SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Apakah Memberitahu Orang Tua Terkait Kesalahan Masa Lalu DIperbolehkan


Ikhwan (bandung)
2 months ago on Aqidah

Assalamualaikum. saya pria, saya punya pacar dan kita sudah berkomitmen mau menikah.. tapi dalam waktu pacaran tersebut saya sudah pernah zinah sama dia beberapa kali.. yang mau saya tanyakan: 1. apakah boleh jujur kepada orang tua sendiri kalo pernah berzinah? tujuan saya jujur kepada ibu atau orang tua, supaya orang tua saya tau dan bisa memaafkan dan membimbing saya juga tad.. saya pernah baca kalo dosa seorang anak yamg belum menikah itu masi ditanggung kedua orangtua nya.. dan saya sekalian minta restu buat niat kelancaran pernikahan nya juga tad 2. saya sudah beberapa kali berencana mau mempertemukan ke 2 orang tua saya ke orang tua calon saya sekalian silaturahmi dan menyatakan kalo saya memang serius sama calon saya.. tapi selalu ada hambatan yang sampe sekarang belum sempat ketemu .. apakah itu ssebuah peringatan dari dari dosa zinah kita juga? 3. kita sama sama sudah kerja dan berpendapatan cukup. tetapi selalu aja godaan yang bikin kita jadi berhutang tad.. kita malah jadi sering gali lobang tutup lobang juga dan selalu merasa kurang.. selalu aja ada yang harus dibayar tanpa kita sadari terus menerus .. yang sudah direncanain buat nabung modal nikah malah sampe sekarang masih belum ada tad. apakah itu juga merupakan akibat dari dosa besar itu tad? 4. apakah boleh berhutang untuk biaya pernikahan? soalnya kita sudah sama sama sadar, kalo terlalu lama malah terus terusan bakal terulang.. kita ptuskan untuk cepat menikah saja dengan cara berhutang ke bank . mohon maaf minta solusi dan jalan keluarnya tad. wassalamualaikum
Redaksi salamdakwah.com
2 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Tutupilah dosa itu semaksimal mungkin dan jangan diberitahukan kepada keluarga atau yang lain. Ulama' yang duduk di Komite Tetap riset Ilmiah dan Fatwa menerangkan: Sebaiknya seseorang yang jatuh dalam perbuatan maksiat berupaya untuk menutupi dan tidak mengumbar dosanya dengan tirai Allah. Ia harus meminta ampun dan bertobat kepada Allah dengan tulus. Sebab, ada hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi "

اجتنبوا هذه القاذورات التي نهى الله عنها، فمن ألم بشيء من ذلك فليستتر بستر الله تعالى، وليتب إلى الله، فإنه من يبد لنا صفحته نقم عليه كتاب الله

Jauhilah perbuatan-perbuatan keji yang dilarang Allah. Barangsiapa melakukannya, maka hendaklah ia bersembunyi dengan tirai Allah dan bertobat kepada-Nya, karena sesungguhnya orang yang tampak catatan kesalahannya kepada kami, maka kami akan terapkan hukum Allah atasnya." Menurut adz-Dzahabi, sumber hadis tersebut adalah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Hukum had dalam syariat atas tindakan kriminal ini dikembalikan kepada hakim syar'i. Ia yang memiliki kewenangan untuk memutuskannya berdasarkan aturan dan kondisi terkait.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota)     
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)    
Abdurrazzaq Afifi (Wakil Ketua)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/349-350 fatwa no.7803

Ungkapan bahwa dosa anak yang belum menikah ditanggung oleh orang tuanya tidaklah benar. Apabila seseorang sudah baligh dan berakal maka ia dibebani dengan beban syariat dan ia terkena konsekwensi dari pelanggaran syariat yang dilakukan seperti dosa dan maksiat. Ibnu Mundzir menerangkan:


" أجمع أهل العلم على أن الفرائض والأحكام تجب على المحتلم العاقل " .

