SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Pinjam Untuk Pengembangan Usaha


Ikhwan (Jakarta Timur)
10 months ago on Riba

Bagaimana hukumnya kalau kita utang di bank dengan tujuan mengembangkan usaha. Apakah ini termasuk hutang yang dilarang agama/riba? Apabila sudah terlanjur hutang di bank dan berencana dilunasi dengan meminjam di Bank Syariah bagaimana hukumnya? Terima kasih
Redaksi salamdakwah.com
10 months ago

 

 


وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته


Pada sistem pinjaman dari bank konvensional biasanya berlaku sistem interest atau bunga, di mana peminjam harus mengembalikan kepada bank sejumlah uang yang melebihi nominal hutang dia dan ini adalah jelas-jelas riba.

Tidak ada bedanya antara berhutang dengan sistem ribawi dengan tujuan untuk investasi, pengembangan usaha atau untu tujuan konsumsi, keduanya tidak diperbolehkan, karena tidak ada pemisahan dalam syariat. Jadi perkataan sebagian orang tentang pemisahan ini tidaklah tepat. Dalam salah satu riwayat disebutkan:


عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَتَيْتُ المَدِينَةَ فَلَقِيتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سَلاَمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، فَقَالَ: «أَلاَ تَجِيءُ فَأُطْعِمَكَ سَوِيقًا وَتَمْرًا، وَتَدْخُلَ فِي بَيْتٍ»، ثُمَّ قَالَ: «إِنَّكَ بِأَرْضٍ الرِّبَا بِهَا فَاشٍ، إِذَا كَانَ لَكَ عَلَى رَجُلٍ حَقٌّ، فَأَهْدَى إِلَيْكَ حِمْلَ تِبْنٍ، أَوْ حِمْلَ شَعِيرٍ، أَوْ حِمْلَ قَتٍّ، فَلاَ تَأْخُذْهُ فَإِنَّهُ رِبًا.


Dari Sa'id bin Abu Burdah dari bapaknya; "Aku mengunjungi Madinah lalu bertemu dengan 'Abdullah bin Salam radliallahu 'anhu. Dia berkata; "Tidakkah sebaiknya kamu berkunjung ke rumahku, Nanti kusuguhi makanan terbuat dari tepung dan kurma dan kamu masuk ke dalam rumah. Kemudian dia berkata lagi; "Sesungguhnya engkau berada pada suatu negeri yang riba tersebar pada (negeri) tersebut. Apabila engkau memiliki hak (piutang) terhadap seseorang, kemudian orang itu menghadiahkan sepikul jerami, sepikul gandum, atau sepikul makanan ternak kepadamu, janganlah engkau ambil karena itu adalah riba " Atsar ini dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari no.3814

Dari sini bisa diketahui bahwa penambahan sesuatu dari penghutang (karena hutang yang ia tanggung) adalah termasuk riba, dan Riba diharamkan tanpa pemisahan dalam faktor pendorong, antara investasi atau konsumsi. Allah ta'ala berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 275:


وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا


Dan Allah ta'ala menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba

Dengan demikian, berhutang kepada perorangan atau lembaga dengan sistem ribawi tidaklah diperkenankan dalam syariat Islam. Alhamdulillah pada tahun-tahun ini mulai bermunculan lembaga keuangan yang berusaha menjadikan aturan Islam sebagai dasar operasional mereka (meski jumlahnya baru bisa dihitung dengan jari) sehingga lembaga-lembaga ini bisa menjadi alternatif bagi orang yang biasa bermuamalah dengan bank yang bermuamalah dengan riba secara terang-terangan atau tersembunyi dibalik akad-akad yang kelihatannya sesuai syariat, padahal hakikatnya tidaklah demikian.

Terkait pengalihan hutang dari bank konvensional ke bank syariah kami tidak bisa menilai mengingat penanya belum menjelaskan secara rinci bagaimana bentuk akad nya dengan bank syariah yang dimaksud.

Semoga Allah ta'ala memperbaiki keadaan kaum muslimin dan membuka jalan bagi mereka dalam menerapkan ekonomi syariah secara khusus dan menerapkan aturan Allah ta'ala dalam semua lini kehidupan secara umum.


وبالله التوفيق

© 2022 - Www.SalamDakwah.Com