Tanya Jawab



Silahkan mengirimkan pertanyaan yang berhubungan dengan agama Islam melalui google form berikut ini. Apabila kami mendapati jawabannya maka insya Allah kami akan menampilkan jawabannya di rubrik Tanya Jawab ini. Kerahasiaan penanya akan dijaga biidznillahi ta'ala

Pertanyaan Keutamaan Qurban


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Hari raya 'Ied 10 Dzulhjjah telah berlalu, dan menyisakan pertanyaan ketika khatib berkhutbah lalu menyampaikan beberapa keutaman tentang qurban,

setelah saya browsing ternyata ada juga yang membuat artikel yang isinya hampir serupa dengan beberapa yang disampaikan oleh khatib di lapangan ketika itu.

Saya jadi bertanya-tanya apakah ini shahih atau tidak???, karena saya tidak pernah mendengar sebelumnya dari ustadz-ustadz yang berfahaman salafush shalih.


yaitu tentang riwayat beberapa ini........mohon pencerahannya. jazaakumullaahukhairan


Keutamaan kurban


Adapun keutamaan menyembelih hewan qurban sebagai berikut:

Pertama, setiap helai (bulu) diperoleh kebajikan, begitu juga dengan darah dan tanduknya. Rasulullah saw bersabda: “Sembelihlah qurban itu dan senangkanlah hatimu karena tidak ada seorang muslimpun yang mengharapkan binatang sembelihannya, melainkan darah binatang, tanduk dan bulunya merupakan kebajikan yang diletakkan pada timbangannya di hari kiamat.” (HR. Baihaki dari Aisyah ra);


Kedua, amalan yang paling disukai Allah swt sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Tidak ada suatu amalan anak Adam di hari nahar yang paling disukai Allah selain dari menyembelih kurban. Kurban itu pada hari kiamat akan datang dengan segala anggotanya, yaitu bulunya, kukunya dan tanduknya. Darahnya sebelum jatuh ke bumi lebih dulu jatuh ke suatu tempat yang telah disediakan Allah, karena itu bergembiralah dirimu dengan kurban itu.” (HR. Turmidzi dan Ibn Majah dari Aisyah ra);


Ketiga, menghapuskan dosa yang lalu, Rasulullah saw bersabda: “Hai Aisyah berikanlah qurbanmu dan saksikanlah,Sesungguhnya Allah akan menghapuskan semua dosamu yang telah lalu melalui tetesan darah kurban pertama kalinya. Aisyah berkata; Apakah itu khusus untuk kita atau untuk orang beriman semuanya. Rasul menjawab untuk kita dan untuk orang beriman umumnya.” (HR. Baihaki dari Aisyah ra).


Keempat, menyelamatkan seseorang dari kejahatan dunia dan akhirat. Rasulullah saw bersanbda: “Ketahuilah bahwa sesungguhnya qurban itu termasuk amal yang menyelamatkan kamu dari kejahatan di dunia dan akhirat;


Kelima, menjadi kenderaan di akhirat, Allah berfirman: “Pada hari itu Kami giring orang-orang yang bertakwa dengan kenderaan.” Rasulullah saw juga menegaskan: “Perbesarlah qurban kamu karena kurban itu akan menjadi kenderaanmu melewati shiratal mustaqim.”


Keenam, dimintakan ampun kepadanya oleh para malaikat. Saidina Ali pernah mengatakan: “Barang siapa keluar dari rumahnya untuk membeli hewan kurban, maka tiap langkahnya mendapat sepuluh kebaikan dan dihapuskan kejahatan serta diangkat derajatnya sepuluh kali. Tawar menawar harganya adalah tasbih dan harga dari hewan itu untuk setiap dirham mendapat tujuh ratus kebaikan. Dan jika diletakkan di atas tanah untuk dipotong semua makhluk sekitarnya memohon ampun untuk pemiliknya yang berkurban dan setiap tetesan darah diciptakan Allah sepuluh malaikat untuk memohonkan ampun untuknya sampai hari kiamat dan daging yang dibagi bagikan sama nilainya dengan memerdekakan hamba”


Jawaban Redaksi


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Berikut ini beberapa penjelasan singkat mengenai sebagian riwayat yang ditanyakan


Pertama:



مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا.


Tidak ada suatu amalan anak Adam di hari nahar yang paling disukai Allah selain dari menyembelih kurban. Kurban itu pada hari kiamat akan datang dengan segala anggotanya, yaitu bulunya, kukunya dan tanduknya. Darahnya sebelum jatuh ke bumi lebih dulu jatuh ke suatu tempat yang telah disediakan Allah, karena itu bergembiralah dirimu dengan kurban itu.


