidak mengapa akan tetapi jangan ditelan.”


Al-Bahuti rahimahullah mengatakan, “Tidak mengapa menelan sisa makanan yang ada dalam mulutnya tanpa dikunyah atau sisa di antara giginya dari makanan tanpa dikunyah apa yang ada padanya dengan ludahnya dan itu sedikit. Karena hal itu tidak dinamakan makan. Adapun makanan yang tidak masuk bersama ludah bahkan berjalan sendiri dan ia mempunyai bentuk, maka shalatnya batal dengan menelannya.” (Kasyaful Qana’, 1/339).


Terdapat dalam Al-Mausuah Fiqhiyah, 27/124, “Para ulama fikih bersepakat batalnya shalat dengan makan dan minum secara global. Mereka mengecualikan hal itu dengan makanan yang terdapat di antara giginya dan lebih kecil dari biji, maka hal itu tidak membatalkan shalat jika ditelan. Mereka dengan jelas mengatakan rusaknya shalat dengan mengunyah kalau banyak.”

Sesuatu Yang Menghalangi Sampainya Air Wudhu Ke Kulit

Assalamu'alaikum ustadz, bila seorang menemukan penghalang wudhu setelah beberapa saat dia sholat, tetapi dia tidak tahu sama sekali kapan benda itu ada, wajibkah dia mengulang sholat nya?


jawaban

Apabila penanya tidak ingat sama sekali kapan penghalang itu muncul maka kaidahnya adalah kejadian itu diperkirakan ke waktu yang paling dekat. al-Haththab al-Maliki berkata dalam kitab al-Mawahib al-Jalil terkait orang yang mendapati penghalang atau semisalnya setelah dia berwudhu


... وإذا وجد بعد الوضوء وأمكن أن يكون طرأ بعد الوضوء فإنه يحمل على أنه طرأ بعد الوضوء... اهـ.


Apabila seseorang mendapati sesuatu setelah wudhu dan sesuatu itu mungkin mengenai dia setelah wudhu maka itu diperkirakan mengenainya setelah wudhu

Dengan demikian, apabila penanya tidak tahu sama sekali kapan terkena penghalang tersebut maka penghalang di kulit penanya itu diperkirakan mengenai penanya saat penanya sudah berwudhu sehingga dengan begitu penanya tidak perlu mengulangi shalat. Ini dengan catatan bahwa muncul keraguan di satu shalat saja. Wallahu ta'ala a'lam

Puasa Daud dan Puasa Arafah

6/28/2022 13:46:00

bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. semoga Allah memberkahi para Asatidz di Salamdakwah. afwan ustadz ijin bertanya ustadz, jika seseorang mengamalkan sunnah Puasa Daud, apakah masih boleh mengamalkan puasa sunnah lainnya, semisal puasa 9 hari Dzulhijjah atau syawal? kalau dibolehkan, bagaimana prakteknya? jazakumullahu khairan.

Jawaban:

Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuhu

Yang dhohir bentuk penambahan untuk puasa daud ada dua jenis:

Jenis pertama: penambahan yang secara permanen mengubah bentuk puasa daud; Termasuk dalam jenis penambahan ini adalah: puasa pada hari Senin dan Kamis, dan puasa Ayyamul Bidh.Apabila uasa Dawud sudah dilaksanakan maka tidak perlu melaksanakan puasa tambahan seperti ini.

Jenis kedua: tambahan yang tidak mengubah bentuk puasa Daud secara umum, seperti puasa di hari-hari yang jarang dalam setahun seperti puasa Arafah dan pusa Asyura.


Syaikh Khudoir menerangkan


- وهو أفضل الصيام كما جاء في الحديث الصحيح: «صيام داود يصوم يومًا ويُفطر يومًا» [البخاري: 1131]، ...لكن إذا وافق يوم الصوم ما يَحرم صومُه فإنه لا يجوز أن يصوم، ، ويستحب له أن يصوم ما جاء الحث عليه في شرعنا كصوم يوم عرفة ويوم عاشوراء، ولا ينتقض ما اعتمده وقصده من صيام داود؛ لأن الحكم للغالب،



Puasa Daud adalah puasa paling afdhal sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih: "Puasa Daud adalah puasa satu hari dan berbuka satu hari" [Bukhari: 1131]...

Tetapi jika hari puasa Daud bertepatan dengan hari yang diharamkan untuk berpuasa, maka tidak boleh baginya berpuasa,..

