Fawaid Ilmiah


Hukum Mempelajari Salah Satu Madzhab

Syeikh Abdul Karim Al Khudhair berkata:


ولا بأس بتعلّم الفقه على مذهب من المذاهب الأربعة بشرط أن يتّبع الدليل إذا تبيّن له أنّ المذهب مخالف للدليل في مسألة ما من المسائل لأن طاعة الله ورسوله مقدّمة على طاعة كلّ احد وكذلك أن يتأدّب مع المدارس الفقهية الأخرى ولا يحمله التعصّب لمذهبه على مخاصمتهم بل يجعل الحقّ رائده ويحترم أقوال العلماء واجتهاداتهم وتكون طريقته المباحثة بالأدب للوصول إلى الحقّ والمناصحة بالحسنى للمخالفين إذا تبيّن له أنهم على خطأ

ومن الخطأ أن يرفض القادر على التعلّم أن يتعلّم بحجّة أنّ العلماء وحدهم هم القادرون على فهم الأدلّة ، ونحن لا نقول لمن لا يستطيع الاجتهاد أن يستنبط من النصوص ويجتهد وليس عنده مَلَكَة ولا آلة الاجتهاد وإلا عمّت الفوضى ، ولكن نقول له إذا كنت ذا فهم فاعرف على الأقلّ ما هي حجّة إمامك وما دليله كي ترتبط بالقرآن والسنّة وتكون متّبعا على بصيرة لا مقلّدا إمّعة . والله الموفّق والهادي إلى سواء السبيل



Tidak masalah untuk memperlajari salah satu madzhab dari 4 madzhab yang ada, dengan syarat tetap mengikuti dalil; jika nampak baginya bahwa madzhab tersebut bertentangan dengan dalil pada permasalahan tertentu; karena taat kepada Allah dan Rasul-Nya lebih didahulukan dari pada taat kepada siapapun, demikian juga hendaknya berlaku santun pada madrasah-madrasah fikih yang lain, dan tidak terbawa dengan ta’ashub (fanatik) madzhabnya guna memusuhi mereka, akan tetapi hendaknya menjadikan kebenaran sebagai panglima, dan menghormati pendapat para ulama, dan hasil ijtihad mereka, dan hendaknya cara mengkajinya dengan penuh kesopanan untuk bisa sampai kepada kebenaran, saling menasehati dengan cara yang baik bagi mereka yang menyimpang, jika mereka memang mempunyai kesalahan.

Termasuk kesalahan, jika seseorang yang mampu untuk belajar namun tidak mau melaksanakannya dengan alasan bahwa para ulama saja yang mampu memahami dalil-dalil. Kami tidak berkata kepada seseorang yang tidak mampu berijtihad agar menyimpulkan masalah dari nash-nash yang ada, dan melakukan ijtihad namun tidak memiliki kemampuan untuk itu, dan tidak menguasai alat berijtihad, kalau dia tetap melakukannya maka kerancuan yang akan menyebar kemana-mana, akan tetapi kami katakan kepadanya: “Jika anda mampu memahami maka kenalilah minimal apa yang menjadi alasan dari imam anda, dan apa dalilnya ?, agar anda tetap terikat dengan al Qur’an dan Sunnah, maka anda juga akan menjadi seorang muttabi’ dengan penuh kejelasan, dan tidak sebagai muqallid yang selalu meniru. Semoga Allah selalu memberikan taufik dan memberi petunjuk ke jalan yang lurus.