Hadits ini dikeluarkan oleh imam At-Tirmidzi, Abwabul Adhahi, bab Ma Jaa a fi Babil Udhiyah no.1493 dan dikeluarkan oleh imam Ibnu Majah Kitab Al-Adhohi, bab Tsawab Al-Udhiyah no.3126 . Hadits ini dihukumi lemah oleh syaikh Al-Albani, lih. Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhoifah wal Maudhu'ah 2/14 no.526 dan Dhoif At-Targhib wa At-Tarhib 1/170 no.671



Kedua:

Kami tidak mendapati riwayat yang pas sekali dengan yang ditanyakan, tapi kami mendapati yang mirip dengannya.


يَا فَاطِمَةُ قَوْمِي إِلَى أُضْحِيَّتِكَ فَاشْهَدِيهَا فَإِنَّهُ يُغْفَرُ لَكِ عِنْدَ أَوَّلِ قَطْرَةٍ تَقْطُرُ مِنْ دَمِهَا كُلُّ ذَنْبٍ عَمِلْتِيهِ وَقُولِي: إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهُ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ " قَالَ عِمْرَانُ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا لَكَ وَلِأَهْلِ بَيْتِكِ خَاصَّةً .... أَمْ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً؟ قَالَ: «لَا بَلْ لِلْمُسْلِمِينَ عَامَّةً»


“Hai Fatimah berdirilah kepada qurbanmu dan saksikanlah,Sesungguhnya Allah akan menghapuskan semua dosamu yang telah lalu melalui tetesan darah kurban pertama kalinya. Dan ucapkanlah: inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin, la syarika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimin. Imran berkata; wahai Rasulullah Apakah itu khusus untuk keluarga anda dan keluarga atau untuk seluruh kaum Muslimin. Rasul menjawab: untuk untuk kaum Muslimin secara umum.


Hadits ini diantara yang mengeluarkannya adalah imam Al-Hakim dalam mustadraknya kitab Al-Adhohi no.7524 . Hadits ini dihukumi Mungkar oleh syaikh Al-Albani lih. Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhoifah wal Maudhu'ah 2/15 no.528


Ketiga:

Berikut ini matan dari riwayat yang ditanyakan:

عظموا ضحاياكم فإنها على الصراط مطاياكم

Besarkanlah hewan-hewan qurban kalian, karena sesungguhnya hewan itu akan menjadi tumpangan kalian di shirath “

Riwayat ini tidak ada sanadnya, Ibnu Shalah berkata: hadits ini tidak dikenal dan tidak ada. Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifah wa Al-Maudhu'ah oleh Al-Albani 1/173

Ada juga riwayat yang lafadznya lain:

استفرهوا ضحاياكم فإنها مطاياكم على الصراط

Pilihlah hewan yang baik untuk qurban kalian, karena sesungguhnya hewan itu akan menjadi tumpangan kalian di shirath

Hadits ini lemah sekali. Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifah wa Al-Maudhu'ah oleh Al-Albani 3/411

Puasa Dzulhijjah


Pertanyaan:


Kapan dimulainya puasa pada bulan Dzulhijjah? Apakah dari tgl 1 s/d tgl. 9, atau hanya pada tgl 9 saja.



Jawaban:

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَا مِنْ أَيَّامٍ العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ العَشْرِ


Tidak ada satu hari pun yang Amalan Shaleh dilaksanakan didalamnya yang Allah lebih cintai dari sepeuluh hari ini. HR. Tirmidzi no.757


Maksudnya, amalan shaleh pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah lebih dicintai Allah dari pada amalan shaleh yang dilakukan pada waktu yang lainnya. Dalam hadits ada perkecualian, yaitu orang yang berjihad dengan diri dan hartanya kemudian tidak kembali dengan apapun.


Berdasarkan hadits diatas 10 puasa bulan Dzulhijjah disyariatkan sejak tanggal satu Dzulhijjah dan diakhiri pada tanggal 9 Dzulhijjah, adapun tanggal sepuluh Dzulhijjah maka dia tidak disyariatkan karena itu adalah hari Idul Adha yang memang diharamkan berpuasa.


Jadi penyebutan sepuluh dalam masalah puasa dimaksudkan hanya sembilan hari dimulai dari tanggal satu Dzulhijjah.


Kalau seseorang mampu maka bagusnya dia berpuasa sembilan hari tersebut, kalau seandainya dia hanya mampu pada tanggal sembilan saja maka itu tidak apa-apa. Lihat keterangan syaikh Ibnu Baz dalam bahasa Arab di http://www.binbaz.org.sa/mat/17194


Jam Shalat Terbentur Waktu Berangkat Kerja

Bismillahirrahmanirrahim.

