SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Selingkuh Karena Suami Bermusuhan Dengan Orang Tua


Akhwat (Bandung)
2 months ago on Keluarga

Assalamu'alaikum ustadz, sblumnya saya mau cerita sedikit, seseorang d nikahkan oleh org tuanya dngn lelaki plihan orgtuanya yg sma sekali tidak dia cinta dan meningglkan pasangan yg dia cinta demi tidak durhaka pada org tua. Setlah mnikah mraka d karuniain sorang anak permpuan, tp seiring brjalannya waktu suaminya tidak pernah akur dengan keluarga istrinya dan sllu dlm pertngkaran, pdahal isrti sllu mengajak akur dngan org tuanya, stlh itu krna pertngkaran itu si istri khilaf melakukan perbuatan zinah dengan lelaki lain, dan mempunyai anak, tpi si suami tdak tau bahwa itu anak dri lelaki lain, stlah 2thun kemudian suami ttp tdak brubah dan masih dingin trhdap ortu s istri, s istri ngobrol blng sma ortunya klo dia ingin cerai, dan org tuanya smua kptsan sma s istri, dan istri pun ingin bercerai dngn alasan suami tdk pernah akur dan sbnarnya tdak sanggup dngan kslahan sndri krna mlakukan dosa bsar jg, menurut ustadz bagai mana yg sharusnya d lalukan si istri ? Tpi dia jga tdak boleh menutupi siapa ayah kandung anak k2 nya trsebut kan ustadz ?
Redaksi salamdakwah.com
2 months ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Apa yang dilakukan oleh wanita itu merupakan kejahatan yang besar di sisi Allah ta'ala dan kedholiman kepada suaminya. Orang yang telah menikah kemudian berzina hukumannya sangatlah berat dalam syariat Islam. Ada riwayat shahih yang menunjukkan hukuman Allah di akhirat untuk para pezina:


عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمُ اللَّيْلَةَ رُؤْيَا؟» قَالَ: فَإِنْ رَأَى أَحَدٌ قَصَّهَا، فَيَقُولُ: «مَا شَاءَ اللَّهُ» فَسَأَلَنَا يَوْمًا فَقَالَ: «هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رُؤْيَا؟» قُلْنَا: لاَ، قَالَ: «لَكِنِّي رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي فَأَخَذَا بِيَدِي، فَأَخْرَجَانِي إِلَى الأَرْضِ المُقَدَّسَةِ، فَإِذَا رَجُلٌ جَالِسٌ، وَرَجُلٌ قَائِمٌ، بِيَدِهِ كَلُّوبٌ مِنْ حَدِيدٍ» قَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا عَنْ مُوسَى: " إِنَّهُ يُدْخِلُ ذَلِكَ الكَلُّوبَ فِي شِدْقِهِ حَتَّى يَبْلُغَ قَفَاهُ، ثُمَّ يَفْعَلُ بِشِدْقِهِ الآخَرِ مِثْلَ ذَلِكَ، وَيَلْتَئِمُ شِدْقُهُ هَذَا، فَيَعُودُ فَيَصْنَعُ مِثْلَهُ، قُلْتُ: مَا هَذَا؟ قَالاَ: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ عَلَى قَفَاهُ وَرَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِهِ بِفِهْرٍ - أَوْ صَخْرَةٍ - فَيَشْدَخُ بِهِ رَأْسَهُ، فَإِذَا ضَرَبَهُ تَدَهْدَهَ الحَجَرُ، فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ لِيَأْخُذَهُ، فَلاَ يَرْجِعُ إِلَى هَذَا حَتَّى يَلْتَئِمَ رَأْسُهُ وَعَادَ رَأْسُهُ كَمَا هُوَ، فَعَادَ إِلَيْهِ، فَضَرَبَهُ، قُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالاَ: انْطَلِقْ فَانْطَلَقْنَا إِلَى ثَقْبٍ مِثْلِ التَّنُّورِ، أَعْلاَهُ ضَيِّقٌ وَأَسْفَلُهُ وَاسِعٌ يَتَوَقَّدُ تَحْتَهُ نَارًا، فَإِذَا اقْتَرَبَ ارْتَفَعُوا حَتَّى كَادَ أَنْ يَخْرُجُوا، فَإِذَا خَمَدَتْ رَجَعُوا فِيهَا، وَفِيهَا رِجَالٌ وَنِسَاءٌ عُرَاةٌ، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالاَ: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ مِنْ دَمٍ فِيهِ رَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى وَسَطِ النَّهَرِ - قَالَ يَزِيدُ، وَوَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ: عَنْ جَرِيرِ بْنِ حَازِمٍ - وَعَلَى شَطِّ النَّهَرِ رَجُلٌ بَيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ، فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ الَّذِي فِي النَّهَرِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بِحَجَرٍ فِي فِيهِ، فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ، فَجَعَلَ كُلَّمَا جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى فِي فِيهِ بِحَجَرٍ، فَيَرْجِعُ كَمَا كَانَ، فَقُلْتُ: مَا هَذَا؟ قَالاَ: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ، فِيهَا شَجَرَةٌ عَظِيمَةٌ، وَفِي أَصْلِهَا شَيْخٌ وَصِبْيَانٌ، وَإِذَا رَجُلٌ قَرِيبٌ مِنَ الشَّجَرَةِ بَيْنَ يَدَيْهِ نَارٌ يُوقِدُهَا، فَصَعِدَا بِي فِي الشَّجَرَةِ، وَأَدْخَلاَنِي دَارًا لَمْ أَرَ قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهَا، فِيهَا رِجَالٌ شُيُوخٌ وَشَبَابٌ، وَنِسَاءٌ، وَصِبْيَانٌ، ثُمَّ أَخْرَجَانِي مِنْهَا فَصَعِدَا بِي الشَّجَرَةَ، فَأَدْخَلاَنِي دَارًا هِيَ أَحْسَنُ وَأَفْضَلُ فِيهَا شُيُوخٌ، وَشَبَابٌ، قُلْتُ: طَوَّفْتُمَانِي اللَّيْلَةَ، فَأَخْبِرَانِي عَمَّا رَأَيْتُ، قَالاَ: نَعَمْ، أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ، فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالكَذْبَةِ، فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الآفَاقَ، فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ، فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ، يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهَرِ آكِلُوا الرِّبَا، وَالشَّيْخُ فِي أَصْلِ الشَّجَرَةِ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، وَالصِّبْيَانُ، حَوْلَهُ، فَأَوْلاَدُ النَّاسِ وَالَّذِي يُوقِدُ النَّارَ مَالِكٌ خَازِنُ النَّارِ، وَالدَّارُ الأُولَى الَّتِي دَخَلْتَ دَارُ عَامَّةِ المُؤْمِنِينَ، وَأَمَّا هَذِهِ الدَّارُ فَدَارُ الشُّهَدَاءِ، وَأَنَا جِبْرِيلُ، وَهَذَا مِيكَائِيلُ، فَارْفَعْ رَأْسَكَ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا فَوْقِي مِثْلُ السَّحَابِ، قَالاَ: ذَاكَ مَنْزِلُكَ، قُلْتُ: دَعَانِي أَدْخُلْ مَنْزِلِي، قَالاَ: إِنَّهُ بَقِيَ لَكَ عُمُرٌ لَمْ تَسْتَكْمِلْهُ فَلَوِ اسْتَكْمَلْتَ أَتَيْتَ مَنْزِلَكَ."


