SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Saling Kirim Foto Dengan Pasangan


Ikhwan (Jepara)
6 months ago on Aqidah

Mau Tanya ustadz Ada 2 orang cewek cowok belum menikah dia saling mengirimkan foto aurat mereka terus mereka masturbasi, apakah itu termasuk zina Dan dosa besar pak? Dan kalau kita taubat apakah taubat kita di terima dan di ampuni allah Pak?
Redaksi salamdakwah.com
6 months ago

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

 

Terkait perbuatan buruk yang disebutkan oleh penanya, itu terdiri dari dua hal yaitu melihat aurat lawan jenis dan melakukan onani atau masturbasi. Melihat aurat lawan jenis seperti yang diceritakan merupakan bentuk zina mata. Rasulullah shallallahu alihi wa sallam bersabda:


كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ


“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagiannya untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” HR Muslim no.2657

Zina-zina anggota badan (selain zina kemaluan)yang disebutkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pada hadits diatas hukumnya beda dengan zina kemaluan. Zina mata dan lainnya termasuk dosa kecil, sedangkan zina kemaluan termasuk dosa besar.

Perbuatan zina anggota badan seperti melihat dengan syahwat dan lainnya yang disebutkan dalam hadits dinamakan zina karena perbuatan-perbuatan itu mengundang kepada zina (zina kemaluan) dan menjadi perantara kepadanya.

Lihat perkataan Al-Muhallab di kitab Syarh Ash-Shohih Al-Bukhori oleh Ibnu Baththol 9/23 Maktabah Ar-Rusyd (Riyadh)

Meskipun zina mata tidak sama dengan zina kemaluan namun ini jelek sekali karena ini mengantarkan ke zina kemaluan yang merupakan dosa besar, di sisi lain, apabila ini terus menerus dilakukan akan menjadi dosa besar. Imam An Nawawi –rahimahullah- berkata dalam syarah Muslim:

“Para ulama –rahimahullah- berkata: “Terus-menerus melakukan dosa kecil akan merubahnya menjadi dosa besar. Diriwayatkan dari Umar dan Ibnu Abbas dan yang lainnya –radhiyallahu ‘anhum-: “Tidak ada dosa besar dengan istigfar, dan tidak ada dosa kecil jika terus-menerus dilakukannya”.

Syekh Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah berkata-:

فَإِنَّ الزِّنَا مِنْ الْكَبَائِرِ ، وَأَمَّا النَّظَرُ وَالْمُبَاشَرَةُ فَاللَّمَمُ مِنْهَا مَغْفُورٌ بِاجْتِنَابِ الْكَبَائِرِ ، فَإِنْ أَصَرَّ عَلَى النَّظَرِ أَوْ عَلَى الْمُبَاشَرَةِ صَارَ كَبِيرَةً ، وَقَدْ يَكُونُ الإِصْرَارُ عَلَى ذَلِكَ أَعْظَمَ مِنْ قَلِيلِ الْفَوَاحِشِ ، فَإِنَّ دَوَامَ النَّظَرِ بِالشَّهْوَةِ وَمَا يَتَّصِلُ بِهِ مِنْ الْعِشْقِ وَالْمُعَاشَرَةِ وَالْمُبَاشَرَةِ قَدْ يَكُونُ أَعْظَمَ بِكَثِيرِ مِنْ فَسَادِ زِنَا لا إصْرَارَ عَلَيْهِ ; وَلِهَذَا قَالَ الْفُقَهَاءُ فِي الشَّاهِدِ الْعَدْلِ : أَنْ لا يَأْتِيَ كَبِيرَةً وَلا يُصِرَّ عَلَى صَغِيرَةٍ . . . بَلْ قَدْ يَنْتَهِي النَّظَرُ وَالْمُبَاشَرَةُ بِالرَّجُلِ إلَى الشِّرْكِ كَمَا قَالَ تَعَالَى : ( وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّه ِ) البقرة/165 . . . وَالْعَاشِقُ الْمُتَيَّمُ يَصِيرُ عَبْدًا لِمَعْشُوقِهِ مُنْقَادًا لَهُ أَسِيرَ الْقَلْبِ لَهُ

