SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Menyukai Laki-Laki Yang Telah Beristri


Akhwat (Pasuruan)
2 weeks ago on Keluarga

Assalamualaikum Singkatnya saya mengagumi seorang ustadz yang insyaAllah hafal al qur'an dan bagus imannya, jujur saya sangat kagum dengan ilmu dan ketaatannya dalam beribadah. Tapi sayangnya si ustadz ini sudah memiliki istri yang insyaAllah sepadan dengan dia dalam hal ilmu dan ketaatan dalam ibadahnya, mereka memang menikah muda dan sekarang umur pernikahannya kira2 3 tahun serta belum dikarunia i anak. Saya sadar yang saya rasakan ini tidak benar, tapi sudah banyak cara saya lakukan. Mulai dari menyibukkan diri dalam beribadah, datang ke kajian2, dan meminta saran dan solusi kepada beberapa ustadz dan ustadzah, sampai2 sehari penuh saya tidak mengingat dia sama sekali. Tapi saya secara sekelebatan teringat dia setiap saya mau tidur, saya selalu alihkan tapi perasaan itu malah tak kunjung pergi. Justru semakin membesar dan membesar, setiap kali saya mengingat dia saya selalu alihkan setiap saya bertemu dia saya selalu palingkan muka saya terus2 an berdzikir tanpa henti agar saya tidak teringat dia, bahkan saya hampir tiap hari berpuasa sebelum ramadhan, saya juga memblokir akun sosmednya agar saya tidak stalking lagi, semua hal sudah saya lakukan, Setiap selesai sholat sunnah maupun fardhu saya juga selipkan doa agar Allah memberi saya solusi untuk menghadapi perasaan ini, agar rasa cinta saya ini tidak dilaknat dan mendapat murka dari ALLAH SWT. tapi selalu saja sesaat sebelum tidur saya terus2 an teringat dia dan sekali saya ingat saya akan susah lupa lagi. Jadi istilahnya saya seolah2 terus2 an berlari dr perasaan saya sendiri, sudah banyak masukan2 dr ustadz ustadzah yg saya lakukan tp itu hanya bekerja di siang hari saat saya beraktivitas saja, saya mohon bantuannya barangkali ada saran dan solusi yang mungkin bisa membuat saya mudah untuk melupakan ustadz tersebut. Dan, saya juga sekalian tanya 'salahkan perasaan saya ini? Walaupun segala usaha telah saya lakukan apa saya tetap salah karna memiliki perasaan ini?' Dan jika salah, bagaimana cara mengatasinya? Terimakasih, wassalamualaikum
Redaksi salamdakwah.com
2 weeks ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Apabila rasa cinta yang timbul dalam diri anda berasal dari hal-hal yang tidak diharamkan seperti membaca biografi orang tersebut dan kagum kemudian  melihatnya sekilas dan tidak dilanjutkan dengan komunikasi yang terlarang maka anda tidak tercela dan anda tidak bersalah. Sebaliknya bila rasa cinta itu timbul karena sering khalwat dan komunikasi yang terlarang maka anda tidak diberi udzur. Lebih jelasnya silahkan membaca keterangan Ibnu Qayyim rahimahullahu ta'ala yang telah kami terjemahkan ke bahasa Indonesia,'"Awal mula dan sebab-sebab cinta sifatnya opsional (berada dibawah kendali seorang hamba.pent) dan termasuk dalam lingkaran taklif seorang hamba. Melihat, memikirkan dan membuka diri untuk mencintai sifatnya opsional.

Apabila seseorang mendatangi sebab-sebab tersebut maka efeknya diluar kendali dia...ini seperti efek mabuk setelah meminum khamr, meminum khamr sifatnya opsional sedangkan efek mabuknya di luar kendali orang yang minum.


Ketika sebab itu dilakukan karena pilihan dia sendiri maka dia tidak diberi udzur untuk efek yang tiba di luar kendali. Ketika sebabnya diharamkan maka efek mabuknya tidaklah dimaafkan.