Dari Samurah bin Jundab berkata; Sudah menjadi kebiasaan Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bila selesai melaksanakan suatu shalat, Beliau menghadapkan wajahnya kepada kami lalu berkata,: "Siapa diantara kalian yang tadi malam bermimpi". Dia (Samrah bin Jundab) berkata,: "Jika ada seorang yang bermimpi maka orang itu akan menceritakan, saat itulah Beliau berkata,: "Maa sya-allah" (atas kehendak Allah) ". Pada suatu hari yang lain Beliau bertanya kepada kami: "Apakah ada diantara kalian yang bermimpi?". Kami menjawab: "Tidak ada". Beliau berkata,: "Tetapi aku tadi malam bermimpi yaitu ada dua orang laki-laki yang mendatangiku kemudian keduanya memegang tanganku lalu membawaku ke negeri yang disucikan (Al Muqaddasah), ternyata disana ada seorang laki-laki yang sedang berdiri dan yang satunya lagi duduk yang di tangannya memegang sebatang besi yang ujungnya bengkok (biasanya untuk menggantung sesuatu). Sebagian dari sahabat kami berkata, dari Musa bahwa: batang besi tersebut dimasukkan ke dalam satu sisi mulut (dari geraham) orang itu hingga menembus tengkuknya. Kemudian dilakukan hal yang sama pada sisi mulut yang satunya lagi, lalu dilepas dari mulutnya dan dimasukkan kembali dan begitu seterusnya diperlakukan. Aku bertanya: "Apa ini maksudnya?". Kedua orang yang membawaku berkata,: "Berangkatlah". Maka kami berangkat ke tempat lain dan sampai kepada seorang laki-laki yang sedang berbaring bersandar pada tengkuknya, sedang ada laki-laki lain yang berdiri diatas kepalanya memegang batu atau batu besar untuk menghancurkan kepalanya. Ketika dipukulkan, batu itu menghancurkan kepala orang itu, Maka orang itu menghampirinya untuk mengambilnya dan dia tidak berhenti melakukan ini hingga kepala orang itu kembali utuh seperti semula, kemudian dipukul lagi dengan batu hingga hancur. Aku bertanya: "Siapakah orang ini?". Keduanya menjawab: "Berangkatlah". Maka kamipun berangkat hingga sampai pada suatu lubang seperti dapur api dimana bagian atasnya sempit dan bagian bawahnya lebar dan dibawahnya dinyalakan api yang apabila api itu didekatkan, mereka (penghuninya) akan terangkat dan bila dipadamkan penghuninya akan kembali kepadanya, penghuninya itu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Aku bertanya: "Siapakah mereka itu?". Keduanya menjawab: "Berangkatlah". Maka kami pun berangkat hingga sampai di sebuah sungai yang airnya adalah darah, disana ada seorang laki-laki yang berdiri di tengah-tengah sungai". Berkata, Yazid dan Wahb bin Jarir dari Jarir bin Hazim: 'Dan di tepi sungai ada seorang laki-laki yang memegang batu. Ketika orang yang berada di tengah sungai menghadapnya dan bermaksud hendak keluar dari sungai maka laki-laki yang memegang batu melemparnya dengan batu kearah mulutnya hingga dia kembali ke tempatnya semula di tengah sungai, dan terjadilah seterusnya begitu, setiap dia hendak keluar dari sungai, akan dilempar dengan batu sehingga kembali ke tempatnya semula. Aku bertanya: "Apa maksudnya ini?" Keduanya menjawab: "Berangkatlah". Maka kamipun berangkat hingga sampai ke suatu taman yang hijau, didalamnya penuh dengan pepohonan yang besar-besar sementara dibawahnya ada satu orang tua dan anak-anak dan ada seorang yang berada dekat dengan pohon yang memegang api, manakala dia menyalakan api maka kedua orang yang membawaku naik membawaku memanjat pohon lalu keduanya memasukkan aku ke sebuah rumah (perkampungan) yang belum pernah aku melihat seindah itu sebelumnya dan didalamnya ada para orang laki-laki, orang-orang tua, pemuda, wanita dan anak-anak lalu keduanya membawa aku keluar dari situ lalu membawaku naik lagi ke atas pohon, lalu memasukkan aku ke dalam suatu rumah yang lebih baik dan lebih indah, didalamnya ada orang-orang tua dan para pemuda. Aku berkata: "Ajaklah aku keliling malam ini dan terangkanlah tentang apa yang aku sudah lihat tadi". Maka keduanya berkata,: "Baiklah. Adapun orang yang kamu lihat mulutnya ditusuk dengan besi adalah orang yang suka berdusta dan bila berkata selalu berbohong, maka dia dibawa hingga sampai ke ufuq lalu dia diperlakukan seperti itu hingga hari qiyamat. Adapun orang yang kamu lihat kepalanya dipecahkan adalah seorang yang telah diajarkan Al Qur'an oleh Allah lalu dia tidur pada suatu malam namun tidak melaksanakan Al Qur'an pada siang harinya, lalu dia diperlakukan seperti itu hingga hari qiyamat. Dan orang-orang yang kamu lihat berada didalam dapur api mereka adalah para pezina sedangkan orang yang kamu lihat berada di tengah sungai adalah mereka yang memakan riba' sementara orang tua yang berada dibawah pohon adalah Nabi Ibrahim 'alaihissalam, sedangkan anak-anak yang ada disekitarnnya adalah anak-anak kecil manusia. Adapun orang yang menyalakan api adalah malaikat penunggu neraka sedangkan rumah pertama yang kamu masuki adalah rumah bagi seluruh kaum mu'minin sedangkan rumah yang ini adalah perkampungan para syuhada' dan aku adalah Jibril dan ini adalah Mika'il, maka angkatlah kepalamu. Maka aku mengangkat kepalaku ternyata diatas kepalaku ada sesuatu seperti awan. Keduanya berkata,: "Itulah tempatmu". Aku berkata: "Biarkanlah aku memasuki rumahku". Keduanya berkata,: " Umurmu masih tersisa dan belum selesai dan seandainya sudah selesai waktunya kamu pasti akan memasuki rumahmu". HR. Bukhari no.1386