 

“Sungguh zina termasuk dosa besar, sedangkan melihat dan meraba dan dosa-dosa kecil akan diampuni dengan menjauhi dosa besar, namun jika ia terus menerus melihat dan meraba maka akan menjadi dosa besar, bisa jadi jika terus menerus dilakukan maka akan lebih besar dari perbuatan keji yang kecil. Karena melihat terus-menerus melihat dengan syahwat yang akan menyebabkan rasa rindu dan upaya untuk mencobanya, maka dampaknya kan lebih keji dari pada zina yang tidak dilakukan terus-menerus. Oleh karenanya para ahli fikih berkata tentang (syarat) seorang saksi yang adil adalah tidak melakukan dosa besar dan tidak terus-menerus melakukan dosa kecil… Bahkan melihat dan meraba akan menyebabkan seseorang melakukan dosa syirik, sebagaimana firman Allah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّه ِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah”. (QS. Al Baqarah: 165)

Seorang yang sedang rindu dan mabuk cinta maka ia akan menjadi budak dari apa yang ia cintai dan menjadi tawanan hatinya”. Selesai dalam bentuk ringkasan.

 

Di sisi lain ada Ulama' yang berpandangan bahwa melihat perempuan dengan syahwat dan diiringi kekhawatiran jatuh ke dalam fitnah bisa termasuk ke dalam dosa besar. Seorang Ulama' yang bernama al-Haitami menerangkan:

الكبيرة الثانية والأربعون بعد المائتين: نظر الأجنبية بشهوة، مع خوف فتنة

Dosa besar yang ke 242: melihat wanita yang bukan mahram diiringi syahwat dan diiringi kekhawatiran jatuh ke dalam fitnah

 

Adapun onani atau masturbasi maka ini dikatakan oleh syaikh Sholeh Fauzan bukanlah termasuk dosa besar namun ini merupakan perbuatan yang haram dan melampaui batas. https://www.youtube.com/watch?v=LVz41n7by7c

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Imam Syafi’Idan orang yang sependapat dengan beliau telah berdalil akan pengharaman onani memakai tangan dengan ayat Firman Allah ini:

والذين هم لفروجهم حافظون . إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين . فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون 

“dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. QS. Al-Mukminun: 5-7

Imam Syafi’I rahimahullahu ta'ala dalam kitab Nikah mengatakan, “Penjelasan dengan menyebutkan menjaga kemaluanya kecuali kepada istri-istri atau budak yang mereka miliki. Menunjukkan pengharaman selain istri dan budak yang dimiliki. Kemudian dikuatkan dengan firman-Nya “Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” Tidak dihalalkan melakukan sesuatu di kemaluan kecuali istri atau budak yang dimiliki. Dan tidak dihalalkan beronani. Wallahua’lam ‘Kitab Al-Umm karangan Imam Syafi’i.

Kesimpulannya tidak boleh kita meremehkan dosa melihat aurat lawan jenis dan melakukan onani karena itu berbahaya meskipun bila seseorang menguatkan pendapat bahwa keduanya dosa kecil.  

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah memperingatkan kita semua agar tidak meremehkan dosa-dosa kecil dalam sabda Beliau:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ ، كَقَوْمٍ نَزَلُوا فِي بَطْنِ وَادٍ ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ ، حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَتَهُمْ ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ مَتَى يُؤْخَذْ بِهَا صَاحِبُهَا تُهْلِكْه 

“Jagalah diri kalian dari dosa-dosa kecil, karena kalian akan seperti suatu kaum yang sedang berlabuh di suatu lembah dan membawa dahan kering, hingga dengan itu mereka akan menjadikan rotinya matang. Dan sungguh dosa-dosa kecil itu kapan saja pelakunya menemui ajalnya maka dosa-dosa itu akan menghancurkannya”. (HR. Ahmad (22302) dari hadits sahal bin sa’d –radhiyallahu ‘anhu-, al Hafidz berkata: sanadnya baik)

