SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Saya Murtad atau Tidak


Akhwat (Garut)
5 months ago on Aqidah

Assalamualaikum Saya mau tanya tentang kemurtadan yang terjadi pada saya , apakah termasuk atau tidak 1. Saya pernah menghina Allah , saya tau dosa namun tidak tau bahwa itu membuat saya mirtad ,sehingga setiap menghina saya bersyahadat namun tanpa artinya dan kembali seperti biasa, apakah saya ttp islam disitu? 2. Lalu skrng saya merasa bahwa hati saya selalu menghina Allah dan Nabi, sehingga saya selalu bersyahadat,namun stlh bersyahadat saya selalu merasa apakah sy sudah ilas, apakah saya murtad ,saya bingung ,apakah saya masih ttp muslim atau keluar dr islam 3. Apakah saya perlu mandi wajib jika dikatakan murtad,lalu mandi wajib jenis apakah yang harus sya lakukan ,apakah hanya mandi wajib menghilangkan hadas besar atau yang lainnya? Mohon dijawab ini sangat penting bagi saya Wassalamu'alaikum
Redaksi salamdakwah.com
5 months ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Menghina Allah ta'ala merupakan perbuatan yang bertentangan dengan keyakinan kita sebagai seorang muslim bahwa Allah ta'ala adalah tuhan. Orang yang berakal tidaklah logis bila menyembah Allah ta'ala selaku tuhannya dan mengagungkan Allah ta'ala selaku tuhannya kemudian dia menghinanya. Jadi seorang mukmin yang menghina Allah adalah perbuatan yang sangat-sangat buruk dan jahat serta tidak logis, baik saat dia menghina Allah itu dia tahu hukum syar'i dari perbuatan itu atau tidak tahu.

 

Hukum asalnya perbuatan menghina Allah ta'ala adalah perbuatan yang bisa mengantarkan pelakunya kepada kekafiran. Jangankan menghina Allah ta'ala, menghina syariat Islam saja bisa mengantarkan orang kepada kekafiran bila terpenuhi syaratnya.

Syeikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah- pernah ditanya:

“Apakah orang yang mengolok-olok jenggot atau karena memendekkan kain/celananya, itu termasuk mengolok-olok agama dimana pelakunya termasuk kafir ?”

Beliau menjawab:

“Hal ini perlu dibedakan, jika ia bertujuan untuk menghina agama, maka termasuk murtad, sebagaimana firman Allah:

( قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ . لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ(

“Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". (QS. At Taubah: 65)

Adapun jika dia menghina personal dengan beberapa sebab lain, seperti; karena jenggotnya atau karena dia memendekkan kain/celananya; karena dia berlebihan atau menghina karena hal lain yang berlebihan atau karena meremehkan urusan tertentu yang menjadi bagian dari agama, dan tujuannya tidak ingin menghina agama, hanya untuk menghina personal/pelakunya, maka tidak sampai murtad.

Namun jika dia tujuannya untuk menghina agama atau menganggap ketidaksempurnaan agama, maka dia tergolong murtad, semoga Allah menjaga kita semuanya.

Kemudian beliau ditanya lagi setelahnya:

“Jika dia mengatakan: “Saya mengatakan hal itu kepada banyak orang hanya untuk bercanda dan mengundang tawa saja”.

Maka beliau menjawab:

“Hal ini tidak boleh dilakukan, karena termasuk kemungkaran dan pelakunya dalam bahaya, jika dia sampai tergolong pada menghina agama, maka dia kafir”.

(Fatawa Syeikh Bin Baaz: 28/365-366)

Semoga saja apa yang disampaikan oleh penanya (bahwa dia tidak tahu bila itu membuat murtad) merupakan fakta. Apabila itu fakta maka itu mungkin akan meringankan hukum bagi penanya.

Syekh Abdurrahkan Sa’di rahimahullah mengatakan, “Setiap orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Membenarkan keduanya, komitmen dengan ketaatan. Mengingkari sebagian apa yang datang dari Rasul karena ketidak tahuan atau tidak tahu bahwa Rasul telah membawakannya. Meskipun hal itu merupakan suatu kekufuran dan orang yang melakukan bisa menjadi kafir, Cuma ketidak tahuan dengan apa yang dibawa oleh Rasul menghalangi untuk disematkan kafir kepada orang tertentu. Tanpa dipisahkan antara permasalah pokok atau cabang. Karena kekufuran itu mengingkari dengan apa yang dibawa oleh Rasul atau mengingkari sebagiannya disertai dengan ilmu akan hal itu.

