SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Jahil Waktu Sekolah


Akhwat (Yogyakarta)
5 months ago on Mu'ammalah

Assalamu'alaikum ustadz. Saya baru saja bergabung karena melihat website ini sangat membantu beberapa pertanyaan yang membuat saya ragu dan bingung. Alhamdulillah dapat terjawab. Kali ini saya juga ingin bertanya seputar perbuatan jahil atau usil. Jadi dulu saya waktu masih duduk di bangku SMA, saya mempunyai satu teman yang bisa dibilang dia itu nyebelin ustadz, dia sering ganggu teman saya dengan membully dan berbuat seenaknya. Dia juga sering berbuat jahil ke saya dan teman saya yang lain, pernah ngumpetin tas saya dan teman saya kemudian memberikan pernyataan menjelekan kepada guru saya, tentang saya. Kemudian suatu waktu teman saya ini berinisiatif buat ngerjain balik temen saya, dengan menyembunyikan sepatu milik dia, saya tidak mau tapi akhirnya saya ikut bantu teman saya itu. Akhirnya teman saya yang nyembunyiin sepatunya malah membawa balik sepatu itu dan dipakai kemudian saya juga tahu akan hal itu. Saya merasa bersalah saya ingin berhijrah ustadz. Saya ingin menebus kesalahan saya, kira2 apa yang harus saya lakukan. Kalo untuk minta maaf saya sudah minta maaf tapi tudak saya jelaskan terperinci salah saya apa. Karena saya tidak mau membawa teman saya ke dalam masalah. Apakah kalo saya mengganti sepatu yang dulu itu boleh ustadz, saya kasih kedia sepatu baru? atau ganti dengan sedekah. Terimakasih sebelumnya ustadz, semoga pertanyaan saya dijawab
Redaksi salamdakwah.com
5 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Apabila maksud penanya adalah hingga kini sepatu tersebut belum dikembalikan maka perlu menghubungi temannya yang menyembunyikan sepatu tersebut supaya dia mau mengembalikan sepatu tersebut diiringi permintaan maaf. Apabila sepatu itu telah hilang atau rusak maka teman penanya itu perlu memberi sepatu yang sama atau yang sama nilainya kepada orang yang dikerjai itu. 

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya
Sejak kecil saya melihat ayah saya meletakkan sesuatu yang berupa uang atau sesuatu yang bermanfaat saya suka mengambilnya tanpa sepengetahuan beliau. Setelah saya dewasa saya takut kepada Allah dan saya tinggalkan seluruh perbuatan ini. Sekarang apakah boleh saya memberikan pengakuan di hadapan ayah saya tentang hal itu ataukah tidak ?

Anda wajib mengembalikan apa yang anda curi dari ayah anda yang berupa uang dan yang lainnya kecuali bila apa yang anda curi nilainya kecil digunakan untuk memberi nafkah maka kala itu tidak apa-apa.

Abdullah bin Ghadyan selaku anggota
Abdurazzaq Afifi selaku wakil ketua
Abdul Aziz bin Abdullah bin baz selaku ketua
Fatawa al-lajnah ad-Daimah 12/352-353 fatwa no.13605

Ada pertanyaan lain juga yang ditujukan kepada Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan fatwa Arab Saudi: Saat masih kecil, bertahun-tahun silam, kami dalam kondisi labil, bodoh, dan kelaparan, hingga akhirnya kami mencuri beberapa binatang ternak. Sekarang saya bertobat dan ingin melunasi kewajiban saya kepada orang lain. Saya perlu menanyakan beberapa hal berikut ini:
1. Saya pernah mencuri kapulaga senilai 120 riyal empat puluh tahun yang lalu dan ingin saya bayar sekarang. Apakah pembayarannya disesuaikan dengan harga sekarang, atau harga jual pada waktu itu?
2. Saya pernah mencuri beberapa ekor kambing, dan dari kambing tersebut ada hasil harta lain dan berkembang. Apakah saya cukup membayar beberapa ekor kambing (sesuai jumlah yang dicuri) atau saya harus menyerahkan kambing-kambing itu beserta seluruh hasilnya yang telah berkembang?
3. Apabila saya mencuri bersama rekan lainnya, apakah saya cukup membayar kewajiban saya saja, atau bagaimana?
Semoga Allah menjaga Anda semua.

Mereka menjawab:
Kapulaga yang Anda curi harus dikembalikan kepada pemiliknya dengan nilai yang sama saat Anda curi, jika pemiliknya masih hidup. Atau, dapat Anda berikan kepada ahli warisnya (jika pemiliknya sudah meninggal dunia). Apabila itu semua tidak memungkinkan, maka Anda harus menyedekahkannya kepada kaum fakir dengan niat sedekah atas nama pemilik harta tersebut.
Apabila setelah Anda bersedekah ternyata pemiliknya datang, atau Anda mengetahui tempat tinggal ahli warisnya, maka Anda harus menyerahkannya senilai harta itu. Insya Allah, Anda akan mendapatkan pahala bersedekah. Mengenai kambing yang Anda curi, Anda harus mengembalikannya kepada pemiliknya, beserta seluruh hasil yang telah berkembang, jika pemiliknya masih hidup. Atau boleh kepada ahli warisnya jika mereka ada. Jika mereka tidak ada atau tidak diketahui, maka Anda dapat memperkirakan nilai kambing itu ketika dicuri sekaligus nilai harta yang telah berkembang, kemudian Anda sedekahkan atas nama pemiliknya.

Apabila pemiliknya datang, atau Anda mengetahui keberadaannya atau ahli warisnya di mana pun mereka berada, maka Anda harus menyerahkan kambing tersebut beserta harta yang telah berkembangbiak, atau yang senilai dengan itu, sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Insya Allah, Anda akan mendapatkan pahala bersedekah. Jika Anda melakukan pencurian tersebut bersama rekan, maka Anda dapat membebaskan sejumlah tanggungan Anda dengan mengembalikan apa yang Anda curi kepada pemilik, atau bersedekah sesuai nilai harta curian atas nama pemiliknya (Ini jika Anda tidak menemukan pemilik atau ahli warisnya, sama seperti sebelumnya). Selain itu, Anda harus bertobat dengan sebenar-benarnya dan tidak mengulangi tindakan buruk seperti itu. Anda harus menasihati rekan yang terlibat dalam pencurian supaya mereka membebaskan tanggungan kewajiban mereka atas perbuatan yang mereka lakukan, sambil memperingati mereka akan beratnya siksaan Allah. Mengambil harta orang lain adalah tindakan kezaliman atas mereka. Itu semua tidak dapat gugur kecuali dengan mengembalikan hak-hak mereka, atau hingga pemiliknya mau memaafkan dan merelakan haknya.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Bakr Abu Zaid selaku  Anggota    
Shalih al-Fawzan selaku Anggota    
Abdullah bin Ghadyan  selaku Anggota    
Abdul Aziz Alu asy-Syaikh selaku Wakil Ketua    
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa 11/208-210 Fatwa Nomor:20777

 

Apabila teman penanya yang menyembunyikan sepatu itu tidak mau mengembalikan atau mengganti sepatu tersebut maka penanya perlu mengganti sepatu tersebut dan menyerahkannya (bisa langsung atau tidak langsung)kepada orang yang didholimi itu.

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com