Dia dianjurkan untuk berpuasa di hari yang dianjurkan berpuasa di syariat kita seperti puasa Arafah dan puasa Asyura' dan ini tidak bertentangan maksud dia untuk berpuasa Daud karena yang dihukumi adalah untuk yang mayoritas hari...

https://shkhudheir.com/fatawa/2048150465

Wallahu ta'ala a'lam


Mengambil Harta Non Muslim Tanpa Izin Secara Online


Pertanyaan

Bismillah assalamualaikum ustad, ana dulu seorang yg jahil , dan skrg alhamdulillah ana mendapatkan hidayah sunnah dari allah.

Yg mau ana tanyakan, ana dulu pernah mencuri harta orang kafir melalui online, dan ana sdh bertaubat, dan yg ana bingung bagaimana cara mengembalikan harta yg ana curi sewaktu ana melakukan dosa itu, mohon nasihatnya ustad.

Jawaban:

Harta non Muslim yang bukan harbi memiliki kehormatan dan tidak boleh diambil kecuali dengan izinnya. Dalam salah satu hadis shahih ada cerita tentang harta orang kafir yang diambil dengan cara khianat yang tidak diterima oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, berikut ini sebagian riwayatanya:

عن المغيرة بن شعبة أنه كان قد صحب قوماً في الجاهلية ، فقتلهم وأخذ أموالهم ، ثم جاء فأسلم ، فقال النبي صلى الله عليه وسلم : ” أما الإسلام أقبلُ ، وأما المال فلستُ منه في شيء ” ، ورواية أبي داود : ” أما الإسلام فقد قبلنا ، وأما المال فإنه مال غدرٍ لا حاجة لنا فيه

Dari Mughira bin Syu’bah dia menyampaikan bahwa sesungguhnya ketika masa jahiliyyah ia berteman dengan suatu kaum dan suatu waktu ia membunuh mereka dan mengambil harta mereka. Kemudian ia datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan menyatakan ke-Islamannya. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan adapun keislamannya maka kami terima, sementara hartanya kami tidak memiliki urusan apapun dengan itu.

Diriwayatkan oleh Abi Daud dengan bunyi bahwa Rasulullah bersabda: Adapun keIslamannya maka kami terima, namun harta yang dibawanya maka itu adalah harta yang bukan amanah dan kami tidak ada urusan dengan harta itu. (HR Bukhari no. 2583;Abu Daud no.2765)


Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:

Ayah saya bekerja di sebuah perusahaan selama lebih kurang tiga puluh tahun, dan sekarang beliau sudah pensiun. Di perusahaan tersebut, ayah saya bekerja di bagian pertukangan dan pernah mengambil sebagian perkakas milik perusahaan tanpa sepengetahuan mereka. Barang-barang seperti palu, gergaji, bermacam jenis paku, dan banyak lagi yang lainnya, masih tersimpan di rumah kami sampai sekarang. Ayah saya menganggap bahwa tindakannya mengambil semua barang itu adalah halal karena mayoritas pekerja yang terkait dengan tempat itu beragama Yahudi yang terikat kontrak dengan perusahaan. Ayah saya yakin sekali bahwa hal itu tidak masalah. Syekh yang terhormat, mohon beri kami penjelasan segera tentang pertanyaan ini agar saya bisa meyakinkannya. Semoga Allah memberi Anda pahala.


Jawaban:

Ayah Anda wajib mengembalikan semua alat pertukangan itu ke perusahaan, kecuali jika dia sudah mendapat izin. Pengembalian itu wajib dilakukan sekalipun mereka orang-orang kafir. Sebab, mereka telah meminta perlindungan di negara Islam, sehingga harta mereka pun menjadi terlindungi dengan kontrak keamanan tersebut. Harta mereka tidak boleh diambil dengan cara yang tidak benar.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa


Bakar Abu Zaid Anggota

Shalih al-Fawzan Anggota

Abdullah bin Ghadyan Anggota

Abdul Aziz Alu asy-Syaikh Anggota

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Ketua

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 12/37 pertanyaan pertama dari fatwa 17681


Oleh karena itu penanya wajib untuk mengembalikan uang-uang tersebut ke yang didholimi. Kalau memang pengembalian barang tersebut dikhawatirkan menimbulkan masalah besar maka bisa mengembalikan dengan cara yang sifatnya anonim. Syaikh Utsaimin rahimahullahu ta'ala pernah menerangkan:


فإذا سرقتَ من شخصٍ أو من جهة ما سرقة : فإن الواجب عليك أن تتصل بمن سرقت منه وتبلغه وتقول إن عندي لكم كذا وكذا ، ثم يصل الاصطلاح بينكما على ما تصطلحان عليه ، لكن قد يرى الإنسان أن هذا الأمر شاق عليه وأنه لا يمكن أن يذهب – مثلاً – إلى شخص ويقول أنا سرقت منك كذا وكذا وأخذت منك كذا وكذا ، ففي هذه الحال يمكن أن توصل إليه هذه الدراهم – مثلاً – من طريق آخر غير مباشر مثل أن يعطيها رفيقاً لهذا الشخص وصديقاً له ، ويقول له هذه لفلان ويحكي قصته ويقول أنا الآن تبت إلى الله – عز وجل – فأرجو أن توصلها إليه"


Jika Anda mencuri dari seseorang atau dari satu pihak, maka yang harus Anda lakukan adalah menghubungi orang yang hartanya Anda curi kemudian memberitahunya seraya mengatakan bahwa barang begini dan begitu milik anda ada pada saya, maka perjanjian damai antara Anda dengannya didasari atas kesepakatan bersama. tetapi seseorang mungkin berpandangan bahwa seperti ini sulit dilakukan dan dia tidak bisa pergi - Misalnya - kepada seseorang dan dia berkata: Saya mengambil barang ini dan itu dari Anda atau mengatakan saya mencuri barang ini dan itu dari Anda.

Dalam keadaan demikian, maka usahakan dirham ini - misalnya- bisa dikirim kepada dia melalui cara tidak langsung lainnya, seperti dia memberikannya kepada orang yang menyertainya atau ke temannya, seraya berkata kepadanya: Ini untuk si fulan. disertai cerita tentang kisahnya kemudian mengatakan saya sekarang bertobat kepada Allah - azza wa jalla -. Saya berharap Anda akan menyampaikan barang ini kepada dia (pemilik). Fatawa Islamiah 4/162

Apabila memang pemilik dan ahli warisnya tidak bisa ditemukan meski penanya sudah berusaha maksimal maka penanya bisa bersedekah atas nama orang kafir itu. Ulama' yang duduk di Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:



رجل تعامل مع أحد النصارى وبقي للنصراني بعد المعاملة بعض الدنانير عند الرجل ، واختفى هذا النصراني وبقيت الدنانير عند الرجل ، والمشكلة أنه لا يعرف أين يسكن هذا النصراني ولا أين هو ، فأفيدونا - حفظكم الله - ما يفعل الرجل بهذه الدنانير ؟



Seorang pria melakukan muamalah dengan orang kristen, setelah transaksi, beberapa dinar masih tetap ada di tangan pria tersebut, orang kristen ini menghilang sedangkan dinar tersebut masih berada di pria itu, masalahnya adalah dia tidak tahu di mana orang kristen ini tinggal atau di mana dia berada. Berikanlah kami ilmu - semoga Allah menjaga Anda sekalian- apa yang perlu dilakukan oleh laki-laki ini terkait dinar-dinar tersebut:

Mereka menjawab:


الواجب في مثل هذه الحال البحث عن صاحب الحق حتى يؤدي إليه حقه ، وبما أنك لا تعرف مكان عمله ولا إقامته : فإنك تتصدق بهذه الدنانير بالنية عن صاحبها ، فإن جاء إليك يوما يطلب حقه فأخبره بما عملت ، فإن أقره وإلا فادفع إليه حقه ويكون ثواب ما تصدقت به لك


Dalam dalam kasus ini yang harus dilakukan adalah mencari pemilik hak supaya bisa menyerahkan hak kepada pemiliknya. Karena anda tidak mengetahui di mana dia bekerja atau di mana tempat tinggalnya, maka anda mensedekahkan dinar ini atas nama pemiliknya. Jika suatu hari dia datang kepada Anda meminta haknya, katakan padanya apa yang Anda lakukan terkait dinar tersebut. Bila mau maka dia menyetujui perbuatan itu, dan bila dia tidak menyetujui tindakan anda maka anda bayarkan haknya ke dia, dengan begitu pahala sedekah tadi menjadi milik anda.

Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Syaikh Bakr Abu Zaid

Syaikh Abdullah bin Ghadyan

Syaikh Sholeh al-Fauzan

Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh

Syaikh Abdul Aziz bin Baz

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 14/70-71


Wallahu ta'ala a'lam


Takbir Dzulhijjah

7/3/2022 22:27:17

bagaimana hukum islam mengumandangkan takbir di lingkungan mushola tanpa suara keras seperti toa yang dimulai tanggal 1 dzulhijjah sebelum hari raya idul adha tiba ?


Jawaban:

Memakai pengeras suara bukanlah syarat dalam pelaksanaan syariat takbir di tanggal satu sampai 13 Dzulhijjah. Oleh karena itu penanya boleh bertakbir sendiri dengan suara cukup keras di rumah, pasar, jalan dan tempat-tempat lain yang dibolehkan bertakbir di situ. Ini namanya takbir mutlak. Penanya juga boleh secara khusus bertakbir setiap selesai shalat dari habis shalat subuh tanggal 9 Dzulhijjah hingga sehabis shalat Ashar tanggal 13 Dzulhijjah. Dan ini namanya takbir muqoyyad

Syaikh Ibnu Baz menerangkan:Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan orang yang mengikuti petunjuk beliau.


Takbir pada Idul Adha dianjurkan dikumandangkan sejak awal Dzulhijjah hingga akhir tanggal 13. Ini berdasarkan firman Allah Subhanahu, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan Surat al-Haj ayat 28. Maksudnya sepuluh hari.


Dan firman Allah 'Azza wa Jalla, dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang Surat al-Baqarah ayat 203. Yakni hari-hari tasyriq.


Dan berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, "Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari untuk menikmati makan dan minum, serta hari-hari untuk berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla." Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Sahihnya.


Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Sahihnya dengan mengomentari hadis dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma, "bahwa keduanya (Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiyallahu `anhuma) dulu keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama (Dzulhijjah) dan bertakbir. Maka kaum Muslimin pun bertakbir seperti takbir kedua sahabat tersebut."


Umar bin al-Khaththab dan putranya Abdullah radhiyallahu 'anhuma bertakbir pada hari-hari Mina di dalam masjid dan di kemah dan mereka berdua mengeraskan suara hingga takbir terdengar di seantero Mina.


Dan diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan sekelompok sahabat radhiyallahu 'anhum bahwa takbir setelah salat lima waktu dimulai sejak salat Subuh hari Arafah hingga Asar 13 Dzulhijjah. Perbuatan ini adalah untuk orang yang tidak menunaikan haji. Adapun orang yang menunaikan haji dalam kondisi berihram, mereka terus bertalbiah hingga melontar jamrah `aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah. Setelah itu mereka bertakbir. Takbir dimulai sejak awal melontar jamrah tersebut. Jika ia bertakbir di samping bertalbiah juga tidak apa-apa. Ini berdasarkan perkataan Anas radhiyallahu 'anhu, "Dulu seorang bertalbiah pada hari Arafah, tidak ada yang mengingkarinya. Dan seorang bertakbir, tidak ada yang mengingkarinya." Akan tetapi yang lebih utama untuk orang yang sedang berihram adalah bertalbiah, dan untuk orang yang tidak menunaikan haji bertakbir di hari-hari tersebut.

Dengan demikian dapat diketahui bahwa menurut pendapat yang sahih dari perkataan para ulama, takbir secara mutlak dan bersyarat terkumpul pada lima hari, yaitu hari Arafah, hari Idul Adha dan hari-hari Tasyriq. Adapun hari kedelapan dan hari sebelumnya sejak awal Dzulhijjah maka takbir saat itu bersifat mutlak bukan bersyarat. Ini berdasarkan ayat dan hadis-hadis yang telah disebutkan. Di dalam kitab al-Musnad, dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasannya beliau bersabda, "Tiada hari di mana amal saleh paling utama di sisi Allah dan paling dicintai-Nya melebihi sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid pada hari itu". Atau sebagaimana dikatakan oleh Nabi 'alaihi ash- shalatu wa as-salam. Majmu' Fatawa Ibnu Baz 13/18-19



Hukum Haji

6/22/2022 15:12:46

Apa hukum haji

Jawaban

Haji dan Umroh itu wajib bagi orang yang mampu, bagi yang tidak mampu maka jangan meminta harta dari orang lain untuk tujuan itu.

Ulama' yang duduk di Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:

Saya ingin melaksanakan haji dan umrah, namun saya tidak mampu. Mohon petunjuk dan bantuannya jika memungkinkan.

