SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Suka Dengan Laki-Laki Sholeh Tapi Belum Boleh Menikah Karena Masih Kuliah


Akhwat (Surabaya)
2 weeks ago on Keluarga

Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Afwan ustadz, saya seorang akhwat yg saat ini dlm masa study semester 7. Saya sdh sejak lama (smtr 3) menginginkan segera menikah dikarenakan utk ibadah dan menjaga kehormatan sya. Akan tetapi ayah tdk mengizinkan, alasannya disuruh menyelesaikn kuliah dlu. Saat ini sya mengagumi seorang pria, Memperjuangkan melalui doa, dan dia adalah pria yg sholeh. Sya ingin menikah ustdz, tujuan utama utk ibadah, dan agar disegerakan oleh Allah biar tdk terbayang2 pria tsb. Akan tetapi alasan orang tua lagi-lagi harus bekerja terlebih dahulu. Yg saya tanyakan, apakah sya tetap memohon kpd Allah utk disegerakan menikah atau menuruti keinginan orang tua utk bekerja terlebih dahulu. Jazakallahu khoir ustadz
Redaksi salamdakwah.com
1 week ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Apa yang dilakukan oleh orang tua anda kemungkinan didasari niat yang baik namun niat yang baik belum tentu tepat 100 persen. Apabila penanya ingin menjaga pemikiran, kehormatan serta melaksanakan ibadah dalam bentuk pernikahan maka bisa memberikan masukan kepada orang tua sampai mereka memberikan izin. Masukan yang diberikan bisa secara langsung atau melalui orang lain yang memiliki kedudukan tinggi di mata orang tua. Bisa disampaikan kepada beliau bahwa pernikahan tidak pasti menghalangi seseorang untuk  melanjutkan pendidikan dan bekerja. 

Syaikh Ibnu Baz pernah ditanya," Apa hukumnya bila seorang ayah melarang anaknya menikah?"

Beliau menjawab,"Ini tidak diperbolehkan sebab pernikahan adalah bentuk taqarrub dan ketaatan kepada Allah ta'ala. Dalam pernikahan ada kehormatan dan pandangan laki-laki yang terjaga. Oleh karena itu ayahnya tidak boleh melarang dia untuk menikah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda


يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ البَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ


'Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian yang telah mempunyai kemampuan, maka hendaklah ia menikah, sebab itu bisa lebih membantu menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.” HR. Bukhari no.5066 dan Muslim no.1400
Dan sudah maklum bahwa pernikahan membantu untuk berbuat ketaatan, menundukkan pandangan, menjaga kemaluan, menjaga kehormatan seorang wanita, membantunya berbuat kebajikan dan pernikahan menjadi sebab munculnya keturunan juga. Dalam pernikahan ada banyak kebaikan. Sekelompok Ulama' berpendapat bahwa pernikahan hukumnya wajib bila seseorang memiliki kemampuan sebab Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan hal itu sedangkan perintah hukum asalnya berimplikasi kewajiban. Ini menunjukkan bahwa pernikahan bagi orang yang memiliki syahwat dan kemampuan hukumnya wajib, baik dia itu masih muda atau sudah tua. Sedangkan pemuda lebih ditekankan untuk itu berdasarkan hadits yang telah lalu. Oleh karena itu (tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam rangka bermaksiat kepada Allah ta'ala) dan (ketaatan hanya pada urusan yang ma'ruf) sebagaimana disabdakan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Apabila ayahnya melarang dia untuk menikah sedangkan dia memiliki kemampuan untuk menikah maka selayaknya dia berlemah lembut dengan ayahnya dan memberikan penjelasan kepadanya hingga dia setuju dan supaya hubungan muamalahnya dengan ayahnya tetap terjaga. Apabila ayahnya bersikeras melarang dia untuk menikah tanpa sebab yang membolehkan hal itu maka boleh baginya untuk menikah meski ayahnya tidak ridho sebab dia melarang sesuatu yang disyariatkan sedangkan tidak ada ketaatan untuk siapapun bila itu dalam rangka bermaksiat kepada Allah azza wa jalla. Meski demikian selayaknya dia berlemah lembut kepada ayahnya dan berusaha maksimal untuk mendapatkan keridhoan dan persetujuannya. Inilah yang selayaknya dia lakukan supaya tidak terjadi permusuhan antara dia dengan ayahnya." 
http://www.binbaz.org.sa/node/9303

