SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Apakah Manusia Itu Punya Kehendak Ataukah Manusia Itu Dikendalikan Oleh Allah Ta'ala Dan Tidak Punya Kehendak


Ikhwan (Jakarta)
1 week ago on Fiqih

Assalaamualaikum saya ingin bertanya apakah niat manusia itu ditentukan oleh manusia itu sendiri ataukah Allah yang menentukan
Redaksi salamdakwah.com
1 week ago

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

 

Apabila maksud penanya adalah apakah manusia itu punya keinginan dan kehendak ataukah manusia itu tidak punya keinginan dan kehendak serta Allah lah yang mengatur kehidupan manusia sehingga mereka seperti robot yang dikendalikan?

Manusia punya kehendak dan keinginan namun keinginannya tidak keluar dari apa yang Allah takdirkan, meski demikian jangan sampai kita salah faham dan menyimpulkan bahwa manusia dalam keadaan didholimi karena disetir untuk berbuat dosa kemudian Allah masukkan neraka.

Ada pertanyaan yang diajukan ke Ulama' yang duduk di Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Mohon dijelaskan secara ringkas mengenai at-Tasyir (tidak punya pilihan) dan at-Takhyir (punya pilihan)? 

 

Mereka menjawab:Jawaban: Manusia itu mukayyar (punya pilihan) dan musayyar (tidak punya pilihan). Adapun maksud dari mukhayyar adalah bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberi manusia akal, pendengaran, penglihatan dan keinginan. Dengannya ia mengetahui mana yang baik dan yang buruk, yang memberikan manfaat dan yang mengakibatkan mudarat, dan memilih segala sesuatu sesuai kehendaknya. Oleh karena itu, ia dibebani tanggungjawab syariat berupa perintah dan larangan, berhak untuk mendapatkan pahala atas ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan hukuman atas kedurhakaan kepada keduanya. Adapun maksud dari musayyar adalah bahwasanya semua perbuatan dan perkataan manusia tidak akan keluar dari takdir dan kehendak Allah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala  

Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah, (yaitu) bagi siapa di antaramu yang mau menempuh jalan yang lurus Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. dan   Dialah Tuhan yang menjadikanmu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. .

Dalam pembahasan ini, terdapat ayat-ayat dan hadits-hadits shahih yang kesemuanya menunjukkan apa yang telah diterangkan di atas bagi orang yang mau merenungi Al-Quran dan as-Sunnah. Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa  

Abdullah bin Qu'ud (Anggota) Abdullah bin Ghadyan (Anggota) Abdurrazzaq `Afifi ( Wakil Ketua Komite ) Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua )

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 3/517, Pertanyaan Ketiga dari Fatwa Nomor 4513

Makhluk Allah yang mukallaf tidak bisa berdalih dengan takdir ketika mereka berbuat dosa atau meningalkan kewajiban. Diantara alasannya adalah :

1.Firman Allah yang artinya : “Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: “Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apa pun".  Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta “. Al-An’am : 148

Orang-orang musyrik itu beralasan dengan Qadar akan kesyirikan mereka. Kalau sekiranya alasan mereka benar, maka Allah tidak akan menimpakan siksaan-Nya. Barangsiapa yang beralasan dengan Qadar terhadap dosa dan kemaksiatan, maka dia harus membenarkan madzhab orang-orang kafir. Dan menyandarkan kepada Allah dengan secara dholim. Maha Tinggi Allah terhadap tuduhan seperti itu

2. Firman Allah : “(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” An-Nisaa’ : 165. Kalau sekiranya alasan dengan Qadar diterima, maka tidak perlu alasan lagi diutusnya seorang Rasul. Bahkan dengan adanya utusan seorang Rasul nantinya tidak ada manfaatnya dalam kenyataan.

3. Sesungguhnya Allah telah menyuruh dan melarang hamba-Nya, dan dia tidak dibebani kecuali apa yang dia mampu, Allah berfirman : “ Bertaqwalah kamu semua kepada Allah sesuai dengan kemampuan kamu semua “ At-Taghobun : 16. di firman Allah yang lainnya : “ Allah tidak membebani sesorang melainkan sesuai dengan kemampuannya “ Al-Baqarah : 286

Kalau sekiranya seorang hamba mengharuskan untuk melakukan suatu pekerjaan maka hal itu merupakan suatu beban yang dia tidak bisa keluar darinya dan hal ini batil ( tidak benar ). Oleh karena itu manakala seseorang terjerumus melakukan kemaksiatan karena kebodohan atau paksaan, maka dia tidak berdosa karena dia ada alasan yang dibenarkan. Kalau sekiranya alasan dengan Qadar ini benar, maka tidak ada bedanya antara orang yang dipaksa dengan orang bodoh dan antara orang yang sengaja malakukannya. Secara nyata dan menurut logika kedua hal ini ada perbedaan yang jelas sekali.