Semoga Allah senantiasa menjaga ustadz dari fitnah agama.


Izin bertanya ustadz, bagaimana hukumnya seorang pekerja shift pagi salat Subuh sebelum masuk waktunya? Pekerja ini akan keluar rumah jam 05.30pagi dengan menaiki bis dan akan tiba di tempat kerjanya kurang lebih jam 06:50 hingga 07:00 pagi, sementara waktu Subuh adalah sekitar jam 06:00pagi. Pertanyaan ana, bolehkah pekerja ini salat sebelum waktu dengan alasan ini? Ataukah dia harus salat di dalam bis atas bagaimana ustadz?


Baarakallaah fiik.

Jawaban:

Aamiin ya Rabbal 'aalamiin wa iyyakum

Hukum asalnya shalat telah ditentukan waktunya oleh Allah ta'ala. Allah Ta’ala berfirman,

إن الصلاة كانت على المؤمنين كتابا موقوتا

“Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” QS. An-Nisaa’: 103.

Oleh karena itu bila memang jam tersebut sudah dipastikan terbit fajar shadiq maka tidak boleh melaksanakan shalat subuh atau shalat fajar sebelum itu.

Untuk mensiasati hal ini maka kami sarankan untuk melaksanakan shalat subuh di kendaraan. Memang Hukum asal sholat diatas kendaraan hanyalah boleh untuk sholat yang tidak wajib, berdasarkan riwayat:

قَالَ ابْنُ عُمَرَ: «وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَبِّحُ عَلَى الرَّاحِلَةِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ، وَيُوتِرُ عَلَيْهَا، غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يُصَلِّي عَلَيْهَا المَكْتُوبَةَ

Berkata, Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat sunnat diatas tunggangan Beliau ke arah mana saja menghadap dan juga melaksanakan shalat witir di atasnya. Hanya saja Beliau tidak melaksanakan yang demikian untuk shalat wajib". HR. Bukhari no.1098 dan Muslim no.700 lafadz diatas adalah lafadz Bukhari

Meski demikian, beberapa ulama' berpandangan boleh shalat fardhu di kendaraan dalam keadaan tertentu, berikut ini keterangan imam an-Nawawi yang kami terjemahkan:

Ulama' madzhab Syafi'i mengatakan: apabila masuk waktu sholat wajib sedangkan mereka dalam perjalanan dan takut terpisah dari rombongannya atau takut untuk keamanan diri dan hartanya saat berhenti untuk sholat pada waktunya di pemberhentian maka tidak boleh baginya meninggalkan sholat dan membiarkan waktu sholat habis, akan tetapi ia melaksankan sholat di atas kendaraan demi menghormati waktu sholat. Wajib atasnya kala itu untuk mengulangi shalatnya karena ini adalah alasan yang jarang terjadi. Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab 3/242, Dar al-Fikr

Kami pribadi condong kepada pendapat imam Nawawi (rahimahullahu ta'ala) ini sebagai solusi untuk masalah yang penanya hadapi.

Semoga Allah ta'ala mudahkan Penanya dan kaum Muslimin untuk melaksanakan syariat Allah ta'ala


Orang Junub Ingin Membaca Dari Mushaf

بسم الله الرحمن الرحيم

Semoga Allah mengistikamahkan ustadz di atas manhaj salaf.


Ana izin bertanya ustadz, sahkah wudunya orang yang dalam keadaan junub? Misal, seseorang dalam keadaan junub dan ingin membaca Alquran dengan memegang mushaf.


Baarakallaahu fiik.


Jawaban

وفيك بارك الله تعالى

Aamiin ya Rabbal Aalamiin

Apabila maksud penanya adalah junub sebagaimana yang disampaikan oleh syaikh Ibnu Baz rahimahullahu ta'ala berikut:


الجنابة وصف للرجل والمرأة إذا حصل منهما جماع، أو نزول المني بشهوة ولو من غير جماع. والواجب عليهما بذلك: الغسل، كما قال الله : وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا الآية [المائدة: 6]، وقال تعالى في سورة النساء: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا الآية [النساء: 43].


Janabah/junub adalah pensifatan untuk laki-laki dan perempuan jika terjadi hubungan atau keluarnya mani didorong syahwat meski tidak ada hubungan jima'. Keduanya wajib untuk mandi besar disebabkan itu, Allah ta'ala telah berfirman di surat al-Maidah ayat 6 :

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا الآية

Dan jika kalian junub maka mandilah

Allah ta'ala berfirman juga di surat an-Nisa' ayat 43:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقْرَبُوا الصَّلاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلا جُنُبًا إِلا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian shalat, sedang kalian dalam keadaan mabuk, sehingga kalian mengerti apa yang kalian ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kalian dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kalian mandi.

