SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bolehkah Marah Kepada Ayah Yang Tidak Menafkahi Istri dan Anaknya?


Akhwat (Jakarta)
6 months ago on Keluarga

Assalamualaikum. Saya seorang anak perempuan memiliki Ayah yg sehat dalam artian tidak memiliki penyakit, tidak cacat, dengan umur menginjak usia 59 tahun. Beliau pensiun di usia 55 tahun, ketika pensiun memeperoleh tunjangan yang alangkah sangat disayangakan tidak dikelola kedua orang tua saya dgn baik sehingga habis tanpa hasil. Saat ini beliau masih memiliki penghasilan dr kantor namun sebagai seorang pensiun dan jika untuk menghidupi keluarganya jauh dari kata cukup. Kakak saya telah menikah, artinya tanggungan untuknya telah lepas dari Ayah dan beralih ke suami. Saya telah bekerja. Namun 2 adik saya, perempuan dan laki-laki, belum selesai bersekolah. Saya ikhlas membantu memenuhi kebutuhan keluarga saya tsb. Listrik, air PAM, sekolah adik, kebutuhan bulanan ibu, saya bantu. Baru bulan ini, Ayah saya sama sekali tidak memberikan gajinya ke Ibu saya lagi. Ibu saya sangat sedih. Saya jg terpukul dan sakit hati mendengarnya. Adik perempuan saya berusaha mencari tau apa yg dilakukan Ayah saya dengan handphonenya sepanjang hari. Saat Ayah saya sedang keluar rumah, Adik saya memergoki foto-foto wanita (bule) di handphonenya. Adapula yg dicetak. Dan Ayah saya ternyata selalu membayar sebuah media sosial untuk chat dengan wanita-wanita yg tdk diketahui keberadaanya tsb. Katakanlah gaji Ayah saya Rp 1,3juta. Sebelumnya Ayah saya selalu memberikan seluruhnya kepada Ibu saya. Awal tahun, Ayah saya mengurangi menjadi Rp 700rb. Lau bulan ini, Ayah saya tidak memberikan sama sekali. Ketika Ibu saya bertanya, “Ayah, saya sudah ditagih tukang sayur” (karena Ibu terpaksa berhutang scr bulanan krn bru bisa bayar awal bulan) lalu Ayah saya menjawab “Tidak ada. Habis.” Lantas Ibu kebingungan dan menjawab “Bagaimana membayar hutang tsb?” Ayah dgn enteng menjawab “Tidak ada. Habis.” Astagfirullahaladzim, mohon bantuan kpd saya. Bagaimana saya hrs bersikap. Bagaimana agar saya tdk membenci Ayah saya sendiri. Ayah saya adalah org yg sangat keras. Mendidik kami sedari kecil dgn kekerasan. Namun saya sadar beliau lah yg membesarkan dan menanggung saya hingga saya lulus kuliah. Anehnya, Ayah saya tidak berusaha mencari pekerjaan. Sudah hampir 5 tahun, Ayah di rumah dan tidak bekerja. Sempat mencari pekerjaan di tahun pertama, namun sehabis itu tdk berusaha lagi dgn alasan “tidak ada yg menerima pekerja dgn usia sekian tahun” (alasan usia). Wallahu, menurut saya apabila berusaha pasti ada jalan. Hampir 5 tahun tidak mungkin Allah tdk berikan jika tdk berdoa dan bersungguh-sungguh mencari. Ibu selalu menegur Ayah namun Ayah malah memarahi dan murka hingga sempat terjadi pertengkaran (lempar barang, bertengkar dgn anak, dsb). Ayah di rumah saja namun jika adzan solat tidak ke masjid. Mengulur waktu solat shg tdk tepat waktu. Ayah seringkali meremehkan anak tetangga yg belum pegawai tetap. Ayah menyombongkan besan yg merupakan pejabat di depan teman-temannya. Ayah bahkan pernah berkata kepada teman laki-lakinya, di depan Ibu, “istrimu takut ga sama kamu?” Betapa sakit hati saya. Ayah tidak bisa ditegur. Jika ditegur bisa menyebabkan pertengkaran karena beliau pasti langsung emosi dan main tangan. Kami sekeluarga sdh pernah semua dipukuli, ditendang. Menurut saya, Ibu saya sangat hebat dan memiliki kesabaran yg luar biasa. Beliau tetap setia di rumah tidak pernah memarahi Ayah karena Ayah kami memang terlalu mudah tersulut api emosi.. Saya selalu berdoa agar Allah memberikan hidayah untuknya. Dan semoga Allah bahagiakan dan angkat derajat Ibu. Semoga Allah lancarkan rejeki saya, kakak, dan adik-adik. Mohon arahan dan bimbingan. Kami (Saya, Ibu, adik-adik, dan Kakak) sangat bingung.
Redaksi salamdakwah.com
6 months ago