Masing-Masing Orang Yang Berserikat Dalam Sapi Kurban Meniatkan Pahala Untuk Keluarga Masing-Masing


Syaikh Ibnu Baz pernah ditanya:




السؤال: هذه رسالة وردتنا من النماص من سعد الشهري ، يقول في رسالته: نحن في منطقة الجنوب بعضنا يضحي ببقر، أي: كل سبعة أشخاص يشترون بقرة ويضحون بها، أي كل واحد منهم يأخذ سبع هذه البقرة، عنه وعن أهل بيته منذ قديم الزمان، وفي هذا العام قال بعض القضاة: إن البقرة لا يجوز أن يضحي بها؛ لأنها لا تضحي إلا عن سبعة أشخاص، دون عوائلهم، فأرجو إرشادنا في هذا الأمر، هل السبع من البقرة يضحي عن الرجل وأهل بيته، أم وحده دون أهله؟ ولكم منا جزيل الشكر؟




Pertanyaan: Ini adalah pesan yang kami terima dari Al-Namas dari Saad Al-Shehri, dia mengatakan dalam pesannya: Kami berada di wilayah selatan, beberapa dari kami mengorbankan sapi, artinya: setiap tujuh orang membeli seekor sapi dan mengorbankannya, Artinya masing-masing dari mereka mengambil sepertujuh dari sapi ini, atas nama dirinya dan keluarganya sejak zaman dahulu. Tahun ini, beberapa hakim berkata: Tidak boleh sapi dikorbankan. Karena kurbannya hanya atas nama tujuh orang, tidak termasuk keluarganya, maka mohon petunjuknya dalam hal ini, apakah kurban tujuh ekor sapi atas nama satu orang dan keluarganya, atau sendirian tanpa keluarganya? terima kasih kami yang sebesar-besarnya kepada Anda?




الجواب: قد صح عن النبي عليه الصلاة والسلام أن أمر بالاشتراك في البدنة والبقرة عن سبعة، فإذا أجزأت عن سبعة من الناس، في الضحايا والهدايا، فهكذا يجوز للرجل أن يجعل السبع الذي يذبحه عن نفسه، يكون عنه وعن أهل بيته؛ لأن الرجل وأهل بيته كالشيء الواحد، فلا أرى بأساً في ذلك، حتى يكون السبع عنه وعن أهل بيته، ولا حرج في ذلك



Jawaban: Telah diriwayatkan secara shahih dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau memerintahkan tujuh orang berserikat pada qurban unta dan sapi, jika itu mencukupi untuk tujuh orang pada kegiatan qurban dan hadiah, maka diperbolehkan untuk seorang laki-laki untuk menjadikan sepertujuh yang dia qurbankan untuk dirinya dan untuk keluarganya; Karena seorang dan keluarganya adalah seperti satu bagian, jadi saya tidak melihat ada yang salah dengan itu, sehingga sepertujuh itu pahalanya untuk dia dan keluarganya, dan tidak ada yang salah dengan itu.

https://binbaz.org.sa/fatwas/6010/اجزاء-سبع-البقرة-عن-المضحي-واهله



Bahaya Homoseksual

Ulama' yang duduk di Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa pernah ditanya :

Tidak diragukan lagi bahwa kaum Luth telah melakukan perbuatan yang paling keji (homoseksualitas). Apakah pelaku dosa besar seperti ini diterima tobatnya jika belum dikenakan hukum had? Apakah pelaksanaan hukum had menjadi syarat agar seseorang dinyatakan benar-benar bertobat? Pelaku dosa besar (sodomi) ini adalah orang fasik, lalu apakah tobat dapat menghapus kefasikan? Apakah masih ada kemungkinan bagi orang yang melakukan homoseksualitas dan dosa besar lainnya untuk mendapatkan predikat takwa? Apa yang harus dilakukan jika pelaku tinggal di negara yang tidak menerapkan hukum had? Apa solusi bagi seseorang yang menderita disorientasi seksual (kecenderungan suka sesama jenis) sejak kecil, sementara usianya saat ini hampir mencapai dua puluh tahun? Apa hukum had yang sesuai untuk perbuatan dosa besar seperti homoseksualitas, terutama jika seseorang bertindak sebagai pelaku pasif (yang disetubuhi) dan aktif (yang menyetubuhi)? Ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa hukum had bagi pelaku sodomi diserahkan kepada hakim karena tidak ada dalil yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan tidak ada kesamaan pendapat dari para Khulafa` ar-Rasyidin? Mohon beri kami fatwa atas hal ini, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan dan membimbing langkah Anda.



