SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bagaimana Sikap Saya Sebagai Seorang Istri


Akhwat (Surakarta)
3 months ago on Keluarga

Assalamualaikum ustadz,saya mau cerita dan meminta solusi, saya adalah seorang ibu tangga sudah menikah selama 5 tahun dan memiliki 1orang anak menurut orang orang rumah tangga saya baik baik saja tetapi sejak awal menikah ternyata saya memiliki suami yang selalu berbuat kasar sama saya jika sedang marah dia selalu memukuli saya, dia sering menggoda wanita, lambat laun dia mulai berubah sedikit demi sedikit tapi malah beberapa bulan terakhir ini dia selingkuh dengan wanita yang satu pekerjaan dengan dia dia mulai sering memukuli saya lagi mudah marah dan anaknya pun kadang jadi sasaran . Menurut ustadz apakah rumah tangga seperti ini harus di pertahankan ? . Terimakasih
Redaksi salamdakwah.com
3 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Hukum asalnya seorang suami boleh memukul istrinya bila istri memang melakukan kesalahan dan tidak bisa sadar dengan tahapan perbaikan sebelumnya. Allah ta'ala telah berfirman:


وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا


Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar. An-Nisa':34 

Nusyuz di sini maknanya: Istri yang tidak melaksankan apa yang menjadi kewajibannya terhadap suaminya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


وَلَكُمْ عَلَيْهِنَّ أَنْ لَا يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ أَحَدًا تَكْرَهُونَهُ، فَإِنْ فَعَلْنَ ذَلِكَ فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ، وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ،


Kalian memiliki hak atas mereka (para istri), yaitu supaya mereka tidak membolehkan seorang pun yang tidak kalian sukai menduduki kasur kalian. Jika mereka melanggar, pukullah mereka dengan cara yang tidak membahayakan. Sebaliknya mereka punya hak atasmu. Yaitu nafkah dan pakaian yang pantas. HR. Muslim no. 1218 

Dalam hadits di atas disebutkan batasan pukulan yang dilakukan seorang suami terhadap istrinya


ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ


Syaikh Utsaimin memaknai: Pukulan yang tidak keras dan tidak melukai badannya, itu adalah pukulan ringan yang dengannya pendidikan terhadap istri terlaksana dan nampak kepemimpinan suaminya. Majmu' Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 24/483

Syaikh Ibnu Baz menerangkan: Suami boleh memukul istrinya dengan pukalan yang tidak membahayakan (pukulan ringan yang tidak mematahkan tulang dan tidak melukai badannya) ini bila hajr (boikot) dan nasehat tidak bermanfaat (untuk meluruskan perilaku istri.pent). Majmu' Fatawa Ibnu Baz 21/254 

Batasan pukulan ini perlu diperhatikan sebagaimana yang disebutkan sebelumnya. 

Apabila diasumsikan suami sering memukul istrinya  (didasari alasan  dan yang tidak syar'i serta cara memukul nya juga melewati batas) dan itu membuat mudhorot untuk istrinya, serta tujuan sakinah mawadah dan rohmah tidak tercapai maka seorang istri harus berdoa kepada Allah ta'ala dan memberikan nasehat kepada suaminya baik itu secara langsung atau melalui orang yang disegani suami supaya dia rujuk dari kesalahan-kesalahannya  dan dia bisa  memperbaiki diri. Bila suami tidak berubah setelah diberi masukan masukan maka boleh bagi istri untuk meminta cerai.

Muhammad bin Ibrohim at-Tuwaijiri menerangkan diantara sebab yang dengannya seorang wanita boleh meminta talak dari suaminya:

1. Apabila suami lalai dalam memberi nafkah

2. Jika suami menimbulkan mudhorot untuk istri yang karenanya menjadikan hubungan suami istri tidak bisa berlangsung seperti selalu mencelanya, memukulnya, menyakitinya dan istri tidak mampu menahannya atau memaksanya berbuat mungkar atau semacamnya.