Tidak diragukan lagi bahwa terus memandang dan terus memikirkan kedudukannya sama dengan meminum zat yang memabukkan sehingga dia dicela karena mendatangi sebabnya. Oleh karena itu, bila cinta datang dari hal-hal yang tidak terlarang maka orang yang jatuh cinta itu tidaklah tercela, sebagaimana orang yang mencintai istri atau budak wanitanya kemudian mereka berpisah namun rasa cinta itu tetap lekat dalam diri orang tersebut, kala itu dia tidak tercela sebagaimana berlalu dalam kisah Bariroh dan Mughits.


Begitu pula bila seseorang memandang sekejap kemudian ia memalingkan pandangannya namun cinta telah terlanjur hinggap dalam hatinya tanpa dia bisa kontrol. Meski demikian dia harus berusaha mengusir rasa itu dan memalingkan hati darinya, bila dia masih tersandera oleh rasa cinta itu setelah mengerahkan usaha maksimal untuk mengusir rasa tersebut maka dia tidak tercela. Raudhatul Muhibbin 147-148

Sebagaimana sudah disampaikan di pertanyaan bahwa malam hari adalah saat yang berat dengan ujian ini maka berarti tinggal mencari metode yang sesuai yang menjadikan anda bisa melewati saat itu tanpa memikirkan laki-laki itu, seperti menyibukkan diri dengan al-Qur'an dan menghafalnya, menyibukkan diri dengan   hal-hal positif lainnya supaya bisa terlepas dari membayangkan atau merasa rindu kepada laki laki itu. Banyaklah berdoa kepada Allah ta'ala supaya pikiran dibersihkan dari hal-hal yang mengganggu kemudian banyaklah berdzikir kepada Allah azza wa jalla. Allah ta'ala telah berfirman di surat Ar-Ra'd ayat 28:

أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah (zikrullah) hati menjadi tenang".

Apabila langkah-langkah di atas sudah dilakukan namun hati masih belum bisa "move on" maka cobalah cari informasi apakah laki-laki tersebut memiliki kemampuan untuk poligami dan apakah kemungkinan besar istri pertamanya setuju dengan poligami suaminya. Apabila dia punya kemampuan untuk berpoligami dan kemungkinan besar tidak terjadi gejolak besar yang merusak rumah tangganya bila berpoligami maka anda perlu shalat istikharah untuk mendapatkan jalan yang terbaik menurut Allah ta'ala, apakah itu bentuknya  maju untuk menjadi istri kedua atau mencari laki-laki lain yang bisa menggantikan posisi laki-laki itu di hati anda. Kami sarankan kepada anda untuk beristikhoroh kepada Allah ta'ala dan berdoa kepada Allah ta'ala meminta laki-laki yang terbaik bagi anda menurut Allah ta'ala. Jadi dalam doa istikhoroh anda tidak meminta untuk dijodohkan secara khusus dengan laki-laki itu namun meminta laki-laki yang terbaik bagi anda menurut Allah ta'ala mengingat laki-laki yang sholeh dan baik agamanya bukan hanya laki-laki itu. Semoga Allah ta'ala mudahkan anda untuk melakukan tindakan yang tepat dalam masalah ini setelah istikhoroh. Dalam salah satu hadits disebutkan terkait istikhoroh,"


عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، كَالسُّورَةِ مِنَ القُرْآنِ: " إِذَا هَمَّ بِالأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاقْدُرْهُ لِي، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ رَضِّنِي بِهِ، وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ


