SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Menunda Pelaksanaan Perintah Orang Tua


Akhwat (Yogya)
5 months ago on Fiqih

Hukum menunda perintah ortu?
Redaksi salamdakwah.com
5 months ago

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

 

Apabila yang menghalangi seorang anak untuk perintah orang tua adalah hal yang sifatnya mubah atau mustahab (dianjurkan) maka selayaknya perintah orang tua didahulukan. Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu ta'ala menerangkan:

 

عقوق الوالدين منكر لا يجوز، وعقوقهما قطيعتهما والإساءة إليهما أو إيذاؤهما أو سبهما أو عدم الإنفاق عليهما مع الحاجة؛ كل هذا من العقوق فإذا كان لوالديه حاجة فيه بَدَّاها وقَدَّمها على ذهابه إلى حضور المحاضرة، أو الدرس؛ لأن هذا شيء جزئي لا يمنعه من طلب العلم ولا يمنعه من صحبة الأخيار، بل هو عارض؛ فينبغي له في هذه الحالة أن يقدم طاعة الوالد؛ لأن بره واجب؛ فالواجب أن يقدم طاعته في هذه المسائل الجزئية، وأن يقدم ذلك على أن يحضر المحاضرة الفلانية أو العزيمة الفلانية أو الندوة الفلانية أو ما أشبه ذلك؛ لأن البر واجب فلا يترك لمستحب.

 

Durhaka kepada orang tua adalah perbuatan mungkar yang tidak boleh. Durhaka kepada kepada orang tua bisa dalam bentuk memutuskan hubungan dengan mereka, berbuat buruk, menyakiti, mencela mereka, atau tidak memberi mereka nafkah padahal mereka membutuhkan. Semua ini adalah bentuk kedurhakaan.

 

Jika orang tuanya memiliki hajat maka dia mendahulukan dan mengutamakannya daripada dia  menghadiri kuliah atau pelajaran karena ini adalah sesuatu yang parsial yang tidak menghalanginya untuk menuntut ilmu dan tidak menghalanginya untuk bergaul dengan orang-orang baik, bahkan itu merupakan sesuatu yang datang tiba-tiba. Dalam keadaan ini ia selayaknya mendahulukan ketaatan kepada orang tuanya karena berbakti kepadanya merupakan suatu kewajiban. wajib baginya untuk mendahulukan ketaatan kepadanya dibandingkan hal-hal yang parsial ini.

 

Dia perlu mendahulukan itu dibandingkan ia menghadiri kuliah fulan, atau azimah fulan, atau seminar dengan fulan atau yang semisalnya karena berbakti itu wajib, Kewajiban tidaklah ditinggalkan demi melakukan yang mustahab...https://binbaz.org.sa/fatwas/2975/حكم-تاخير-حاجة-الوالدين-لحضور-العلم

Dalam masalah menjawab panggilan orang tuanya, apabila seorang anak dalam keadaan melaksanakan shalat wajib maka dia perlu mempercepat shalatnya (dengan tetap menjaga syarat dan rukun shalat) sehingga dia bisa segera seesai shalat dan memenuhi panggilan orang tuanya. Rasul shallallahu alaihi wa sallam memberikan contoh bolehnya mempercepat shalat saat diperlukan, telah diriwayatkan oleh Bukhori, (707) dari Abu Qatadah radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِنِّي لَأَقُومُ فِي الصَّلَاةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ

“Sungguh saya menunaikan shalat, saya ingin memanjangkannya. Kemudian saya mendengar tangisan bayi. Maka saya persingkat shalatku khawatir memberatkan ibunya.”

Kalau seorang anak sedang melaksanakan shalat sunah kemudian orang tuanya memanggil maka jika dia mengetahui bahwa ayah atau ibunya tidak masalah jika  menyempurnakan shalat sunnahnya maka perlu disempurnakan shalatnya kemudian menjawab orang tuanya setelah ia selesai melaksanakan shalat. Kalau dia mengetahui bahwa keduanya tidak suka menunggu anak sampai selesai shalat maka shalatnya boleh  diputus dan ia menjawab panggilan keduanya.