Di dunia, syariat Islam juga menyebutkan hukuman keras bagi pezina yang belum menikah atau yang telah menikah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"


خُذُوا عَنِّي خُذُوا عَنِّي قَدْ جَعَلَ الله لَهُنَّ سَبِيلًا الْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ


Ambillah dariku, ambillah dariku. Sesungguhnya Allah telah memberi jalan yang lain kepada mereka, yaitu orang yang belum menikah (berzina) dengan orang yang belum menikah, (hukumnya) dera 100 kali dan diasingkan setahun. Adapun orang yang sudah menikah (berzina) dengan orang yang sudah menikah (hukumnya) dera 100 kali dan rajam. [ HR. Muslim no.1690; Abu Daud no.4415; Ibnu Majah no.2550 dan yang lainnya

Pezina yang muhshon menurut mayoritas Ulama' dirajam hingga meninggal mengingat Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak melakukan pencambukan kepada pezina yang terbukti atau mengaku sebelum merajamnya hingga meninggal, sedangkan sebagian Ulama' berpendapat bahwa dia dicambuk terlebih dahulu 100 kali kemudian dirajam hingga meninggal dengan dasar hadits Muslim diatas.

Syaikh Utsaimin menerangkan makna Muhshon," Apabila dia itu muhshon yakni dia telah menikah dan menggauli istrinya maka dia dirajam hingga meninggal." Tafsir al-Hujurat-al-Hadid 86 oleh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin

Apabila yang melakukan zina tersebut adalah seseorang yang belum menikah maka dia dihukum cambuk 100 kali dan diasingkan selama setahun. Syaikh Utsaimin menerangkan," apabila orang yang berzina itu belum menikah sebelumnya maka dia dia didera 100 kali dan diasingkan dari negerinya selama setahun penuh. Tafsir al-Hujurat-al-Hadid 86 oleh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin.

Kesalahan suami bukanlah alasan melakukan dosa besar kepada Allah dan pengkhianatan yang keji kepada suaminya. Bila memang suami berbuat salah dan menjadikan kehidupan rumah tangga tidak tenang dikarenakan kesalahan itu maka idealnya dari awal istri mengajukan cerai dan bukan malah menjalin hubungan terlarang dengan laki-laki lain yang itu merupakan kedholiman kepada suami yang itu akan menjadi masalah di akhirat bagi istri bila Allah ta'ala tidak memberikan ampunan dan tidak mentakdirkan suaminya rela dengan pengkhianatan ini di akhirat kelak.

Yang perlu dilakukan oleh istri adalah bertaubat dengan sungguh-sungguh dengan memenuhi syarat taubat. Syarat taubat:
1. Ikhlas karena Allah ta’ala : maksudnya adalah karena takut kepada Allah ta’ala dan ingin mendekat kepadaNya

2. Menyesal atas perbuatan dosa yang telah dia perbuat sebelumnya

3. Segera meninggalkan dosa tersebut dan tidak menunda-nundanya

4. Bertekad kuat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut

5. Taubat itu dilaksanakan pada saat taubat masih diterima, yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat. Diterjemahkan secara bebas dari Asy-Syarh Al-Mumti’ Ala Zad Al-Mustaqni’ oleh syaikh Utsaimin 14/380