Dari Jabir radliallahu 'anhu dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengajarkan istikharah kepada kami untuk setiap perkara, sebagaimana mengajarkan surat dari Al Qur'an. (Beliau bersabda): "Jika salah seorang menginginkan sesuatu maka hendaknya ia mengerjakan dua raka'at lalu ia mengucapkan: ALLAHUMMA INNI ASTAKHIRUKA BI 'ILMIKA WA ASTAQDIRUKA BI QUDRATIKA WA AS'ALUKA MIN FADLIKAL ADZIMI FAINNAKA TAQDIRU WALA AQDIRU WA TA'LAMU WALA A'LAMU WA ANTA A'LLAMUL GHUYUB, ALLAHUMMA IN KUNTA TA'LAMU ANNA HADZAL AMRA KHAIRAN LII FII DIENIE WA MA'AASYII WA 'AQIBATI AMRI -atau berkata; FII 'AAJILI AMRII WA AAJILIHI- FAQDURHU LI WA IN KUNTA TA'LAMU ANNA HAADZAL AMRA SYARRAN LI FI DIINII WA MA'AASYII WA 'AAQIBATI AMRII -atau berkata; FII 'AAJILI AMRII WA AAJILIHI- FASHRIFHU 'ANNI WASHRIFNI 'ANHU WAQDURLIIL KHAIRA HAITSU KAANA TSUMMA RADDLINI BIHI kemudian ia menyebutkan hajat yang ia inginkan. (Ya Allah saya memohon pilihan kepada Engkau dengan ilmu-Mu, saya memohon penetapan dengan kekuasaan-Mu dan saya memohon karunia-Mu yang besar, karena Engkaulah yang berkuasa sedangkan saya tidak berkuasa, Engkaulah yang Maha mengetahui sedangkan saya tidak mengetahui apa-apa, dan Engkau Maha mengetahui dengan segala yang ghaib. Ya Allah jikalau Engkau mengetahui urusanku ini adalah baik untukku dalam agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku -atau berkata; baik di dunia atau di akhirat- maka takdirkanlah untukku, sebaliknya jikalau Engkau mengetahui bahwa urusanku ini buruk untukku, agamaku, kehidupanku, serta akibat urusanku, -atau berkata; baik di dunia ataupun di akhirat- maka jauhkanlah aku daripadanya, serta takdirkanlah untukku yang baik baik saja, kemudian jadikanlah aku ridla dengannya.) " Lalu ia menyebutkan hajatnya. HR. Bukhari, Kitab Ad-Da'awat, Bab Ad-Du'a' 'inda Al-Istikhoroh no.6382. Imam Bukhari juga menyebutkannya di tempat lain di nomer 7390

Setelah shalat istikharah silahkan perhatikan keterangan Ulama' mengenai sebagian tanda arahan Allah ta'ala. Syaikh Utsaimin rahimahullah ta'ala menerangkan dalam Fatawa Nurun Alad-Darb (Fatwa shalat/Shalat Istikharah)

"Tidak disyaratkan seorang yang melakukan istikharah dia bermimpi sesuatu yang menunjukkan pilihan yang lebih utama. Akan tetapi, kapan saja sesuatu dimudahkan setelah istikharah, hendaknya dia menyadari bahwa itu baik baginya jika dia berdoa kepada Allah dengan jujur dan ikhlas. Karena dalam doa istikharah, seorang laki-laki atau wanita yang istikharah berkata, 'Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku, sekarang atau yang akan datang, maka takdirkanlah dia untukku dan mudahkanah dia untukkku." Maka jika sebuah perkara dimudahkan setelah istikharah, ketahuilah bahwa itu merupakan yang terbaik baginya, karena dia telah berdoa kepada Allah agar dimudahkan apa yang baginya. Maka jika dia mendapatkan kemudahan, itu merupakan petunjuk bahwa hal tersebut baik baginya.

Kadang seseorang bermimpi menunjukkan bahwa sesuatu itu baik baginya, kadang dimudahkan baginya apa yang dia maksud, lalu dia melaksanakannya, maka itu yang baik baginya.

Yang penting, jika anda istikharah kepada Allah dengan jujur dan ikhlas, maka apa yang terjadi sesudah itu dengan sebab apapun, maka itu merupakan kebaikan baginya insya Allah Ta'ala. Adapun pendapat sebagian orang bahwa seseorang harus bermimpi untuk menentukan apakah dia akan terus melaksanakannya atau meninggalkannya, hal ini tidak ada landasannya. Akan tetapi sekedar dia istikharah kemudian perbuatan tersebut terasa mudah baginya atau mudah baginya untuk meninggalkannya, maka ketika itu kita mengetahui bahwa Allah Ta'ala telah memilihkan yang terbaik baginya. Karena dia telah memohon kepada Allah agar dipilihkan yang baik baginya."

