SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

berbicara dengan bahasa selain arab


Akhwat (Yogyakarta)
4 months ago on Fiqih

Apa hukum berbicara selain arab ? Saya pernah membaca tulisan terkait pelarangan dan berbicara selain arab Lalu saya tinggal di negeri kebanyakan berbahasa Indonesia.... Bagaimana penjelasan ini ?
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه 

 

Kita sebagai orang yang sehari-harinya tidak berbicara dengan bahasa Arab (diantaranya disebabkan karena kita tidak hidup di negara yang masyarakatnya berbicara bahasa Arab) tidaklah diwajibkan untuk berbicara bahasa Arab sepanjang hari mengingat tidak semua kita pernah belajar bahasa arab dan tidak semua kita bisa berbahasa arab untuk kegiatan sehari hari. Meski demikian kita sebagai seorang muslim perlu belajar bahasa arab dan perlu untuk mempraktekkannya, diantara tujuan kita belajar bahasa arab adalah supaya kita bisa mengerti ibadah (yang mengandung bahasa arab) yang kita amalkan.

Syaikh Utsaimin rahimahullahu ta'ala pernah ditanya:

وإذا تكلم الانسان بكلمة من غير العربية فهل يأثم بذلك

Apabila seseorang berbicara dengan kata bukan arab apakah dia berdosa?

Beliau menjawab:

 

الكلام بللغة غير العربية أحيانا لا بأس به. النبي قال لامرأة صغيرة طفلة صغيرة جارية قدمت من الحبشة فرأها وعليها ثوب جميل فقال هذا ثنا هذا ثنا يعني هذا حسن كلمها باللغة الحبشية لأنها جاءت قربية من الحبشة   فالتخاطب يعني خطاب  من لا يعرف العربية  أحيانا باللغة التي يفهمها هو لا بأس به ما في إشكال لكن كوننا نحن  يأتينا هؤلاء القوم لا  يعلم اللغة العربية ثم نتعجم نحن قبل أن يتعربهم يعني الآن مثلا تجد بعض الناس إذا خاطب إنسانا غير عربي بدل يقول ما أعرف يقول ما في معلوم  لأي شيئ؟  لماذا يقول ما في معلوم الاشا    ذاك يعرف أقول لا أعرف حتى يعرف ذاك  ويقول بدل ما في معلوم يقول لا أعرف لكن مع الأسف  نخشي على أنفسنا أن نكون أعاجم 

 

Berbicara dengan bahasa selain arab kadang dibolehkan, Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata ke wanita kecil (anak kecil perempuan) yang datang dari Habasyah. Nabi saat itu melihat anak perempuan kecil tersebut sedang memakai baju yang bagus, Nabi berkata kepadanya: ini tsana, ini tsana maknanya adalah ini bagus. Nabi shallallahu alaihi wa sallam berbicara dengan dia menggunakan bahasa habasyah karena dia datang dari daerah dekat dengan habasyah. Berkomunikasi, yakni kadang mengajak bicara orang yang tidak tahu bahasa Arab dengan bahasa yang dia fahami hukumnya tidak apa-apa dan tidak masalah.

Namun kita. Ada sekelompok orang yang tidak mengerti bahasa arab datang ke daerah kita kemudian kita berbicara bahasa asing sebelum mereka berusaha berbahasa Arab (ini adalah kesalahan.pent)

Misalnya anda dapati beberapa orang kita jika berbicara dengan orang non arab dia mengatakan mafi maklum ( bahasa arab pasaran artinya tidak tahu)  sebagai ganti la a'rif (bahasa arab fasih yang artinya saya tidak tahu), kenapa harus begitu? kenapa dia berkata mafi maklum, dia beralasan supaya orang yang diajak bicara mengerti. selayaknya dia kala itu mengatakan la a'rif, namun sangat disayangkan kejadiannya begitu. Dan kita khawatir diri kita akan menjadi orang non arab (bila terus demikian.pent) 

