SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Hamil Diluar Nikah dan Tinggal Satu Rumah Tanpa Ikatan


Akhwat (Jakarta)
2 months ago on Ibadah

Asslamualaikum wr.wb ustad Sy ingin sekali berhijrah ustad. Tetapi posisi saya, sy sedang hamil dan belum menikah. Semntra itu sy juga msh tnggl satu rumah dengan pasangan yg bukan mukhrim saya. Yg mau sy tanyakan, apa yg hrs sy lakukan ustad agar sy bisa berhijrah, tetapi dilain sisi sy jga blm bisa meninggalkan dunia saya. Karna saya kepikiran akan anak saya kelak jika jauh dari ayahnya. Dan juga setiap saya mencoba medekatkan diri kepada ALLAH SWT itu tdk berlangsung lama. Karna pengaruh sekeliling saya juga ustad. Apa yang harus saya lakukan ustad, jika saya berhijrah tapi dalam posisi seperti ini . ? Apa hijrah saya diterima ?
Redaksi salamdakwah.com
2 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Kami bersedih mendengar cerita dari penanya. Semoga Allah ta'ala menguatkan hati penanya untuk bertaubat kepada Allah ta'ala dan meninggalkan hal-hal yang bisa mengembalikan dia ke kubangan dosa sekali lagi. Yang perlu penanya lakukan sekarang adalah bertaubat kepada Allah ta'ala atas dosa-dosa melampaui batas dalam bergaul bersama lawan jenis, terkhusus zina dan berkumpul dengan laki-laki yang bukan mahram di satu tempat tanpa ada batasan.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan:  "kumpul kebo" merupakan perbuatan zina yang diharamkan menurut Alquran, Sunah, dan ijmak umat Islam. Kedua pasangan zina itu harus berpisah, bertobat kepada Allah, dan meminta ampun kepada-Nya. Apabila keduanya sudah bertobat dengan sungguh-sungguh lalu menikah secara syar'i, maka tidak ada lagi yang dipersoalkan...Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 22/24-25 Pertanyaan Kelima dari Fatwa Nomor:6575

Dalam Islam taubat adalah cara untuk mendapatkan ampunan Allah ta'ala. Sebesar apapun dosa seseorang selama nafasnya masih belum di tenggorokan karena sekarat dan selama matahari belum terbit dari barat maka pintu taubat masih diterima. Seseorang yang bertaubat harus memenuhi syarat taubat supaya taubatnya diterima, diantaranya berhenti seketika dari perbuatan maksiatnya, menyesali perbuatan maksiatnya serta bertekad untuk tidak kembali lagi ke maksiatnya. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi menerangkan:

Pintu tobat selalu terbuka bagi semua pelaku maksiat bahkan kafir sekalipun hingga matahari terbit dari barat (Hari Kiamat). Syarat tobat atas pelanggaran terhadap hak Allah adalah berhenti dari perbuatan dosa, menyesali dosa yang telah lalu, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Pelaksanaan hukum had tidak termasuk dalam syarat tobat. Allah Ta'ala berfirman,


قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا


Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya". 


dan

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا


Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana...
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota)     
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)    
Abdurrazzaq Afifi (Wakil Ketua)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/349-350 fatwa no.7803

Tutupilah dosa anda di masa lalu dan jangan disebarluaskan. Ulama' yang duduk di Komite Tetap riset Ilmiah dan Fatwa menerangkan:

Sebaiknya seseorang yang jatuh dalam perbuatan maksiat berupaya untuk menutupi dan tidak mengumbar dosanya dengan tirai Allah. Ia harus meminta ampun dan bertobat kepada Allah dengan tulus. Sebab, ada hadis yang diriwayatkan oleh Baihaqi "

اجتنبوا هذه القاذورات التي نهى الله عنها، فمن ألم بشيء من ذلك فليستتر بستر الله تعالى، وليتب إلى الله، فإنه من يبد لنا صفحته نقم عليه كتاب الله

Jauhilah perbuatan-perbuatan keji yang dilarang Allah. Barangsiapa melakukannya, maka hendaklah ia bersembunyi dengan tirai Allah dan bertobat kepada-Nya, karena sesungguhnya orang yang tampak catatan kesalahannya kepada kami, maka kami akan terapkan hukum Allah atasnya." Menurut adz-Dzahabi, sumber hadis tersebut adalah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Hukum had dalam syariat atas tindakan kriminal ini dikembalikan kepada hakim syar'i. Ia yang memiliki kewenangan untuk memutuskannya berdasarkan aturan dan kondisi terkait.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud (Anggota)     
Abdullah bin Ghadyan (Anggota)    
Abdurrazzaq Afifi (Wakil Ketua)
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 24/349-350 fatwa no.7803

Setelah bertaubat jauhilah lingkungan buruk yang bisa menarik anda kembali berbuat maksiat kepada Allah ta'ala, baik itu lingkungan di dunia nyata atau dunia maya. Dalam salah satu riwayat disebutkan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ، فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لَا، فَقَتَلَهُ، فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ، فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللهَ فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ، وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ، فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ

Dahulu, di zaman orang-orang sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 jiwa. Dia pun bertanya tentang orang yang paling alim di muka bumi ketika itu, lalu ditunjukkan kepadanya tentang seorang rahib (pendeta, ahli ibadah). Maka dia pun mendatangi rahib tersebut lalu mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 99 jiwa, apakah ada taubat baginya?

Ahli ibadah itu berkata: “Tidak.” Seketika laki-laki itu membunuhnya. Maka dia pun menggenapi dengan itu (membunuh rahib) menjadi 100 jiwa. Kemudian dia menanyakan apakah ada orang yang paling alim di muka bumi ketika itu? Lalu ditunjukkanlah kepadanya tentang seorang yang berilmu. Maka dia pun mengatakan bahwa sesungguhnya dia telah membunuh 100 jiwa, apakah ada taubat baginya? Orang alim itu berkata: “Ya. Siapa yang menghalangi dia dari taubatnya? Pergilah ke daerah ini dan ini. Karena sesungguhnya di sana ada orang-orang yang senantiasa beribadah kepada Allah, maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Dan jangan kamu kembali ke negerimu, karena negerimu itu adalah negeri yang buruk/jahat...” HR. Muslim no.2118 dan diriwaytakan juga oleh yang lain.

Semoga Allah ta'ala menerima taubat penanya dan menerima taubat kami semua. Oleh karena itu penanya harus keluar dari rumah itu atau mengusir laki-laki itu dari rumah sehingga tidak terjadi lagi kumpul kebo. Apabila keduanya sudah bertaubat maka bisa menikah dan berkumpul lagi. 

Terkait anak dan masa depannya, penanya tidak perlu khawatir tentang itu karena Allah ta'ala menjamin rizki anak. Allah Ta’ala berfirman,


وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

“Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepada kalian dan kepada mereka” (QS al-An’am: 151)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,



وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ


“Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena khawatir miskin. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepada kalian” (QS al-Isra’: 31)

Ini pun terbukti di dunia nyata di mana faktanya, tidak mesti anak yang hidup tanpa ayah akan sengsara, susah makan dan susah sekolah dll, ini bila yang terjadi adalah pihak laki-laki pasangan kumpul kebo tidak mau untuk bertaubat. Apabila dia mau bertaubat maka penanya dan laki-laki itu serta si anak akan bisa berkumpul lagi, dan ini juga memungkinkan untuk terjadi.
 

Wallahu ta'ala a'lam

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com