Imam Ahmad juga meriwayatkan (3803) dari Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu- bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ ، وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَرَبَ لَهُنَّ مَثَلا : كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا أَرْضَ فَلاةٍ ، فَحَضَرَ صَنِيعُ الْقَوْمِ ، فَجَعَلَ الرَّجُلُ يَنْطَلِقُ فَيَجِيءُ بِالْعُودِ ، وَالرَّجُلُ يَجِيءُ بِالْعُودِ ، حَتَّى جَمَعُوا سَوَادًا ، فَأَجَّجُوا نَارًا ، وَأَنْضَجُوا مَا قَذَفُوا فِيهَا

“Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil, karena jika ia berkumpul pada seseorang maka akan menghancurkannya, dan sesungguhnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan sebuah perumpamaan: yaitu suatu kaum yang singgah di sebuah lembah, seraya dihampiri oleh pemuka kaum, lalu orang tadi pergi dan kembali dengan membawa dahan kering hingga terkumpul dalam jumlah yang banyak, kemudian disulutlah dengan api, tumpukan dahan yang terbakar tadi akan mematangkan apa saja yang dipanggang di atasnya”. 

Ibnu Majah meriwayatkan (4243) dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha- berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata kepadaku:

يَا عَائِشَةُ ، إِيَّاكِ وَمُحَقَّرَاتِ الأَعْمَالِ ، فَإِنَّ لَهَا مِنْ اللَّهِ طَالِبًا 

“Wahai Aisyah, jauhilah olehmu dosa-dosa kecil, karena semuanya akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah”. 

Terkait pertanyaan, apakah masih ada kesempatan bertaubat maka pintu taubat masih diterima selama matahari belum terbit dari barat dan selama roh belum sampai tenggorokan. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ.

Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama (ruh) belum sampai di tenggorokan” (HR. Tirmidzi, dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhuma).

Allah Subhanu Wa Ta’ala berfirman:  

يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا   

“..Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabb-mu tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebaikan dengan imannya itu..” (Qs. Al-An’aam 158)  

 

Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda :

لاَ تَنْقَطِعُ الْهِجْرَةُ مَا تُقُبِّلَتِ التَّوْبَةُ، وَلاَ تَزَالُ التَّوْبَةُ مَقْبُولَةٌ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنَ الْمَغْرِبِ، فَإِذَا طَلَعَتْ؛ طُبِعَ عَلَى كُلِّ قَلْبٍ بِمَا فِيْهِ، وَكُفِيَ النَّاسُ الْعَمَلَ

“Hijrah tidak akan terputus selama taubat masih diterima, dan taubat akan tetap diterima HINGGA matahari terbit dari barat. Jika ia telah terbit (dari barat), maka dikuncilah (ditutuplah) setiap hati dengan apa yang ada di dalamnya dan dicukupkan bagi manusia amal yang telah dilakukannya.” (HR. Ahmad, dalam Musnad Imam Ahmad, III/133-134, 1671)islamqa.info

Orang yang melakukan dosa yang disebutkan dalam pertanyaan tersebut bersegaralah bertaubat kepada Allah ta'ala dengan memenuhi syarat taubat. Diantara syarat taubat kepada Allah ta'ala adalah:
1. Ikhlas karena Allah ta'ala
2. Menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan
3. Segera meninggalkan perbuatan tersebut.
4. Bertekad untuk tidak kembali ke dosa tersebut
5. Taubat tersebut dilaksanakan pada saat Taubat masih diterima
lih. Asy-Syarh Al-Mumti' 'ala Zad Al-Mustaqni' oleh syaikh Utsaimin 14/380

Apabila pasangan itu sudah sama sama bertaubat kepada Allah ta'ala dan mereka ingin menikah maka segerakanlah pernikahan tersebut sehingga keduanya bisa menyalurkan syahwatnya dalam bentuk yang halal

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com