Ulama' bersepakat bahwa kewajiban-kewajiban dan hukum diwajibkan atas seseorang yang baligh dan berakal. Al-Isyrof Ala Madzahib al-Ulama' 7/227

Dosa anda bukan hanya berzina tapi sekedar pacaran itu juga berdosa. Hubungan khusus antara seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram di luar pernikahan adalah hubungan yang terlarang. Hubungan itu kadang diwujudkan hanya dalam obrolan, khalwat (berdua-duaan) , bersentuhan atau ada yang sampai kepada perzinaan wal'iyadzu billah.

Hubungan khusus (baca:pacaran) di atas adalah perbuatan yang mendekatkan pasangan kepada perzinaan atau bahkan menjadikan keduanya berzina (sebagaimana terjadi pada pasangan yang diceritakan di atas).  Syariat Islam dengan tegas melarang perzinaan dan perkara-perkara yang mendekatkan seseorang kepada perzinaan. Diantara dalil yang menunjukkan keharaman zina adalah:

1. Firman Allah ta'ala dalam surat al-Furqon:68:


وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا


Dan orang-orang yang tidak menyembah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),

2. Cerita tentang adzab pedih untuk para pezina dan para pendosa lainnya:


عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّى صَلاَةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ فَقَالَ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمُ اللَّيْلَةَ رُؤْيَا؟» قَالَ: فَإِنْ رَأَى أَحَدٌ قَصَّهَا، فَيَقُولُ: «مَا شَاءَ اللَّهُ» فَسَأَلَنَا يَوْمًا فَقَالَ: «هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ رُؤْيَا؟» قُلْنَا: لاَ، قَالَ: «لَكِنِّي رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي فَأَخَذَا بِيَدِي، فَأَخْرَجَانِي إِلَى الأَرْضِ المُقَدَّسَةِ، فَإِذَا رَجُلٌ جَالِسٌ، وَرَجُلٌ قَائِمٌ، بِيَدِهِ كَلُّوبٌ مِنْ حَدِيدٍ» قَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا عَنْ مُوسَى: " إِنَّهُ يُدْخِلُ ذَلِكَ الكَلُّوبَ فِي شِدْقِهِ حَتَّى يَبْلُغَ قَفَاهُ، ثُمَّ يَفْعَلُ بِشِدْقِهِ الآخَرِ مِثْلَ ذَلِكَ، وَيَلْتَئِمُ شِدْقُهُ هَذَا، فَيَعُودُ فَيَصْنَعُ مِثْلَهُ، قُلْتُ: مَا هَذَا؟ قَالاَ: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ عَلَى قَفَاهُ وَرَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِهِ بِفِهْرٍ - أَوْ صَخْرَةٍ - فَيَشْدَخُ بِهِ رَأْسَهُ، فَإِذَا ضَرَبَهُ تَدَهْدَهَ الحَجَرُ، فَانْطَلَقَ إِلَيْهِ لِيَأْخُذَهُ، فَلاَ يَرْجِعُ إِلَى هَذَا حَتَّى يَلْتَئِمَ رَأْسُهُ وَعَادَ رَأْسُهُ كَمَا هُوَ، فَعَادَ إِلَيْهِ، فَضَرَبَهُ، قُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالاَ: انْطَلِقْ فَانْطَلَقْنَا إِلَى ثَقْبٍ مِثْلِ التَّنُّورِ، أَعْلاَهُ ضَيِّقٌ وَأَسْفَلُهُ وَاسِعٌ يَتَوَقَّدُ تَحْتَهُ نَارًا، فَإِذَا اقْتَرَبَ ارْتَفَعُوا حَتَّى كَادَ أَنْ يَخْرُجُوا، فَإِذَا خَمَدَتْ رَجَعُوا فِيهَا، وَفِيهَا رِجَالٌ وَنِسَاءٌ عُرَاةٌ، فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالاَ: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ مِنْ دَمٍ فِيهِ رَجُلٌ قَائِمٌ عَلَى وَسَطِ النَّهَرِ - قَالَ يَزِيدُ، وَوَهْبُ بْنُ جَرِيرٍ: عَنْ جَرِيرِ بْنِ حَازِمٍ - وَعَلَى شَطِّ النَّهَرِ رَجُلٌ بَيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ، فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ الَّذِي فِي النَّهَرِ، فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ رَمَى الرَّجُلُ بِحَجَرٍ فِي فِيهِ، فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ، فَجَعَلَ كُلَّمَا جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى فِي فِيهِ بِحَجَرٍ، فَيَرْجِعُ كَمَا كَانَ، فَقُلْتُ: مَا هَذَا؟ قَالاَ: انْطَلِقْ، فَانْطَلَقْنَا حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى رَوْضَةٍ خَضْرَاءَ، فِيهَا شَجَرَةٌ عَظِيمَةٌ، وَفِي أَصْلِهَا شَيْخٌ وَصِبْيَانٌ، وَإِذَا رَجُلٌ قَرِيبٌ مِنَ الشَّجَرَةِ بَيْنَ يَدَيْهِ نَارٌ يُوقِدُهَا، فَصَعِدَا بِي فِي الشَّجَرَةِ، وَأَدْخَلاَنِي دَارًا لَمْ أَرَ قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهَا، فِيهَا رِجَالٌ شُيُوخٌ وَشَبَابٌ، وَنِسَاءٌ، وَصِبْيَانٌ، ثُمَّ أَخْرَجَانِي مِنْهَا فَصَعِدَا بِي الشَّجَرَةَ، فَأَدْخَلاَنِي دَارًا هِيَ أَحْسَنُ وَأَفْضَلُ فِيهَا شُيُوخٌ، وَشَبَابٌ، قُلْتُ: طَوَّفْتُمَانِي اللَّيْلَةَ، فَأَخْبِرَانِي عَمَّا رَأَيْتُ، قَالاَ: نَعَمْ، أَمَّا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ، فَكَذَّابٌ يُحَدِّثُ بِالكَذْبَةِ، فَتُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الآفَاقَ، فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ يُشْدَخُ رَأْسُهُ، فَرَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَنَامَ عَنْهُ بِاللَّيْلِ وَلَمْ يَعْمَلْ فِيهِ بِالنَّهَارِ، يُفْعَلُ بِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي الثَّقْبِ فَهُمُ الزُّنَاةُ، وَالَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهَرِ آكِلُوا الرِّبَا، وَالشَّيْخُ فِي أَصْلِ الشَّجَرَةِ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ، وَالصِّبْيَانُ، حَوْلَهُ، فَأَوْلاَدُ النَّاسِ وَالَّذِي يُوقِدُ النَّارَ مَالِكٌ خَازِنُ النَّارِ، وَالدَّارُ الأُولَى الَّتِي دَخَلْتَ دَارُ عَامَّةِ المُؤْمِنِينَ، وَأَمَّا هَذِهِ الدَّارُ فَدَارُ الشُّهَدَاءِ، وَأَنَا جِبْرِيلُ، وَهَذَا مِيكَائِيلُ، فَارْفَعْ رَأْسَكَ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي، فَإِذَا فَوْقِي مِثْلُ السَّحَابِ، قَالاَ: ذَاكَ مَنْزِلُكَ، قُلْتُ: دَعَانِي أَدْخُلْ مَنْزِلِي، قَالاَ: إِنَّهُ بَقِيَ لَكَ عُمُرٌ لَمْ تَسْتَكْمِلْهُ فَلَوِ اسْتَكْمَلْتَ أَتَيْتَ مَنْزِلَكَ."