Mereka menjawab:

Pertama, kaum muslimin telah berijma bahwa tindakan sodomi termasuk dosa besar yang telah Allah haramkan dalam Al-Quran. Allah Ta'ala berfirman, Mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia,(165) dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas (yakni keluar dari batas halal dan memilih untuk melakukan perbuatan haram)


Ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Nasa`i dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Allah tidak akan melihat (dengan pandangan rahmat) seorang lelaki yang melakukan hubungan seksual sesama lelaki, atau yang menggauli istrinya melalui anus."


Kedua, pintu tobat selalu terbuka bagi semua pelaku maksiat bahkan kafir sekalipun hingga matahari terbit dari barat (Hari Kiamat).


Syarat tobat atas pelanggaran terhadap hak Allah adalah berhenti dari perbuatan dosa, menyesali dosa yang telah lalu, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Pelaksanaan hukum had tidak termasuk dalam syarat tobat. Allah Ta'ala berfirman, Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya". dan Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.


Ketiga, sebaiknya seseorang yang jatuh dalam perbuatan maksiat berupaya untuk menutupi dan tidak mengumbar dosanya dengan tirai Allah. Ia harus meminta ampun dan bertobat kepada Allah dengan tulus. Sebab, ada hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi "Jauhilah perbuatan-perbuatan keji yang dilarang Allah. Barangsiapa melakukannya, maka hendaklah ia bersembunyi dengan tirai Allah dan bertobat kepada-Nya, karena sesungguhnya orang yang tampak catatan kesalahannya kepada kami, maka kami akan terapkan hukum Allah atasnya." Menurut adz-Dzahabi, sumber hadis tersebut adalah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.


Hukum had dalam syariat atas tindakan kriminal ini dikembalikan kepada hakim syar'i. Ia yang memiliki kewenangan untuk memutuskannya berdasarkan aturan dan kondisi terkait. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Abdullah bin Ghadyan Anggota

Abdullah bin Qu'ud Anggota

Abdurrazzaq Afifi Wakil Ketua

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Ketua

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/349-350 Fatwa Nomor 7803


Mengamalkan Perkataan Yang Marjuh Boleh Dalam Keadaan Tertentu

الأصل وجوب العمل بالقول الراجح، وعدم العمل بالقول المرجوح، لمن علم أنه مرجوح، قال الشوكاني في إرشاد الفحول: وَمَنْ نَظَرَ فِي أَحْوَالِ الصَّحَابَةِ، وَالتَّابِعِينَ، وَتَابِعِيهِمْ، وَمَنْ بَعْدَهُمْ، وَجَدَهُمْ مُتَّفِقِينَ عَلَى الْعَمَلِ بِالرَّاجِحِ، وَتَرْكِ الْمَرْجُوحِ ... اهـ

وجاء في الموسوعة الفقهية: حُكْمُ الْعَمَل بِالْمَرْجُوحِ.

قَال الزَّرْكَشِيُّ: إِذَا تَحَقَّقَ التَّرْجِيحُ وَجَبَ الْعَمَل بِالرَّاجِحِ، وَإِهْمَال الآْخَرِ، لإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ عَلَى الْعَمَل بِمَا تَرَجَّحَ عِنْدَهُمْ مِنَ الأْخْبَارِ ... اهـ

لكن إذا كان في العمل بالقول المرجوح دفع مضرة، أو حرج، أو تحقيق مصلحة معتبرة شرعًا، فقد ذكر أهل العلم جوازَ العمل به حينئذ، جاء في فتاوى الشيخ محمد بن إبراهيم -رحمه الله تعالى-: إذا ثبتت الضرورة، جاز العمل بالقول المرجوح نظرًا للمصلحة، ولا يتخذ هذا عامًّا في كل قضية، بل الضرورة تقدر بقدرها، والحكم يدور مع علته وجودًا وعدمًا ... اهـ

