SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Apakah Istri Perlu Meminta Izin Suami Bila Ingin Memberi Keluarganya Dari Hasil Keringat Istri Sendiri? Apakah Suami Wajib Dikasih Tahu Penghasilan dan Pengeluaran Istri Dari Hasil Kerjanya sendiri?


Akhwat (Tangerang)
5 months ago on Keluarga

Assalamu'alaikum ustd. Sya mau tanya, Sya ni adlah wanita bkerja, sya berja niat bantu suami & kluarga. Apakah jika sya mengeluarkan uang dr hasil keringat sya sndri untuk mmbantu kluarga sy yg membutuhkan, harus izin suami? Apakah suami harus tau pnghasilan sya dan untuk apa pengeluaran dr hasil kerja sya? Demikian ustd mhon pnjelasannya. Terima kasiih Wassalamu'alaikum wr. wb
Redaksi salamdakwah.com
5 months ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Hukum asalnya istri punya hak mutlak pada harta dia dan apa yang dia hasilkan sendiri. Dalam salah satu ketetapan Majma' al-Fiqhi al-Islami di konferensi yang diadakan di Dubai Tanggal 30 Shafar-5 Rabi'ul Awwal tahun 1426 H disebutkan:

ولها الحق المطلق في إطار أحكام الشرع بما تكسبه من عملها ، ولها ثرواتها الخاصة ، ولها حق التملك وحق التصرف بما تملك ولا سلطان للزوج على مالها ، ولا تحتاج لإذن الزوج في التملك والتصرف بمالها

Dalam kerangka kerja hukum syariat istri punya hak penuh terhadap harta yang ia dapatkan dari hasil kerja dia. Istri juga memiliki hak pada kekayaan pribadinya. Dia punya hak memiliki dan mengendalikan apa yang dia miliki, suami tidak punya kekuasaan pada harta istrinya. Istri tidak perlu meminya izin suami untuk memiliki dan mengendalikan hartanya. http://www.iifa-aifi.org/2174.html diakses pada 11/3/2019  

Apabila sejak awal pernikahan anda sudah mendapatkan izin suami untuk bekerja dan suami anda tidak mensyaratkan syarat tertentu maka penghasilan anda menjadi hak anda sendiri. Begitu pula jika suami mengizinkan anda bekerja saat sudah menikah dengannya dan ia pun tidak meminta syarat apapun maka uang hasil bekerja itu untuk anda dan anda bebas menggunakannya di jalan yang tidak menyelisihi syariat. Apabila suami anda mensyaratkan prosentase tertentu ketika dia mengizinkan anda untuk bekerja dan anda menyetujuinya maka anda perlu memenuhi syarat itu dan dengan begitu otomatis suami tahu berapa penghasilan anda.   berikut ini keterangan syaikh Utsaimin berkenaan dengan perkara tersebut yang kami terjemahkan: 
Seseorang wajib untuk berinfak kepada keluarganya (kepada istri dan anaknya)dengan baik, meski istrinya adalah orang kaya.....apabila istri, sebelumnya menjadi guru, dan ia mensyaratkan (sebelum atau saat akad.pen) agar suami mengizinkannya untuk mengajar, maka suami tidak berhak untuk mengambil gajinya, baik itu setengah, lebih dari itu atau kurang dari itu. Gajinya adalah miliknya, selama hal itu telah disyaratkan saat akad dan suami rela dengan persyaratan tersebut. Kala itu suami tidak boleh melarangnya untuk mengajar dan tidak boleh pula mengambil gajinya sedikitpun.