Dari Samurah bin Jundab berkata; Sudah menjadi kebiasaan Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bila selesai melaksanakan suatu shalat, Beliau menghadapkan wajahnya kepada kami lalu berkata,: "Siapa diantara kalian yang tadi malam bermimpi". Dia (Samrah bin Jundab) berkata,: "Jika ada seorang yang bermimpi maka orang itu akan menceritakan, saat itulah Beliau berkata,: "Maa sya-allah" (atas kehendak Allah) ". Pada suatu hari yang lain Beliau bertanya kepada kami: "Apakah ada diantara kalian yang bermimpi?". Kami menjawab: "Tidak ada". Beliau berkata,: "Tetapi aku tadi malam bermimpi yaitu ada dua orang laki-laki yang mendatangiku kemudian keduanya memegang tanganku lalu membawaku ke negeri yang disucikan (Al Muqaddasah), ternyata disana ada seorang laki-laki yang sedang berdiri dan yang satunya lagi duduk yang di tangannya memegang sebatang besi yang ujungnya bengkok (biasanya untuk menggantung sesuatu). Sebagian dari sahabat kami berkata, dari Musa bahwa: batang besi tersebut dimasukkan ke dalam satu sisi mulut (dari geraham) orang itu hingga menembus tengkuknya. Kemudian dilakukan hal yang sama pada sisi mulut yang satunya lagi, lalu dilepas dari mulutnya dan dimasukkan kembali dan begitu seterusnya diperlakukan. Aku bertanya: "Apa ini maksudnya?". Kedua orang yang membawaku berkata,: "Berangkatlah". Maka kami berangkat ke tempat lain dan sampai kepada seorang laki-laki yang sedang berbaring bersandar pada tengkuknya, sedang ada laki-laki lain yang berdiri diatas kepalanya memegang batu atau batu besar untuk menghancurkan kepalanya. Ketika dipukulkan, batu itu menghancurkan kepala orang itu, Maka orang itu menghampirinya untuk mengambilnya dan dia tidak berhenti melakukan ini hingga kepala orang itu kembali utuh seperti semula, kemudian dipukul lagi dengan batu hingga hancur. Aku bertanya: "Siapakah orang ini?". Keduanya menjawab: "Berangkatlah". Maka kamipun berangkat hingga sampai pada suatu lubang seperti dapur api dimana bagian atasnya sempit dan bagian bawahnya lebar dan dibawahnya dinyalakan api yang apabila api itu didekatkan, mereka (penghuninya) akan terangkat dan bila dipadamkan penghuninya akan kembali kepadanya, penghuninya itu terdiri dari laki-laki dan perempuan. Aku bertanya: "Siapakah mereka itu?". Keduanya menjawab: "Berangkatlah". Maka kami pun berangkat hingga sampai di sebuah sungai yang airnya adalah darah, disana ada seorang laki-laki yang berdiri di tengah-tengah sungai". Berkata, Yazid dan Wahb bin Jarir dari Jarir bin Hazim: 'Dan di tepi sungai ada seorang laki-laki yang memegang batu. Ketika orang yang berada di tengah sungai menghadapnya dan bermaksud hendak keluar dari sungai maka laki-laki yang memegang batu melemparnya dengan batu kearah mulutnya hingga dia kembali ke tempatnya semula di tengah sungai, dan terjadilah seterusnya begitu, setiap dia hendak keluar dari sungai, akan dilempar dengan batu sehingga kembali ke tempatnya semula. Aku bertanya: "Apa maksudnya ini?" Keduanya menjawab: "Berangkatlah". Maka kamipun berangkat hingga sampai ke suatu taman yang hijau, didalamnya penuh dengan pepohonan yang besar-besar sementara dibawahnya ada satu orang tua dan anak-anak dan ada seorang yang berada dekat dengan pohon yang memegang api, manakala dia menyalakan api maka kedua orang yang membawaku naik membawaku memanjat pohon lalu keduanya memasukkan aku ke sebuah rumah (perkampungan) yang belum pernah aku melihat seindah itu sebelumnya dan didalamnya ada para orang laki-laki, orang-orang tua, pemuda, wanita dan anak-anak lalu keduanya membawa aku keluar dari situ lalu membawaku naik lagi ke atas pohon, lalu memasukkan aku ke dalam suatu rumah yang lebih baik dan lebih indah, didalamnya ada orang-orang tua dan para pemuda. Aku berkata: "Ajaklah aku keliling malam ini dan terangkanlah tentang apa yang aku sudah lihat tadi". Maka keduanya berkata,: "Baiklah. Adapun orang yang kamu lihat mulutnya ditusuk dengan besi adalah orang yang suka berdusta dan bila berkata selalu berbohong, maka dia dibawa hingga sampai ke ufuq lalu dia diperlakukan seperti itu hingga hari qiyamat. Adapun orang yang kamu lihat kepalanya dipecahkan adalah seorang yang telah diajarkan Al Qur'an oleh Allah lalu dia tidur pada suatu malam namun tidak melaksanakan Al Qur'an pada siang harinya, lalu dia diperlakukan seperti itu hingga hari qiyamat. Dan orang-orang yang kamu lihat berada didalam dapur api mereka adalah para pezina sedangkan orang yang kamu lihat berada di tengah sungai adalah mereka yang memakan riba' sementara orang tua yang berada dibawah pohon adalah Nabi Ibrahim 'alaihissalam, sedangkan anak-anak yang ada disekitarnnya adalah anak-anak kecil manusia. Adapun orang yang menyalakan api adalah malaikat penunggu neraka sedangkan rumah pertama yang kamu masuki adalah rumah bagi seluruh kaum mu'minin sedangkan rumah yang ini adalah perkampungan para syuhada' dan aku adalah Jibril dan ini adalah Mika'il, maka angkatlah kepalamu. Maka aku mengangkat kepalaku ternyata diatas kepalaku ada sesuatu seperti awan. Keduanya berkata,: "Itulah tempatmu". Aku berkata: "Biarkanlah aku memasuki rumahku". Keduanya berkata,: " Umurmu masih tersisa dan belum selesai dan seandainya sudah selesai waktunya kamu pasti akan memasuki rumahmu". HR. Bukhari no.1386