https://www.youtube.com/watch?v=QNW79Ly2neQ

Meski tidak wajib berbicara bahasa arab sepanjang waktu bagi semua orang-orang yang kesehariannya tidak berbehasa arab namun mereka tetap tetap perlu terus mempelajari bahasa Arab dan perlu terus berusaha sedikit demi sedikit supaya bahasa arab menjadi bahasa sehari-hari mereka. Di sisi lain sebagian orang 'ajam (orang yang bahasa utamanya bukan bahasa arab) wajib mempelajari bahasa arab supaya mereka bisa mengerti syariat dan dengan begitu mereka bisa mengajari masyarakat mereka syariat Islam mengingat tidak mungkin seseorang bisa memahami syariat dengan baik kecuali dia memahami bahasa arab.

Orang yang kesehariannya berbicara bahasa arab, baik itu dikarenakan dia adalah orang arab atau dia orang yang tinggal di negara arab seharusnya menjaga bahasa arab dan prakteknya.   

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyyah -Rahimahullah-- pernah menuturkan (kami nukil dari islamqa.info):

 

وأما اعتياد الخطاب بغير العربية التي هي شعار الإسلام ولغة القرآن حتى يصير ذلك عادة للمصر وأهله ولأهل الدار وللرجل مع صاحبه ولأهل السوق أو للأمراء أو لأهل الديوان أو لأهل الفقه فلا ريب أن هذا مكروه فإنه من التشبه بالأعاجم وهو مكروه كما تقدم 
 ولهذا كان المسلمون المتقدمون لما سكنوا أرض الشام ومصر ولغة أهلهما رومية وارض العراق وخراسان ولغة أهلهما فارسية وأهل المغرب ولغة أهلها بربرية عودوا أهل هذه البلاد العربية حتى غلبت على أهل هذه الأمصار مسلمهم وكافرهم وهكذا كانت خراسان قديما ثم إنهم تساهلوا في أمر اللغة واعتادوا الخطاب بالفارسية حتى غلبت عليهم وصارت العربية مهجورة عند كثير منهم ولا ريب أن هذا مكروه
وإنما الطريق الحسن اعتياد الخطاب بالعربية حتى يتلقنها الصغار في الدور والمكاتب فيظهر شعار الإسلام وأهله ويكون ذلك أسهل على أهل الإسلام في فقه معاني الكتاب والسنة وكلام السلف بخلاف من اعتاد لغة ثم أراد أن ينتقل إلى أخرى فإنه يصعب عليه    
واعلم أن اعتياد اللغة يؤثر في العقل والخلق والدين تأثيرا قويا بينا ويؤثر أيضا في مشابهة صدر هذه الأمة من الصحابة والتابعين ومشابهتهم تزيد العقل والدين والخلق    
وأيضا فإن نفس اللغة العربية من الدين ومعرفتها فرض واجب فإن فهم الكتاب والسنة فرض ولا يفهم إلا بفهم اللغة العربية وما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب    
ثم منها ما هو واجب على الأعيان ومنها ما هو واجب على الكفاية    
وهذا معنى ما رواه أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا عيسى بن يونس عن ثور عن عمر بن يزيد قال كتب عمر إلى أبي موسى الأشعري رضي الله عنه أما بعد فتفقهوا في السنة وتفقهوا في العربية وأعربوا القرآن فإنه عربي    
وفي حديث آخر عن عمر رضي الله عنه أنه قال تعلموا العربية فإنها من دينكم وتعلموا الفرائض فإنها من دينكم    
وهذا الذي أمر به عمر رضي الله عنه من فقه العربية وفقه الشريعة يجمع ما يحتاج إليه لأن الدين فيه فقه أقوال وأعمال ففقه العربية هو الطريق إلى فقه أقواله وفقه السنة هو الطريق إلى فقه أعماله

 

