SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bagaimana Cara Berwudhu Saat Sudah Memakai Make Up di Walimah


Akhwat (jember)
4 months ago on Fiqih

Begini saya ingin menanyakan perihal makeup yang waterproof atau anti air yang ga luntur kalau kenak air, banyak yang bilang kalau itu akan menjadi hara karena air wudhu tidak bisa meresap kedalam kulit lain kalau sebelum makeup kita berwudhu. Tetapi semisal kita mengalami kondisi dimana kita sudah berwudhu tapi ga bisa mempertahankan wudhu itu contohnya kita di dalam acara yang berjam jam seperti pernikahan, Menjadi manten atau kita menjadi penerima tamu otomatis kita salaman sama tamu atau kalopun kita ga salaman kita buang air kecil dll dan kita di dalam perjalanan kita tertidur dan dalam kedua kasus ini tibalah saatnya waktu sholat otomatis kita kan bakal wudhu lagi jadi itu bagaimana yah ? apakah sah wudhu kita atau tidak ? dan bagaimana solusinya jika wudhu menjadi tidak sah?
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

الحمد لله والصلاة والسلام على رسو ل الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

 

Kami tidak memilik informasi utuh tentang make up itu. Secara umum apabila make up itu tidak menghalangi air untuk menyentuh kulit maka tidak berpengaruh dalam keabsahan wudhunya. Apabila faktanya zat yang dipakai untuk make up itu menghalangi air untuk menyentuh kulit maka berarti bila ingin berwudhu perlu menghapus make up waterproof tersebut supaya wudhunya sah. 

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmi pernah Pertanyaan 4: Diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang kurang lebih artinya, "Wudhu tidak sah jika di jari-jari terdapat adonan, cat kuku atau lumpur." Akan tetapi, saya melihat sebagian perempuan mewarnai tangan dan kaki mereka dengan henna (pacar), padahal pacar adalah adonan, sementara mereka salat dengan kondisi tersebut. Apakah ini dibolehkan, karena ketika dilarang, maka mereka akan mengatakan bahwa pacar tersebut suci?

Mereka menjawab: Segala puji hanyalah bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasul-Nya, kerabat dan sahabat beliau.
Sepengetahuan kami tidak ada hadits dengan lafal yang disebutkan di dalam pertanyaan. Sementara itu, warna pacar yang ada di tangan dan kaki tidak berpengaruh terhadap keabsahan wudhu, karena warnanya tidak memiliki ketebalan sama sekali. Berbeda dengan adonan, cat kuku dan lumpur, ketiganya memiliki ketebalan yang menghalangi sampainya air ke kulit. Sehingga wudhu tidak sah dengan keberadaannya, karena air tidak sampai ke kulit. Namun, jika pacar tersebut berupa benda yang ada di tangan atau kaki yang menghalangi sampainya air ke kulit, maka ia juga harus dibersihkan seperti adonan dan sejenisnya.
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.


Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota)
Abdullah bin Ghadyan (Anggota) 
Abdurrazzaq `Afifi (Wakil Ketua) 
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 5/235 pertanyaan Keempat dari Fatwa Nomor 6193

Apabila faktanya itu menghalangi air mengenai wajah  maka solusinya adalah acara walimahannya tidak lama atau kalau acaranya didesain lama maka diset waktu walimahannya di saat  yang cukup jauh antara dua shalat fardhu seperti pelaksanaan walimah di pagi hari atau malam setelah isya'.

Berkenaan dengan ini perlu seorang wanita perlu memahami aturan Islam mengenai make up. Yakni mereka boleh melakukan itu bila yang melihat make up itu adalah suaminya, mahramnya atau sesama wanita. Apabila dilihat oleh laki-laki yang bukan mahram maka ini bermasalah: Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan:

Perempuan boleh berhias dengan make up untuk suaminya. Dan dia boleh memakainya di hadapan para mahramnya

Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota) 
Abdurrazzaq `Afifi (Wakil Ketua)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 17/102 Pertanyaan pertama dari fatwa nomor 4962
 
Berikut ini juga petikan fatwa lain mereka:
Tidak ada larangan perempuan yang berhias dengan make up di wajahnya, memakai celak, dan memodifikasi rambut kepalanya dengan syarat tidak menyerupai orang kafir dan juga disyaratkan menutup mukanya dari pandangan lelaki yang bukan mahramnya.
 
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
 
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa 
Bakar Abu Zaid (Anggota)
Abdul Aziz Alu asy-Syaikh (Anggota) 
Shalih al-Fawzan (Anggota) 
Abdullah bin Ghadyan (Anggota) 
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz(Ketua) 
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 17/129 Pertanyaan Kedua dari Fatwa Nomor 15903
 
Perlu difahami juga bahwa seorang wanita tidak boleh bersalaman dengan laki-laki yang bukan mahram. Diantara dalilnya adalah: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
 

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ 

 

“lebih baik kepala salah seorang dari kalian Ditusuk dengan jarum besi daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” HR. Ath-Thabrani di al-Mu'jam al-Kabir no. 486

 Wallahu ta'ala a'lam

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com