وقال أيضًا: المسأَلة الخلافية إِذا وقعت فيها الضرورة ... جاز للمفتي أَن يأْخذ بالقول الآخر من أَقوال أَهل العلم، الذي فيه الرخصة. اهـ

وقال أيضًا: إذا كان قول مرجوح، وهو الأغلظ لسد باب الشر، فإنه تسوغ الفتوى به. اهـ

وقال بعض أهل العلم أيضًا: إنه يجوز للمقلد أن يعمل بالمرجوح في حق نفسه، إذا لم يكن في العمل به جمع بين الحل والحرمة، جاء في حاشية عميرة: فَإِنْ لَمْ يَظْهَرْ مُرَجِّحٌ، فَلِلْمُقَلِّدِ أَنْ يَعْمَلَ بِأَيِّ الْقَوْلَيْنِ شَاءَ، وَيَجُوزُ الْعَمَلُ بِالْمَرْجُوحِ فِي حَقِّ نَفْسِهِ، لَا فِي الْإِفْتَاءِ، وَالْقَضَاءِ، إذَا لَمْ يَجْمَعْ بَيْنَ مُتَنَاقِضَيْنِ، كَحِلٍّ وَحُرْمَةٍ فِي مَسْأَلَةٍ وَاحِدَةٍ. اهـ


Sharf di Black Market Dengan Tidak Berpegang Dengan Harga Pasar Saat Itu

وقد سئلت اللجنة الدائمة: ما الحكم الشرعي في تبادل العملات (في السوق السوداء) مثلا 3000 دج بـ 3000 فرنك فرنسي، أي بنسبة 300% مع العلم أن التبادل عن الطريق الشرعي هو مثلا 300 دج بـ 340 فرنك فرنسي.

فأجابت: إذا كان التبادل بين عملتين من جنس واحد، وجب التساوي بينهما، والتقابض بالمجلس، وحرم التفاضل بينهما، وحرم تأخير القبض فيهما، أو في إحداهما شرعا، وإذا كانتا من جنسين جاز التفاضل بينهما شرعا، سواء كان ذلك في السوق السوداء أم في غيرها، وحرم تأخير بعضهما أو إحداهما .اهـ.

Menafsirkan Mimpi Dengan Buku Tafsir Mimpi


Syaikh Utsaimin ditanya mengenai sejauh mana kebenaran kitab tafsir mimpi, seperti kitab tafsir mimpi Ibnu Sirin rahimahullah?


Beliau menjawab:

Jawaban dari pertanyaan ini adalah: Saya menasehati saudaraku kaum Muslimin untuk tidak menyimpan kitab-kitab ini dan tidak membacanya, sebab itu bukanlah wahyu yang diturunkan, akan tetapi itu hanya pendapat yang bisa jadi benar dan bisa jadi salah. Di sisi lain, mimpi bisa jadi sama tapi hakikatnya berbeda, tergantung apa yang ia lihat dalam mimpi, tergantung waktu dan tergantung tempat.


Bila kita melihat mimpi tertentu itu tidak berarti bahwa setiap kita bermimpi hal yang sama maka ta'wilnya sama dengan yang pertama. Bahkan itu berbeda, kadang kita menta'wil mimpi seseorang dengan begini, dan kita menta'wil mimpi orang lain yang sama dengan ta'wil yang berbeda...


Majmu' Fatawa wa Rasail Al-Utsaimin 26/360-361 no.152

Sikap Orang Awam Saat Menghadapi Perbedaan

Alhamdulillah.

Pertama:

Orang yang bertaklid kepada ulama yang telah dikenal ilmu dan amanahnya tidaklah berdosa, karena dia sesungguhnya sedang mengimplementasikan firman Allah Taala,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (سورة النحل: 43)

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” QS. An-Nahl: 43

Seorang ulama bagi seorang awam, adalah dalil itu sendiri. Dia harus mengkaji darinya dan mengikuti fatwanya.