"Adapun membiasakan diri berbicara dengan bahasa non Arab padahal bahasa Arab adalam lambang Islam dan bahasa Al-Qur'an sehingga akhirnya menjadi kebiasaan satu negeri dan para penduduknya; menjadi bahasa antara sesama teman, dengan orang-orang pasar (para pekerja), para pemimpin (eksekutif), anggota Legislatif dan Ahli Fikih, jelas itu tidak baik. Itu termasuk menyerupai orang non Arab, dan itu dilarang sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Oleh sebab itu, kalangan muslim terdahulu, ketika mereka menempati negeri Syam (syiria) yang bahasa penduduknya kala itu adalah bahasa Romawi, dan tanah Iraq serta Khurasan yang bahasanya pada waktu itu adalah bahasa Persia, serta para penduduk Maroko yang bahasanya kala itu adalah bahasa Barbar, mereka sengaja membiasakan para penduduknya dengan bahasa Arab, sehingga menjadi bahasa mayoritas penduduknya muslim maupun kafir. Demikian juga halnya dengan Khurasan dahulu. Namun kemudian mereka menyepelekan bahasa Arab, kembali mereka membiasakan diri berbicara dengan bahasa Persia, sehingga akhirnya mereka terkuasai bahasa tersebut, dan bahasa Arab-pun tertinggalkan di sebagian besar masyarakat mereka. Jelas bahwa hal itu terlarang.
Jadi yang terbaik adalah membiasakan diri berbicara dengan bahasa Arab sehingga anak-anak kecilpun ikut menangkap bahasa tersebut di rumah-rumah dan di sekolah-sekolah. Dengan demikian akan tampaklah syiar Islam dan kaum muslimin. Hal itu juga akan lebih memudahkan kaum muslimin untuk memahami Kitabullah dan Sunnah Rasul serta ucapan para ulama As-Salaf. Lain halnya dengan orang yang terbiasa dengan satu bahasa, lalu berusaha beralih dari bahasa menuju bahasa yang lain, tentu akan sulit baginya.
Harus diketahui bahwa kebiasaan menggunakan satu bahasa akan mempengaruhi akal, akhlak dan agama dengan demikian kuat dan jelas sekali. Kebiasaan menggunakan bahasa Arab itu juga berpengaruh untuk meniru generasi awal umat ini dari kalangan para Sahabat, Tabi'ien dan generasi sesudah mereka. Meniru mereka, berarti juga akan menambah kemampuan akal, agama dan akhlak.
Di samping itu, bahasa Arab itu sendiri adalah bagian dari agama Islam. Mengenal bahasa Arab adalah wajib. Karena memahami Kitabullah dan Sunnah Rasulullah hanya bisa dilakukan dengan memahami bahasa Arab. Sementara satu hal yang menjadi penentu terlaksananya satu kewajiban hukumnya juga wajib adanya. Kemudian di antara yang wajib itu ada yang wajib bagi setiap muslim, dan ada juga yang wajib kifayah.

Demikian juga hal senada diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Syaibah: Isa bin Yunus telah menceritakan sebuah riwayat kepada kami. Ia berkata: dari Tsaur, dari Umar bin Yazid diriwayatkan bahwa Umar pernah menulis surat kepada Abu Musa Al-Asy'ari Radhiallahu 'anhu yang isinya:

"Amma ba'du: dalamilah ajaran sunnah dan dalamilah bahasa Arab. Pahami Al-Qur'an itu dengan bahasa Arab, karena ia berbahasa Arab."

Dalam riwayat lain dari Umar Radhiallahu 'anhu bahwa beliau berkata:

"Pelajarilah bahasa Arab, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian. Pelajarilah ilmu faraidh, sesungguhnya ia bagian dari agama kalian."

Yang diperintahkan oleh Umar Radhiallahu 'anhu itu adalah pemahaman bahasa Arab dan pemahaman syariat. Keduanya adalah gabungan dari segala yan dibutuhkan dalam Islam. Karena agama itu mengandung pemahaman ucapan dan perbuatan. Memahami bahasa Arab merupakan jalan untuk memahami sisi pehamaham bahasa dalam Islam. Sementara pemahaman tentang sunnah merupakan jalan untuk memahami sisi pemahaman amal perbuatannya." Lihat iqtidha-ush Shirathil Mustaqiem II : 207

 

 
Wallahu ta'ala a'lam
© 2022 - Www.SalamDakwah.Com