Oleh karena itu janganlah sekali-kali wanita itu mendekati perbuatan zina baik itu dengan selingkuhannya atau dengan laki-laki lainnya. Perbanyaklah amal sholeh dan perbaikilah hubungan dengan suami semaksimal mungkin. Perbaikilah hubungan antara orang tua dengan suami dengan cara menasehati yang salah dan meminta yang benar untuk bersabar. Pemberian nasehat ini bisa dilakukan secara langsung atau melalui bantuan orang lain yang memiliki pengaruh dan wibawa di mata orang yang akan dinasehati. Berikut ini tanya jawab dengan syaikh Sholeh bin Fauzan yang mengandung jawaban untuk masalah antara mertua dan menantu:
Terjadi perselisihan antara suami dan keluarga saya dalam salah satu urusan dunia, saya ingin memihak keluarga saya karena mentaati kedua orang tua dan berbuat baik kepada keduanya mengandung pelaksanaan perintah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, namun saya tidak berbuat demikian karena saya mendengar hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam (saya tidak mengetahui keshahihannya) diantaranya sabda beliau yang maknanya:
“Seandainya saya memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah niscaya saya akan memerintahkan seorang wanita bersujud kepada suaminya”

Dan hadits lain:
“Allah tidak akan ridho terhadap seorang wanita hingga suaminya ridho terhadapnya”

Saya telah berusaha mendamaikan kedua pihak namun saya belum berhasil dalam bentuk apapun. Saya berharap anda mengarahkan saya kepada siapa saya memihak. Saya takut bila saya menjadikan ayah saya marah maka Allah akan murka kepada saya, dan apabila saya membuat suami marah maka saya khawatir tidak menjadi istri yang beriman yang memenuhi hak suami sebagaimana yang diwajibkan. Saya juga berharap anda menasehati mereka semoga Allah memberi manfaat dengan hal itu.

Beliau menjawab:
Adapun hak ayah maka tidak diragukan lagi bahwa itu wajib, ini adalah hak yang kokoh, Allah ta'ala telah memerintahkan untuk mentaatinya dengan baik dan berbuat baik kepadanya di banyak ayat. Begitu pula hak suami, hak itu wajib atas istri dan ditekankan. Ayah anda memiliki hak atas anda, begitu pula suami. Anda wajib memberikan hak kepada setiap orang yang berhak. Namun apa yang anda sebutkan: adanya perselisihan diantara mereka sedangkan anda tidak tahu harus memihak ke siapa? Ketika itu anda wajib memihak kepada yang benar. Apabila suami anda yang benar dan ayah anda yang salah maka anda wajib memihak suami anda dan anda wajib menasehati ayah anda, apabila sebaliknya, di mana ayah anda benar dan suami anda salah maka anda wajib memihak ayah anda dan wajib menasehati suami anda. Anda wajib memihak yang benar dan menasehati yang salah. Ini terkait dengan sikap anda terhadap ayah dan suami anda ketika terjadi perselisihan.

Berusahalah untuk mendamaikan keduanya sebisa mungkin supaya anda menjadi kunci kebaikan dan yang menutup kejelekan. Diharapkan perpecahan dan kerusakan ini bisa terselesaikan melalui tangan anda, anda akan diberi pahala disebabkan hal itu. Sesungguhnya mendamaikan masyarakat (terlebih di antara kerabat) termasuk ketaatan yang agung. Allah ta'ala berfirman (an-Nisa':114)


{لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ}


Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau Mengadakan perdamaian di antara manusia.

Adapun nasehat yang kami tujukan kepada keduanya adalah:
- keduanya wajib bertakwa kepada Allah azza wa jalla
- bermuamalah didasari persaudaraan islami.
- dengan didasari kekerabatan dan perbesanan selayaknya keduanya melupakan perselisihan yang terjadi antara keduanya.
- saling memaafkan, beginilah hubungan kaum muslimin
- tidak hanyut bersama hawa nafsu atau setan.
- berlindunglah kepada Allah dari godaan setan

Adapun hadits “ seandainya aku memerintahkan..” maka itu adalah hadits shahih, adapun hadits kedua saya tidak mengetahuinya, namun sebagaimana kami sebutkan bahwa maknanya benar: istri wajib mentaati suaminya dengan baik. Majmu' Fatawa Fadhilatusysyaikh Sholeh bin Fauzan 2/546-547

Bila ternyata pihak yang salah adalah suami dan ia tidak mau rujuk dari kesalahannya meski sudah dinasehati dengan berbagai macam cara maka istri boleh meminta cerai jika memang ini berefek terhadap masalah yang tiada habisnya di rumah tangga sehingga tidak terwujud ketenangan dalam kehidupan suami-istri. 

