SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Calon Saya Tidak Disetujui Oleh Keluarga


Akhwat (Jakarta)
2 weeks ago on Keluarga

assalamualaikum..... bagaimana cara menyatukan dua keluarga.... keluarga saya sangat membenci cowok yang dekat dengan saya saat ini karena cowok saya tatoan, penguna aktif salah satu obat2an dan peminum, saya ingin merubahnya agar dia dapat diterima dikuarga saya dan saya ingin merubahnya menjadi lebih baik lagi tetapi.. keluarganya pun tidak setuju dengan saya karena ayah saya sudah berbicara marah2 dengan keluarga... tapi kami ada niatan serius melanjutkan kejenjang pernikahaan.... pertanyaan saya apakah kita boleh menjalankan ibadah menikah dengan restu orang tua?
Redaksi salamdakwah.com
2 weeks ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Kalau kami diperkenankan memberi nasehat sebagai bentuk rasa keperdulian kepada saudara seiman maka nasehat kami adalah: Hal pertama yang perlu penanya lakukan adalah memutuskan hubungan pacaran dengan laki-laki manapun karena dalam Islam tidak ada hubungan seperti pacaran dengan lawan jenis di luar hubungan pernikahan.  Silahkan membaca jawaban kami sebelumnya di link berikut: http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/2654-barpacaran-yang-baik

Selanjutnya, penanya perlu merubah preferensi dari kriteria calon pasangan hidupnya. Kriteria pertama yang harus ia perhatikan adalah agamanya kemudian hal-hal lain yang akan menyusul. Apabila dari awal agama calon tidaklah baik maka jangan dipilih. Dalam kasus ini nasehat kami adalah janganlah memilih laki-laki yang konsisten dalam pebuatan dosa, terlebih dosa besar, karena ini secara tidak langsung  menunjukkan tingkat agama dan keimanan seseorang. Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin pernah ditanya:


بارك الله فيكم من السودان جعفر محمد يقول: إذا كانت هناك شابة موافقة على الزواج من شابٍ شاربٍ للخمر والعياذ بالله، هل يجوز لوالديها أن يمنعاها عن ذلك، إذا هي وافقت على ذلك، فأرجو لهذا إفادة؟

الجواب:


 إذا رضيت البنت شخصاً ليس بكفءٍ في دينه، فإنه يجب على ولي أمرها أن يمنعها منه ولا يجوز أن يوافقها؛ لأنه ولي يجب عليه فعل الأصلح، وهذا من الحكمة في أن النكاح لا يصح إلا بولي؛ لئلا تختار البنت من ليس بكفءٍ لها في دينه، ولكنه خدعها حتى وافقت عليه،...  وشرب الخمر والعياذ بالله من كبائر الذنوب؛ لأن الخمر محرمٌ بكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم وإجماع المسلمين، وهي عن الخمر أم الخبائث، وكم من معصية كبيرة ترتبت على شرب الخمر .

Baarakallahu fiikum. Ada Ja'far Muhammad dari Sudan ia berkata: Apabila ada pemudi yang setuju menikah dengan pemuda yang meminum minuman keras (Kita berlindung dari Allah dari hal itu). Apakah boleh bagi kedua orang tuanya untuk melarang wanita ini melakukan ha yang demikian bila si wanita telah menyetujuinya. Saya berharap ada ilmu yang diberikan?

Beliau menjawab:

Apabila pemudi tersebut setuju menikah dengan pemuda yang tidak sekufu' (setara) dalam masalah agamanya maka wajib bagi walinya untuk melarang dia menikah dengannya. Wali itu juga tidak boleh menyetujuinya, karena memang ia adalah wali yang harus melakukan yang paling baik (untuk orang yang berada dalam perwaliannya.pent) . Ini adalah termasuk hikmah kenapa pernikahan itu tidak sah tanpa wali, yakni supaya si putri tidak memilih laki-laki yang memang tidak sekufu' dengannya. laki-laki itu telah menipunya hingga si wanita setuju...Meminum-minuman keras termasuk termasuk dosa besar karena minuman keras haram hukumnya didasari al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam serta kesepakatan kaum muslimin. Minuman keras adalah induk dari kekejian. Betapa banyak maksiat besar yang muncul dari konsumsi minuman keras...http://binothaimeen.net/content/10551

