SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

sahkah nikah siri dengan wali hakim jika ada ayah kandung?


Ikhwan (bekasi)
1 month ago on Fiqih

Assalamualaikum ustad saya izin bertanya. saya laki2 dewasa berusia 24 tahun. saya sudah ingin menikah tetapi blm cukup uang untuk menggelar resepsi. jikalaupun minta izin untuk nikah terlebih dahulu kedua org tua saya dan calon tidak mengizinkan. Jadi saya memutuskan akan melaksanakan nikah siri secara diam2 dengan wali wanitanya menggunakan wali hakim. Niat saya menikah untuk menghindari zina dan insyaallah akan mengadakan nikah resmi 1-2 tahun kedepan. apakah pernikahan siri dengan wali hakim ini sah menurut agama atau tidak? terimakasih wassalamualaikum wrwb
Redaksi salamdakwah.com
4 weeks ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 


Tidak sah pernikahan seorang wanita tanpa mendapatkan izin walinya:
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


لَا نِكَاحَ إِلَّا بِوَلِيٍّ.


Tidak sah suatu pernikahan kecuali dengan keberadaan wali (pihak wanita.pent). HR Abu Daud no.2085. Dishahihkan oleh al-Albani

Pensyaratan wali tersebut bukan hanya diwajibkan pada pernikahan seorang gadis, tapi juga janda. Allah ta'ala berfirman di surat al-Baqarah:232:


فَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ.....


Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya.

Seandainya izin wali tidaklah diperlukan pada pernikahan wanita yang telah menikah sebelumnya, niscaya larangan ini tidak begitu berarti karena wanita tersebut bisa langsung menikah tanpa seizin walinya dan larangan menikah seorang wali tidak akan berpengaruh sama sekali untuk pernikahan tersebut. Lihat Asy-Syarh Al-Mumti' 'ala Zad Al-Mustaqni' oleh syaikh Utsaimin 12/69

Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan:
Bahwa pernikahan tanpa wali adalah batil...dan ini adalah pendapat Shahabat Ali, Umar, Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud, Abu Hurairah, Aisyah (radhiyallahu anhum), al-Hasan al-Bashri, ibn al-Musayyib, Ibn Syubrumah, Ibn Abi Laila, Atrah, Ahmad, Ishaq, asy-Syafi'i dan mayoritas ulama'. Mereka semua berkata bahwa tidak sah suatu akad tanpa ada wali.

Kemudian beliau membantah Ahlu adh-Dhohir yang menyatakan bahwa wali hanya syarat di pernikahan gadis dan bukan pernikahan Janda, beliau menulis: bahwa dalil-dali tidak membedakan (antara gadis dengan janda, jadi hukumnya sama.pent). Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab 16/149

Hukum asalnya hakim tidak bisa menjadi wali pernikahan selama wali dari jalur keluarga masih ada. Berikut ini aturan urutan wali yang perlu diperhatikan demi keabsahan suatu pernikahan. 

Apabila ayah kandung tidak ada maka silahkan mencari anggota keluarga ayah yang lain sebagaimana disebutkan dalam petikan keterangan syaikh Ibnu Baz rahimahullah berikut:
Urutan perwalian nikah yang diwajibkan  adalah keluarga dekat secara berurutan, inilah yang pendapat yang paling kuat dari pendapat-pendapat ulama' yang ada. Keluarga dekat secara berurutan menjadi wali. Dan yang paling dekat adalah ayah kemudian kakek, anak laki-laki, saudara-saudara kandung, saudara-saudara se ayah, paman kandung sebagaimana urutannya dalam pembagian warisan, inilah pendapat yang kuat ....http://www.binbaz.org.sa/mat/19388

Apabila orang-orang tersebut tidak ditemukan meski sudah maksimal mencari maka perwalian berpindah ke tangan hakim yang merupakan wakil dari penguasa. Telah disebutkan dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 18/14: “Tidak boleh menikahkan seorang wanita kecuali mukallaf (sudah terkena beban kewajiban agama) dan matang kejiwaan. Kalau tidak ada, maka hakim (yang menikahkan). Karena penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali. Hakim adalah penggantinya dalam kondisi seperti ini.

Mukallaf (orang yang terkena beban kewajiban) cirinya adalah dengan keluar mani karena syahwat, baik dengan bermimpi atau lainnya. Atau tumbuh rambut di sekitar kemaluan, atau usianya telah mencapai lima belas tahun.

Rasyid (matang kejiwaan) maksudnya bijak dalam berprilaku. Hal tersebut terwujud dengan sikap hati-hati dalam mencari yang setara dengan tepat untuk kebaikan orang yang ada di bawah wilayahnya. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 18/147 pertanyaan kedua dari fatwa no.17529


Perpindahan perwalian ke tangan penguasa setelah wali nasab tidak ada ini didasari sabda Nabi sallallahu’alai wa sallam:

فَإِنْ اشْتَجَرُوا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ 

“Kalau mereka (para wali) berselisih, maka penguasa adalah wali bagi yang tidak mempunyai wali.” (HR. Abu Daud, 2083, Tirmizi, no. 1102)

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com