SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

silaturahim ke keluarga yang masih melakukan kemungkaran


Ikhwan (Kubu Raya, Kalimantan Barat)
4 months ago on Keluarga

Assalamu'alaykum warahmatullah wabarakaatuh saya ingin bertanya bagaimana menyikapi kejadian seperti ini, seorang ingin pulang kampung ingin menyambung silaturahmi dengan nenek, kakek, bibi-bibi serta pamannya, namun seingat dia ini keluarganya masih awam(mungkin) masih banyak bibinya yang tidak menutup aurat, mungkin tidak shalat dll 1. bagaimana menyikapinya apakah dia boleh pulang kampung, jika demikian? 2. apakah boleh mengikari mereka dengan ketidak benaran yang mereka lakukan didalam hati sembari mendoakan mereka ?
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Silahkan mendownload file pdf berisi arahan singkat syaikh Ibnu Baz terkait berdakwah kepada orang tua dan kerabat di link ini. Apabila memang tetap tidak mau berubah maka penanya bisa mempraktekkan arahan Dr. Fadhl Ilahi berikut ini (terjemahannya):

Sebagian orang salah dalam memahami tata cara silaturrahim dengan para ahli maksiat. Mereka mengira bahwa bersilaturrahim dengan mereka berarti juga mencintai dan menyayangi mereka, bersama-sama duduk dalam satu maje-lis dengan mereka, makan bersama-sama mereka serta bersikap lembut dengan mereka. Ini adalah tidak benar.

Semua memaklumi bahwa  Islam  tidak  melarang  berbuat baik kepada kerabat dekat yang suka berbuat maksiat, bahkan hingga kepada orang-orang kafir. Allah berfirman:

"Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan ber-laku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi-mu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai  orang-orang yang  berlaku adil." (Al-Mumtahanah: 8).

Demikian pula sebagaimana disebutkan dalam hadits Asma' binti Abu Bakar radhiyallahu anhu yang menanyakan Rasullah untuk bersilaturrahmi kepada ibunya yang musyrik. Dalam hadits ini diantaranya disebutkan:

"Aku bertanya, 'Sesungguhnya ibuku datang dan ia sangat berharap, apakah aku harus menyambung (silaturrahim) dengan ibuku?' Beliau menjawab, 'Ya, sambunglah (silaturrahim) dengan ibumu'."

Tetapi, itu bukan berarti harus saling mencintai dan menyayangi, duduk-duduk satu majelis dengan mereka. Bersa- ma-sama makan dengan mereka serta bersikap lembut dengan orang-orang kafir dan ahli maksiat tersebut. Allah ta'ala berfirman:

"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang ber-iman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-sudara atau pun keluarga me-reka." (Al-Mujadilah: 22).

Makna ayat yang mulia ini –sebagaimana disebutkan oleh Imam Ar-Razi– adalah bahwasanya tidak akan bertemu antara iman dengan kecintaan kepada musuh-musuh Allah. Karena jika seseorang mencintai orang lain maka tidak mungkin ia akan mencintai musuh orang tersebut.

Dan berdasarkan ayat ini, Imam Malik menyatakan bolehnya memusuhi kelompok Qadariyah dan tidak duduk satu majelis dengan mereka.

Imam Al-Qurthubi mengomentari dasar hukum Imam Malik: "Saya berkata,'Termasuk  dalam  makna  kelompok Qadariyah adalah semua orang yang zhalim dan yang suka memusuhi'."

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat yang mulia tersebut berkata: "Artinya, mereka tidak saling mencintai dengan orang yang suka menentang (Allah dan Rasul-Nya), bahkan meskipun mereka termasuk kerabat dekat."

Sebaliknya, silaturrahim  dengan  mereka  adalah  dalam upaya untuk menghalangi mereka agar tidak mendekat kepada Neraka dan menjauhi dari  Surga.  Tetapi,  bila  kondisi mengisyaratkan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut  ada-lah  dengan  cara memutuskan  hubungan dengan mereka, maka pemutusan hubungan  tersebut  – dalam kondisi demikian– dapat dikategorikan sebagai silaturrahim.

Dalam hal ini, Imam Ibnu Abu Jamrah berkata: "Jika mereka itu orang-orang kafir atau suka berbuat dosa maka memutuskan hubungan dengan mereka karena  Allah adalah (bentuk) silaturrahim dengan mereka. Tapi dengansyarat telah ada usaha untuk menasehati dan memberitahu mereka, dan mereka masih terus membandel. Kemudian, hal itu (pemutusan silaturrahim) dilakukan karena mereka tidak mau menerima kebenaran. Meskipun demikian, mereka masih tetap berkewajiban mendo'akan mereka tanpa sepengetahuan mereka agar mereka kembali ke jalan yang lurus. Mafaatiihur Rizqi fi Dhau'il Kitab was Sunnah

Wallahu ta'ala a'lam

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com