SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Talak 3 Tetapi Istri dan Suami Masih Ada Rasa Cinta dan Sayang


Ikhwan (Jakarta Barat)
3 weeks ago on Keluarga

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ustadz saya ingin bertanya Saya sudah berumah tangga selama 10 THN dan Alhamdulillah SDH di karunia seorang anak laki.laki yg sekarang ber usia 7 THN. Saya memang selama berumah tangga 10 THN dengan istri, saya sering berbuat kasar dan juga seringkali saya tidak perhatian terhadap keluarga saya. Yg sebenarnya istri saya sangat mencintai saya. Saya memang sudah berdosa besar sudah mengabaikan/acuh terhadap istri dan anak saya. Terlebih saya mengutamakan kesenangan dengan teman teman saya untuk berkumpul yg berujung dengan kegiatan2 yg negatif. Kesalahan yg lebih besar saya lakukan. Sekitar 3 tahun terakhir. 2x Saya harus ber urusan dengan pihak yg berwajib permasalahan narkoba istri saya sangat kaget. Karena hal negatif itu selalu saya tutupi dengan berbagai hal/alasan. Agar istri tidak tau. Karena sayang nya istri terhadap saya. Berbagai cara dia lakukan seperti meminjam uang ke bank sekitar 70 JT untuk mengeluarkan saya. Agar tidak menjalani hukuman. Selain hal diatas saya juga masih melakukan beberapa perbuatan negatif seperti main judi online, yg terkadang dari hasil lerja(gaji) saya berikan ke istri hanya untuk membayar hutang ke bank. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak saya abaikan. Dan dalam rumah tangga saya sering terjadi pertengkaran dan bahkan sering bertengkar di depan anak kami. Dan juga saya ustadz gampang mengucapkan kata pisah/cerai ketika terjadi pertengkaran. Dan saya berucap kata tersebut lebih dari 3 x. Saat ini ustadz istri saya mengajukan gugatan ke pengadilan agama. Namun dari ucapan kata pisah saya ke istri, saya meminta bantuan dari orang tua. Untuk membujuk istri agar tetap bertahan. Istri saya SDH mengajukan gugatan rumah-tangga. Mhn bombingan ustadz bagaimana untuk solusi Permasalahan saya ini. Dimana saya sudah berucap kata pisah/cerai lebih dari 3x Tetapi dalam hati kecil istri saya. Yg sebelumnya mengajukan gugatan ke pengadilan. Dan beberapa hal gugatan istri untuk pisah dari saya Darii beberapa keburukan saya tidak disampaikan smuanya ke pengacaranya. Istri saya masih ada rasa cinta dan sayang kepada saya. Dan masih ada terbesit untuk mempertahankan rumah tangganya. Tetapi istri saya saat ini memberi kesempatan kepada saya untuk yg terakhir kali, Bagaimana menurut ustadz mengenai hubungan saya dengan istri agar dapat halal. Karena istri pun juga tidak mau dikatakan banyak mudhorot nya dan ingin kembali menjalin hubungan dengan saya yg sah dan jalan secara agama. Selebihnya saya SDH melakukan solat sunan taubat dan taubatan nasuha. Dan juga saya niat dalam hati untuk memperbaiki diri saya di pondokan yg sebelumnya SDH di rencanakan oleh istri dan keluarga saya. Terima kasih sblmnya ustadz
Redaksi salamdakwah.com
2 weeks ago

 

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Semoga Allah ta'ala memudahkan kepada penanya dan seluruh kaum muslimin untuk terus istiqomah di jalan-Nya. Apabila setiap talak yang diucapkan oleh penanya telah memenuhi syarat untuk dikatakan telah jatuh maka penanya tidak bisa lagi rujuk dan menikah dengan mantan istrinya itu hingga istri itu menikah dengan laki-laki lain (pernikahan yang sungguh-sungguh dan bukan settingan, yang di pernikahan itu ada hubungan suami istri) kemudian istri bercerai dengan suami kedua itu, kala itu dia boleh menikah lagi dengan penanya. Ini Berdasarkan firman Allah Ta’ala di surat al-Baqoroh:230

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا [يعني : الزوج الثاني] فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ 

“Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika
keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.” 

Suami kedua harus berhubungan (bersetubuh) dengannya, kalau tidak ada jima’ di antara keduanya, maka hal itu tidak halal untuk suami pertama. Pendapati seperti ini telah disepakati para ulama. Dalil hal tersebut berdasarkan sunnah yang diriwayatkan oleh Bukhori, 2639 dan Muslim, 1433 dari Aisyah radhiallahu’anha.

أن رفاعة طلق امرأته الطلقة الثالثة ، وأنها تزوجت بعده بعبد الرحمن بن الزبير ، وادعت أنه لم يدخل بها ، وأرادت الطلاق منه ، والرجوع إلى زوجها الأول

 “Bahwa Rifa’ah telah menceraikan istrinya dengan talak tiga, kemudian (istrinya) setelah itu menikah dengan Abdurrahman bin Zubair. Sementara beliau mengaku belum dikumpuli dan ingin cerai dengannya agar dapat kembali ke suami yang pertama. Maka Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam  bersabda kepadanya,

أَتُرِيدِينَ أَنْ تَرْجِعِي إِلَى رِفَاعَةَ ؟ لا ، حَتَّى تَذُوقِي عُسَيْلَتَهُ ، وَيَذُوقَ عُسَيْلَتَكِ

"Apakah anda ingin kembali ke Rifa’ah? Tidak (bisa), sampai anda menikmati madunya dan dia menikmati madu anda."

 Wallahu ta'ala a'lam

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com