Bila demikian maka tidak boleh memegang mushaf dan membaca al-Qur'an kecuali bila orang yang junub itu sudah mandi besar.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu ta'ala menerangkan yang artinya:

Seorang muslim tidak boleh menyentuh mushaf Al-Qur'an jika dia tidak memiliki wudu. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, pendapat empat Imam mazhab, dan fatwa para sahabat Nabi 'Alaihi ash-Shalatu wa as-Salam. Ada sebuah hadis sahih tentang masalah ini dari Amr bin Hazm Radhiyallahu `Anhu, Bahwasanya Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengirim surat kepada penduduk Yaman agar tidak ada menyentuh Al-Quran kecuali orang yang sedang dalam keadaan suci."

Ini adalah hadis baik dengan sanad yang saling menguatkan satu sama lain. Dengan demikian, diketahui bahwa seorang muslim tidak boleh menyentuh mushaf (Al-Qur'an) kecuali jika dia dalam kondisi suci dari hadas besar dan hadas kecil. Begitu juga memindah Al-Qur'an dari satu tempat ke tempat yang lain jika orang yang memindahkannya tidak sedang dalam keadaan suci. Namun, jika seseorang menyentuh atau memindah Al-Qur'an dengan perantara, seperti dengan menggunakan lipatan kain, kaus tangan atau gantungan, maka hukumnya tidak apa-apa. Adapun jika dia menyentuhnya langsung sementara dia tidak sedang dalam keadaan suci, maka menurut pendapat yang benar dan diikuti mayoritas ulama hukumnya tidak boleh seperti yang kami jelaskan sebelumnya.

Mengenai membaca Al-Qur'an, seseorang boleh membaca Al-Qur'an meskipun dia tidak sedang dalam keadaan suci, baik dia membaca dengan hafalan maupun membaca langsung dari mushaf tetapi ada orang yang membantu memegang dan membukakan mushaf untuknya.

Namun, orang yang memiliki hadas besar karena junub tidak boleh mambaca Al-Qur'an karena ada riwayat dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam bahwa tidak ada yang menghalanginya dari membaca Al-Qur'an kecuali janabah. Ada pula riwayat Ahmad dengan sanad "baik" dari Ali Radhiyallahu `Anhu bahwa pada suatu ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam keluar dari WC sambil membaca beberapa ayat Al-Qur'an. Rasulullah kemudian bersabda, "Ini (membaca Al-Qur'an) adalah bagi orang yang tidak sedang junub". Adapun orang yang sedang junub, maka dia tidak boleh (membaca Al-Qur'an) meskipun hanya satu ayat.

Maksudnya adalah bahwa orang yang sedang junub tidak boleh membaca Al-Qur'an, baik langsung dari mushaf maupun dengan menghafal, sampai dia mandi junub. Adapun orang yang berhadas kecil dan tidak sedang junub boleh membaca Al-Qur'an dengan cara menghafal dan tidak boleh menyentuh mushaf. Di sini ada sebuah persoalan yang berhubungan dengan masalah ini, yaitu masalah wanita yang sedang haid dan nifas. Apakah mereka boleh mambaca Al-Qur'an atau tidak boleh? Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang berpendapat bahwa wanita yang sedang haid dan nifas tidak boleh membaca Al-Qur'an seperti halnya orang yang sedang junub. Pendapat kedua mengatakan bahwa wanita yang sedang haid dan nifas boleh membaca Al-Qur'an dengan hafalan tanpa menyentuh mushaf karena masa haid dan nifas sangat lama dan tidak seperti junub.

Hal itu karena orang yang sedang junub bisa langsung mandi dan membaca Al-Qur'an sementara wanita yang sedang haid dan nifas tidak dapat mandi kecuali setelah suci. Oleh karena itu, wanita yang sedang haid dan nifas tidak boleh disamakan dengan orang yang sedang junub berdasarkan alasan di atas. Jadi, yang benar adalah wanita yang sedang haid dan nifas boleh membaca Al-Qur'an dengan menghafal. Inilah pendapat yang paling kuat karena tidak ada dalil yang melarang hal itu.