 

 

 

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

 

Berdoalan kepada Allah ta'ala, dzat yang maha mendengar dan dzat yang mengabulkan doa doa hamba-Nya (di waktu dan momen yang memang dianjurkan kita untuk berdoa) semoga Allah ta'ala memberi ayah penanya hidayah. Nasehatilah beliau dengan cara yang paling baik dan bijak semoga Allah ta'ala memberikan hidayah kepada beliau.

 

Dakwahilah beliau dengan bijaksana, nasehatilah beliau  dengan lembut. Bersabarlah bila respon balik dari yang beliau tidak enak didengar. Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya (berikut terjemahan kami):

Ayah saya tidak melaksanakan shalat, apakah saya wajib mendakwahinya dan memerintahkannya untuk melaksanakan shalat. Beberapa orang memberitahu saya bahwa saya bertanggung jawab terkait ayah saya kelak di hari kiamat dan dihadapan Allah...?

 

Beliau menjawab:

Anda wajib mendakwahinya ke jalan Allah ta'ala serta wajib menasehatinya dengan metode yang bagus, dengan kelembutan dan bahasa yang indah sebagaimana Alah jalla wa ala berfirman:

 

 

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

 

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (Luqman:14)

 

Apabila orang tua (dua orang tua yang musyrik) memaksa anaknya berbuat syirik maka

 

 

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

 

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik (Luqman:15)

 

Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkannya untuk mempergauli kedua orang tuanya yang kafir di dunia dengan baik. Anda wajib mempergauli mereka dengan baik, dengan cara menasehati dan mengarahkan dan dengan kelembutan. Anda bisa meminta bantuan saudara-saudara yang baik (Dari kalangan kerabat, saudara dan paman-pamannya) supaya mereka juga menasehatinya. Semoga Allah memberinya hidayah melalui kalian, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 

 

مَنْ دَلَّ عَلىَ خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

 

Barang siapa menunjukkan kepada kebaikan maka ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukan kebaikan itu.

 

Dan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepada Ali radhiyallahu anhu:

 

 

لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

 

sungguh petunjuk Allah yang diberikan kepada seseorang melalui perantaraanmu, adalah lebih baik bagimu daripada kamu memperoleh unta merah (nikmat yang besar)

 

Berusahalah dengan keras dan bersungguh-sungguhlah terhadap Allah. Berdoalah kepada Rabb anda semoga Allah memberinya hidayah. Doakanlah dia kala sujud, di akhir shalat dan di waktu-waktu lainnya. Mintalah kepada Allah supaya Dia memberinya hidayah, supaya Dia melapangkan hatinya untuk kebenaran dan membantunya untuk menerima kebenaran. Berusahalah sekuat tenaga untuk itu. Bersabarlah dan kuatkanlah kesabaran...

 

Silahkan menyimak audio tanya jawab beliau dalam bahasa Arab di

http://www.alandals.org/gets.php?fid=36&id=8133&pid=150504

 

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya (berikut ini terjemahan kami):

Sesungguhnya ayah saya terkadang memerintahkan saya untuk melakukan perbuatan yang salah (sepengetahuan saya) seperti dia memerintahkan saya untuk memulangkan saudara-saudara saya dari madrasah supaya mereka bisa begadang sesuai keinginan dia. Bila ayah saya tidak shalat saya menasehati dia namun ketika itu dia duduk sambil mendoakan kebinasaaan atas diri saya, apajkah benar bahwa do'anya orang sakit tidak ada hijabnya (antara dia dengan Allah)? Apakah saya berdosa karena menggangu dia dengan nasehat tersebut?