Diantara dalil terkait pelarangan mendekati perbuatan zina adalah firman Allah ta'ala di surat Al-Isra':32:


وَلا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلا


Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.

Silahkan melihat tulisan kami sebelumnya terkait pacaran: http://www.salamdakwah.com/baca-pertanyaan/pacaran-1.html

Sesudah kita fahami haramnya hubungan spesial yang disebutkan oleh penanya maka para pelakuknya harus bertaubat dari zina dan dari hubungan yang diharamkan tersebut. Taubat yang dilakukan harus memenuhi syaratnya. Berikut ini syarat taubat yang harus dipenuhi:
syarat taubat, yaitu:
1. Ikhlas karena Allah ta’ala : Maksudnya adalah karena takut kepada Allah ta’ala dan ingin mendekat kepadaNya

2. Menyesal atas perbuatan dosa yang telah dia perbuat sebelumnya.

3. Segera meninggalkan dosa tersebut dan tidak menunda-nundanya.

4. Bertekad kuat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut.

5. Taubat itu dilaksanakan pada saat taubat masih diterima, yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat. Diterjemahkan secara bebas dari Asy-Syarh Al-Mumti’ Ala Zad Al-Mustaqni’ oleh syaikh Utsaimin 14/380

Disebutkan pada point 3 di atas: Segera meninggalkan dosa tersebut dan tidak menunda-nundanya. Sehingga orang yang memiliki hubungan tadi harus segera berhenti dari zina dan dari hubungan terlarang itu. Apabila kedua pasangan itu bertaubat dan menikah maka itu tidak dipersoalkan. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa pernah ditanya:
Seorang pria hidup bersama seorang wanita tanpa ikatan pernikahan (kumpul kebo) dan memiliki banyak anak. Setelah itu, laki-laki tersebut menikahi dua orang wanita secara syar'i dan keduanya pun melahirkan banyak anak. Kemudian, laki-laki itu ingin mengusir wanita yang pertama dari rumah, tetapi anak-anaknya melarang. Bagaimana hukum atas permasalahan ini?