Sebaliknya, dalil-dalil yang ada membolehkan hal itu. Ada sebuah hadis sahih di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, bahwasanya ia bersabda kepada Aisyah ketika dia haid saat mengerjakan ibadah haji, Lakukan semua yang dilakukan orang yang beribadah haji kecuali bertawaf di sekeliling Ka'bah hingga kamu suci. Orang yang sedang haji boleh membaca Al-Qur'an dan Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak mengecualikannya. Hal itu menunjukkan bahwa orang yang haid boleh membaca Al-Qur'an. Rasulullah juga bersabda demikian kepada Asma` binti 'Umais ketika dia melahirkan Muhammad bin Abu Bakar saat dia sedang berada di mikat saat mengerjakan haji wadak. Ini menunjukkan bahwa wanita yang sedang haid dan nifas boleh membaca Al-Qur'an, tetapi dengan tanpa menyentuh mushaf.

Adapun hadis Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, bahwasanya ia bersabda, Seorang yang haid dan junub tidak boleh membaca sedikit pun dari Al-Qur'an adalah hadis daif (lemah) karena dalam sanadnya terdapat Ismail bin 'Ayyasy dari Musa bin 'Uqbah. Sementara itu, para ulama hadis menganggap lemah riwayat Ismail yang berasal dari dari Penduduk Hijaz. Mereka berkata, "Dia adalah orang baik saat meriwayatkan dari penduduk Syam, penduduk negerinya sendiri. Namun, dia daif (lemah) saat meriwayatkan dari penduduk Hijaz," padahal hadis ini dia riwayatkan dari penduduk Hijaz. Dengan demikian, hadis ini riwayatnya daif (lemah). Fatawa Ibnu Baz 4/384

Wallahu ta'ala a'lam


Apakah Wajib Mengikuti Suami Tinggal di Tempat Yang Jauh

Pertanyaan:

Jika suami memaksakan kehendak untuk tinggal bersama di daerah terpencil, sedangkan kami memiliki anak. Apakah saya ttp harus menurutinya?

Jawaban

Suami berhak untuk ditaati oleh istri dalam hal tempat tinggal di suatu daerah selama tidak ada pelanggaran syariat yang terjadi di tempat tinggal tersebut: contoh pelanggarannya adalah bila suami memaksa istri tinggal bersama dengan keluarga suami di kediaman yang tidak membuat nyaman istri seperti bersatunya semua fasilitas keluarga. Termasuk pelanggaran juga bila tempat tinggal yang baru itu berada di daerah yang merusak agama dan akhlak seseorang. Termasuk juga pelanggaran bila saat menikah istri mensyaratkan supaya ia bisa tinggal di tempat tertentu kemudian suami menyetujuinya , maka kala itu suami wajib untuk memegang ucapannya dan memenuhi syarat yang telah diajukan:


Imam Malik menerangkan dalam kitab al Mudawwanah


وللزوج أن يظعن بزوجته من بلد إلى بلد وإن كرهت


Suami berhak pergi bersama istrinya dari suatu negara ke negara lain, meski jika istri tidak menyukai kepergian ini

Apabila terjadi pelanggaran maka istri berhak menolak untuk tinggal di tempat yang diinginkan suami. Wallahu ta'ala a'lam


Mengamalkan Pendapat Lain Karena Was-Was

6/25/2022 22:10:25

Assalamu'alaikum, bila seorang terkena penyakit was was, bolehkah dia mengambil pendapat ulama yg paling ringan untuk sementara hingga was was nya hilang? Jazakumullah khairan.


Jawaban

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Syaikh Utsaimin menerangkan:


أما إذا لم يقم الدليل على وجود شبهة كان ذلك وسواسا وتعمقا, لكن إذا وجد ما يوجب الاشتباه فإن الإنسان مأمور بالورع وترك المشتبه


Jika tidak ada dalil yang mengarahkan ke syubhat maka itu masuk ke dalam masalah was was dan pendalaman ( yang tidak perlu didalami), namun bila ada hal yang memunculkan syubhat maka seseorang diperintahkan untuk bersikap wara' dan meninggalkan hal syubhat. Syarh al-Arbain an-Nawawiah 129

Idealnya kita melawan was-was karena itu tidak didasari oleh dalil dan bukti. Terkait mengamalkan pendapat Ulama' yang paling ringan saat was was. Sebenarnya kita perlu mengamalkan pendapat yang lebih kuat yang diiringi dalil.

Imam Al-Shawkani menerangkan dalam kitab Irsyad al-Fuhul:


وَمَنْ نَظَرَ فِي أَحْوَالِ الصَّحَابَةِ، وَالتَّابِعِينَ، وَتَابِعِيهِمْ، وَمَنْ بَعْدَهُمْ، وَجَدَهُمْ مُتَّفِقِينَ عَلَى الْعَمَلِ بِالرَّاجِحِ، وَتَرْكِ الْمَرْجُوحِ


Dan barang siapa yang melihat keadaan para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka, dan orang-orang yang mengikuti para pengikut tersebut, serta orang-orang setelahnya, dia akan mendapati mereka bersepakat untuk mengamalkan pendapat yang kuat dan meninggalkan pendapat yang lemah.


