SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Ahli Waris Yang Tidak Punya Keperdulian Terhadap Keluarga Mayit Apakah Dapat Warisan


Akhwat (Bekasi)
3 months ago on Keluarga

Saya 4 bersaudara perempuan semua dan sudah dewasa semua, ayah saya sulung yg menghidupi adik2nya dr kuliah nikah sampai anak2 mrk kyliah dan menikah juga. Sepeninggal ayah saya, om2 kami ber dalil krn kita perempuan semua, mrk menuntut jatah waris. Namun faktanya sebagai wali mrk tak peduli dengan segala kesulitan yg kita anak anak hadapi untuk hutang2 ayah dan semua kesulitan yg harus dihadapi. Mrk tak peduli dan abai sama sekali, hanya fokus pada jatah warisnya. Apakah sikap abai mrk dapat membatalkan hak waris mrk atau mengurangi jumlah hak waris mrk? Begitu juga dengan ibu saya yg wanita pekerja punya bbrp aset hasil uang sendiri. Saudara2 kandung ibu saya menuntut jatah waris mrk, padahal om tante sisi ibu pun tak peduli sama sekali dengan keadaan kami. Menghubungi kami cuma kalau mau minta tolong ada maunya. Apakah mrk yg abai pada peran wali nya dapat batal atau berkurang hak waris nya? Jazakallah khair untuk jawaban lengkap nya ustad
Redaksi salamdakwah.com
3 months ago

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

 

Sebab-sebab seseorang mendapatkan harta warisan ada tiga hal: karena hubungan kekerabatan, pernikahan dan perwalian (pembebasan dari perbudakan). Yang menghalangi untuk mendapatkan warisan juga ada tiga hal: perbudakan, pembunuhan dan perbedaan agama.

 

Perbuatan buruk saudara dari ayah atau ibu penanya tidak bisa merubah status mereka sebagai saudara kedua orang tua penanya. Dari sisi nasab atau kekerabatan mereka masih berhak untuk mendapatkan warisan dari kedua orangtua penanya selama mereka belum murtad dari Islam, mereka tidak membunuh orang tua penanya dan mereka tidak berubah statusnya menjadi hamba sahaya.

Namun bisa jadi saudara-saudara dari ayah atau ibu penanya tidak mendapatkan sedikitpun warisan bila ternyata jumlah hutang yang dimiliki orang tua penanya (yang telah meninggal) melebihi harta warisan yang ditinggalkan mengingat pembagian warisan dilakukan setelah hutang orang yang meninggal dibayar dan setelah wasiatnya dipenuhi. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa pernah ditanya:
Seorang laki-laki mati dan meninggalkan harta yang banyak untuk anak-anaknya, di saat yang sama ia berkewajiban membayar hutang terhadap orang lain. Diharapkan dari Anda sekalian untuk membawakan ayat Qur'an atau hadits yang menunjukkan bahwa ahli waris berhak membagi harta itu kemudian membayar hutang si mayit.

Mereka menjawab:
Apabila orang yang meninggal itu telah berhutang maka wajib membayar hutangnya terlebih dahulu kemudian melaksanakan wasiatnya yang sesuai syariat bila ia berwasiat sebelumnya, kemudian membagi harta peninggalannya kepada ahli waris, ini berdasarkan firman Allah ta'ala (di surat an-Nisa'11):


يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلادِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأنْثَيَيْنِ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ وَلأبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلأمِّهِ الثُّلُثُ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلأمِّهِ السُّدُسُ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ... (١١)


11. Allah mensyari'atkan bagi kalian tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anak kalian. Yaitu : bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.

Dan firman Allah ta'ala


وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَى بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ (١٢)


12. dan bagi kalian (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isteri kalian, jika mereka tidak mempunyai anak. jika isteri-isteri kalian itu mempunyai anak, Maka kalain mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. Para isteri memperoleh seperempat harta yang kalian tinggalkan jika kalian tidak mempunyai anak. jika kalian mempunyai anak, Maka Para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kalian tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kalian buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutang kalian. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris). (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari'at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.
Wa billahi at-Taufiq. Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa alihi wa sahbihi wa sallam. Al-Lajnah ad-Daimah 16/420 pertanyaan pertama dari fatwa no.9096

Dalam ilmu waris, saudara ayah, saudara ibu atau gabungan dari saudara-saudari (ayah atau ibu) statusnya adalah ashabah, dan ashabah seperti mereka mendapatkan sisa setelah ahli waris yang ditentukan angka warisnya (ashabul furudh) mengambil hak waris masing-masing. Oleh karena itu bisa jadi mereka dapat warisan yang paling besar nilainya dibandingkan ahli waris lainnya,  bisa jadi mereka dapat warisan yang paling sedikit dari ahli waris lainnya, bisa jadi mereka tidak dapat warisan sama sekali bila memang ashabul furudh "menghabiskan warisan" setelah mereka diberi warisan sesuai dengan angka yang ditentukan oleh syariat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah (751 H) menerangkan dalam kitab I'lam al-Muwaqqi'in   

 

 “العَصَبة تارة تحوز المال (كلّه)، وتارة تحوز أكثره، وتارة تحوز أقلّه، وتارة تخيب” 

 

Ashabah kadang menguasai seluruh harta warisan, kadang menguasai bagian terbesar harta warisan, kadang menguasai bagian terkecil harta warisan dan kadang merugi (tidak dapat apa-apa).

 

Wallahu ta'ala a'lam

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com