SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Was Was


Akhwat (Jatim)
2 weeks ago on Aqidah

Assalamualaikum ustad saya sering sekali merasa was was ,sesuatu terbesit dalam hati lalu saya takut telah murtad kemudian saya bersyahadat,apa setelah itu saya harus mandi wajib? Terimakasih atas jawabannya7
Redaksi salamdakwah.com
2 weeks ago

 

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Sebatas was-was, bisikan setan atau terbersit dalam hati tidaklah menjadikan seseorang keluar dari Islam bila dia sendiri aqidahnya benar dan melaksanakan amalan-amalan yang menunjukkan dia adalah seorang mukmin. Oleh karena itu tidak perlu mandi sebagai tanda masuk Islam. Namun was was  itu perlu diatasi. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi memberikan jawaban bagus untuk pertanyaan yang ada kemiripannya dengan yang disampaikan di sini. Berikut ini bunyi pertanyaannya:

Saya mohon Anda membaca surat saya secara lengkap untuk mengetahui apa yang ingin saya sampaikan. Kapankah seseorang itu murtad? Semoga kita dilindungi Allah. Mungkin pertanyaan saya kedengaran aneh, akan tetapi masalah ini membuat saya benar-benar bingung. Dalam beberapa kesempatan saya merasa was-was atas sebagian tindakan dan perbuatan saya, seolah-olah perbuatan ini mengarah kepada perbuatan murtad --semoga Allah melindungi kita semua dari hal itu--. Saya ingin memberitahu Anda bahwa hati saya --alhamdulillah -- merasa benar-benar tenteram dengan keimanan, akan tetapi keraguan selalu mendera sebagaimana saya sebutkan tadi, dalam setiap amalan (perbuatan) yang saya lakukan atau sebelum saya lakukan, contohnya ketika saya berbicara dengan seseorang atau banyak orang, keraguan merasuki saya, sebelum saya mengucapkan satu perkataan, saya merasa bahwa perkataan yang akan saya ucapkan ini mengarah kepada kekufuran, semoga Allah melindungiku, hingga membuat saya ragu-ragu dalam berbicara dan gugup, terkadang saya tidak sempat berpikir ulang; apakah perkataan ini saya ucapkan atau tidak saya ucapkan, agar tidak menimbulkan hal yang membuat malu, pembicaraan saya yang terus menerus membuat kata-kata yang keluar tidak terkendali dan saya tidak bermaksud mengeluarkan kata-kata yang (membuat saya) kafir--semoga Allah melindungiku, lalu perasaan was-was datang mengganggu, apakah waktu itu saya menjadi seperti orang yang murtad, a'udzubillah min dzalik -- saya berlindung kepada Allah dari hal itu --. Yang menambah perasaan was-was dalam diriku bahwa saya sudah merasa makna kata-kata tersebut sebelum saya ucapkan. Apakah saya sama seperti orang yang terpaksa menjadi kafir, karena tokoh-tokoh yang menjadi teman berbincang dengan saya tadi diam menanti kelanjutan ucapan saya, lalu saya mendapatkan bahwa ini adalah alasan yang tidak kuat, hingga membuat keraguan saya bertambah, akan tetapi saya merasa bahwa saya tidak akan pernah keluar meninggalkan agama ini selamanya, walaupun saya disiksa, apalagi dibanding keadaan saya pada saat berbicara tadi?! Sungguh ini adalah perasaan aneh yang menghinggapi diriku membuatku tidak bisa tidur. Jika saya berusaha mengabaikan permasalahan ini, saya merasa tidak mampu karena saya kembali dihinggapi keraguan lainnya. Apakah saya harus mandi sekarang juga sebagaimana orang yang baru masuk Islam karena salat saya tidak akan sah kecuali setelah membersihkan diri, dan apakah seluruh amal saleh yang terdahulu itu hilang sebagaimana amalan orang murtad --semoga Allah melindungiku, dan apakah saya -misalnya- harus mengulangi ibadah haji? Juga terjadi pada saya pada saat susah atau sedang marah, saya mendapati jiwa saya mendorong pada pikiran tertentu, yang tidak bisa saya sebutkan di sini, lalu saya berusaha menahan emosi dan berusaha mengatasi pikiran ini. Apakah kejadian tadi menjadikan saya kafir, -- semoga Allah melindungi?

