SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Tangan Allah


Akhwat (Yogyakarta)
2 months ago on Aqidah

Apa hukum seseorang yang berkata ‘ tangan Allah adalah tangan akan tetapi bisa dimaknai kekuatan yang lebih besar/melebihi kekuatan‘ apakah dia keluar ahlussunnah wal jamaah?
Redaksi salamdakwah.com
2 months ago

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Ibnu Abdil Bar –rahimahullah-, salah seorang Ulama' yang lahir pada tahun 368 H dan meninggal tahun 463 H menerangkan sikap yang tepat ketika berhadapan dengan sifat-sifat Allah ta'ala:

 

أهل السنة مجمعون على الإقرار بالصفات الواردة كلها في القرآن والسنة والإيمان بها ، وحملها على الحقيقة لا على المجاز ، إلا أنهم لا يكيفون شيئا من ذلك ، ولا يحدون فيه صفة محصورة ، وأما أهل البدع والجهمية والمعتزلة كلها والخوارج فكلهم ينكرها ، ولا يحمل شيئا منها على الحقيقة

 

“Ahlus sunnah telah berkonsensus dalam menetapkan Sifat-sifat Allah yang tertera di dalam al Qur’an dan Sunnah dan mereka juga mengimaninya. Mereka memaknainya dengan makna yang hakiki dan tidak memaknainya dengan makna majaz (kiasan), mereka tidak melakukan takyif (menggambarkan bagaimana bentuknya), mereka juga tidak membatasinya pada sifat tertentu. Adapun para ahli bid’ah, Jahmiyah, Mu’tazilah (semuanya) dan Khawarij, mereka semua mengingkarinya, dan tidak membawa makna sifat-sifat Allah tersebut kepada makna yang hakiki”. (At Tamhid: 7/145)

Orang yang mentakwil sifat-sifat Allah, merubah dari makna-Nya yang sebenarnya, seperti seseorang yang mentakwil sifat Tangan Allah dengan kekuasaan dan lain sebagainya, maka dia telah melakukan kesalahan pada takwilnya karena tidak sesuai dengan makna yang nampak jelas, di situ ada unsur bid’ah yang sesuai dengan kadar penyimpangannya terhadap sunnah, akan tetapi dia tidak serta merta keluar seutuhnya dari ahlussunnah wal jamaah.

Ibnu Baaz –rahimahullah- berkata:

 

لا يجوز تأويل الصفات , ولا صرفها عن ظاهرها اللائق بالله , ولا تفويضها , بل هذا كله من اعتقاد أهل البدع , أما أهل السنة والجماعة فلا يؤولون آيات الصفات وأحاديثها ولا يصرفونها عن ظاهرها ولا يفوضونها , بل يعتقدون أن جميع ما دلت عليه من المعنى كله حق ثابت لله لائق به سبحانه لا يشابه فيه خلقه

 

“Tidak boleh mentakwil sifat-sifat Allah, tidak boleh mengalihkan dari makna yang dzahir yang sesuai dengan Allah, tidak boleh menyerahkan maknanya sepenuhnya kepada Allah, semua itu termasuk keyakinan ahli bid’ah. Sedangkan ahlus sunnah wal jama’ah mereka tidak mentakwil ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah, mereka tidak mengalihkan dari makna yang dzahir, mereka  juga tidak menyerahkan maknanya sepenuhnya kepada Allah, akan tetapi mereka meyakini semua makna yang terkandung di dalamnya adalah benar dan paten milik Allah, yang layak untuk-Nya –subhanah- yang tidak serupa dengan makhluk-Nya”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz: 2/106-107)

Beliau –rahimahullah- juga pernah ditanya:

“Apakah Asy’ariyyah termasuk ahlus sunnah wal jama’ah atau tidak ?, apakah kita menghukumi mereka termasuk bagian dari madzhab atau mereka sebagai orang kafir ?”

beliau menjawab:

 

الأشاعرة من أهل السنة في غالب الأمور ، ولكنهم ليسوا منهم في تأويل الصفات ، وليسوا بكفار ، بل فيهم الأئمة والعلماء والأخيار ، ولكنهم غلطوا في تأويل بعض الصفات ، فهم خالفوا أهل السنة في مسائل ؛ منها تأويل غالب الصفات ، وقد أخطأوا في تأويلها ، والذي عليه أهل السنة والجماعة إمرار آيات الصفات وأحاديثها كما جاءت من غير تأويل ولا تعطيل ولا تحريف ولا تشبيه

 

“Asy’ariyyah termasuk ahlus sunnah pada mayoritas permasalahan, akan tetapi mereka tidak termasuk dalam ahlus sunnah ketika mereka mentakwil sifat-sifat Allah, mereka tidak termasuk orang kafir, bahkan di antara mereka terdapat para imam, para ulama, dan orang-orang pilihan, akan tetapi mereka telah melakukan kesalahan dalam hal mentakwil sebagian sifat-sifat, mereka telah menyelisihi ahlus sunnah dalam beberapa masalah; di antaranya adalah mentakwil mayoritas sifat-sifat Allah, mereka telah melakukan kesalahan dalam melakukan takwil, yang menjadi keyakinan ahlus sunnah adalah memahami ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah sesuai dengan yang ada, tanpa mentakwil, tanpa meniadakan, tanpa merubah, dan tanpa menyerupakannya dengan sesuatu”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz: 28/256)

Wallahu ta'ala a'lam

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com