3. Bila istri terkena mudharat karena tidak hadirnya suami dan ia pun khawatir terkena fitnah karena itu.

4. Jika suaminya ditahan untuk waktu yang lama dan istri merasa terkena mudharat karena terpisah dengannya

5. Bila wanita mendapati ada aib yang berat seperti mandul, tidak mampu untuk melakukan penetrasi, berbau tidak sedap atau sakit dalam jangka waktu lama yang menyebabkan dia tidak mampu melakukan hubungan suami istri dan bersenang-senang dengan pasangan, atau suaminya memiliki penyakit berbahaya dan menular atau sejenisnya.

6. Apabila suaminya tidak melaksanakan apa yang Allah wajibkan,  atau dia biasa saja  ketika melakukan dosa besar  dan hal yang haram seperti laki-laki yang kadang-kadang tidak melaksanakan shalat, atau dia meminum khamr, atau dia berzina, atau memakai narkoba dan yang semacamnya. Maushu'ah al-Fiqhi al-Islami 4/191

Syaikh Abdul karim bin bin abdullah al-Hudhair pernah ditanya:
Apa hukum syariat menurut Anda  terkait seorang wanita yang berumur 65 tahun. Dia menikah dengan suaminya yang sekarang sejak usianya  14 tahun, sejak itu dia menderita dikarenakan muamalah suaminya yang buruk terhadap nya, pukulan kepadanya  dan penghinaan yang ia terima di depan anaknya dan di depan orang lain serta sikap suaminya yang selalu mengusirnya. Meski demikian wanita itu terus bersabar,  berharap pahala dari Allah, berusaha memenuhi keinginan suaminya yang tidak pernah habis, padahal ia menderita penyakit di jantung dan darah. Dokter pun sudah menasehatinya supaya dia istirahat total dan tidak membiarkan dirinya kepayahan. Akhir-Akhir ini penyiksaan suaminya bertambah, dia merendahkannya di depan para tamu, memukul dan mengusirnya dari rumah, akhirnya dia pergi dan Tinggal di rumah anaknya. Perlu diketahui bahwa selama ini suami tersebut tidak memberinya nafkah yang cukup. Bagaimana pendapat Anda dalam  masalah ini?Wanita ini sekarang tidak ingin lagi kembali ke suaminya dan si suami pun tidak menginginkannya lagi. Dia tidak mau mengakui kesalahan nya terhadap istrinya...Apakah dia salah/berdosa bila dia tidak kembali saat suaminya memintanya kembali. Apa nasehat Anda untuk mereka berdua?

Beliau menjawab:
Alhamdulillah. Seorang istri haram untuk meminta talaq dari suaminya bila tidak ada sebabnya. Haram juga baginya untuk keluar dari rumah tanpa alasan dan tanpa izin dari suaminya. Namun bila ia tertimpa mudharat saat Tinggal di rumah suaminya atau di bawah perlindungannya maka ia boleh meminta talaq. Ia juga boleh keluar rumah menuju keluarganya demi berlepas diri dari siksaan suaminya dan pukulan dia terhadapnya.

Suaminya harus bertakwa kepada Allah terkait apa yang Allah amanah kan  kepadanya.  Nabi juga mewasiatkan  untuk berbuat baik kepada para wanita. Allah ta'ala dan Rasul-Nya memerintahkan muamalah yang baik. 

Apapun itu. Apabila siksaan suami terus berlangsung  maka istri boleh meminta pembataan  pernikahan. Kala itu suami wajib mengabulkan permintaan itu atau ia melakukan taubat dan menghentikan siksaannya terhadap istrinya. http://ar.islamway.net/fatwa/8081/%D8%AE%D8%B1%D8%AC%D8%AA-%D9%85%D9%86-%D8%A7%D9%84%D8%A8%D9%8A%D8%AA-%D9%87%D8%B1%D8%A8%D8%A7-%D9%85%D9%86-%D8%B6%D8%B1%D8%A8-%D8%B2%D9%88%D8%AC%D9%87%D8%A7

Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com