SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Menuntut Dinikahi


Akhwat (Padang)
5 months ago on Keluarga

Assalamualaikum ustad Ustad mau bertanya, apakah salah saya sebagai wanita memohon dan menuntut untuk dinikahi karena saya sudah diambil perawannya oleh seorang laki2, saya memang zina, tapi hanya dengan satu laki2 tersebut dan zina ini dilakukan oleh 2 pihak yaitu laki2 dan perempuan, dan salahkah saya yg menuntut karena saya merasa hanya dia yg bisa menikahi saya karena saya merasa ga ada laki2 lain yg mau, hanya dia yg mau dengan saya di dunia ini, dan hanya dia yg harusnya menikahi saya. Terima kasih
Redaksi salamdakwah.com
5 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Hal pertama  yang seharusnya penanya lakukan bukanlah masalah dinikahi atau tidak namun bertaubat kepada Allah ta'ala karena perbuatan zina bukanlah perbuatan dosa biasa. Zina merupakan salah satu dosa besar yang pelakunya diancam dengan hukuman yang keras di dunia dan adzab yang pedih setelah kematian. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"


خُذُوْا عَنِّي خُذُوْا عَنِّي قَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيْلاً اَلْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ


"Ambillah dariku, ambillah dariku! Allah telah menjadikan bagi mereka jalan keluar. (jika berzina) perejaka dengan gadis (maka hadnya) dicambuk seratus kali dan diasingkan setahun. (Apabila berzina) dua orang yang sudah menikah (maka hadnya) dicambuk seratus kali dan dirajam.” HR. Muslim no.1690

Dalam nash yang lain disebutkan siksaan pezina setelah ia mati,"


"فانطلقنا فأتينا على مثل بناء التنور " - قال عوف: أحسب أنه قال -: " فإذا لغط وأصوات، فاطلعنا فإذا فيه رجال ونساء، وإذا هم يأتيهم اللهب من أسفل منهم، فإذا أتاهم ذلك ضوضووا، قال: قلت: من هؤلاء؟ قال: لي انطلق " - فذكر الحديث ثم قال في التفسير: " أما الرجال والنساء العراة الذين في مثل بناء التنور فإنهم الزناة والزواني


“Kemudian kami berlalu, lalu sampai pada sebuah bangunan seperti tungku pembakaran.” -Auf, perawi hadits- berkata, “Sepertinya beliau juga bersabda, ‘Tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dan teriakan.’” Beliau melanjutkan, “Kemudian aku menengoknya, lalu aku dapati di dalamnya laki-laki dan perempuan yang telanjang. Tiba-tiba mereka didatangi nyala api dari bawah mereka, mereka pun berteriak-teriak.” Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Aku bertanya (pada Jibril dan Mika-il), ‘Siapa mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Adapun laki-laki dan perempuan yang berada di tempat seperti tungku pembakaran, mereka adalah para pezina.’ HR. al-Baihaqi di Syu'ab al-Iman no.5036 Dishahihkan oleh al-Albani di Shahih al-Jami' ash-Shaghir 1/651

 

Masalah yang menimpa anda merupakan hukuman atas dosa besar yang anda perbuat, dalam surat an-Nisa' ayat 79 Allah ta'ala berfirman:

( وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ )

“Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.”

Allah ta'ala juga berfirman di surat asy-Syuro ayat 30

( وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ )

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).”

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz pernah ditanya," Apabila seseorang ditimpa suatu penyakit atau bencana buruk pada diri atau hartanya, bagaimana cara mengetahui bahwa bencana yang datang itu sebagai ujian atau kemurkaan Allah?"


Beliau menjawab," Allah 'Azza wa Jalla menguji para hamba-Nya dengan kesenangan dan kesusahan dan dengan kesulitan dan kelapangan. Terkadang Allah menguji mereka untuk menaikkan derajat mereka dan mengangkat kedudukan diri mereka serta melipatgandakan pahala amal kebaikan yang mereka lakukan. Hal itu juga Allah berlakukan pada para nabi dan para rasul 'Alaihimush Shalatu was Salam dan para hamba-Nya yang saleh. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,

أشد الناس بلاء الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل

"Orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi kemudian orang-orang pilihan setelah mereka."

Terkadang Allah menurunkan musibah karena maksiat dan dosa sehingga musibah yang datang adalah azab yang disegerakan. Allah Subhanahu berfirman (asy-Syuro:30),

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan musibah apa saja yang menimpa kalian maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).

Kebanyakan manusia itu lalai dan enggan melakukan kewajiban sehingga musibah yang menimpanya adalah karena dosa dan kelalaiannya dalam menjalankan perintah Allah. Apabila seorang hamba saleh ditimpa cobaan penyakit atau sejenisnya, maka cobaan ini sama dengan ujian yang pernah menimpa para Nabi dan para Rasul untuk mengangkat derajat dan melipatgandakan pahala serta menjadi contoh teladan bagi orang lain dalam kesabaran dan keikhlasan di dalam menerima cobaan. Kesimpulannya adalah bahwa suatu musibah bisa jadi untuk mengangkat derajat dan melipagandakan pahala sebagaimana ujian yang pernah ditimpakan Allah kepada para Nabi dan orang-orang saleh dan bisa jadi ujian itu untuk menghapus amal-amal buruk sebagaimana firman Allah Ta'ala (an-Nisa':123),

مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ

Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu

Dan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam,"

ما أصاب المسلم من هم ولا غم ولا نصب ولا وصب ولا حزن ولا أذى إلا كفر الله به من خطاياه حتى الشوكة يشاكها

Tidak ada kegelisahan, kegundahan, keletihan, sakit, kesedihan atau gangguan yang dirasakan seorang Muslim, bahkan duri yang melukainya, kecuali Allah mengampuni dosa-dosanya karena hal-hal tersebut."

Serta sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam,"

(من يرد الله به خيرا يصب منه)

Barangsiapa diinginkan Allah mendapat kebaikan, maka Dia akan menurunkan musibah."

Ujian juga bisa jadi sebagai azab yang disegerakan oleh Allah karena maksiat dan pelakunya tidak mau segera bertobat sebagaimana hadis dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam bahwasanya ia bersada, "

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا وإذا أراد الله بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba-Nya, maka Dia menyegerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menginginkan keburukan pada hamba-Nya, maka Dia tidak langsung menghukumnya karena dosanya hingga kelak Dia menghukumnya pada hari kiamat." Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi yang menyatakannya sebagai hadis hasan.
https://www.binbaz.org.sa/fatawa/115#ftn2

Berdasarkan keterangan umum dari syaikh Masyhur bin Hasan hafidhohullahu ta'ala terkait musibah yang datag sebagai hukuman, Yang perlu anda laksanakan sekarang adalah
- bertaubat
- beristighfar
- bersabar
- ridho,
- berusaha menambah ketakwaan
- meminta tolong kepada Allah ta'ala
- memperbaiki jalan hidup
- berusaha untuk istiqomah di jalan Allah ta'ala
- berusaha menyesuaikan diri dengan sunnatullah.

Kami nasehatkan pula untuk semangat dalam menuntut ilmu syar'i dan memilih kawan dan lingkungan yang baik. Setelah penanya bertaubat kepada Allah ta'ala maka jagalah jarak dengan laki-laki tersebut dan infokanlah ke dia supaya dia juga bertaubat. Apabila laki-laki itu sudah bertaubat silahkan penanya mengajukan diri untuk dinikahi oleh laki-laki tersebut.

Wallahu ta'ala a'lam

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com