SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Saya Dipaksa Menikah Oleh Orang Tua Saya


Akhwat (Jakarta)
3 weeks ago on Fiqih

Assalamualaikum wr.wb Ustad sya ingin bertanya sya menikah karna dijodohkan Tpi sejak awal sya sudah menolak dan bicara pada kedua orang tua sya namun kedua orang tua sya tetap meningkahkan sya.. Tanpa izn dari sya Dari sang lelaki juga sudah tau bahwa sya tidak menyukainya.. Setelah menikah saya tidak mau diajk berhubungan bahkan sya sering marah" kalau bersma iya 1. Pertanyaan sya bagaimna hukum pernikahan sya ini Ustad 2. Bagaimna hukumnya kalau sya tidak mau diajak berhubungan dengan sang suami 3. Bagaimna hukumnya kalau sya tidak mencintai suami saya Hingga saat inipun sya tidak bisa menggugat cerai karna alasan tidak diperbolehkan kedua orang tua dan sodara" sya Bagaimna saya menyikapi kedua orang tua sya.. Mohon pencerahannya ustad Wassalammualaikum wr.wb
Redaksi salamdakwah.com
3 weeks ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Seorang wanita yang sudah baligh tidak boleh dinikahkan kecuali dengan izin dan ridhonya, baik dia itu masih perawan atau sudah janda, ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam

لاَ تُنْكَحُ الأَيِمُ حَتَّى تُسْتَأْمَر، وَلَا تُنْكَحُ البِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَن، فقالوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ: فَكَيْفَ إِذْنُهَا؟ قال: أَنْ تَسْكُتَ

“Janda tidak dinikahkan sebelum diminta arahannya. Dan gadis tidak dinikahkan sebelum diminta izinnya. Mereka bertanya, bagaimana izinnya wahai Rasulullah? Beliau bersabda: Jika dia diam. " (HR. Bukhori, no. 4843 dan Muslim, no. 1419)

Dalam salah satu riwayat disebutkan

عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ جَارِيَةً بِكْرًا أَتَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَتْ أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ كَارِهَةٌ، فَخَيَّرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, seorang gadis datang kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu dia menceritakan bahwa bapaknya menikahkannya sedangkan dia tidak menyukainya, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mempersilahkannya untuk memilih (antara membatalkan pernikahan dan meneruskannya). (HR. Abu Daud, no. 2096; Ibnu Majah no.1875 dan yang lainnya. dinyatakan shahih oleh Al-Albany)

Dalam riwayat lain disebutkan

عَنْ خَنْسَاءَ بِنْتِ خِذَامٍ الأَنْصَارِيَّةِ، أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهْيَ ثَيِّبٌ فَكَرِهَتْ ذَلِكَ، فَأَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ نِكَاحَهُ 

Dari Khonsa binti Khazam Al-Anshori, bahwa ayahnya menikahkannya saat dia sedang menjanda, sedangkan dia tidak menyukainya. Kemudian dia mendatangi Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam, maka nikahnya ditolak. (HR. Bukhori, no.  5138; Abu Daud no.2096 dan yang lainnya.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya:
Apa hukum Islam terkait seorang wanita yang dinikahkan dalam keadaan terpaksa?

Mereka menjawab:
Apabila wanita tersebut tidak rela dengan pernikahan tersebut maka ia boleh membawa masalahnya ke pengadilan untuk menetapkan akdnya atau untuk membatalkannya. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 18/126 pertanyaan pertama dari fatwa no.7289

Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin rahimahullah menerangkan:

وعلى هذا فيكون إجبار الرجل ابنته للزواج برجل لا تريد الزواج منه يكون محرما، والمحرم لا يكون صحيحاً ولا نافذاً، لأن إنقاذه وتصحيحه مضاد لما ورد فيه من النهي، وما نهى الشارع عنه فإنه يريد من الأمة ألا تتلبس به أو تفعله ونحن إذا صححناه فمعناه أننا تلبسنا به وفعلناه وجعلناه بمنزلة العقود التي أباحها الشارع، وهذا أمر لا يكون، وعلى هذا فالقول الراجح يكون تزويج والدك ابنته هذه بمن لا تريده يكون تزويجاً فاسداً، والعقد فاسد يجب النظر في ذلك من قبل المحكمة.

"berdasarkan hal itu pemaksaan orang tua kepada anak wanitanya untuk menikah dengan laki-laki yang tidak ingin dia menikah dengannya adalah haram. Dan kalau haram, berarti tidak sah dan tidak dapat dilaksanakan. Karena pelaksanaan dan pengesahannya itu bertolak belakang dengan riwayat yang melarangnya. Karena maksud syariat dalam melarang sesuatu agar kita tidak memakai dan melaksanakannya. Karena  kita kalau sahkan artinya kita memakai dan melaksanakannya, dan kita jadikan seperti akad yang telah dibolehkan agama. Dari pendapat ini, maka pendapat yang kuat bahwa orang tua yang menikahkan anak wanitanya kepada orang yang tidak disukai menjadi suami adalah pernikahan yang rusak, akadnya juga rusak. Hendaknya pengadilan mengkaji ulang (keabsaan akad nikahnya)." Fatawa Islamiah 3/251

Oleh karena itu anda bisa mengadukan masalah ini ke pengadilan agama. Mereka akan melihat secara komprehensif masalah ini dari banyak sisi. Tetaplah berbakti kepada orang tua anda untuk hal-hal yang melanggar syariat tapi dalam hal yang melanggar syariat maka anda tidak mengikutinya. Wallahu ta'ala a'lam

Apabila masalah yang anda hadapi adalah tidak adanya cinta kepada suami dalam rumah tangga maka perlu difahami bahwa cinta (meskipun itu perlu dalam sebuah pernikahan) bukanlah syarat sahnya pernikahan dalam Islam sehingga tidak adanya cinta dalam pernikahan tidak serta merta membatalkan pernikahan atau menjadikan seorang istri atau suami boleh berusaha untuk memisahkan diri dari pasangannya.

Berlangsungnya kehidupan rumah tangga bukan hanya ditopang oleh rasa cinta yang ada di benak suami-istri namun ada faktor-faktor lain. Ibnu Katsir menerangkan:
Seorang laki-laki mempertahankan hubungannya dengan seorang wanita bisa karena rasa cintanya kepadanya, bisa karena kasihan terhadapnya (misalnya karena dia adalah ibu dari anaknya).

(Seorang wanita mempertahankan hubungannya dengan seorang laki-laki.pent) bisa karena ia membutuhkan infaq darinya atau karena keakraban antara keduanya atau hal-hal lainnya. Tafsir al-Qur'an al-Adhim 6/309

Apabila seorang pasangan tidak menyukai satu hal pada diri pasangannya hendaknya dia mencari dan mengingat hal lain yang ia sukai sehingga rasa benci akan berubah menjadi suka. Dalam salah satu riwayat yang shahih disebutkan:


لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَر


“Seorang mukmin tidak boleh membenci wanita mukminah (istrinya), jika ia tidak menyukai darinya salah satu perilakunya, maka dia menyukai darinya perilakunya yang lain” (HR. Muslim)
Muslim 1469

Syaikh Utsaimin menerangkan:
Apabila anda dapati dalam hati anda kebencian terhadap seseorang maka berusahalah untuk menghilangkan kebencian itu dan ingatkanlah diri anda kepada kebaikan-kebaikannya. Syarh Riyadusshalihin 6/244


والله تعالى أعلم بالحق والصواب

 

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com