Dalam Encyclopedia of Fiqh disebutkan:


قَال الزَّرْكَشِيُّ: إِذَا تَحَقَّقَ التَّرْجِيحُ وَجَبَ الْعَمَل بِالرَّاجِحِ، وَإِهْمَال الآْخَرِ، لإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ عَلَى الْعَمَل بِمَا تَرَجَّحَ عِنْدَهُمْ مِنَ الأْخْبَارِ ... اهـ.


Hukum mengamalkan pendapat yang kuat .

Al-Zarkashi berkata: Jika terbukti pendapat yang rajih maka wajib mengamalkan yang rajih, dan mengabaikan yang lain, Ini didasari kesepakatan para Sahabat yang mengamalkan khabar-khabar yang rajih menurut mereka


Bisa jadi pendapat yang lebih kuat itu karakternya lebih ringan dibanding pendapat lain atau bisa juga sebaliknya. Oleh karena itu kami belum bisa memastikan jawaban bila belum memperoleh informasi lengkap kejadian apa yang dialami oleh penanya.

Wallahu ta'ala a'lam

Jika Salah Satu Pasangan Hidup Murtad

6/26/2022 23:52:52

Assalamu'alaikum Ustadz, Saya ingin bertanya:

1.)apa status hubungan suami istri yg salah satunya murtad, tpi tetap tidur sekamar ?

2.)Dan juga kalau pasangan suami istri ini masih berhubungan badan, Apa status hubungan suami istri ini?

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Asy Syairazi Asy Syafi’i berkata dalam Kitabnya at-Tanbih (165):


وإن ارتد الزوجان المسلمان ، أو أحدهما ، قبل الدخول : تعجلت الفرقة

وإن كان بعد الدخول : وقفت الفرقة على انقضاء العدة ، فإن اجتمعا على الإسلام قبل انقضائها: فهما على النكاح, وإن لم يجتمعا قبل انقضاء العدة : حكم بالفرقة


“Jika sepasang suami istri yang muslim atau salah satu dari keduanya yang murtad, sebelum berhubungan suami istri, maka segera untuk dipisahkan.

Namun jika kemutadan tersebut terjadi setelah berhubungan suami istri, maka perpisahan tersebut bergantung pada masa iddah, jika keduanya kembali lagi kepada Islam sebelum berakhirnya masa iddah, maka keduanya masih tetap pada pernikahan sebelumnya. Namun jika mereka belum kembali lagi kepada Islam sampai masa iddah berakhir, maka pernikahannya menjadi batal”.

Ibnu Qudamah –rahimahullah- berkata di dalam Al Mughni (7/174):


فإن ارتد الزوجان معا، فحكمهما حكم ما لو ارتد أحدهما؛ إن كان قبل الدخول تعجلت الفرقة، وإن كان بعده، فهل تتعجل، أو يقف على انقضاء العدة؟ على روايتين. وهذا مذهب الشافعي. قال أحمد، في رواية ابن منصور: إذا ارتدا معا، أو أحدهما، ثم تابا، أو تاب، فهو أحق بها، ما لم تنقض العدة


“Jika sepasang suami istri murtad secara bersamaan, maka hukumnya sama dengan jika salah satu dari keduanya yang murtad, jika kemurtadan itu terjadi sebelum adanya hubungan suami istri, maka pernikahannya segera batal. Namun jika setelah hubungan suami istri, apakah apakah pernikahannya juga batal atau bergantung pada berlalunya masa iddah ? ada dua pendapat. Inilah madzhab Syafi’i. Ahmad berkata dalam riwayat Ibnul Manshur: “

“Jika masing-masing suami istri atau salah satunya menjadi murtad, kemudian bertaubat maka dia yang lebih berhak dengan (istri)nya, selama masa iddahnya belum berlalu”.

Dalam madzhab Hanafi dan Maliki Ulama'nya berpandangan bahwa apabila salah satu pasangan hidup atau keduanya murtad maka nikahnya batal secara otomatis meski sudah melakukan hubungan suami istri ketika masih menjadi suami-istri yang sah. bisa merujuk ke al-Mughni 1/133, al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah 22/198, al-Inshof 8/216, Kasysyaf al-Qina' 5/121, Tuhfatul Muhtaj 7/328, al-Fatawa al-Hindiyah 1/339, Hasyiyah ad-Dasuqi 2/270


