SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bila Suami Tidak Mengajak Hubungan Intim


Akhwat (Tangerang)
3 weeks ago on Keluarga

Assalammualaikum ustadz, bagaimana hukumnya jika seorang suami jrang atau tdak pernah mengajak istri berhubngan, 2bln skli kadang blum tentu ada, istri mengajak brhbngan kadang d lakukan kadang tdak, bagaimana menurut ustadz, dan apa yg hrus istri lakukan ?
Redaksi salamdakwah.com
2 weeks ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bila faktanya bila si istri tersebut membutuhkan hubungan tersebut sebagaimana wanita-wanita lainnya dan di sisi lain suami tidak memiliki alasan syar'i yang menghalanginya berbuat demikian maka si suami perlu diberitahu bahwa seorang istri berhak mendapatkan nafkah batin . Termasuk hak istri yang sangat ditekankan dan sangat besar adalah mendapatkan nafkah batin yang berupa jima'. Seorang suami wajib melakukan jima' dengan istrinya demi menjaga kehormatan diri dan istrinya. Ibnu Taimiyyah menerangkan:
Seorang laki-laki wajib untuk mensetubuhi istrinya dengan baik. Jimak termasuk hak istri yang paling ditekankan atas suami. Ini lebih besar dari kewajiban memberinya makan. Terkait jimak yang wajib, ada yang mengatakan bahwa jimak wajib dilakukan sekali pada setiap empat bulan. Ada yang mengatakan sesuai dengan kebutuhan istri dan sesuai dengan kemampuan suami sebagaimana suami memberi makan istri sesuai kebutuhannya dan sesuai dengan kemampuan suami. Dan inilah pendapat yang lebih tepat. Wallahu a'lam. Majmu' al-Fatawa 32/271

Apabila sudah didoakan dan memang setelah diberi nasehat dengan berbagai macam cara suami tetap tidak mau memberi nafkah batin maka istri berhak meminta cerai. Namun ini adalah jalan terakhir bagi istri. Janganlah terburu-buru menempuh jalan ini jika masih ada jalan lain yang halal misalnya si istri berusaha memperbaiki penampilan busana dan fisiknya dengan berdandan dan bersolek di hadapan suami kemudian istri memperbaiki akhlaknya secara maksimal, diharapkan dengan begini suami terpikat dan terpukau lagi dengan istrinya sebagaimana sebelumnya. Syaikh al-Jibrin rahimahullahu ta'ala menerangkan

 

إذا كرهت المرأة أخلاق زوجها كاتصافه بالشدة والحدة وسرعة التأثر وكثرة الغضب والانتقاد لأدنى فعل والعتاب على أدنى نقص فلها الخلع

ثانياً : إذا كرهت خلقته كعيب أو دمامة أو نقص في حواسه فلها الخلع

ثالثاً : إذا كان ناقص الدين بترك الصلاة أو التهاون بالجماعة أو الفطر في رمضان بدون عذر أو حضور المحرمات كالزنا والسكر والسماع للأغاني والملاهي ونحوها فلها طلب الخلع

رابعاً : إذا منعها حقها من النفقة أو الكسوة أو الحاجات الضرورية وهو قادر على ذلك فلها طلب الخلع

خامساً : إذا لم يعطها حقها من المعاشرة المعتادة بما يعفها لعُنّة ( عيب يمنع القدرة على الوطء) فيه أو زهد فيها أو صدود إلى غيرها ، او لم يعدل في المبيت فلها طلب الخلع ، والله أعلم

 

Apabila seorang istri tidak menyukai akhlak suaminya, seperti perangainya yang kasar, emosional, sensistif, sering marah dan sering mengkritik untuk perbuatan sederhana,dan suka mencela untuk sedikit kekurangan. Maka kala itu istri boleh untuk meminta cerai

Kedua: Jika istri tidak menyukai fisiknya seperti cacat, jelek atau inderanya yang kurang, maka kala itu boleh meminta talak.

Ketiga: bila agamanya kurang seperti tidak melaksanakan shalat, atau lalai dalam melaksanakan shalat berjamaah, atau tidak berpuasa ramadhan tanpa udzur, atau dia melakukan keharaman seperti zina, mabuk,mendengarkan nyanyian dan musik dan yang sejenisnya maka istri berhak meminta khulu'

Keempat jika suami tidak memberi hak istri seperti nafkah, pakaian, atau kebutuhan pokok sedangkan suami dalam keadaan mampu memberikan itu maka istri berhak meminta khulu'

Kelima jika sumai tidak memberi hak untuk dipergauli sebagaimana umumnya yang dengan itu istri bisa menjaga kehormatannya seperti karena suami impoten atau suami tidak membutuhkan istrinya (dalam masalah jima') atau suami condong ke wanita lain atau suami tidak adil dalam bermalam (bila istrinya lebih dari satu.pent) maka isti berhak meminta khulu'  
https://islamqa.info/ar/answers/1859/%D8%A7%D9%85%D8%AB%D9%84%D8%A9-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%B9%D8%B0%D8%A7%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%A8%D9%8A%D8%AD%D8%A9-%D9%84%D8%B7%D9%84%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%AE%D9%84%D8%B9-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%B2%D9%88%D8%AC

Muhammad bin Ibrohim at-Tuwaijiri menerangkan diantara sebab yang dengannya seorang wanita boleh meminta talak dari suaminya:

1. Apabila suami lalai dalam memberi nafkah

2. Jika suami menimbulkan mudhorot untuk istri yang karenanya menjadikan hubungan suami istri tidak bisa berlangsung seperti selalu mencelanya, memukulnya, menyakitinya dan istri tidak mampu menahannya atau memaksanya berbuat mungkar atau semacamnya.

3. Bila istri terkena mudharat karena tidak hadirnya suami dan ia pun khawatir terkena fitnah karena itu.

4. Jika suaminya ditahan untuk waktu yang lama dan istri merasa terkena mudharat karena terpisah dengannya

5. Bila wanita mendapati ada aib yang berat seperti mandul, tidak mampu untuk melakukan penetrasi, berbau tidak sedap atau sakit dalam jangka waktu lama yang menyebabkan dia tidak mampu melakukan hubungan suami istri dan bersenang-senang dengan pasangan, atau suaminya memiliki penyakit berbahaya dan menular atau sejenisnya.

6. Apabila suaminya tidak melaksanakan apa yang Allah wajibkan,  atau dia biasa saja  ketika melakukan dosa besar  dan hal yang haram seperti laki-laki yang kadang-kadang tidak melaksanakan shalat, atau dia meminum khamr, atau dia berzina, atau memakai narkoba dan yang semacamnya. Maushu'ah al-Fiqhi al-Islami 4/191

Semoga Allah ta'ala  memberi hidayah keoada si suami tersebut dan semoga Allah ta'ala memberikan si istri kesabaran 

 

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com