Asy-Syathibi berkata dalam kitab Al-Muwafaqat (4/292)

“Fatawa para mujtahid bagi masyarakat awam bagaikan dalil syar’i bagi para mujtahid. Dalilnya adalah bahwa ada tidaknya dalil-dalil bagi orang yang bertaklid sama saja, karena mereka tidak dapat memanfaatkannya sedikitpun. Maka mendalami dan mengambil kesimpulan dalil-dalil tersebut, bukanlah wewenang mereka, dan bahkan tidak boleh sama sekali hal itu bagi mereka, karena Allah telah katakan,

فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” QS. An-Nahl: 43

Orang yang bertaklid bukanlah ulama, maka tidak ada jalan baginya keculai bertanya kepada para ulama dan menjadikannya sebagai rujukan dalam beragama secara mutlak.

Maka, mereka (para ulama) jika demikian, adalah orang-orang yang menempati kedudukan syariat bagi kalangan awam dan perkataan mereka menempati kedudukan syariat.”

Disebutkan dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah (32/47-49), “Wajib bagi peminta fatwa, jika mengalami suatu peristiwa, hendaknya bertanya kepada orang yang dikenal ilmu dan keadilannya.

Ibnu Abidin berkata dengan mengutip ucapan Al-Kamal bin Al-Hammam, “Kesepakatan dalam mencari solusi adalah meminta fatwa kepada ulama yang dikenal mampu berijtihad dan adil (beriman dan bertakwa) ada kepada orang yang diberikan wewenang untuk itu dan orang-orang meminta fatwa darinya serta menghormatinya. Akan tetapi, jangan minta fatwa, jika di nilai orang tersebut tidak memiliki salah satu dari keduanya, yaitu tidak pandai berijtihad atau tidak adil (ada cacat dalam masalah iman dan ketakwaannya).

Bagaimana jika seorang pencari fatwa mendapati ulama lebih dari satu dan semuanya adil serta layak berfatwa. Jumhur ulama berpendapat bahwa orang yang berfatwa boleh memilih di antara mereka, dia dapat bertanya kepadanya apa yang dia inginkan lalu mengamalkan berdasarkan fatwanya. Tidak wajib baginya bersungguh-sungguh untuk menetapkan siapa yang paling utama di antara mereka untuk dijadikan tempat bertanya. Dia cukup bertanya siapa kepada siapa yang menurutnya paling utama, kalau dia mau. Kalau tidak, dia boleh bertanya kepada yang tidak lebih utama, walaupun ada yang lebih utama.

Mereka berdalil dengan firman Allah Taala,

فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Juga berdasarkan dalil bahwa orang-orang pada masa-masa awal mereka bertanya kepada seorang sahabat, padahal ada sahabat yang lebih utama dan lebih senior yang dapat mereka tanya. Jika seseorang bertanya kepada lebih dari satu ahli fatwa dan jawaban mereka sama, maka dia harus mengamalkannya jika dia merasa tenang dengan fatwa mereka.

Jika mereka berbeda pendapat, para ahli fiqih memiliki dua pandangan;

Mayoritas ahli fiqih; Ulama mazhab Hanafi, Maliki dan sebagian ulama mazhab Hambali, Ibnu Suraij, Samma’ani, Ghazali ulama mazhab Syafii, mereka berpendapat bahwa orang awam tidak boleh memilih di antara pendapat mereka begitu saja, diambil yang dia suka dan ditinggalkan yang dia suka, tapi dia harus mengamalkan dengan menguatkan salah satu pendapat semampunya.

Yang lebih benar dan lebih kuat menurut ulama dari kalangan mazhab Syafii dan sebagian mazhab Hambali adalah bahwa kalangan awam boleh memilih di antara pendapat para ahli fatwa yang berbeda-beda. Karena seorang awam dituntut bertaklid, hal itu terbukti dengan bertaklid kepada siapa saja ahli fatwa yang dia kehendaki.”