Dan yang ingin saya katakan adalah saya pernah membaca hadits yang maknanya bahwa jika seorang Muslim mengkafirkan saudaranya maka ucapannya tadi kembali padanya. Apakah makna hadits ini bahwa seorang Muslim jika mengkafirkan orang lain maka dia sudah menjadi kafir yakni posisinya seperti orang yang benar-benar murtad? Bagaimana jika saya merasa misalnya; bahwa seseorang itu kafir, akan tetapi saya belum mengungkapkannya? Saya juga mau bertanya apakah dibenarkan memiliki keyakinan/percaya pada sebagian khurafat seperti percaya pada nomor sial (13), atau merasa pesimis (akan datang kesialan) karena jatuhnya kuku ke tanah, dan lain sebagainya dari beberapa jenis khurafat, apakah ini termasuk kafir? Orang yang percaya pada keyakinan seperti ini notabene seorang Muslim tulen dan beriman kepada risalah Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Jika seseorang itu bertaubat dan meninggalkan keyakinan tersebut apakah dia terhitung seperti orang yang baru masuk Islam? Artinya dia harus mandi membersihkan diri atau yang semisalnya? Pertanyaan saya yang lain apakah perasaan was-was dalam diri saya dan keraguan-keraguan yang menghinggapi diri ini seperti apapun dia, termasuk dosa yang akan mendapat hukuman atau tidak? Perlu diketahui terkadang saya menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan masalah ini berusaha untuk mengatasinya, dan saya tidak akan memperpanjang surat saya lebih dari ini, dan saya menjadikan satu pertanyaan yang menyeluruh mencakup semua yang saya sebutkan tadi: kapan seorang itu dikategorikan murtad? Saya tidak ingin bertanya bagaimana seorang itu mengetahui dirinya murtad, tetapi bagaimana seorang itu bisa mengenali dirinya jika dia murtad? (semoga Allah melindungi kita semua), sebagaimana saya juga ingin bertanya, apakah wajib bagi orang yang murtad jika dia ingin masuk Islam untuk mandi seperti orang kafir yang akan masuk Islam, walaupun dia tidak pernah junub selama masa murtadnya? Pertanyaan lainnya: haji adalah kewajiban yang wajib dilakukan sekali seumur hidup, kecuali orang itu murtad -- semoga Allah melindungi kita semua --, Apakah ada hal-hal lain yang menyebabkan seorang Muslim itu menjadi wajib melaksanakan haji yang kedua?

Mereka menjawab:
Pertama : Ada banyak hal yang menyebabkan batalnya keislaman seseorang sebagaimana dijelaskan oleh para ulama dalam pembahasan hukum orang yang murtad, di antaranya barangsiapa yang murtad dari Islam, lalu ia kembali masuk Islam, maka amal saleh yang dilakukannya pada masa dia masih Islam tidak gugur, berdasarkan firman Allah Ta'ala: Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi syarat kesia-siaan amal orang itu jika dia mati dalam keadaan kafir.

Kedua : Bisikan hati, dan perasaan was-was dari setan tidak akan dihitung sebagai kesalahan seorang Muslim, dan ia tidak dianggap murtad dari Islam jika aqidahnya masih benar (kokoh), berdasarkan sabda Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam:

«إن الله تجاوز عن أمتي ما حدثت بها أنفسها»

Sesungguhnya Allah memaafkan umatku (berkenaan dengan) apa yang terbesit dalam hatinya. Muttafaq 'Alaih.

Ketiga : Buanglah perasaan was-was dan bisikan hati yang buruk itu dari dirimu, dan mintalah perlindungan kepada Allah dari perasaan itu, dan katakan : "Aamantu billaahi wa Rusulihi" (aku beriman kepada Allah dan Rasul-Rasul Nya). Perbanyak berzikir mengingat Allah, membaca Al-Quran, dan bergaul dengan orang-orang saleh, dan sembuhkan dirimu dengan mendatangi dokter spesialis kejiwaan dan syaraf. Bertakwalah kepada Allah semampunya, dan mohonlah kepada Allah setiap Anda mendapat masalah agar membuka jalan keluar bagi keluhanmu dan menghilangkan kesusahanmu, Allah Ta'ala berfirman: dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.(2) dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.
Kami memohon kepada Allah memberimu kesembuhan.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota)
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)
Abdurrazzaq `Afifi (Wakil Ketua Komite)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-lajnah ad-Daimah 2/200-202 Fatwa Nomor (7654)

Kami sarankan penanya untuk semakin memperdalam ilmu agama dengan mengambil ilmu itu dari para guru yang memang dikenal komitmennya untuk mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat, kemudian pilihlah yang memiliki akhlak bagus serta sikap wara'.  Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com