Apabila istri belum mensyaratkan agar suami mengizinkannya untuk mengajar, kemudian ketika menikah suami berkata jangan mengajar, maka di sini keduanya boleh membuat kesepakatan sekehendak mereka, maksudnya: Misalnya suami boleh berkata: Aku membolehkanmu mengajar dengan syarat aku memperoleh setengah, sepertiga, tiga perempat, seperempat atau yang semisalnya dari gajimu, sesuai dengan kesepakatan. http://www.islamqa.info/ar/ref/126316

Syaikh Abdul Aziz bin Baz pernah ditanya: Seorang wanita bertanya, dia seorang guru di Kerajaan Saudi Arabia sejak beberapa tahun terakhir, ia pun menikah. Suaminya yang mengantarnya sebagai ganti dari saudara laki-lakinya yang sebelumnya mengantarnya pertama kali. Alhamdulillah, kami berdua telah dikaruniai anak oleh Allah, setelah itu suami saya mulai mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya, akan tetapi belum berhasil. Akhirnya dia bekerja di sebuah toko di sebelah timur dari daerah tempat kami tinggal. Setelah itu mulai terjadi perbedaan tentang masalah pengeluaran rumah. Apakah saya yang harus menanggung biaya pengeluaran rumah ?, sampai suami saya mengatakan: “Jika kamu tidak mau menanggung biaya pengeluaran rumah, maka kamu tidak boleh bekerja selamanya” ?, apakah suami saya mempunyai hak dari gaji saya yang saya dapatkan dari hasil pekerjaan saya ?, jika saya yang harus menanggung bisaya pengeluaran rumah, maka berapa persen pembagiannya antara saya dan suami saya

Beliau menjawab: Alhamdulillah. Masalah ini, yaitu; tentang biaya pengeluaran rumah antara suami dan istri yang keduanya sama-sama bekerja dan mencari rizeki, maka sebaiknya berdamai saja tidak perlu bersengketa. Adapun dari sisi kewajiban maka ini bab lain yang harus dirinci. Jika suami anda telah mensyaratkan bahwa biaya pengeluaran rumah tangga ditanggung berdua, kalau tidak maka ia tidak mengizinkan anda untuk bekerja lagi, maka umat Islam itu sesuai dengan syarat-syarat mereka. Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلَّا شَرْطًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

“Umat Islam itu sesuai dengan syarat-syarat yang mereka buat, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram”.

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda:

إِنَّ أَحَقَّ الشُّرُوطِ أَنْ يُوَفَّى بِهِ مَا اسْتَحْلَلْتُمْ بِهِ الْفُرُوجَ

“Sungguh syarat-syarat yang paling berhak untuk dipenuhi adalah yang berkaitan dengan menghalalkan kelamin”.

Maka anda berdua sesuai dengan syarat-syarat yang anda buat, jika syarat-syarat tersebut memang ada.

Adapun jika tidak ada syarat apapun di antara anda berdua, maka semua biaya operasional rumah itu menjadi tanggungannya suami, bukan kepada istri, dia lah yang memberikan nafkah, Allah -‘Azza wa Jalla- berfirman:

لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ

 

“Hendaklah orang (laki-laki) yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya”. (QS. Ath Thalaq: 7)

Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

وَعَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan menjadi kewajiban kalian (orang laki-laki) memberi nafkah kepada mereka, memberikan pakaian kepada mereka dengan baik”.

Nafkah itu menjadi kewajiban suami; dia lah yang bertanggung jawab untuk keperluan dan urusan rumahnya, rumah istri dan anak-anaknya, dan menjadi sumber penghidupan dan pendapatan bagi istrinya; karena manjadi timbal balik dari pekerjaan, kepenatan istrinya sudah termasuk dalam hal ini dan tidak mensyaratkan kepada istrinya bahwa beban kebutuhan rumah tangga menjadi tanggungannya, atau setengah, atau yang serupa dengannya. Adapun jika sudah masuk dalam kategori tersebut sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, maka umat Islam itu sesuai dengan syarat-syarat mereka. Jika dia memulai hidup dengan anda, anda sudah menjadi guru dan anda sudah bekerja, sementara dia ridho dengan keadaan anda, maka ia wajib tunduk dalam masalah ini dan tidak boleh memperuncing permasalahan sedikitpun. Gaji anda juga menjadi hak anda sendiri kecuali anda menginzinkan sedikit secara suka rela, Allah -‘Azza wa Jalla- berfirman:

فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْساً فَكُلُوهُ هَنِيئاً مَرِيئاً

“Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya”. (QS. An Nisa’: 4)

Sebaiknya anda mengizinkan sebagiannya, kami nasehatkan kepada anda agar menyisihkan sebagian gaji anda untuk suami anda untuk kebaikan dirinya dan menjadi solusi bagi sengketa dan menghilangkan masalah, sehingga anda bisa hidup tenang, nyaman, dan tuma’ninah, buatlah kesepakatan antara anda berdua, seperti setengah gaji, sepertiga, atau seperempatnya, dan lain-lain, agar masalahnya menjadi hilang , sengketa pun akan berubah menjadi keharmonisan, nyaman, dan tuma’ninah.