4. Sesungguhnya Qadar adalah rahasia yang tersembunyi, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya kecuali setelah terjadinya peristiwa. Sementara keinginan seseorang untuk melakukan perbuatan itu mendahului dari pada perbuatannya, sehingga keinginan untuk melakukan perbuatan tidak dibangun atas pengetahuan dia terhadap Qadar. Maka persangkaan dia bahwa Allah telah menentukan ( mentaqdirkan ) dia begini dan begitu adalah persangkaan yang batil. Karena hal tersebut persangkaan terhadap ilmu ghoib. Sementara ilmu ghoib tidak ada yang mengetahuinya melainkan Allah saja. Maka alasannya tertolak karena tidak ada alasan bagi seseorang terhadap apa yang dia tidak ketahuinya.

5. Alasan dengan Qadar terhadap dosa-dosa akan berdampak pada tidak berguna lagi syareat, hari perhitungan ( hisab ), hari kebangkitan, pahala dan siksaan.

6. Kalau sekiranya orang-orang yang berbuat kemaksiatan beralasan dengan Qadar, maka penduduk neraka akan beralasan dengan itu juga ketika dia menyaksikan neraka, dia mengira akan masuk kedalamnya begitu juga ketika telah masuk ke neraka. Dimana dia mendapatkan celaan dan hinaan. Akan tetapi realitanya tidak demikian, mereka tidak beralasan dengan Qadar, akan tetapi mereka mengatakan seperti yang Allah firmankan : “Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul." Ibrohim : 44. Di ayat lainnya mereka mengatakan : “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat “. Al-Mukminun : 106.  Mereka mengatakan juga : “Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. Al-Mulk : 10. Ayat lain : “Mereka menjawab: "Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat ”. al-Mudatsir : 43. Dan ucapan-ucapan lainnya yang mereka katakan.

Kalau sekiranya alasan dengan Qadar bagi orang yang melakukan kemaksiatan, pasti mereka akan gunakan alasan tersebut karena mereka dalam kondisi yang sangat membutuhkan sekali agar bisa menyelamatkan dari Neraka Jahanam.

7. Kalau sekiranya beralasan dengan Qadar dibenarkan, maka akan menjadi alasan Iblis yang dia telah mengatakan : “Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus “ Al-A’raf : 16. Akan sama kedudukan antara Fir’aun musuh Allah dengan Musa Kalimullah ( orang yang pernah diajak berbicara dengan Allah ) ‘Alaihis salam.

8. Dan diantara yang menolak pendapat ini dan menerangkan akan kerusakannya adalah sesungguhnya kami melihat manusia sangat menjaga sekali untuk mendapatkan apa-apa yang enak dalam urusan dunia. Dan kita tidak dapatkan seseorang yang meninggalkan untuk kebaikan urusan dunianya dengan melakukan apa-apa yang dapat merusaknya dengan alasan Qadar. Kenapa mengalihkan yang bermanfaat dengan melakukan sesuatu yang mencelakakan  kemudian berasalan dengan Qadar ?!. Untuk lebih jelasnya saya kasih contoh berikut ini. Kalau sekiranya seseorang ingin bepergian ke suatu Negara, yang mana ada dua jalan untuk melewatinya. Salah satu jalan aman dan tenang. Dan yang lain banyak keributan, kekacauan, pembunuhan dan perampokan. Jalan manakah yang akan dia lalui ?? tidak ragu lagu dia pasti memilih jalan yang pertama. Kenapa dalam urusan akhirat tidak melalui jalan menuju surga tanpa melalui jalan ke neraka ??

9. Yang mungkin kita bisa bantah kepada orang yang beralasan seperti ini – sebagaimana madzhabnya – dikatakan kepadanya : “ Engkau jangan menikah, kalau sekiranya Allah menentukan anda mempunyai anak nanti akan datang kepada anda, kalau tidak ditentukan tidak akan datang. Jangan makan dan minum, karena kalau Allah menentukan anda kenyang dan tidak haus maka akan terjadi. Kalau Allah tidak menentukan, tidak akan terjadi. Kalau ada binatang buas menyerang anda, jangan lari darinya. Karena kalau Allah taqdirkan anda selamat pasti selamat. Kalau ditaqdirkan anda celaka, tidak akan bermanfaat meskipun anda lari. Kalau anda sakit tidak perlu berobat, kalau Allah tentukan sembuh anda akan sembuh. Kalau tidak ditaqdirkan sembuh tidak bermanfaat obat-obatan. Apakah dia akan setuju dengan pendapat ini atau tidak ?? Kalau dia setuju berarti dia rusak akalnya, kalau tidak setuju berarti rusak / salah pendapat dan alasannya.