 

Mereka menjawab:

Pertama taatlah kepada ayah anda dalam perkara yang ma'ruf dan bukan perkara yang mungkar.

 

Kedua: teruslah menasehatinya terkait masalah agama seperti shalat dan yang lainnya. Dengan begitu anda memperoleh pahala (biidznillah). Doanya yang buruk tidak akan membahayakan anda. Semoga Allah memberi manfaat dengan cara itu. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 25/185 pertanyaan kedua dari fatwa no.9452

 

Syaikh Sholeh al-Fauzan pernah ditanya:

Allah memerintahkan hambanya kaum mukminin untuk melaksanakan Amar makruf dan nahi munkar, apakah menasehati orang tua bila Salah seorang Dari mereka terjatuh dalam kesalahan termasuk kedurhakaan. Jawablah kami terkait hal itu. Semoga Allah memberkahi anda sekalian ?

 

Beliau menjawab:

Ya. Allah memerintahkan Amar makruf nahi mungkar sebisa mungkin. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"

 

 

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ»

 

"Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu maka hendaknya dia ubah dengan lisannya. Jika tidak mampu maka hendaknya dia ubah dengan hatinya dan itulah iman yang paling lemah” HR. Muslim no. 49 dan yang lainnya

 

Dan dalam riwayat lain

 

 

(( وَلَيْسَ وَرَاءَ ذلِكَ مِنَ اْلإِيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ ))

 

“Dan tidak ada sesudahnya sebiji sawi pun dari iman.” (HR. Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Bayanu Kurhin Nahyi Anil Mungkar).

 

Kedua orang tua dan selainnya hukumnya sama dalam masalah ini. Mereka wajib diingkari bila mereka melaksanakan maksiat, dan mereka selayaknya diberi nasehat kala itu, ini adalah termasuk bentuk berbakti yang paling utama. Ini bukanlah termasuk kedurhakaan sebagaimana yang disangka oleh penanya, bahkan ini adalah termasuk bakti kepada keduanya, sebab anda ingin keduanya selamat serta berlepas diri dari neraka

 

Anda menndengar firman Allah ta'ala terkait Nabi Ibrahim kekasih Allah, dia memulai dengan menasehati ayahnya(Maryam 42-45):

 

 

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَاأَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا

يَاأَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا

يَاأَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا

يَاأَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

 

42. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat mencukupi kamu sedikitpun?

43. Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah Aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.

44. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan yang Maha Pengasih.

45. Wahai bapakku, Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa adzab dari Tuhan yang Maha pengasih, Maka kamu menjadi kawan bagi syaitan".

 

Ini Nabi Ibrahim kekasih Allah ta'ala, beliau menasehati ayahnya, mendakwahinya ke jalan Allah ta'ala dan berusaha menyelamatkannya dari neraka, ini menunjukkan bahwasanya menasehati para orang tua termasuk kewajiban yang paling ditekankan, dan seseorang memulai dengan mendakwahi mereka sebelum mendakwahi orang lain. Ini termasuk berbakti dan bakti yang paling agung bagi keduanya. Namun dakwah itu harus dengan hikmah (ilmu. Lih. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 12/245 no.16024.pent),

mauidhah hasanah (memperingatkan dengan dalil yang menyemangati dan mengandung ancaman.pent), perkataan yang lembut, cara yang baik, dakwahnya juga harus dakwah yang paling halus, semoga Allah memberi mereka berdua hidayah. Majmu' Fatawa Fadhilatu asy-Syaikh Shaleh al-Fauzan 2/587-588

 

Apabila nasehat dari penanya tidak didengar oleh ayah penanya maka penanya bisa mengajak ayahnya ke kajian atau memperdengarkan ceramah di rumah atau meminta bantuan orang lain (yang kira-kira di dengar oleh penanya) supaya orang tersebut mau menasehati ayah penanya.

Wallahu ta'ala a'lam

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com