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan,"
pertanda setelah shalat istikharah untuk melanjutkan urusan yang diistikharahkan atau tidak melanjutkannya yaitu seseorang yang melaksanakan istikharah mendapati bahwa hatinya bisa menerima dengan lapang dada urusan ini (yang disebutkan dalam istikharahnya) dan menganggapnya baik. apabila dia dapati dadanya sempit dan terhalangi dari urusan tersebut maka ini tanda bahwasanya ada keburukan, kala itu dia meninggalkannya dan mengalihkan ke yang lain". Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 18/57 pertanyaan kedua dari fatwa 13610

Ibnu Hajar al-Asqalani menerangkan," Imam an-Nawawi menyebutkan dalam kitab al-Adzkar,"Setelah istikhoroh  seseorang melakukan apa yang mengantarkan kepada ketenangan hati. Kemudian beliau berdalil dengan hadits Anas yang dikeluarkan oleh Ibnu as-Sunni," Apabila engkau berkeinginan kuat melakukan sesuatu maka beristikhorohlah kepada Rabb mu sebanyak tujuh kali kemudian perhatikan apa yang terbersit di hatimu, sesungguhnya kebaikan ada padanya."Seandainya riwayat ini kuat maka sungguh ini bisa dijadikan acuan namun sanadnya lemah sekali. Yang dijadikan acuan adalah dia tidak melakukan apa yang menyenangkan hatinya dari apa yang memang dia condong sekali kepadanya sebelum istikhoroh, beginilah yang diisyaratkan pada akhir hadits Abu Said, tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah. Fath al-Baari 11/187 

Apabila kecondongan kepada laki-laki yang dikagumi itu semakin kuat setelah istikharah maka silahkan mencari wasilah yang akan menawarkan kepada laki-laki sholeh tersebut untuk menikahi anda. Menawarkan diri kepada laki-laki sholeh bukanlah aib. Dari Tsabit Al-Bunani ia mengatakan,


كُنْتُ عِنْدَ أَنَسٍ ، وَعِنْدَهُ ابْنَةٌ لَهُ ، قَالَ أَنَسٌ : جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعْرِضُ عَلَيْهِ نَفْسَهَا ، قَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَكَ بِي حَاجَةٌ ؟ .   فَقَالَتْ بِنْتُ أَنَسٍ : مَا أَقَلَّ حَيَاءَهَا ، وَا سَوْأَتَاهْ ! وَا سَوْأَتَاهْ ! قَالَ : هِيَ خَيْرٌ مِنْكِ ، رَغِبَتْ فِي النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ نَفْسَهَا

“Saya di sisi Anas dan beliau mempunyai anak wanita. Anas mengatakan, “Seorang wanita mendatangi Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam menawarkan dirinya kepada beliau seraya mengatakan, “Ya Rasulullah apakah anda membutuhkan diriku? Anak wanita Anas mengatakan, “Sedikit sekali rasa malunya. Oh malunya !! oh malunya !! berkata (Anas), “ Dia lebih baik dari kamu, dia menginginkan Nabi sallallahu alaihi wa sallam dan menawarkan diri kepada beliau.” (HR. Bukhari, no. 4828).

Imam Bukhari membuat bab dengan mengatakan ‘Bab:


 عرْض المرأة نفسَها على الرجل الصالح


Seorang wanita menawarkan dirinya kepada lelaki sholeh’

Dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, 30/50, dikatakan “Seorang wanita dibolehkan menawarkan dirinya kepada seorang lelaki dan menyampaikan padanya akan keinginannya. Karena kebaikan laki-laki itu dan keutamaannya atau karena ilmu dan kemuliaannya. Atau karena salah satu perangai agama,  hal yang demikian bukanlah kehinaan. Bahkan hal itu menunjukan akan kemulyaannya. Dimana Bukhori telah mengeluarkan hadits Tsabit Albunany berkata, saya di sisi Anan… dan menyebutkan hadits tadi.

Semoga Allah ta'ala memudahkan urusan anda dan urusan kaum muslimin lainnya.

 

 
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com