Apabila kita tidak memakai parameter agama Islam dalam hal ini, tetap saja menikah dengan orang yang suka dengan minuman keras resikonya sangat tinggi dalam kehidupan rumah tangga di masa mendatang mengingat kehidupan berpacaran tidaklah sama dengan kehidupan rumah tangga. Dalam berpacaran dua sejoli tidaklah hidup bersama dalam waktu yang lama. Sangat mungkin adanya hal-hal yang disembunyikan oleh salah satu pasangan dari pasangannya demi keberlangsungan hubungan pacaran itu. dalam kehidupan rumah tangga akan nampak watak dan karakter masing-masing pasangan dengan jelas. Cukup kecil kemungkinan salah satu pasangan terus mengalah dan selalu mengikuti arahan pasangan lainnya bila tidak ada nilai tertentu yang mereka pegang oleh karena itu secara kasar bisa kami katakan sangat mungkin seorang laki-laki menuruti arahan pacarnya namun itu bukanlah jaminan ia akan selalu menuruti keinginan wanita itu bila telah menikah meski keinginan itu baik. Bukti adanya kemungkinan ketidakselarasan suami istri yang sebelumnya berpacaran selama bertahun-tahun adalah perceraian yang terjadi setelah mereka menikah padahal mereka berdua telah menempuh waktu adaptasi yang tidak pendek ketika berpacaran. 

Menikah dengan laki-laki yang ingin berubah saat akan menikah itu memiliki resiko bahwa laki-laki itu akan kembali kepada kebiasaan buruknya saat telah menikah megingat dia berubah hanya karena ingin menikah dengan pujaan hatinya dan itu tidak didasari keinginan dari diri sendiri. Apalagi menikah dengan laki-laki yang tetap pada sikap buruknya saat menikah. Kami tidak memungkiri adanya kemungkinan perubahan sifat seseorang seiring berjalannya waktu namun idealnya seseorang memilih calon pasangan hidup yang kriterianya baik, sebagaimana Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah memberikan arahan:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لِأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.

Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Perempuan itu dinikahi karena empat hal: hartanya, nama baik nenek moyangnya, cantiknya dan agamanya. Pilihlah wanita yang baik agamanya. Jika tidak maka engkau akan beruntung” HR. Bukhari no.5090 dan Muslim no.1466  

Apabila kita berpijak kepada logika saja sebenarnya sangat jelas resiko pernikahan dengan pasangan yang punya kebiasaan buruk (dengan harapan ada perubahan di masa mendatang). Itu seperti kenekantan seseorang pergi ke tempat yang jauh namun tidak disertai bekal (dia modalnya hanya harapan ada orang baik yang akan memberinya fasilitas yang cukup di tempat tujuan selama bertahun-tahun).  Memang ada kemungkinan itu akan terwujud namun bila terwujud biasanya itu juga disertai resiko penderitaan yang  cukup besar. Keadaan ini juga ada kemiripan dengan orang yang memperbaiki kapal saat kapal itu berlayar, adakalanya berhasil dengan susah payah namun kemungkinan kegagalan dan kerusakan kapal cukuplah besar. 