Dalam fatwa yang lain beliau juga menerangkan bahwa pernikahan tidak bertentangan dengan pendidikan," Yang wajib adalah bersegera menikah, tidak selayaknya seorang pemuda mengakhirkan pernikahan dengan alasan study, begitu pula seorang gadis, tidak selayaknya ia mengakhirkan pernikahan demi study, pernikahan tidak menghalangi itu sedikitpun, seorang pemuda bisa menikah (dengan begitu ia menjaga agama, akhlaq dan menundukkan pandangannya), bersamaan dengan itu ia tetap melanjutkan studynya, begitu pula seorang gadis jika Allah memberinya kecukupan. Selayaknya bersegera menikah meski sedang belajar di tingkat sekolah menengah atas atau sekolah tinggi, itu semua tidak menghalangi.

Yang wajib adalah segera dan setuju menikah jika ada laki-laki sepadan yang melamar, dan study tidak menghalangi pernikahan. Seandainya sebagian study terputus (karena pernikahan.pent) maka itu tidak apa, yang penting ia (wanita.pent) belajar apa yang bisa mengantarnya ke pengetahuan ilmu agamanya, adapun ilmu lainnya hanya sebagai faedah biasa. Pernikahan memiliki maslahat yang banyak, khususnya pada zaman sekarang, dan pernikahan yang ditinggalkan akan menimbulkan bahaya untuk pemuda dan gadis." Majmu' Fatawa Ibnu Baz 20/421-422 

Terkait laki-laki yang dikagumi kesolehannya, kami sarankan untuk tetap menjaga batasan diri dengan laki-laki itu. Jangan menjalin hubungan spesial dengannya seperti pacaran atau sejenisnya.  Kami sarankan juga kepada penanya untuk beristikhoroh kepada Allah ta'ala dan berdoa kepada Allah ta'ala meminta laki-laki yang terbaik baginya menurut Allah ta'ala. Jadi dalam doa si wanita tidak meminta untuk dijodohkan secara khusus dengan laki-laki itu namun meminta laki-laki yang terbaik baginya menurut Allah ta'ala mengingat laki-laki yang sholeh dan baik agamanya bukan hanya laki-laki itu. Semoga Allah ta'ala mudahkan wanita itu untuk melakukan tindakan yang tepat dalam masalah ini setelah istikhoroh. Dalam salah satu hadits disebutkan terkait istikhoroh,"

 

عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، كَالسُّورَةِ مِنَ القُرْآنِ: " إِذَا هَمَّ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاقْدُرْهُ لِي، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ، وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ

 

