SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bagaimana Sikap Saya Menghadapi Suami


Akhwat (Jawa barat)
2 weeks ago on Keluarga

Ass ustadz..sy seorang istri yg sedang bingung menghadapi suami saya..suami saya pemalas dalam mencari nafkah..selalu merasa sy mempunyai simpanan uang jd dia mencari uang santai sekali..suami sy kasar pemarah tidak pernah solat dan selalu bangun siang..sering sekali saya menasihati nya baik dengan cara kasar ataupun cara lembut tetapi dia ttp saja tidak mendengarkan dan menganggap apa yg dia lalukan selalu benar...apakan sy boleh menceritakan kelakuan suami sy terhadap orang tuanya?sy merasa gila menghadapi sikap dia yg sudah hampir 2thn ini..ibu sy selalu menasehati untuk sabar dan istigfar tapi saya merasa tidak kuat lagi..kekesalan sy terhadap suami sering sekali sy tumpahkan kepada anak2 sya..sy tidak mau anak2 sy menjadi korban kekesalan sy...
Redaksi salamdakwah.com
1 week ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Hal pertama yang perlu dilakukan istri adalah intospeksi diri, apakah ada yang salah dengan dirinya sehingga suami bersikap demikian. Apabila masalah bersumber dari sikap istri maka istri perlu segera memperbaiki diri. Apabila tidak ada pelanggaran syariat yang dilakukan oleh istri maka silahkan mendoakan suami serta memberi masukan kepada suami tentang:

1- perlunya melaksanakan kewajiban shalat mengingat orang yang meninggalkan shalat posisinya sangat berbahaya. Sebagian Ulama' memandang orang yang tidak melaksanakan shalat statusnya adalah kafir. kami akan bawakan fatwa syaikh Ibnu Baz dalam masalah ini:

pertanyaan:
ada orang yang melaksanakan puasa dan ibadah lainnya akan tetapi dia tidak shalat, apakah puasa dan ibadahnya diterima?

Jawaban:
pendapat yang benar: barang siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja maka dia telah kafir. Dan dengan begitu puasa dan ibadahnya yang lain tidak sah sampai dia bertaubat kepada Allah ta'ala, berdasrkan firman Allah ta'ala:


وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (الأنعام:٨٨

seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.
Dan berdasarkan ayat dan hadits yang semakna dengan itu.

2- perlunya bermuamalah dengan baik kepada keluarga terlebih kepada istri. 

 Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي


Sebaik-baik kalian adalah yang orang yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah sebaik-baik kalian terhadap keluargaku." (HR At-Tirmidzi no.3895)

3- perlunya bekerja keras mencari nafkah dan menghindari sikap malas. Allah ta’ala berfirman:


لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ... (٧


Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.. Ath-Tholaq:7
 
Apabila seseorang lalai dalam mencukupi kebutuhan orang yang berada di bawah tanggungannya maka ia telah berdosa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ، عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ


Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa orang-orang yang menahan makan (upah dan sebagainya) orang yang menjadi tanggungannya. HR. Muslim no.996
 

Terkait teknis mendakwahi dan memberi pengertian kepada suami, wallahu ta'ala a'lam, dilihat dari sisi teknis di lapangan seorang istri lebih tahu tentang karakter suami yang dengan itu istri bisa memilih cara terbaik supaya nasehat yang disampaikan bisa diterima seperti apakah suami mudah terpengaruh dengan tulisan atau audio atau audio visual, kemudian saat bagaimana suami biasanya mudah untuk menerima masukan apakah saat ia makan, saat habis shalat atau yang lain, istri juga lebih tahu bahwa kata-kata yang bagaimana yang bisa diterima suaminya, begitu pula tekanan suara dan intonasi. Namun secara umum ada arahan dalam mendakwahi seseorang

Apabila belum diterima nasehatnya maka bisa meminta bantuan pemuka agama atau orang yang dihormati oleh suami supaya mereka mau memberi nasehat kepada suami untuk melaksanakan poin-poin yang dikeluhkan sebelumnya. Apabila suami tidak mau melaksanakan poin-poin di atas maka istri bisa meminta supaya diceraikan oleh suami tersebut. 

Muhammad bin Ibrohim at-Tuwaijiri menerangkan diantara sebab yang dengannya seorang wanita boleh meminta talak dari suaminya:

1. Apabila suami lalai dalam memberi nafkah

2. Jika suami menimbulkan mudhorot untuk istri yang karenanya menjadikan hubungan suami istri tidak bisa berlangsung seperti selalu mencelanya, memukulnya, menyakitinya dan istri tidak mampu menahannya atau memaksanya berbuat mungkar atau semacamnya.

3. Bila istri terkena mudharat karena tidak hadirnya suami dan ia pun khawatir terkena fitnah karena itu.

4. Jika suaminya ditahan untuk waktu yang lama dan istri merasa terkena mudharat karena terpisah dengannya

5. Bila wanita mendapati ada aib yang berat seperti mandul, tidak mampu untuk melakukan penetrasi, berbau tidak sedap atau sakit dalam jangka waktu lama yang menyebabkan dia tidak mampu melakukan hubungan suami istri dan bersenang-senang dengan pasangan, atau suaminya memiliki penyakit berbahaya dan menular atau sejenisnya.

