SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Jika dulu pernah menipu sebelum baligh


Ikhwan (Jakarta)
1 year ago on Fiqih

Assalaamu’alaikum saya ingin bertanya jika ada orang semasa belum baligh pernah berjualan dan mendapatkan pendapatannya hasil menipu apa yg dia harus lakukan? Terimakasih
Redaksi salamdakwah.com
1 year ago

 

Waalaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuhu

 

Dia telah mengambil harta orang lain dengan cara yang batil maka dia perlu mengembalikan nya. Allah Ta`ala berfirman,

 

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil.

Apa yang orang itu ambil sebelum masa baligh dengan cara yang batil harus dikembalikan bila barangnya masih ada, namun bila barangnya sudah rusak maka anda perlu menggantinya atau yang senilai dengannya. Harta itu perlu dikembalikan ke pemiliknya jika pemiliknya masih hidup, kalau pemiliknya sudah meninggal maka diberikan ke ahli warisnya. Kalau mereka tidak ditemukan maka harta hasil penipuan itu disedekahkan atas nama pemiliknya yang sah. Apabila nanti ternyata setelah disedekahkan pemilik sahnya datang maka orang yang melakukan penipuan itu mengembalikan harta atau nilai dari harta hasil menipu tersebut.

 

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya

Sejak kecil saya melihat ayah saya meletakkan sesuatu yang berupa uang atau sesuatu yang bermanfaat saya suka mengambilnya tanpa sepengetahuan beliau. Setelah saya dewasa saya takut kepada Allah dan saya tinggalkan seluruh perbuatan ini. Sekarang apakah boleh saya memberikan pengakuan di hadapan ayah saya tentang hal itu ataukah tidak ?

 

Anda wajib mengembalikan apa yang anda curi dari ayah anda yang berupa uang dan yang lainnya kecuali bila apa yang anda curi nilainya kecil digunakan untuk memberi nafkah maka kala itu tidak apa-apa.

 

Abdullah bin Ghadyan selaku anggota

Abdurazzaq Afifi selaku wakil ketua

Abdul Aziz bin Abdullah bin baz selaku ketua

Fatawa al-lajnah ad-Daimah 12/352-353 fatwa no.13605

 

Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan fatwa Arab Saudi: Saat masih kecil, bertahun-tahun silam, kami dalam kondisi labil, bodoh, dan kelaparan, hingga akhirnya kami mencuri beberapa binatang ternak. Sekarang saya bertobat dan ingin melunasi kewajiban saya kepada orang lain. Saya perlu menanyakan beberapa hal berikut ini:

1. Saya pernah mencuri kapulaga senilai 120 riyal empat puluh tahun yang lalu dan ingin saya bayar sekarang. Apakah pembayarannya disesuaikan dengan harga sekarang, atau harga jual pada waktu itu?

2. Saya pernah mencuri beberapa ekor kambing, dan dari kambing tersebut ada hasil harta lain dan berkembang. Apakah saya cukup membayar beberapa ekor kambing (sesuai jumlah yang dicuri) atau saya harus menyerahkan kambing-kambing itu beserta seluruh hasilnya yang telah berkembang?

3. Apabila saya mencuri bersama rekan lainnya, apakah saya cukup membayar kewajiban saya saja, atau bagaimana?

Semoga Allah menjaga Anda semua.

 

Mereka menjawab:

Kapulaga yang Anda curi harus dikembalikan kepada pemiliknya dengan nilai yang sama saat Anda curi, jika pemiliknya masih hidup. Atau, dapat Anda berikan kepada ahli warisnya (jika pemiliknya sudah meninggal dunia). Apabila itu semua tidak memungkinkan, maka Anda harus menyedekahkannya kepada kaum fakir dengan niat sedekah atas nama pemilik harta tersebut.

Apabila setelah Anda bersedekah ternyata pemiliknya datang, atau Anda mengetahui tempat tinggal ahli warisnya, maka Anda harus menyerahkannya senilai harta itu. Insya Allah, Anda akan mendapatkan pahala bersedekah. Mengenai kambing yang Anda curi, Anda harus mengembalikannya kepada pemiliknya, beserta seluruh hasil yang telah berkembang, jika pemiliknya masih hidup. Atau boleh kepada ahli warisnya jika mereka ada. Jika mereka tidak ada atau tidak diketahui, maka Anda dapat memperkirakan nilai kambing itu ketika dicuri sekaligus nilai harta yang telah berkembang, kemudian Anda sedekahkan atas nama pemiliknya.

 

Apabila pemiliknya datang, atau Anda mengetahui keberadaannya atau ahli warisnya di mana pun mereka berada, maka Anda harus menyerahkan kambing tersebut beserta harta yang telah berkembangbiak, atau yang senilai dengan itu, sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Insya Allah, Anda akan mendapatkan pahala bersedekah. Jika Anda melakukan pencurian tersebut bersama rekan, maka Anda dapat membebaskan sejumlah tanggungan Anda dengan mengembalikan apa yang Anda curi kepada pemilik, atau bersedekah sesuai nilai harta curian atas nama pemiliknya (Ini jika Anda tidak menemukan pemilik atau ahli warisnya, sama seperti sebelumnya). Selain itu, Anda harus bertobat dengan sebenar-benarnya dan tidak mengulangi tindakan buruk seperti itu. Anda harus menasihati rekan yang terlibat dalam pencurian supaya mereka membebaskan tanggungan kewajiban mereka atas perbuatan yang mereka lakukan, sambil memperingati mereka akan beratnya siksaan Allah. Mengambil harta orang lain adalah tindakan kezaliman atas mereka. Itu semua tidak dapat gugur kecuali dengan mengembalikan hak-hak mereka, atau hingga pemiliknya mau memaafkan dan merelakan haknya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa

Bakr Abu Zaid selaku Anggota    

Shalih al-Fawzan selaku Anggota    

Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota    

Abdul Aziz Alu asy-Syaikh selaku Wakil Ketua    

Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa 11/208-210 Fatwa Nomor:20777     

 

 

 

© 2022 - Www.SalamDakwah.Com