10. Orang yang beralasan dengan Qadar dalam kemaksiatan seperti dirinya dengan orang gila dan bayi yang tidak ada kewajiban ( tidak mukallaf ), tidak ada beban tanggung jawab. Kalau sekiranya dia dimuamalahi dalam urusan dunia, pasti dia tidak akan rela.

11. Kalau sekiranya kita terima alasan dia yang batil, maka kita tidak perlu lagi istighfar ( memohon ampunan ), bertaubat, doa, jihad, menyuruh kebaikan dan melarang kemungkaran.

12. Kalau sekiranya alasan dengan Qadar bagi dosa-dosa dan kemaksiatan, maka akan rusak kemaslahatan manusia. Kekacauan ada dimana-mana, tidak perlu hukum pidana, hukuman biar jera Karena pelakunya akan beralasan dengan Qadar. Begitu juga tidak perlu lagi hukuman bagi orang-orang dholim, penjegal jalanan, tidak perlu membuka pengadilan, mengangkat hakim dengan alasan semua yang terjadi karena atas Qadar / Ketentuan Allah. Hal ini tidak ada satupun orang yang berakal mengatakannya.

13. Orang yang beralasan dengan Qadar mengatakan : “ Kami tidak disiksa karena Allah menuliskan kejelekan kepada kami. Bagaimana kami bisa disiksa padahal kami sudah dicatat ? “.  Kita katakan kepadanya : “ Susunggguhnya kami tidak disiksa dengan tulisan terdahulu. Akan tetapi kita disiksa terhadap apa yang telah kita perbuat dan telah kita laksanakan. Kita tidak diperintahkan terhadap apa yang telah Allah tentukan atau telah Allah tuliskan kejelekan kepada kita. Akan tetapi kita diperintahkan mengerjakan apa yang akan diperintahkan kepada kita. Keduanya ada perbedaan antara apa yang diinginkan dengan kita dan apa yang diinginkan dari kita. Kalau apa yang diinginkan dengan kita, maka kita melakukan sesuai dengan apa yang dituliskan. Tapi kalau yang diinginkan dari kita adalah kita diperintahkan untuk melakukannya. 

Berkaitan dengan Ilmu Allah akan terjadinya suatu pekerjaan telah diketahui kemudian dituliskannya, bukan merupakan alasan. Karena kandunga Ilmu-Nya Yang Sempurna Mencakup semua apa yang diciptakan-Nya. Hal itu bukan bentuk dari jabar ( pemaksaan ). Contoh dalam kenyataan – dengan tidak menyamakan Allah Yang Maha Tinggi – kalau seandainya seorang guru mengetahui kondisi sebagian muridnya tidak lulus tahun ini karena kenakalan dan kemalasannya. Kemudian murid ini tidak lulus sebagaimana pengetahuan guru tadi, apakah orang yang berakal akan mengatakan bahwa guru yang memaksanya gagal. Atau murid tersebut boleh mengatakan : “ Saya tidak lulus karena guru ini telah mengetahui saya tidak akan lulus ? “. Secara umum bahwa alasan dengan Qadar dalam melakukan kemaksiatan atau meninggalkan kewajiban adalah alasan batil dalam Syara’, akal dan alam realita.

Dan yang perlu untuk diingatkan bahwa kebanyakan dari mereka, alasan yang keluar bukan karena dari penerimaan dan keimanan. Akan tetapi karena mengikuti hawa nafsu dan keingkaran. Oleh karena itu sebagian ulama’ mengatakan berkaitan dengan kondisi mereka : “ Kamu dalam ketaatan Qadari ( sesuai dengan ketentuan Allah ) dan dalam kemaksiatan Jabari ( Allah telah mamaksanya untuk melakukannya ). Madzhab apa yang mereka gunakan dalam mengambil madzhab seperti ini “ ( Majmu’ Fatawa : 8 / 107 ) yakni kalau dia melakukan ketaatan disandarkan kepada dirinya dan mengingkari akan ketentuan Allah padanya. Kalau melakukan kemaksiatan beralasan dengan Qadar.

Syeikhul Islam rahimahullah berkata berkaitan dengan orang yang beralasan dengan Qadar : “ Kaum tersebut kalau sekiranya terus menerus dengan keyakinan seperti itu, maka dia lebih kufur dibandingkan Yahudi dan nashroni “ ( Majmu’ fatawa : 8 / 262 )

 

Wallahu ta'ala a'lam

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com