6. Apabila suaminya tidak melaksanakan apa yang Allah wajibkan,  atau dia biasa saja  ketika melakukan dosa besar  dan hal yang haram seperti laki-laki yang kadang-kadang tidak melaksanakan shalat, atau dia meminum khamr, atau dia berzina, atau memakai narkoba dan yang semacamnya. Maushu'ah al-Fiqhi al-Islami 4/191

Syaikh Jibrin menerangkan

 

إذا كرهت المرأة أخلاق زوجها كاتصافه بالشدة والحدة وسرعة التأثر وكثرة الغضب والانتقاد لأدنى فعل والعتاب على أدنى نقص فلها الخلع

ثانياً : إذا كرهت خلقته كعيب أو دمامة أو نقص في حواسه فلها الخلع

ثالثاً : إذا كان ناقص الدين بترك الصلاة أو التهاون بالجماعة أو الفطر في رمضان بدون عذر أو حضور المحرمات كالزنا والسكر والسماع للأغاني والملاهي ونحوها فلها طلب الخلع

رابعاً : إذا منعها حقها من النفقة أو الكسوة أو الحاجات الضرورية وهو قادر على ذلك فلها طلب الخلع

خامساً : إذا لم يعطها حقها من المعاشرة المعتادة بما يعفها لعُنّة ( عيب يمنع القدرة على الوطء) فيه أو زهد فيها أو صدود إلى غيرها ، او لم يعدل في المبيت فلها طلب الخلع ، والله أعلم

 

Apabila seorang istri tidak menyukai akhlak suaminya, seperti perangainya yang kasar, emosional, sensistif, sering marah dan sering mengkritik untuk perbuatan sederhana,dan suka mencela untuk sedikit kekurangan. Maka kala itu istri boleh untuk meminta cerai

Kedua: Jika istri tidak menyukai fisiknya seperti cacat, jelek atau inderanya yang kurang, maka kala itu boleh meminta talak.

Ketiga: bila agamanya kurang seperti tidak melaksanakan shalat, atau lalai dalam melaksanakan shalat berjamaah, atau tidak berpuasa ramadhan tanpa udzur, atau dia melakukan keharaman seperti zina, mabuk,mendengarkan nyanyian dan musik dan yang sejenisnya maka istri berhak meminta khulu'

Keempat jika suami tidak memberi hak istri seperti nafkah, pakaian, atau kebutuhan pokok sedangkan suami dalam keadaan mampu memberikan itu maka istri berhak meminta khulu'

Kelima jika sumai tidak memberi hak untuk dipergauli sebagaimana umumnya yang dengan itu istri bisa menjaga kehormatannya seperti karena suami impoten atau suami tidak membutuhkan istrinya (dalam masalah jima') atau suami condong ke wanita lain atau suami tidak adil dalam bermalam (bila istrinya lebih dari satu.pent) maka isti berhak meminta khulu'  
https://islamqa.info/ar/answers/1859/%D8%A7%D9%85%D8%AB%D9%84%D8%A9-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%B9%D8%B0%D8%A7%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%A8%D9%8A%D8%AD%D8%A9-%D9%84%D8%B7%D9%84%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%AE%D9%84%D8%B9-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%B2%D9%88%D8%AC

Syaikh Ibnu Baz pernah ditanya tentang suami yang kadang shalat dan kadang tidak shalat, beliau mengatakan:

فإذا كان لا يصلي بعض الأوقات اتركيه، اذهبي إلى بيت أهلك لا تجلسي عنده؛ لأن ترك الصلاة كفر، نسأل الله العافية، فإذا كان هكذا ولم يسمع منك ولم يقبل النصيحة؛ اتركيه واذهبي إلى أهلك، حتى يهديه الله أو يطلق 

Apabila dia (suami.pent) tidak melaksanakan shalat di sebagian waktu maka pergilah anda (wahai istri.pent) ke rumah keluarga anda dan jangan anda bersama laki-laki itu mengingat meninggalkan shalat adalah kekafiran, kita memohon keselamatan dari Allah ta'ala. Apabila demikian, dia tidak mau mendengar dan tidak mau menerima nasehat maka tinggalkan dia dan pergilah ke keluarga anda sampai Allah ta'ala memberi dia hidayah atau dia mentalak anda. https://binbaz.org.sa/fatwas/16972/حكم-بقاء-المراة-مع-زوج-لا-يصلي-الا-احيانا

Apabila dia tidak mau menceraikan maka bisa membawa masalah ini ke pengadilan agama. Di sana nanti biasanya akan ada proses mediasi dan seterusnya. Diharapkan dalam salah satu proses ini suami bisa sadar dan merubah perilaku buruknya. Wallahu ta'ala a'lam

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com