Syaikh Jibrin menerangkan

 

إذا كرهت المرأة أخلاق زوجها كاتصافه بالشدة والحدة وسرعة التأثر وكثرة الغضب والانتقاد لأدنى فعل والعتاب على أدنى نقص فلها الخلع

ثانياً : إذا كرهت خلقته كعيب أو دمامة أو نقص في حواسه فلها الخلع

ثالثاً : إذا كان ناقص الدين بترك الصلاة أو التهاون بالجماعة أو الفطر في رمضان بدون عذر أو حضور المحرمات كالزنا والسكر والسماع للأغاني والملاهي ونحوها فلها طلب الخلع

رابعاً : إذا منعها حقها من النفقة أو الكسوة أو الحاجات الضرورية وهو قادر على ذلك فلها طلب الخلع

خامساً : إذا لم يعطها حقها من المعاشرة المعتادة بما يعفها لعُنّة ( عيب يمنع القدرة على الوطء) فيه أو زهد فيها أو صدود إلى غيرها ، او لم يعدل في المبيت فلها طلب الخلع ، والله أعلم

 

Apabila seorang istri tidak menyukai akhlak suaminya, seperti perangainya yang kasar, emosional, sensistif, sering marah dan sering mengkritik untuk perbuatan sederhana,dan suka mencela untuk sedikit kekurangan. Maka kala itu istri boleh untuk meminta cerai

Kedua: Jika istri tidak menyukai fisiknya seperti cacat, jelek atau inderanya yang kurang, maka kala itu boleh meminta talak.

Ketiga: bila agamanya kurang seperti tidak melaksanakan shalat, atau lalai dalam melaksanakan shalat berjamaah, atau tidak berpuasa ramadhan tanpa udzur, atau dia melakukan keharaman seperti zina, mabuk,mendengarkan nyanyian dan musik dan yang sejenisnya maka istri berhak meminta khulu'

Keempat jika suami tidak memberi hak istri seperti nafkah, pakaian, atau kebutuhan pokok sedangkan suami dalam keadaan mampu memberikan itu maka istri berhak meminta khulu'

Kelima jika sumai tidak memberi hak untuk dipergauli sebagaimana umumnya yang dengan itu istri bisa menjaga kehormatannya seperti karena suami impoten atau suami tidak membutuhkan istrinya (dalam masalah jima') atau suami condong ke wanita lain atau suami tidak adil dalam bermalam (bila istrinya lebih dari satu.pent) maka isti berhak meminta khulu'  
https://islamqa.info/ar/answers/1859/%D8%A7%D9%85%D8%AB%D9%84%D8%A9-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%B9%D8%B0%D8%A7%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%A8%D9%8A%D8%AD%D8%A9-%D9%84%D8%B7%D9%84%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%AE%D9%84%D8%B9-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%B2%D9%88%D8%AC

Muhammad bin Ibrohim at-Tuwaijiri menerangkan diantara sebab yang dengannya seorang wanita boleh meminta talak dari suaminya:

1. Apabila suami lalai dalam memberi nafkah

2. Jika suami menimbulkan mudhorot untuk istri yang karenanya menjadikan hubungan suami istri tidak bisa berlangsung seperti selalu mencelanya, memukulnya, menyakitinya dan istri tidak mampu menahannya atau memaksanya berbuat mungkar atau semacamnya.

3. Bila istri terkena mudharat karena tidak hadirnya suami dan ia pun khawatir terkena fitnah karena itu.

4. Jika suaminya ditahan untuk waktu yang lama dan istri merasa terkena mudharat karena terpisah dengannya

5. Bila wanita mendapati ada aib yang berat seperti mandul, tidak mampu untuk melakukan penetrasi, berbau tidak sedap atau sakit dalam jangka waktu lama yang menyebabkan dia tidak mampu melakukan hubungan suami istri dan bersenang-senang dengan pasangan, atau suaminya memiliki penyakit berbahaya dan menular atau sejenisnya.

6. Apabila suaminya tidak melaksanakan apa yang Allah wajibkan,  atau dia biasa saja  ketika melakukan dosa besar  dan hal yang haram seperti laki-laki yang kadang-kadang tidak melaksanakan shalat, atau dia meminum khamr, atau dia berzina, atau memakai narkoba dan yang semacamnya. Maushu'ah al-Fiqhi al-Islami 4/191

Namun perlu diingat bahwa perceraian adalah solusi terakhir bila memang yang lain tidak bisa ditempuh. Wanita itu hendaknya ingat selalu dengan masa depan putrinya bila dia bercerai. Belum tentu suami yang baru akan lebih baik dari yang sebelumnya.