Dari Jabir radliallahu 'anhu dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengajarkan istikharah kepada kami untuk setiap perkara, sebagaimana mengajarkan surat dari Al Qur'an. (Beliau bersabda): "Jika salah seorang menginginkan sesuatu maka hendaknya ia mengerjakan dua raka'at lalu ia mengucapkan: ALLAHUMMA INNI ASTAKHIRUKA BI 'ILMIKA WA ASTAQDIRUKA BI QUDRATIKA WA AS'ALUKA MIN FADLIKAL ADZIMI FAINNAKA TAQDIRU WALA AQDIRU WA TA'LAMU WALA A'LAMU WA ANTA A'LLAMUL GHUYUB, ALLAHUMMA IN KUNTA TA'LAMU ANNA HADZAL AMRA KHAIRAN LII FII DIENIE WA MA'AASYII WA 'AQIBATI AMRI -atau berkata; FII 'AAJILI AMRII WA AAJILIHI- FAQDURHU LI WA IN KUNTA TA'LAMU ANNA HAADZAL AMRA SYARRAN LI FI DIINII WA MA'AASYII WA 'AAQIBATI AMRII -atau berkata; FII 'AAJILI AMRII WA AAJILIHI- FASHRIFHU 'ANNI WASHRIFNI 'ANHU WAQDURLIIL KHAIRA HAITSU KAANA TSUMMA RADDLINI BIHI kemudian ia menyebutkan hajat yang ia inginkan. (Ya Allah saya memohon pilihan kepada Engkau dengan ilmu-Mu, saya memohon penetapan dengan kekuasaan-Mu dan saya memohon karunia-Mu yang besar, karena Engkaulah yang berkuasa sedangkan saya tidak berkuasa, Engkaulah yang Maha mengetahui sedangkan saya tidak mengetahui apa-apa, dan Engkau Maha mengetahui dengan segala yang ghaib. Ya Allah jikalau Engkau mengetahui urusanku ini adalah baik untukku dalam agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku -atau berkata; baik di dunia atau di akhirat- maka takdirkanlah untukku, sebaliknya jikalau Engkau mengetahui bahwa urusanku ini buruk untukku, agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku, -atau berkata; baik di dunia ataupun di akhirat- maka jauhkanlah aku daripadanya, serta takdirkanlah untukku yang baik baik saja, kemudian jadikanlah aku ridla dengannya.) " Lalu ia menyebutkan hajatnya. HR. Bukhari, Kitab Ad-Da'awat, Bab Ad-Du'a' 'inda Al-Istikhoroh no.6382. Imam Bukhari juga menyebutkannya di tempat lain di nomer 7390

Apabila kecondongan kepada laki-laki yang dikagumi itu semakin kuat maka bagi penanya silahkan mencari wasilah yang akan menawarkan kepada laki-laki sholeh tersebut, perantara ini bisa orang tua atau lainnya. Dan menawarkan diri kepada laki-laki yang sholeh bukanlah aib. 

Dari Tsabit Al-Bunani mengatakan,

 


كُنْتُ عِنْدَ أَنَسٍ ، وَعِنْدَهُ ابْنَةٌ لَهُ ، قَالَ أَنَسٌ : جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعْرِضُ عَلَيْهِ نَفْسَهَا ، قَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَكَ بِي حَاجَةٌ ؟ .   فَقَالَتْ بِنْتُ أَنَسٍ : مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا ، وَا سَوْأَتَاهْ ! وَا سَوْأَتَاهْ ! قَالَ : هِيَ خَيْرٌ مِنْكِ ، رَغِبَتْ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا

 

“Saya di sisi Anas dan beliau mempunyai anak wanita. Anas mengatakan, “Seorang wanita mendatangi Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam menawarkan dirinya kepada beliau seraya mengatakan, “Ya Rasulullah apakah anda membutuhkan diriku? Anak wanita Anas mengatakan, “Sedikit sekali rasa malunya. Oh malunya !! oh malunya !! berkata (Anas), “ Dia lebih baik dari kamu, dia menginginkan Nabi sallallahu alaihi wa sallam dan menawarkan diri kepada beliau.” (HR. Bukhari, no. 4828).

Imam Bukhari membuat bab dengan mengatakan ‘Bab:

 


 عرْض المرأة نفسَها على الرجل الصالح

 

Seorang wanita menawarkan dirinya kepada lelaki sholeh’ 

Dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 30/50, dikatakan “Seorang wanita dibolehkan menawarkan dirinya kepada seorang lelaki dan menyampaikan padanya akan keinginannya. Karena kebaikan laki-laki itu dan keutamaannya atau karena ilmu dan kemuliaannya. Atau karena salah satu perangai agama,  hal yang demikian bukanlah kehinaan. Bahkan hal itu menunjukan akan kemulyaannya. Dimana Bukhori telah mengeluarkan hadits Tsabit Albunany berkata, saya di sisi Anan… dan menyebutkan hadits tadi.

 

والله تعالى أعلم بالحق والصواب

  

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com