SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Apakah Boleh Menikah Dengan Seseorang Yang pernah Berzina


Ikhwan (Cianjur)
2 weeks ago on Fiqih

Assalammualaikum wr.wb. ustad Saya mau tanya, saya memiliki seorang pacar, saya laki laki yang tidak pernah berzina, sedangkan pacar saya pernah berzina dengan mantan pacarnya sebelum berpacaran dengan saya. Niat saya ingin menikahinya karna saya benar benar mencintainya, tapi di hati saya masih ragu atau seperti tidak yakin karna saya selalu teringat kadang saya marah, murka, dan menyesal karna wanita yang ingin saya nikahi ini pernah berzina dengan orang lain sebelum menikah. Pertanyaan saya, apakah boleh saya menikahi wanita yang telah berzina dengan orang lain sebelum menikah yaitu (pacar saya sekarang) dan apakah sah bila di nikahi oleh saya wanita tersebut? Terimakasih Wassalammualaikum wr.wb
Redaksi salamdakwah.com
2 weeks ago

 

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Hal pertama yang anda perlu lakukan adalah bertaubat dari dosa pacaran dan memutuskan hubungan dengan pacar anda mengingat pacaran hukumnya terlarang. Silahkan membaca pembahasan sebelumnya di link berikut: http://www.salamdakwah.com/baca-pertanyaan/pacaran-1.html

Selanjutnya nasehatilah wanita itu supaya bertaubat dari pacaran dan bertaubat dari zina. Apabila kedua hal itu sudah dilakukan maka tidak masalah menikah dengan wanita itu. Perlu diketahui bahwa seseorang yang telah berzina dengan lawan jenis kemudian ia bertaubat dari perbuatan keji itu maka telah terangkatlah sifat zina dari dirinya. Syaikh Utsaimin pernah ditanya: Apa makna ayat mulia (An-Nur:3)

الزَّانِي لا يَنْكِحُ إلا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لا يَنْكِحُهَا إِلا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.Dan apakah keimanan terangkat dri diri seseorang serta ia menuju kemusyrikan bila ia melakukan dosa ini?


Beliau menjawab: Apabila kita membaca ayat ini (yang ditutup oleh Allah dengan: dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin) kita bisa mengambil sebuah hukum, yaitu haramnya menikahi pezina wanita dan haramnya menikahi pezina laki-laki. Maksudnya seseorang tidak boleh menikahi pezina wanita dan seorang laki-laki tidak boleh menikahkan putrinya dengan pezina laki-laki...Akan tetapi hukum ini hilang dengan taubat. Apabila seorang pezina laki-laki atau perempuan bertaubat dari zinanya maka akan hilanglah darinya pensifatan tersebut darinya, yakni pensifatan sebagai seorang pezina.. Apabila pezina laki-laki telah bertaubat dari perbuatan zinanya atau pezina wanita dari perbuatan zinanya maka boleh menikahinya. Fatawa Islamiah syaikh Utsaimin 3/246-247

 
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya: Seorang pria hidup bersama seorang wanita tanpa ikatan pernikahan (kumpul kebo) dan memiliki banyak anak. Setelah itu, laki-laki tersebut menikahi dua orang wanita secara syar'i dan keduanya pun melahirkan banyak anak. Kemudian, laki-laki itu ingin mengusir wanita yang pertama dari rumah, tetapi anak-anaknya melarang. Bagaimana hukum atas permasalahan ini?


Mereka menjawab: "kumpul kebo" merupakan perbuatan zina yang diharamkan menurut Alquran, Sunah, dan ijmak umat Islam. Kedua pasangan zina itu harus berpisah, bertobat kepada Allah, dan meminta ampun kepada-Nya. Apabila keduanya sudah bertobat dengan sungguh-sungguh lalu menikah secara syar'i, maka tidak ada lagi yang dipersoalkan...Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 22/24-25 Pertanyaan Kelima dari Fatwa Nomor:6575

 
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa juga pernah ditanya: Apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita kemudian ia menikahinya. Setelah 4 bulan laki-laki itu bertaubat kepada Allah ta'ala. Apakah akad nikahnya sah?


Mereka menjawab: Tidak boleh menikahi pezina wanita dan tidak sah menikahinya sampai dia bertaubat dan masa iddahnya telah berlalu. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 18/383-384. Pertanyaan ke 3 dari fatwa no 17776

 Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com