Apabila kita mengambil pendapat Ulama' madzhab Hanafi dan Maliki maka persetubuhan yang terjadi setelah talak hukumnya zina, apabila kita merujuk ke pendappat madzhab Syafi'i maka seharusnya orang yang murtad dipisahkan dari pasangannya sampai dia masuk Islam lagi sebelum masa iddah habis

Dalam kitab al-Mausu'ah al-Fiqhiyyah disebutkan 7/34:

فإذا ارتد أحدهما وكان ذلك قبل الدخول انفسخ النكاح في الحال ولم يرث أحدهما الآخر

وإن كان بعد الدخول : قال الشافعية - وهو رواية عند الحنابلة - حيل بينهما إلى انقضاء العدة , فإن رجع إلى الإسلام قبل أن تنقضي العدة فالعصمة باقية , وإن لم يرجع إلى الإسلام انفسخ النكاح بلا طلاق

Oleh karena itu termasuk kesalahan ketika seseorang murtad kemudian dibiarkan masih tidur bersama dengan pasangannya. Wallahu ta'ala a'lam

Waktu Shalat Subuh

Pertanyaan:

6/27/2022 15:33:57

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Semoga Allah istikamahkan ustadz untuk menjalankan seluruh kewajibannya.


Saya ingin bertanya ustadz, benarkah batas akhir waktu Subuh adalah Syuruk? Biasanya di jadwal waktu salat ada tertulis waktu Subuh jam 5:55 misalnya dan disamping itu ditulis waktu Syuruk jam 7:08 misalnya, maka dalam keadaan ini apakah batas waktu salat Subuh adalah jam 7:08 ustadz?


Baarakallaahu fiik.


Jawaban:

Waktu subuh: mulai sejak terbit fajar yang kedua hingga terbitnya matahari, shalat ini lebih baik disegerakan, dan jumlahnya dua rakaat.

Dari Buraidah radhiyallahu ta'ala anhu dari Nabi ﷺ‬ bahwasanya ada seseorang yang bertanya kepada beliau tentang waktu shalat, beliau berkata padanya: ((Shalatlah bersama kami dua hari ini)), tatkala matahari tergelincir beliau menyuruh Bilal untuk adzan, lalu memerintahkannya agar iqamah untuk shalat dhuhur, kemudian menyuruhnya agar iqamah untuk shalat asar ketika matahari masih tinggi, putih dan cerah, kemudian menyuruhnya iqamah untuk shalat magrib ketika matahari telah tenggelam, kemudian menyuruhnya iqamah untuk shalat isya ketika hilang mega merah, kemudian menyuruhnya iqamah utuk shalat subuh ketika terbit fajar. Pada hari kedua, beliau menyuruhnya shalat dhuhur ketika hari sudah agak sore, dan shalat asar ketika matahari masih tinggi, di mana beliau mengakhirkan pelaksanaan shalat lebih dari hari sebelumnya, dan shalat magrib dilaksanakan sebelum hilangnya mega merah, dan shalat isya' setelah sepertiga malam berlalu, dan shalat subuh setelah suasana agak terang. Kemudian beliau bersabda: ((Di manakah orang yang (sebelumnya) bertanya tentang waktu shalat?)) lalu seseorang berkata: "Saya wahai rasulullah!, beliau bersabda: ((Waktu shalat kalian antara yang kalian lihat)). (HR. Muslim no.613)

Terkait waktu syuruq yang disebutkan oleh penanya, secara bahasa syuruq itu bisa bermakna waktu terbit matahari namun maka kami belum bisa memastikan jam tersebut mengingat kami tidak tahu jadwal yang dimaksud oleh penanya, namun penanya bisa mengecek, bila memang di jam itu matahari terbit berarti memang itu maksudnya adalah waktu matahari terbit.


Putri Menjadi Imam Ibunya

6/26/2022 19:10:58

Bismillahirrahmanirrahim.

Semoga Allah menganugerahi ustadz untuk melihat Wajah Allah kelak

Izin bertanya ustadz, apa hukumnya anak perempuan yang sudah baligh mengimami ibunya dalam salat wajib maupun sunnah? Dan bolehkah posisi safnya si anak di depan dan si ibu di belakang, karena terbatasnya ruang kamar namun di ruang lain masih ada tempat?

Baarakallaahu fiik.