Terkait anak kedua wanita itu, seharusnya wanita itu tidak membuka aibnya baik itu kepada suaminya atau keluarganya dan nasab anak itu tetap dinasabkan kepada suaminya.

Ulama' yang duduk di Komite Tetap riset Ilmiah dan Fatwa menerangkan: Sebaiknya seseorang yang jatuh dalam perbuatan maksiat berupaya untuk menutupi dan tidak mengumbar dosanya dengan tirai Allah. Ia harus meminta ampun dan bertobat kepada Allah dengan tulus. Sebab, ada hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi "

اجتنبوا هذه القاذورات التي نهى الله عنها، فمن ألم بشيء من ذلك فليستتر بستر الله تعالى، وليتب إلى الله، فإنه من يبد لنا صفحته نقم عليه كتاب الله

Jauhilah perbuatan-perbuatan keji yang dilarang Allah. Barangsiapa melakukannya, maka hendaklah ia bersembunyi dengan tirai Allah dan bertobat kepada-Nya, karena sesungguhnya orang yang tampak catatan kesalahannya kepada kami, maka kami akan terapkan hukum Allah atasnya." Menurut adz-Dzahabi, sumber hadis tersebut adalah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Selingkuhan si wanita tidak berhak mendapatkan nasab anak kedua itu. Nabi shallallahu alaihi wa sallam:


الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ ، وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ


Anak dimiiki oleh pemilik ranjang, dan bagi pezina, dia mendapatkan kerugian. HR. Bukhari no.2053 dan Muslim no.1457

Maksud hadits di atas adalah: Anak dinasabkan kepada pemilik ranjang yaitu suami, kalau dia tidak ada secara status (misalnya: belum ada ikatan pernikahan tapi anak sudah lahir) maka anak dinasabkan ke ibunya. 

Berikut ini tanya jawab dengan syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz:

 سماحة الشيخ: امرأة (من إسكوتلندة) متزوجة ولها ثلاثة أطفال، وحملت بالطفل الرابع سفاحا، فهل يجوز لها أن تجهض الجنين، أو تحتفظ به. وإذا احتفظت به فهل تخبر زوجها أم لا؟ ثم ما هو الواجب على الزوج في هذه الحالة؟ أفتونا مأجورين حيث إننا لا ندري ماذا نفعل وجزاكم الله خيرا؟ .
ج: لا يجوز لها إجهاض الجنين. والواجب عليها التوبة إلى الله سبحانه، وعدم إفشاء الأمر، والولد لاحق بالزوج؛ لقول النبي-صلى الله عليه وسلم-: «الولد للفراش وللعاهر الحجر (2) » . أصلح الله حال الجميع.
مفتي عام المملكة العربية السعودية
عبد العزيز بن عبد الله بن باز



Wahai syaikh yang mulia, ada seorang wanita skotlandia yang sudah bersuami, dia memiliki tiga anak. Dia hamil anak keempat dari hasil perzinahan. Apakah boleh baginya untuk menggugurkan kandungannya, ataukah dia tetap perlu menjaga kandungannya? apabila dia menjaga kandungannya,  apakah dia perlu memberitahu suaminya tentang fakta sebenarnya ataukah tidak? Apa kewajiban suami pada keadaan ini? Berilah kami fatwa semoga Allah ta'ala memberi anda pahala. Kami tidak tahu harus berbuat apa. Semoga Allah ta'ala memberi anda balasan kebaikan.

Beliau menjawab: Wanita itu tidak boleh menggugurkan kandungannya. Dia wajib bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta'ala dan tidak membeberkan masalah itu. Anaknya dinasabkan ke suami, ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam

الْوَلَدُ لِلْفِرَاشِ ، وَلِلْعَاهِرِ الْحَجَرُ

Anak dimiiki oleh pemilik ranjang, dan bagi pezina, dia mendapatkan kerugian. HR. Bukhari no.2053 dan Muslim no.1457

Semoga Allah ta'ala memperbaiki keadaan semuanya. Majmu' Fatawa Ibnu Baz  21/205

Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com