SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

menggunakan harta dari hasil yang batil


Akhwat (Kelaten)
1 month ago on Mu'ammalah

Jadi begini ustaz, saya seorang pelajar dan berusia 20 tahun. saya memiliki uang yang banyak. Uang itu awalnya saya dapat dari bekerja yang halal. Lalu saya tergoda dengan kegiatan mencari uang dengan cara batil.. Dan akhirnya uang halal tersebut saya pakai sebagai modal mencari uang yg haram. Saya tidak mencuri, korupsi, menggelapkan uang, judi, mengundi, namun saya memanfaatkan fasilitas aplikasi android untuk mendapat keuntungan. Namun saya melakukan kecurangan yang tidak sesuai standar apk tersebut untuk mendapat keuntungan dan membuat banyak akun untuk untuk semakin mendapat keuntungan, jelas tentu hal itu melanggar ketentuan dari promo aplikasi tsb. Lalu ustad, saya taubat dan tidak ingin mengulangi perbuatan saya lagi. Lalu saya ingin berniat mencari uang yang halal dengan berdagang. Namun sebagian uang haram tsb, sudah saya pakai untuk membeli peralatan berdagang, karena saya sebelum nya bertanya pada dosen agama saya, beliau berkata asalkan sudah taubat tidak apa apa, anggap saja "bonus" Yang saya dapat. Namun setelah saya searching lagi ternyata hal itu tidak boleh, ibarat mencuci baju dengan air kencing. Karena kasusnya sebagian sudah saya belikan alat berdagang, apakah tetap saya boleh pergunakan Alat berdagang saya? Dan saya mencari modal lagi dengan meminjam uang orang tua saya untuk lanjut berdagang. Atau kalau tidak boleh, apakah boleh saya melakukan hal ini, Saya menghitung keseluruhan modal yang sudah saya gunakan dr uang haram tsb untuk membeli alat dagang. Misal seluruh nya 2jt. Lalu saya tetap pakai alat nya, dan meminjang uang orang tua saya lagi untuk tambahan modal (uang halal) Dan setelah saya untung 2jt. Saya kembalikan uang haram trs ke rekeni ng tempat saya menyimpan uang haram trs dan yang itu tidak akan saya pakai lagi. Boleh kan seperti itu ustaz??? Saya benar2 bingung karena saya takut sekali dengan uang itu ibadah, sedekah, dan amal baik saya tidak diterima oleh Allah SWT.
Redaksi salamdakwah.com
1 month ago

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

 

Apabila penanya melakukan kecurangan maka ini jelas terlarang. Syaikh Ibnu Baz berkata: kecurangan dalam ujian, ibadah dan muamalah adalah haram hukumnya ini berdasarkan sabda Rasul shallallahu alaihi wa sallam:


من غش فليس مني

barangsiapa yang curang maka bukan termasuk golonganku. HR. Muslim no.102


Disamping itu kecurangan banyak berefek buruk di dunia dan akhirat, maka kewajiban kita adalah berhati-hati darinya dan saling menasehati untuk meninggalkannya. Majmu’ Fatawa Ibnu Baz juz.24 hal.62

Ini termasuk mengambil harta orang lain dengan cara yang batil. Penanya perlu bertaubat kepada Allah ta'ala.  Berikut ini syarat-syarat taubat yang disebutkan oleh Ulama':
1. Ikhlas karena Allah ta’ala : maksudnya adalah karena takut kepada Allah ta’ala dan ingin mendekat kepadaNya

2. Menyesal atas perbuatan dosa yang telah dia perbuat sebelumnya.

3. Segera meninggalkan dosa tersebut dan tidak menunda-nundanya

4. Bertekad kuat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut

5. Taubat itu dilaksanakan pada saat taubat masih diterima, yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat. Diterjemahkan secara bebas dari Asy-Syarh Al-Mumti’ Ala Zad Al-Mustaqni’ oleh syaikh Utsaimin 14/380

Apabila dosa itu berbentuk kedholiman kepada yang lain maka ada syarat lain yang harus dipenuhi yaitu meminta keridhoan dan kehalalan dari orang yang didholimi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ 


“Siapa yang berbuat kedzaliman kepada saudaranya baik dari sisi kehormatan atau sesuatu hal, maka mohonlah dihalalkan darinya sekarang (pada hari ini) sebelum tidak berguna lagi dinar dan dirham. Kalau dia mempunyai amal shaleh, maka akan diambil darinya sesuai dengan kadar kedzalimannya. Kalau tidak mempunyai kebaikan, maka keburukan orang tersebut akan diambil dan dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 2449)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:


قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " الظُّلْمُ ثَلَاثَةٌ: فَظُلْمٌ لَا يَتْرُكُهُ اللهُ، وَظُلْمٌ يُغْفَرُ، وَظُلْمٌ لَا يُغْفَرُ، فَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُغْفَرُ فَالشِّرْكُ لَا يَغْفِرُهُ اللهُ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي يُغْفَرُ فَظُلْمُ الْعَبْدِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُتْرَكُ فَظُلْمُ الْعِبَادِ فَيَقْتَصُّ اللهُ بَعْضَهُمْ مِنْ بَعْضٍ "


“Kedzaliman itu ada tiga; kedzaliman yang tidak akan Allah biarkan, kedzaliman yang akan dia ampuni, dan kezhaliman yang tidak akan dia ampuni. Adapun kedzaliman yang tidak Allah ampuni adalah syirik, itu tidak akan Allah ampuni. Adapun kedzaliman yang akan diampuni adalah kedhaliman hamba (terhadap dirinya sendiri) dalam perkara yang ada antara dirinya dan Rabb-nya. Adapun kedzaliman yang tidak akan Allah biarkan adalah kezhaliman sesama hamba hingga Alah akan mengqishah yang satu dengan yang lain.” Hilyatul auliya' wa Tabaqat al-Ashfiya' 6/309 . Hadits ini hasan menurut syaikh al-Albani, lih. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 4/560

Dengan demikian penanya bisa mengkalkulasi hasil kecurangan yang dilakukan kemudian penanya berusaha semaksimal mungkin mengembalikan hasil kecurangan itu kepada pihak yang dicurangi. Apabila penanya menggunakan uang haram itu sebagai moodal bisnis maka disamping penanya mengembalikan modal haram itu penanya juga perlu memberikan sebagian keuntungan bisnis yang dijalankan, seakan-akan orang yang dicurangi itu menjadi salah satu pemodal bisnis penanya. Ibnu Taimiyyah menerangkan:


إن كان جميع ما بيده أخذه من الناس بغير حق : ...مثل أن يغصب مال قوم بافتراء يفتريه عليهم... فهذه الأموال مستحقة لأصحابها، ومن اكتسب بهذه الأموال بتجارة ونحوها
وقيل : بل يقسم الربح بينه وبين أرباب الأموال كالمضاربة

Apabila semua harta yang dia kuasai berasal dari masyarakat, dia mengambilnya dari mereka dengan cara yang tidak benar seperti dengan cara mengambil paksa harta suatu kaum dengan melakukan kebohongan atas mereka maka harta ini merupakan hak pemiliknya (masyarakat.pent) dan milik orang yang menggunakan harta-harta tersebut dengan cara menjadikannya modal bisnis atau semacamnya...ada yang mengatakan bahwa laba itu dibagi antara dia dan pemilik harta seperti pembagian mudhorobah. Majmu' Fatawa 30/328-329

 Wallahu ta'ala a'lam

 

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com