Mereka menjawab:
"kumpul kebo" merupakan perbuatan zina yang diharamkan menurut Alquran, Sunah, dan ijmak umat Islam. Kedua pasangan zina itu harus berpisah, bertobat kepada Allah, dan meminta ampun kepada-Nya. Apabila keduanya sudah bertobat dengan sungguh-sungguh lalu menikah secara syar'i, maka tidak ada lagi yang dipersoalkan...Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 22/24-25 Pertanyaan Kelima dari Fatwa Nomor:6575

SIlahkan membaca pembahasan kami sebelaumnya di link berikut: http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/4311-apakah-harus-menikahi-wanita-yang-dizinai

Kesulitan keuangan dan hilangnya keberkahan rizki sehingga anda berdua tetap berhutang meskipun anda berdua bekerja merupakan sebagian efek dari dosa yang diperbuat. Di dalam Kitab Al-Jawabul Kafi, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah merinci dampak-dampak buruk dari perbuatan dosa dan maksiat terhadap kehidupan seorang hamba baik di dunia maupun di akhirat. Diantaranya;

  1. Terhalang untuk mendapatkan keberkahan ilmu. Ilmu adalah cahaya yang dinyalakan Allah di dalam hati seorang hamba, dan maksiat mematikan cahaya tersebut.
  2. Kegelisahan yang dirasakan pelaku maksiat di dalam hatinya, dan hilangnya ketenangan dari dalam hati.
  3. Allah akan mempersulit setiap urusan dalam hidupnya. Sekiranya orang itu bertakwa kepada Allah, niscaya urusannya dipermudah oleh-Nya. Begitu pula sebaliknya, siapa yang mengabaikan takwa niscaya urusannya akan dipersulit oleh-Nya.
  4. Menimbulkan sifat lemah baik pada agama dan badannya, sehingga pelaku maksiat terasa berat dan malas untuk melakukan ketaatan.
  5. Maksiat menghilangkan keberkahan umur dan melenyapkan kebaikannya.
  6. Perbuatan maksiat akan mengundang perbuatan maksiat lainnya, sebagaimana ketaatan akan mengundang ketaatan yang lain.
  7. Maksiat akan menghalangi seseorang dari taubat kepada Allah dan pelaku maksiat akan menjadi ‘tawanan’ bagi syaitan yang menguasainya
  8. Maksiat yang dilakukan berulang-ulang akan menanamkan rasa cinta terhadap maksiat itu sendiri di dalam hati, sehingga pelaku maksiat akan merasa bangga dengan maksiat yang dia lakukan
  9. Maksiat akan menghinakan dan menjatuhkan kedudukan seorang hamba di hadapan Rabbnya.
  10. Akibat buruk dari maksiat akan menimpa semua makhluk; manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan
  11. Maksiat akan melahirkan kehinaan
  12. Maksiat bisa merusak akal fikiran dan menghilangkan kecerdasannya
  13. Maksiat akan menutup mata hati, menyebabkan kerasnya hati, dan pelakunya dianggap sebagai orang yang lalai.
  14. Maksiat mendatangkan laknat Allah dan Rasul-Nya
  15. Maksiat akan menghalangi doa malaikat dan Rasulullah
  16. Maksiat menyebabkan kerusakan, keguncangan, gempa dan musibah
  17. Maksiat bisa mematikan semangat, menghilangkan rasa malu, membutakan mata hati
  18. Maksiat dan dosa bisa melenyapkan nikmat dan mendatangkan bencana
  19. Maksiat dan dosa akan meninggalkan tatatan masyarakat yang rusak akhlak dan agamanya
  20. Terhalangi rizkinya. Dalam musnad Imam Ahmad dari Tsauban berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

    إن الرجل ليُحرم الرزق بالذنب يُصيبه 

    “Sesungguhnya seseorang terhalangi rezki dikarenakan dosa yang dilakukannya. “HR. Ibnu Majah, (4022) 

Oleh karena itu bersegeralah menuju pintu taubat kepada Allah ta'ala. Terkait berhutang untuk menikah, kami sarankan anda tidak berhutang untuk biaya respsi atau walimah, bikinlah kesepakatan dengan keluarga sendiri dan keluarga calon istri supaya acara dan biaya resepsi disesuaikan dengan budget yang dimiliki sehingga tidak perlu berhutang. Wallahu ta'ala a'lam 

 

   

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com