Jawaban

Seorang anak perempuan yang sudah baligh dan bacaannya lebih bagus dari ibunya maka tidak masalah sama sekali mengimami ibunya dalam hadis yang diriwayatkan Muslim (673) dari Abu Mas’ud al-Anshari radhiyallahu ‘anhu. Ia menuturkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda


,يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِنا ، وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ ، وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ“


Yang menjadi imam [shalat] dalam sebuah jamaah adalah orang yang paling baik bacaan al-Qur’annya di antara mereka. Jika kemampuan mereka dalam bacaan al-Qur’an setara maka [yang menjadi imam adalah] orang yang paling menguasai Sunnah di antara mereka. Jika penguasaan mereka terhadap Sunnah juga setara maka [yang menjadi imam adalah] orang yang paling pertama hijrah di antara mereka. Jika waktu hijrah mereka juga semasa maka [yang menjadi imam adalah] orang yang paling tua di antara mereka. Janganlah seseorang menjadi imam atau duduk di atas permadani kebesaran rumah yang dikunjunginya kecuali dengan izin tuan rumah.”

Seorang wanita kalau menjadi imam bagi beberapa wanita dalam satu baris maka wanita yang jadi imam itu berada di bagian tengah dan tidak di depan mereka. Ulama' yang duduk di Komisi tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:

Jika beberapa orang perempuan berkumpul dan saya hafal beberapa ayat Al-Qur'an, bolehkah saya mengimami mereka? Saya pernah membaca bahwa perempuan tidak boleh menjadi imam.


Mereka menjawab: Perempuan boleh melaksanakan salat berjemaah dengan imam perempuan, tetapi tanpa azan dan ikamah karena azan dan ikamah khusus bagi laki-laki. Imam perempuan berdiri di tengah-tengah saf pertama, bukan di depan (tidak seperti cara laki-laki berjemaah).

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Bakar Abu Zaid Anggota

Shalih al-Fawzan Anggota

Abdul Aziz Alu asy-Syaikh Wakil Ketua

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Ketua

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 6/262 Pertanyaan keempat dari fatwa nomor 19136

Apabila penanya hanya berdua dengan putrinya melaksanakan shalat berjamaah, dan putrinya menjadi imam maka si ibu berada di sebelah kanan imam. Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu ta'ala menerangkan:

لا بأس أن تصلي بأمها أو ببناتها جماعة حتى يتعلمن ويستفدن، كل هذا طيب، إن كانت واحدة تكون عن يمينها

Seseorang boleh menjadi imam shalat jamaah untuk ibunya atau makmumnya adalah putri-putrinya sehingga mereka belajar dan mengambil faedah, ini semua baik. Kalau seandainya makmumnya hanya satu maka ia berdiri disamping kanan imam. https://binbaz.org.sa/fatwas/13078/حكم-صلاة-المراة-بامها-وفي-اي-الركعات-ترفع-صوتها

Wallahu ta'ala a'lam

Menelan Sisa Air Wudhu Saat Shalat


6/27/2022 15:39:29

بسم الله الرحمن الرحيم

Semoga Allah menganugerahkan surga Firdaus untuk ustadz.


Pertanyaan ana, apa hukum seorang menelan sisa air wudu kumur-kumurnya tadi ketika salat ustadz?


Baarakallaahu fiik

Jawaban

Apabila maksud penanya adalah sisa air wudhu yang memang sudah tidak bisa dikeluarkan setelah wudhu karena kuantitasnya yang sedikit maka ini tidak membatalkan shalat. Sebagaimana seseorang yang shalat tidak batal shalatnya saat menelan ludah yang memang susah dikeluarkan karena kuantitasnya yang sedikit dan terus muncul.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apa hukum sisa makanan diantara gigi dalam shalat?Maka beliau menjawab, “Terkait sisa makan di gigi, tidak mengapa tetap berasa di antara gigi meskipun seseorang menunaikan shalat. Akan tetapi kalau lepas darinya, jangan ditelan. Terkadang masih ada di antara gigi kemudian setelah beberapa waktu keluar di antara gigi atau terkadang lidahnya menggerakkan dan keluar. Kita katakan, “Ini tidak mengapa akan tetapi jangan ditelan.”


Al-Bahuti rahimahullah mengatakan, “Tidak mengapa menelan sisa makanan yang ada dalam mulutnya tanpa dikunyah atau sisa di antara giginya dari makanan tanpa dikunyah apa yang ada padanya dengan ludahnya dan itu sedikit. Karena hal itu tidak dinamakan makan. Adapun makanan yang tidak masuk bersama ludah bahkan berjalan sendiri dan ia mempunyai bentuk, maka shalatnya batal dengan menelannya.” (Kasyaful Qana’, 1/339).


Terdapat dalam Al-Mausuah Fiqhiyah, 27/124, “Para ulama fikih bersepakat batalnya shalat dengan makan dan minum secara global. Mereka mengecualikan hal itu dengan makanan yang terdapat di antara giginya dan lebih kecil dari biji, maka hal itu tidak membatalkan shalat jika ditelan. Mereka dengan jelas mengatakan rusaknya shalat dengan mengunyah kalau banyak.”