SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

masalah penamaan BIN/BINTI


Ikhwan (Jakarta)
4 months ago on Keluarga

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh pak Ustad saya mau tanya, saya punya ayah yang sudah Almarhum dan kakak yang sudah Almarhumah, ayah saya bernama SAIDI dikarenakan saat masa hidupnya BEliau bekerja dan ada nama yang sama dengan beliau, akhirnya teman2 beliau menambahkan nama belakang dari aayah saya awalnya SAIDI (pemberian orangtuanya) menjadi SAIDI Rasyid (Rasyid ini pemberian nama teman2nya) yang mau jadi pertanyaan saya. 1. Untuk ALmarhumah kaka saya apakah harus memakai Binti Saidi tau Saidi Rasyid. 2. Bagaimana hukumnya jika saat mengirimkan AlFatihah menggunakan Binti Saidi Rasyid demikian pertanyaan saya, sebelum dan sesudah nya saya ucapkan banyak terima kasih. Semoga Allah membalas amal baik Pak Ustad dengan berlipat2 ganda...Amin Ya Rabbal Alamin
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Jawaban pertama

Binti Saidi

 

Jawaban kedua


Berikut ini beberapa fatwa terkait pertanyaan yang dilontarkan:

Pertama:
Syaikh Utsaimin rahimahullah memerangkan: Sebagian orang telah membuat perkara baru dalam agama terkait Surat alfatihah tersebut, mereka menutup do'a dengan al-Fatihah, mereka memulai khutbah dengan al-Fatihah juga, mereka membaca al-Fatihah juga di beberapa moment-moment tertentu. Ini adalah suatu kesalahan.

Misalnya anda dapati dia bila berdo'a kemudian berdo'a dia berkata kepada orang sekitarnya: al-Fatihah . Yakni bacalah al-Fatihah. Sebagian orang memulai khutbah-khutbah mereka dengan al-Fatihah. Atau di keadaan-keadaan mereka yang lain. Dan ini juga salah sebab ibadah dasarnya adalah at-Tauqif (tidak dilaksanakan kecuali ada dalilnya) dan mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Tafsir al-Utsaimin: al-Fatihah dan al-Baqarah 1/4

Kedua:
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa pernah ditanya:
Apakah pahala bacaan Alquran dan ibadah lainnya sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia, baik dari anak-anaknya maupun orang lain?

Mereka menjawab:
Sepengetahuan kami tidak ada riwayat dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang menerangkan bahwa beliau membaca Alquran lalu menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang sudah meninggal dunia, baik untuk kerabat beliau maupun orang lain. Andaikata pahalanya memang sampai kepada mereka, tentu beliau bersemangat melakukannya. Beliau juga akan menjelaskannya kepada umat, supaya mereka dapat memberikan manfaat kepada orang yang sudah meninggal dunia. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam amat belas kasihan dan penyayang terhadap orang-orang mukmin. Khulafaurrasyidin dan seluruh sahabat radhiyallahu 'anhum mengikuti beliau dalam hal ini. Kami tidak menemukan keterangan bahwa salah seorang dari mereka menghadiahkan pahala Alquran kepada orang lain. Sesungguhnya, semua kebaikan diperoleh dengan mengikuti ajaran beliau Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, serta petunjuk para khalifah dan seluruh sahabat radhiyallahu 'anhum. Sementara itu, segala keburukan diperoleh dari mengikuti bidah dan perkara-perkara yang diada-adakan. Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah memperingatkan hal ini dengan sabdanya,


«ٌإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة


"Jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan (di dalam agama), karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bidah dan setiap bidah itu sesat."

Beliau juga bersabda,


ٌّمَنْ أَحْدَثَ فيِ أَمْرِنَا هَذاَ مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَد


"Siapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya, maka perkara itu tertolak." Oleh karena itu, tidak diperbolehkan membaca Alquran diniatkan untuk orang yang meninggal dunia, dan pahala bacaannya tidak akan sampai kepada mereka. Bahkan, itu adalah perbuatan bidah.

Adapun ibadah-ibadah lain, selama ada dalil sahih yang menunjukkan bahwa pahalanya akan sampai kepada orang yang meninggal dunia, maka kita wajib menerimanya, seperti sedekah, doa, dan haji. Akan tetapi, amal yang tidak ada dalilnya tidak boleh diamalkan kecuali jika ada dalil yang menganjurkannya. Oleh karena itu, tidak boleh membaca Alquran untuk orang yang meninggal dunia karena pahalanya tidak akan sampai. Bahkan, itu merupakan perbuatan bidah. Demikian menurut pendapat yang terkuat dari dua pandangan ulama. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 9/42-43 Pertanyaan ketiga dari fatwa no.2232

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com