SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Orang Yang Melakukan Pembatal Shalat Dalam Keadaan Tidak Tahu Hukum


Ikhwan (Jakarta)
10 months ago on Fiqih

Assalaamu’alaikum saya ingin bertanya saya pernah mendengar kalau mandi wajib tidak perlu lagi berwudhu untuk sholat kecuali melakukan penyebab batal wudhu.lalu berselang ebebrapa minggu saya mendenar lagi sepert tidak melakukan pembatal wudhu ketika mandi wajib bukan setelah mandi wajib ,kemudian saya sholat.pertanyaannya apakah saya wajib mengulang sholat tersebut karena tidak tahu atau ada pendapat yang tidak perlu mengulang sholat karena tidak tahu
Redaksi salamdakwah.com
10 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Kami sarankan kedepannya kepada penanya supaya penanya bertanya kepada Ulama' atau guru yang terpercaya ilmu dan agamanya tentang suatu masalah sehingga pengetahuan penanya utuh.

Terkait masalah apakah orang yang melakukan pembatal shalat dalam keadaan tidak tahu hukumnya wajib mengulang shalat, ada perbedaan pendapat di kalangan Ulama' tentang orang yang melakukan pembatal shalat dalam keadaan tidak tahu hukumnya, ada yang berpandangan bahwa wajib mengulang shalatnya dan ada yang tidak wajib mengulang shalatnya. 

Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, “

 

أما كونها تقضي ما مضى من صلاتها فهذا من باب أنها أخلَّت بالشرط، فإذا كانت صلت صلوات ليست ساترة لقدميها فيها فإن الواجب قضاؤها، لكن إذا كانت جاهلة بالحكم الشرعي فلعلَّ الله -جل وعلا- يعفو عنها فيما مضى، ولا يكون عليها قضاء، وقد صح عنه عليه الصلاة والسلام أنه لما رأى رجلاً يصلي وينقر صلاته دعاه، وقال له، بل جاءه وسلم عليه وقال له: (ارجع فصلِّ فإنك لم تصلِّ) ...متفق على صحته، فأمره النبي صلى الله عليه وسلم أن يعيد هذه الصلاة الحاضرة، ولم يأمره أن يعيد الصلوات الماضية للجهل، فإن ظاهر حاله أنه يصلي هذه الصلاة فيما مضى، ولكن لما كان جاهلاً عذره صلى الله عليه وسلم في الأوقات الماضية وأمره أن يعيد الحاضر، فدل ذلك على أن من جهل شيئاً من فرائض الصلاة ثم نبه في الوقت الحاضر فإنه يعيد الحاضر، أما التي مضت فتجزئه من أجل الجهل، هذا هو مقتضى هذا الحديث، لأن الرسول صلى الله عليه وسلم لم يأمر هذا المسيء في صلاته أن يعيد صلواته الماضية، بسبب الجهل وما في ذلك من المشقة، فهكذا التي صلت صلوات كثيرة قبل أن تعلم وجوب ستر القدمين فإنها لا إعادة عليها إن شاء الله على الصحيح؛ لأنها معذورة بالجهل، وإنما تلتزم في  فإنهما ليسا عورة في الصلاة، عند أهل العلم، ولكن إذا سترت الكفين خروجاً من خلاف بعض أهل العلم، فهذا حسنالمستقبل وتستقيم في المستقبل على ستر قدميها وبقية بدنها، ما عدا الوجه والكفين، كما تقدم

فإنهما ليسا عورة في الصلاة، عند أهل العلم، ولكن إذا سترت الكفين خروجاً من خلاف بعض أهل العلم، فهذا حسن

Terkait dia perlu mengqadha' shalatnya, maka ini disebabkan ia tidak memenuhi syarat shalat. Kalau telah menunaikan shalat tanpa menutup kedua telapak kakinya, maka dia harus mengqodonya. Akan tetapi kalau tidak tahu tentang hukum agama, semoga Allah Jalla wa’ala memaafkan yang lalu. Dan tidak perlu mengqadha. Terdapat (hadits) dari beliau alaihis salam ketika melihat seseorang shalat dan cepat dalam melaksanakan shalatnya, maka beliau bersabda kepadanya, “Kembali dan shalatlah (lagi) karena anda belum (sah) shalatnya.” (Muttafaq alaih). Maka Nabi sallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengulangi shalat yang ada sekarang, dan tidak memerintahkan shalat-shalat yang lalu karena ketidaktahuannya. Karena yang nampak adalah bahwa dia shalat seperti ini pada waktu lalu. Akan tetapi ketika tidak tahu, maka beliau memberi uzur pada waktu yang lalu dan hanya memerintahkan untuk mengulangi yang sekarang.

Hal itu menunjukkan bahwa siapa yang tidak tahu akan suatu dari kewajiban shalat, kemudian diingatkan di waktu sekarang, maka dia mengulangi yang sekarang. Sementara yang lalu, diterima karena ketidaktahuannya. Ini kandungan hadits tersebut. Karena Rasulullah sallallahu alaihiwa sallam tidak menyuruh orang yang shalatnya tidak benar untuk mengulangi shalat-shalat yang lalu disebabkan ketidaktahuan, karena hal itu juga memberatkan. Begitu juga orang yang telah menunaikan banyak shalat sebelum mengetahui kewajiban menutup kedua telapak kaki. Maka insyaallah tidak mengulangi menurut pendapat yang kuat, karena ada uzur ketidaktahuan. Akan tetapi hendaknya berusaha komitmen ke depan dengan menutup kedua telapak kaki dan tubuh lainnya, kecuali wajah dan kedua telapak tangan (sebagaimana telah berlalu penjelasannya)  Karena keduanya bukan aurat dalam shalat menurut para ulama. Akan tetapi kalau dia menutup kedua telapak tangan, hal itu keluar dari perbedaan sebagian ahli ilmu, maka hal itu bagus.” (Fatawa Nurun Alad Darbi. Ibnu Baz)

http://www.binbaz.org.sa/mat/14792

Wallahu ta'ala a'lam

© 2022 - Www.SalamDakwah.Com