Perlu difahami oleh penanya bahwa sosok suami dalam rumah tangga memiliki peran yang sentral sehingga suami idealnya adalah sosok yang mampu menjadi sandaran dan panutan dalam banyak hal bagi anggota keluarga yang lain(baik itu istri maupun anak-anak). Apabila suami memiliki karakter dan sifat yang tidak baik maka perjalanan rumah tangga akan sangat berat terlebih bila Allah ta'ala mentakdirkan usia panjang dalam pernikahan itu. Contohnya bila suami tidak maksimal dalam mencari nafkah karena kemampuan fisiknya yang tidak maksimal dikarenakan ketergantungannya kepada minuman keras dan obat-obatan maka efeknya perekonmian keluarga akan limbung dan berantakan padahal sebagian kebutuhan konsumsi keluarga sifatnya mutlak harus ada, baik itu dalam keadaan keuangan yang bagus ataupun tidak. Contoh lainnya adalah suami akan menjadi tauladan bagi istri dan anak-anaknya, apabila perilaku suami buruk maka secara logika sangatlah berat menjadikan anak-anak menjadi baik karena mereka setiap hari melihat tauladan yang buruk sehingga endingnya adalah keadaan rumah menjadi tidaklah kondusif dan seseorang tidak mendapatkan kebahagiaan di rumahnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menerangkan efek buruk dari pergaulan yang buruk. Dalam salah satu hadits disebutkan:

سَمِعْتُ أَبَا بُرْدَةَ بْنَ أَبِي مُوسَى، عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالجَلِيسِ السَّوْءِ، كَمَثَلِ صَاحِبِ المِسْكِ وَكِيرِ الحَدَّادِ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ المِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ، وَكِيرُ الحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ، أَوْ ثَوْبَكَ، أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَة

Aku mendengar Abu Burdah bin Abu Musa dari bapaknya radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perumpamaan orang yang bergaul dengan orang shalih dan orang yang bergaul dengan orang buruk seperti penjual minyak wangi dan tukang tempa besi, Pasti kau dapatkan dari pedagang minyak wangi apakah kamu membeli minyak wanginya atau sekedar mendapatkan bau wewangiannya, sedangkan dari tukang tempa besi akan membakar badanmu atau kainmu atau kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap. HR. Bukhari no. 2101 dan Muslim no. 2628, lafadz di atas adalah lafadz Bukhari.


Rasul shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِل

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang laki-laki itu bergantung dengan agama teman gaulnya, maka hendaklah salah seorang melihat siapa yang menjadi teman gaulnya."HR. Abu Daud no.4833 dan Tirmidzi no.2378 dan yang lainnya. Dihasankan oleh Al-Albani.

Disebutkan dalam pertanyaan bahwa penanya akan berusaha mengarahkan laki-laki itu ketika dia sudah resmi menjadi pasangan hidupnya. Seharusnya upaya ini perlu disandarkan kepada Allah ta'ala karena Allah ta'ala yang membolak-balikan hati dan Allah lah yang memberikan hidayah dan bukan manusia. Sekelas Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang telah Allah ta'ala bekali dengan sikap sabar dan akhlak mulia kadang belum berhasil mengarahkan seseorang kepada kebaikan dan iman (seperti cerita Abu Tholib)  apalagi orang biasa yang memiliki banyak kekurangan dalam upaya dan metode berdakwah bila dibandingkan dengan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Allah ta'ala telah menjelaskan dengan jelas bahwa kita tidak bisa memberi hidayah siapa yang kita cintai semau kita namun Allah lah yang memberi hidayah siapa yang Dia kehendaki. Allah ta'ala berfirman dalam surat  Al-Qashas:56


إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ


Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
       

Nasehat yang kami sampaikan ini bukan didasari rasa iri atau didasari sikap sentimen pribadi kepada penanya atau kepada laki-laki tersebut. Yang kami lakukan didasari rasa ingin kebaikan untuk penanya dan laki-laki itu. Kebaikan buat penanya ada dalam bentuk ia mendapatkan rumah tangga yang ideal yang dipenuhi sakinah, mawaddah dan rahmah. Kebaikan buat laki-laki tersebut ada dalam bentuk teguran (efek dari ia tidak dipilih karena perilakunya yang tidak dirubah)  supaya ia mau bertransformsi dan menjadi pribadi yang baik. Apabila ia telah berubah total menjadi pribadi yang baik dilihat dari sisi agama dan lainnya maka ia bisa menjadi calon pasangan bagi wanita-wanita sholehah meski dia masa lalunya kelam.  

Wallahu ta'ala a'lam

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com