Kedua:

Yang wajib bagi anda wahai penanya, adalah menyampaikan kasus anda kepada seorang ulama yang terkenal keilmuannya, serta amanah dan kepercayaannya, kemudian anda ambil fatwanya dan berpegangteguh kepadanya. Tidak boleh yang anda tuju adalah sekedar mencari keringanan dan yang fatwanya yang paling mudah, kecuali dalam satu kondisi, yaitu apabila masalah yang dipertentangkan antara para ulama sifatnya ijtihad dan cabang, tidak terdapat nash dalam Al-Quran dan Sunah yang menguatkan pendapat-pendapat tersebut, akan tetapi penguatnya adalah pandangan logika dan ijtihad semata. Maka ketika itu tidak mengapa mengambil yang keringanan di antara berbagai pendapat yang dibutuhkan seoran muslim. Kaidah syariat mengatakan, “Kesulitan mendatangkan kemudahan.”

Terdapat dalam “Liqoat Al-Bab Al-Maftuh”, Syekh Ibnu Utsaimin (Pertemuan ke 46, soal no. 2). Pertanyaan, “Apakah boleh meminta fatwa kepada lebih dari seorang ulama? Jika terjadi perbedaan fatwa, apakah peminta fatwa mengambil yang paling mudah dan atau yang lebih hati-hati? Jazaaumullah khairan.”

Jawab:

Tidak dibolehkan seseorang, jika dia telah meminta fatwa kepada seorang ulama yang dipercaya ucapannya, lalu dia meminta fatwa kepada selainnya.

Karena hal itu menyebabkan sikap mempermainkan agama Allah dan mencari-cari keringanan. Karena jika dia bertanya kepada seseorang ulama, lalu jawabannya tidak cocok, dia bertanya lagi kepada ulama lainnya, jika tidak cocok, dia bertanya kepada ulama yang ketiga, demikian seterusnya. Para ulama menyatakan bahwa sikap mencari-cari yang mudah dalam agama adalah kefasikan.

Akan tetapi kadang seseorang tidak mengetahui ulama kecuali si fulan misalnya, lalu dia bertanya karena mendesak. Dia niat apabila bertemu dengan ulama yang lebih dipercaya ilmu dan agamanya maka dia akan bertanya kepadanya. Hal seperti ini tidak mengapa jika dia bertanya kepada yang pertama karena darurat, lalu ketika dia bertemua dengan lebih utama, maka dia bertanya lagi.

Jika para ulama berbeda pendapat di hadapannya dalam suatu fatwa, atau berdasarkan apa yang dia dengar dari nasehat dan ceramah mereka, maka hendaknya dia mengikuti ulama yang menurut dia lebih kuat ilmu dan agamanya. Jika menurutnya keduanya sama-sama kedudukannya dalam hal ilmu dan agama, maka sebagian ulama berpendapat hendaknya dia pilih yang lebih hati-hati, atau yang paling berat. Ada juga yang berpendapat, hendaknya dia memilih yang lebih mudah. Pendapat ini yang benar, karena jika fatwa-fatwa yang ada kedudukannya seimbang di hadapan anda, maka anda dapat memilih yang lebih ringan, karena agama Alah Azza wa Jalla dibangun berdasarkan kemudahan, bukan berdasarkan kesulitan. Aisyah radhiallahu anha berkata saat menjelaskan sifat Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

إنه ما خير بين أمرين إلا اختار أيسرهما ما لم يكن إثماً

“Sungguhnya beliau, jika berada dalam dua perkara yang dipilih, niscaya akan memilih yang paling ringan. Selama tidak berdosa.”

Maka dengan demikian, seseorang tidak boleh memilih perkara yang paling ringan kecuali dengan dua syarat;

1. Tidak bertentangan dengan pendapat jumhur ulama baik kalangan salaf maupun khalaf. Tidak diragukan lagi bahwa yang paling layak dan paling hati-hati adalah mengikuti mazhab mereka.

2. Dalil-dalil yang disampaikan oleh kedua pandangan yang berbeda tersebut kedudukannya sama, maka ketika itu, anda dapat mengambil yang lebih ringan di antara kedua pendapat. Wallahu a’lam.islamqa.info