SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Salah Faham Tentang Taubat


Ikhwan (Riau)
2 months ago on Aqidah

Saat di postingan ig tentang doa yg menghapus dosa sebanyak buih di lautan ada orang komen kalo tidak salah komennya dia mengajak dosa terus tinggal taubat dgn doa yg di postingan itu(saya juga masih agak lupa dengan komentar orang itu).Terus saya bales kalo tidak di terima taubatnya gimana?Apakah balesan saya salah? Dan apakah komen orang itu juga salah?Mohon dikoreksi
Redaksi salamdakwah.com
2 months ago

 

 

الحمد لله والصلاة والسلام على من لا نبي بعده

 

Kami kurang memahami maksud dari orang yang mengajak berbuat dosa tersebut mengingat kami tidak melihat secara langsung postingannya. Apabila maksud dia adalah dia mengajak berbuat dosa kemudian bertaubat dengan doa yang diposting di IG tersebut kemudian bertaubat lagi dan berbuat dosa lagi kemudian bertaubat lagi dan begitu seterusnya berarti ada kemungkinan dia ketika bertaubat masih punya cita-cita untuk berbuat dosa di masa mendatang, bila demikian maka dia telah menyelisihi syarat taubat yang benar karena termasuk syarat taubat adalah bertekad untuk tidak kembali melakukan dosa yang dia bertaubat darinya sekarang. Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Ulama' yang duduk di Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa bunyinya:
Saya telah melakukan banyak perbuatan dosa Dan kemungkaran, namun saya telah bertaubat. Meski demikian saya masih mengulangi kemungkaran tersebut.

Mereka menjawab:
Pujilah Allah subhanahu wa ta'ala yang masih memberi anda taufiq untuk introspeksi diri dan bertaubat dari kemungkaran.

Semoga Allah memberkahi anda. Berhati-hatilah jangan sampai setan Dan nafsu and a mengalahkan anda sehingga anda kembali jatuh pada hal yang diharamkan oleh Allah ta'ala. Apabila anda melakukan hal itu maka anda telah melanggar taubat anda. Sebab syarat-syarat taubat yang benar adalah:
1. Segera berlepas diri dosa tersebut.
2. Menyesali perbuatan itu.
3. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan itu

Apabila taubat yang dilakukan itu ditujukan untuk perbuatan kedholiman terhadap hamba lain terkait harta, kehormatan agar jiwa maka Ada syarat tambahan (syarat keempat) yaitu: meminta kerelaan dan ridho dari orang yang didholimi atau memberikan apa yang menjadi haknya.

Bila taubatnya benar maka pelaku dosa itu tidak didakwa untuk dosa yang dilakukan sebelum taubat itu, namun ia hanya harus bertaubat atas dosa setelahnya. Dan begitulah seterusnya, setiap terjadi dosa pelakunya wajib bertaubat dengan memenuhi syarat-syarat yang disebutkan sebelumnya.
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/310-311, Pertanyaan pertama Dari fatwa no.16784  

Apabila maksud dari orang yang mengajak dosa itu adalah boleh banyak berbuat dosa untuk kemudian sebelum meninggal baru bertaubat maka ini dari sisi logika saja sudah bermasalah mengingat manusia tidak tahu kapan pastinya dia akan mati, tidak ada yang bisa menjamin seseorang akan bisa terus bertahan hidup hingga usia tertentu atau hingga usai tua. Dalam suatu hadits disebutkan 

وعن أنس رضي الله عنه قال: خط رسول الله صلى الله عليه وسلم خطا وقال هذا الإنسان وخط إلى جنبه خطا وقال هذا أجله وخط آخر بعيدا منه فقال هذا الأمل فبينما هو كذلك إذ جاءه الأقرب (أي جاءه أجله 

 

Dari Anas berkata : Adalah Rasullah shallahualaihi wasalam mengariskan garis lurus dan beliau berkata ini adalah manusia dan beliau menggariskan garis sebelah nya dan beliau berkata ini adalah ajalnya dan beliau menggariskan garis yang lain yang jauh dan beliau mengatakan ini adalah harapan maka ketika demikian datanglah yang lebih dekat (yakni datanglah ajalnya) HR. Bukhari dan Nasa’i.

Allah juga telah menyebutkan dalam al-Qur'an perkataan orang yang menyesal karena tidak memanfaatkan usianya dengan baik sehingga dia ingin kembali ke dunia setelah kematiannya terjadi. Dalam surat Al Munafiqun ayat 9-11 disebutkan

 

  قال الله تعالى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ{9} وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ{10} وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْساً إِذَا جَاء أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ{11} المنافقون  

 

Wahai Orang-orang yang beriman janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari dzikir kepada Allah, maka barang siapa yang lalai dari mengingat Allah maka dia termasuk orang-orang yang merugi, Dan infakkanlah apa yang telah Allah berikan atas kalian dari rizki sebelum datang kepada kalian kematian lalu dia berkata Ya Tuhan-ku jikalau Engkau Akhirkan aku kepada massa yang lain lalu aku bias bersedekah dan aku menjadi orang-orang yang shalih, dan tidaklah Allah akan mengakhirkan seoarang jiwa apabila telah datang kepadanya ajalnya dan Allah maha mengetahui terhadap apa-apa yang kalian kerjakan.” 

Dalam ayat lain disebutkan:

حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ{99} لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ{100} فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلَا أَنسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَتَسَاءلُونَ{101}المؤمنون 

 

Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata:"Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitan. Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya. (QS. 23:99-101)

Di sisi lain dikhawatirkan ketika seseorang menunda taubat hingga ajal datang maka Allah tidak menyukai apa yang dia perbuat tersebut. Allah ta'ala berfirman:

إِنَّمَا ٱلتَّوْبَةُ عَلَى ٱللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسُّوٓءَ بِجَهَٰلَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (an-Nisa':17)


وَلَيْسَتِ ٱلتَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ حَتَّىٰٓ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ ٱلْمَوْتُ قَالَ إِنِّى تُبْتُ ٱلْـَٰٔنَ وَلَا ٱلَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang". Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih. (an-Nisa':18)

 

Wallahu ta'ala a'lam 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2022 - Www.SalamDakwah.Com