SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

mencukur habis kumis menyerupai yahudi?


Akhwat
4 months ago on Fiqih

Bismillaah. Semoga Allaah mengistiqomahkan ustadz di atas Manhaj Salaf Izin bertanya ustadz, adakah dalil dari al-Qur'aan, Sunnah maupun perkataan sahabat yang menyebutkan bahwa mencukur habis kumis(bagi laki-laki) termasuk tasyabbuh dengan orang yahudi secara khusus, atau menyerupai kaum kuffar secara umumnya? Jazaaakallaahu khairan atas jawabannya.
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

 

Wallahu ta'ala a'lam. Kami tidak mengetahui hal itu. yang kami ketahui adalah mencukur kumis ada yang membolehkannya karena ada dalil yang menguatkan hal itu. 

 

Pertanyaan 1: Tentang sifat kumis dalam Islam. Kami mendengar sebagian ulama yang terpandang mengatakan bahwa termasuk bid'ah memotong kumis seluruhnya, karena ia diibaratkan seperti rambut kepala. Namun, Ibnu al Qayyim dalam kitabnya "Zad al-Maad" merajihkan pendapat bahwa memotong kumis seluruhnya lebih utama daripada memotong kumis yang melebihi tepi bibir atas saja. Manakah yang paling utama dan kuat di antara kedua pendapat itu?

Jawaban 1: Segala puji hanya bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul-Nya, keluarga dan para sahabatnya .

Ada suatu hadits dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu; dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang bersabda, Berbedalah kalian dari orang-orang Musyrik, panjangkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis

Dalam Shahih Muslim ada riwayat dari Anas yang radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Waktu ditetapkan bagi kami dalam memotong kumis, menggunting kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan, yaitu agar kami tidak membiarkannya lebih dari empat puluh malam

Dalam Shahih Muslim juga ada riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, Pendekkanlah kumis dan panjangkanlah jenggot, berbedalah kalian dari orang-orang Majusi

Tirmidzi meriwayatkan dari Zaid bin Arqam yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, Barangsiapa yang tidak mengambil sebagian kumisnya (memotongnya), maka dia bukan termasuk dari golongan kami Dia berkata bahwa ini adalah hadits shahih.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 5/148. Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor 1954

Anggota Anggota Wakil Ketua Ketua
Abdullah bin Qu'ud Abdullah bin Ghadyan Abdurrazzaq `Afifi Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

 

Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Ifta’ ditanya, “Telah ada banyak hadits (Pendekkan kumis) apakah mencukur itu berbeda dengan memendekkan? Sebagian orang memendekkan dari permulaan kumis dan setelah bibir atas. Dan membiarkan rambut kumisnya. Diperkirakan memotong separuh kumisnya dan membiarkan sisanya. Apakah ini maksudnya? Ataukah mencukur habis semuanya? Saya mohon faedah cara memotong kumis.

Mereka menjawab, “

دلت الأحاديث الصحيحة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم على مشروعية قص الشارب ، ومن ذلك : قوله صلى الله عليه وسلم : (قصوا الشوارب وأعفوا اللحى ؛ خالفوا المشركين) متفق على صحته ، وقوله صلى الله عليه وسلم : (جزوا الشوارب وأرخوا اللحى ؛ خالفوا المجوس) ، وفي بعضها : (أحفوا الشوارب) والإحفاء هو المبالغة في القص ، فمن جز الشارب حتى تظهر الشفة العليا ، أو أحفاه : فلا حرج عليه ؛ لأن الأحاديث جاءت بالأمرين ، ولا يجوز ترك طرفي الشارب ، بل يقص الشارب كله ، أو يحفيه كله ؛ عملاً بالسنة

Hadits yang shoheh (dari Rasulullah sallallahu’alai wa sallam) telah menunjukkan  dianjurkannya memendekkan kumis. Diantara hal itu adalah sabdanya sallallahu’alaihi wa sallam (Potong kumis dan panjangkan jenggot, maka berbedalah dengan orang Majusi)

Dalam sebagian redaksi (Cukur kumis) kata ‘Al-Ihfa’ adalah melebihkan dalam memotong. Barangsiapa yang memotong kumis sampai kelihatan bibir atas atau mencukurnya, mak ahal itu tidak mengapa. Karena hadits yang ada (menunjukkan) dua hal tidak diperbolehkan membiarkan ujung kumis. Bahkan dipotong semua kumisnya atau sangat dipendekkan semuanya, untuk mengamalkan sunnah.” Selesai

Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syekh Abdurrazzaq Afifi, Syekh Abdullah Qoud.

Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah (5/149).

Tobari, Qodi Iyad memilih diperbolehkan dua hal, memendekkan sangat dan memotongnya (merapikan). Dan Al-Hafidz Ibnu Hajar lebih condong (pendapat ini). Dalam Fathul Bari, (10/347) silahkan melihat ‘Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah (25/320).islamqa.info

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com