Adapun jika hal itu belum terlaksana, maka ada baiknya diadukan saja ke pengadilan di negara yang anda berada di dalamnya, dan apa yang menjadi putusan pengadilan syar’i sudah cukup in sya Allah.

Akan tetapi nasehat kami kepada anda berdua adalah damai dan tidak lagi bersengketa, dan tidak perlu mengadukannya ke pengadilan, sebagai seorang istri sebaiknya merelakan sebagian hartanya untuk suami anda, sehingga masalah pun akan terurai, atau dia akan memberi izin dan ridho dengan pembagian Allah kepadanya, ia pun akan memberikan nafkah sesuai dengan kemampuannya, mengizinkan gaji anda secara keseluruhan dan tidak lagi merintangi. Inilah yang sebaiknya dilakukan oleh anda berdua, akan tetapi kami nasehatkan dan kami ulangi lagi bahwa hendaknya anda tetap memberikan sebagian gaji anda kepadanya agar dirinya menjadi baik, sehingga kalian berdua saling bekerja sama dalam kebaikan, rumah tersebut adalah rumah kalian berdua, anak-anak adalah anak kalian berdua, semua sesuatu adalah milik kalian berdua, maka sebaiknya ada toleransi dari anda pada beberapa hal agar masalahnya selesai. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik-Nya kepada semua. Fatawa Nur Ala Ad-Darbi 1615-1617. Muassasah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz al-Khoiriyyah

Intinya adalah apabila anda sudah mendapatkan izin bekerja tanpa syarat dari suami maka anda boleh membantu keluarga anda sendiri tanpa perlu izin ke suami. Namun bila kala itu anda meminta pendapat suami maka itu dianjurkan. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang seperti apakah ciri wanita terbaik. Jawab beliau,

الَّتِى تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلاَ تُخَالِفُهُ فِى نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Yang menyenangkan suami ketika dilihat  oleh suaminya, mentaati suami ketika diperintah oleh suaminya, dan tidak bertindak terhadap dirinya dan hartanya dengan perbuatan yang tidak disukai  oleh suaminya. (HR. Ahmad 7626, Nasai 3244)

Bila suami mengajukan syarat tertentu yang syarat itu klausulnya bertentangan dengan perbuatan anda membantu keluarga sendiri secara rahasia dan tanpa izin maka anda wajib meminta izin ke suami untuk membantu keluarga anda dari gaji anda tersebut.

Apabila anda sudah mendapatkan izin bekerja tanpa syarat dari suami maka anda tidak wajib memberitahukan rincian pemasukan dan pengeluaran anda ke suami. Apabila suami anda ketika mengizinkan anda bekerja mensyaratkan syarat-syarat tertentu yang itu menuntut anda untuk transparan maka anda tidak boleh menyembunyikan rincian pemasukan dan pengeluaran dari hasil kerja anda. Karena syarat yang sudah disepakati dan tidak menyelisihi syariat maka itu perlu dipenuhi sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, 2721 dan Muslim, 1418. Sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

أَحَقُّ الشُّرُوطِ أَنْ تُوفُوا بِهِ مَا اسْتَحْلَلْتُمْ بِهِ الْفُرُوجَ

“Syarat yang paling layak untuk dipenuhi adalah apa menyebabkan kemaluannya menjadi halal bagi kalian (syarat dalam pernikahan).”

Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda:

الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ ، إِلا شَرْطًا حَرَّمَ حَلالا ، أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا  

“Orang Islam itu selalu berpedoman pada syaratnya, kecuali syarat yang mengharamkan halal atau menghalalkan haram.”  (HR. Tirmizi, 1352. Abu Daud, 3594 )

Wallahu ta'ala a'lam   

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com