Dari sini anda telah mengetahui perbedaan antara orang taklid dari kalangan orang kafir terhadap Rasul dan antara orang mukmin yang mengingkari sebagian apa yang datang darinya karena ketidak tahuan dan kesesatan. Bukan didasari dengan keilmuan dan pembangkangan.” Selesai dari ‘Fatawa Sa’diyah, hal. 443-447.

Syekh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Orang yang tidak tahu –tanpa diragukan- termasuk kesalahan. Dari sini kita bisa mengatakan, “Kalau seseorang melakukan apa yang mengharuskan ke arah kekufuran baik ucapan atau perbuatan karena ketidak tahuan bahwa hal itu suatu kekufuran. Maksudnya jahil terkait dengan dalil syar’I maka dia tidak dihukumi kufur.” Selesai Sayrkh Mumti’, (14//449).

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Firman Allah dalam Al-Qur’an

( رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا)

“(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” QS Al-Baqarah: 286.

Allah berfirman, “Sungguh Saya telah melakukan.“ tanpa membedakan antara kesalahan qot’I dalam masalah qotiyyah (paten) atau dzonniyah (persangkaan). Siapa yang mengatakan bahwa orang tersalah dalam masalah qotiyyah (pasti) atau dzonniyah (tidak pasti) itu berdosa, maka dia telah menyalahi Kitab, Sunah dan Ijma’ lama.” Selesai dari ‘Majmu Fatawa, (19/210).

Beliau juga mengatakan,” Orang yang duduk bersamaku sudah memahammi tentang diriku. Bahwa saya termasuk orang yang paling keras dalam melarang untuk menyandarkan kepada orang tertentu pengkafiran dan penfasikan dan maksiat. Kecuali kalau telah ada kepadanya hujjah risalah dimana orang yang menyalahinya itu termasuk kadang kafir, kadang fasik atau terkadang bermaksiat. Saya telah menetapkan bahwa Allah telah mengampuni umat ini kesalahannya. Hal itu mencakup kesalahan dalam permasalahan khobar (informasi dari nash) baik perkataan dan masalah amaliyah.” Selesai dari Majmu Fatawa, (3/229).

Ibnul Arobi rahimahullah mengatakan, “Orang jahil (tidak tahu) dan orang tersalah di umat ini, meskipun melakukan kekufuran dan kesyirikan dimana pelakunya bisa musyrik atau kafir. Maka dia ada uzur karena ketidak tahuan dan kesalahan. Sampai jelas baginya hujjah (dalil). Dimana sampai dihukumi kafir orang yang meninggalkannya. Dengan penjelasan yang terang tidak ada kerancuan lagi semisalnya.” Selesai. Qosimi telah menukilnya di ‘Mahasin Ta’wil, (3/161).islamqa.info

 

Meski demikian penanya harus dan wajib untuk menjaga lisannya dari perbuatan mencela Allah ta'ala, Rasul dan agama Islam secara umum. Penanya juga perlu melawan bisikan dalam hatinya yang berisi celaan kepada Allah ta'ala. Ini tidak bisa dilakukan secara maksimal kecuali bila penanya semangat dalam menuntut ilmu agama sehingga dia bisa mengetahui keagungan Allah ta'ala dan dia bisa mengetahui apa yang diwajibkan atasnya serta apa yang dilarang oleh agama untuk ia perbuat. 

Sebelum itu jangan sampai penanya lupa untuk berdoa kepada Allah ta'ala supaya Allah memudahkannya untuk meniti jalan yang lurus hingga ajal menjemput.

Apabila penghinaan kepada Allah ta'ala ini berupa bisikan-bisikan dalam hati yang tidak bisa terkontrol maka penanya tidak bertanggungjawab untuk apa yang tidak bisa dikontrol. Dia hanya perlu melawan bisikan itu (didasari ilmu) dan tidak perlu selalu memperdulikannya. Jangan lupa juga untuk banyak membaca al-Qur'an disertai memahami maknanya. Semoga Al-Qur'an bisa menjadi wasilah pembersihan bisikan-bisikan buruk dalam hati penanya. Mengingat Al-Qur'an merupakan petunjuk dan obat bagi orang yang beriman sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an.

 

Wallahu ta'ala a'lam 

  

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com