Diriwayatkan Bukhori, (3436) dan Muslim, (2550) redaksi darinya dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi sallallahu alaihu wa sallam sesungguhnya beliau bersabda:

 

كَانَ جُرَيْجٌ يَتَعَبَّدُ فِي صَوْمَعَةٍ فَجَاءَتْ أُمُّهُ فَقَالَتْ : يَا جُرَيْجُ أَنَا أُمُّكَ كَلِّمْنِي . فَصَادَفَتْهُ يُصَلِّي فَقَالَ : اللَّهُمَّ أُمِّي وَصَلَاتِي ، فَاخْتَارَ صَلَاتَهُ ، فَرَجَعَتْ ثُمَّ عَادَتْ فِي الثَّانِيَةِ فَقَالَتْ : يَا جُرَيْجُ أَنَا أُمُّكَ فَكَلِّمْنِي . قَالَ اللَّهُمَّ أُمِّي وَصَلَاتِي ، فَاخْتَارَ صَلَاتَهُ . فَقَالَتْ : اللَّهُمَّ إِنَّ هَذَا جُرَيْجٌ وَهُوَ ابْنِي وَإِنِّي كَلَّمْتُهُ فَأَبَى أَنْ يُكَلِّمَنِي ، اللَّهُمَّ فَلَا تُمِتْهُ حَتَّى تُرِيَهُ الْمُومِسَاتِ . قَالَ : وَلَوْ دَعَتْ عَلَيْهِ أَنْ يُفْتَنَ لَفُتِنَ 

 

“Dahulu Juraij berdibadah di tempat ibadahnya, kemudian ibunya datang dan memanggilnya seraya mengatakan, “Wahai Juraij, saya ibumu tolong bicara denganku. Bertepatan saat itu dia dalam kondisi shalat. Maka dia berkata dalam hati, “Ya Allah apakah ibuku atau shalatku?” Maka dia memilih shalatnya. Kemudian (ibunya) kembali dan balik lagi pada yang kedua seraya mengatakan, “Wahai Juraij, saya ibumu tolong bicara denganku.” Dia mengatakan, “Ya Allah apakah ibuku atau shalatku?” Dan dia memilih shalatnya. Kemudian ibunya mengatakan, “Ya Allah sesunggunya adalah anaku, sungguh saya memanggilnya dan dia enggan berbicara denganku. Ya Allah, jangan engkau wafatkan sebelum diperlihatkan wanita pelacur.” Beliau (Nabi) berkata, “Kalau dia berdoa agar terkena fitnah, maka dia akan terfitnah. Alhadits.

An-Nawawwi rahimahullah membuat bab ‘Bab taqdim birrul walidaini ‘ala tatowwu’ bis shalat wa goiruha (Bab mendahulukan bakti kedua orang tua dibandingkan dengan shalat sunah dan lainnya).

An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Para ulama mengatakan, ‘Yang benar baginya adalah menjawabnya karena ia dalam shalat sunah. Sementara melanjutkan shalat sunah itu tidak diwajibkan. Sementara menjawab ibu dan berbakti kepadanya itu wajib. Dan durhaka kepadanya itu haram. Atau memungkinkan baginya mempersingkat shalat dan menjawabnya kemudian kembali menunaikan shalatnya.”

Silahkan lihat ‘Fathul Bari’ karangan Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah. (Al-Mausu’ah Fiqhiyan, 20/342).

Terdapat dalam ‘Dur Mukhtar –dari kitab Hanafiyah- (2/54), “Kalau salat satu dari kedua orang tua memanggilanya dalam shalat wajib, maka tidak menjawabnya kecuali kalau meminta pertolongan.” maksudnya meminta pertolongan dan bantuan.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Kedua orang tua, kalau memanggil anda, maka seharusnya menjawabnya. Akan tetapi dengan syarat bukan shalat wajib. Kalau dalam shalat wajib, tidak boleh menjawabnya. Akan tetapi kalau sunah, boleh menjawabnya. Kecuali kalau keduanya dapat memperkirakan urusannya. Bahwa keduanya mengetahui anda dalam shalat dan membari uzur kepada anda. maka disini anda memberi isyarat kepadanya bahwa anda dalam shalat. Baik dengan berdehem atau mengucapkan subhanallah atau meninggikan suara anda dari ayat yang dibacanya atau doa yang dibacanya. Agar orang yang memanggil merasakan bahwa anda dalam kondisi shalat. Sementara kalau selain itu yang tidak memberikan uzur dan menginginkan ucapannya itu yang didahulukan, maka putuskan shalat dan berbicaralah dengannya. Adapun kalau shalat wajib, maka tidak boleh seorang pun memutuskannya kecuali dalam kondisi terpaksa. Seperti anda melihat seseorang khawatir binasa terjatuh di dalam sumur atau di sungai atau api. Disini anda memutus shalat anda karena terpaksa. Sementara selain itu, tidak dibolehkan memutus shalat wajib.” (Syarh Riyadus Sholihin, hal. 302 dengan diringkas) Wallahu a’lam. Islamqa.info

Secara umum perlu difahami bahwa apabila memang seorang anak benar-benar perlu untuk menunda pelaksanaan perintah orang tua demi melakukan sesuatu yang maka seharusnya dia meminta izin kepada orang tuanya untuk menunda. Wallahu ta'ala a'lam  

© 2022 - Www.SalamDakwah.Com