Mereka menjawab :

Jika Anda tidak mampu melaksanakan ibadah haji atau umrah, maka Allah memaklumi dan Anda tidak berdosa. Allah Ta'ala berfirman yang artinya, (Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah).

Dalam firman-Nya tersebut Allah mengaitkan rukun haji dengan kemampuan. Oleh karena itu, orang yang belum mampu tidak diwajibkan haji atau umrah sampai dia memiliki kemampuan untuk menjalankannya. Anda tidak boleh meminta biaya untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah kepada orang lain. Mintalah kepada Allah Ta'ala agar Dia memberikan rezeki yang cukup kepada Anda dan memudahkan jalan ke Baitul Haram. Apabila Allah memberikan rezeki yang cukup dan Anda mampu melaksanakan ibadah haji dan umrah, maka Anda wajib melaksanakan keduanya. Namun jika tidak, maka Anda tidak wajib melaksanakan keduanya. Dalam hal ini Anda dimaklumi.

Alhamdulillah. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Bakar Abu Zaid Anggota

Shalih al-Fawzan Anggota

Abdullah bin Ghadyan Anggota

Abdul Aziz Alu asy-Syaikh Wakil Ketua

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Ketua

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 10/29 Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor:18452

Suami Disuruh Bosnya Untuk Menjemput Wanita Teman Kerjanya Secara Rutin

Assalamualaikum wr.wb

saya izin sharing,,begini suami saya bekerja dari jam 4 sore smpai jam 11 malam di cafe,,bagian cheff,,kemudian dari atasannya menyuruh sebelum masuk kerja jemput karyawan perempuan karena dia ngekost,,dan pulangnya diantarkannya juga...mohon masukan dan arahan..jika menurut agama apakah itu baik atau masi toleransi ?

kemudian apakah saya salah jika menyarankan suami berhenti kerja di tempat itu?

karena posisi itu suami saya sudah berumah tangga dan tman prempuannya masi single

dan antar jemput ini dilakukan setiap hari...

awalnya saya toleransi,,,cuma jadi kepikiran kedepannya,,takut jadi bahan omongan orang atau jadi fitnah

Jawaban:


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Apa yang dilakukan oleh suami penanya dalam bentuk penjemputan dan pengantaran yang berdua saja dengan seorang wanita dalam mobil merupakan kesalahan dan perlu dihindari.

Ulama' yang duduk di Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya: Selama hampir dua bulan saya telah mengantarkan seorang ibu ke sekolahnya dengan mobil pribadi saya dengan gaji yang sudah saya sepakati. Perlu diketahui bahwa suami wanita ini tidak bisa bangkit dari atas ranjangnya, dan selalu masuk rumah sakit. Dia juga tidak mempunyai anak-anak dewasa. Lalu saya mengatakan kepadanya: "Saya ingin Anda ditemani mahram." dia menjawab: "Saya tidak punya mahram." lalu saya mangatakan: " Saya tidak bisa mengantar Anda." Semoga Allah mengampuni saya selama beberapa waktu yang lalu itu. Saya ingin bertanya, apa yang harus saya perbuat berkenaan dengan (pekerjaan) beberapa waktu yang lalu itu, dan berkenaan dengan uang yang telah saya terima darinya, apakah saya harus mengembalikan uang tersebut kepadanya atau bagaimana? Tolong berilah penjelasan kepada kami, semoga Allah memberikan pemahaman kepada Anda sekalian.


Mereka menjawab: Haram hukumnya seorang perempuan naik mobil dengan orang yang bukan mahram, karena terdapat bahaya yang besar dan khalwat (berduaan). Perbuatan ini haram bagi Anda berdua. Anda berdua harus bertaubat dan minta ampun serta tidak mengulangnya kembali. Adapun gaji yang sudah Anda terima dari pekerjaan itu, tidak masalah Anda mengambilnya, karena Anda tidak tahu bahwa pekerjaan itu haram.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Bakar Abu Zaid Anggota

Abdul Aziz Alu asy-Syaikh Anggota

Shalih al-Fawzan Anggota

Abdullah bin Ghadyan Anggota

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Ketua

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 17/65 Fatwa nomor 16768

Oleh karena itu penanya perlu mencegah suaminya melakukan kegiatan yang salah tersebut. Dan suami penanya perlu mengkomunikasikan hal ini dengan baik ke atasannya. Apabila tetap dipaksa maka suami penanya bisa mencari pekerjaan di tempat lain