SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

musik instrument dan nyanyian berbahasa jepang


Ikhwan (bekasi)
7 months ago on Fiqih

assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ustad afwan saya mau bertanya tentang tiga hal tentang musik 1. apa hukum musik instrumental ( musik yg tdk ada suara penyanyinya) , apakah hukuk nya boleh ? karena kan salah satu diharamkannya musk yaitu karena adanya lirik lagu yang menyesatkan manusia 2. apa hukum musik yg di mana musiknya itu berbahasa jepang , sehingga kita tidak tau arti lirik lagu tersebut , apakah boleh hukumnya ? karena kan salah satu diharamkannya musk yaitu karena adanya lirik lagu yang menyesatkan manusia 3. apakah kita boleh mendengarkan musik instrument/musik jepang jika hanya untuk menahan rasa ngantuk dan rasa jenuh, karena jika menahan ngantuk dengan cara minum kopi , detak jantungnya saya menjadi sangat cepat sehingga saya tidak bisa fokus dalam bekerja. dan jika saya tidur , hal itu tidak produktif karena saya harus kerjar deadline, jadi saya harus terus bekerja dalam waktu yg lama mohon jawabannya ustad wassalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh
Redaksi salamdakwah.com
6 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Permasalahan musik adalah masalah yang kadang kita dapati adanya pendapat yang berbeda-beda mengenai hukumnya. Kami pribadi meyakini bahwa musik perlu dijauhi, sebab pengharamannya tidak hanya karena disertai oleh nyanyian yang menyesatkan. 

Rasul shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda: 

 لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ 

“Akan ada dari umatku suatu kaum yang menghalalkan zina dan sutera, khamar dan musik.” (HR. Bukhori, (5590)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan haramnya musik. Musik adalah alat yang melalaikan menurut ahli Bahasa. Nama ini mencakup semua alat.” (Majmu Fawa, 1/535).

Dia berkata, “Telah dimaklumi bahwa musik tidak terdapat pada tiga kurun terbaik sebagaimana yang disabdakan Nabi sallallahu alaihi wa slam, “Sebaik-baik kurun (masa) adalah masaku yang saya diutusnya kemudian setelahnya kemudian setelahnya.”

Tidak ada seorang pun, baik di Hijaz, Syam, Yaman, Iraq, Mesir, Khurasan, yang dikenal  baik dan taat beragama berkumpul untuk mendengarkan sesuatu yang dari ahli bid’ah  dengan tujuan perbaikan hati. Oleh karena itu para Imam memakruhkannya seperti Imam Ahmad dan lainnya. Bahkan Imam Syafi’i menggolongkan musik sebagai  bid’ahnya orang zindik. Beliau mengatakan, “Ketika saya meninggalkan Bagdad ada perbuatan baru yang dilakukan orang Zindik, mereka namakan ‘Tagbir’ yang dapat menghalangi orang dari Al-Qur’an.” (Majmu Fatawa, 10/77).

Ibnu Qoyim mengatakan, “Kalau seruling yang merupakan alat yang melalaikan paling ringan pengharamannya, bagaimana dengan yang lebih berat lagi. Seperti kecapi, mendalin, suling dari bulu. Tidak selayaknya orang yang berilmu bersikap menunggu akan pengharaman itu – maksudnya nyanyian dan musik- minimal dikatakan bahwa ia adalah syiarnya orang fasik dan peminum khamar.”  (Igotsatul Lahfan, 1/228).

Alat-alat musik ini kalaupun tidak ada kata-kata (jorok), maka ia tetap menimbulkan penyakit hati dan tidak memperbaikinya.

Allah telah menjadikan bagi manusia yang lebih baik dari musik yaitu Kitab-Nya, Dia yang berbicara. Maka bacalah dan dengarkan dari para qurro', semoga Allah mengaruniakan kepada penanya suara yang merdu. Penanya akan melihat perbedaan besar dalam hidup dan hati anda setelahnya. Sungguh Allah telah memberikan hidayah kepada banyak orang sebelumnya kafir, dengan mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an Karim. Maka penanya lebih layak menjadi orang yang pertama untuk hidayah itu sebelum orang lainnya.

penanya boleh  menghibur dengan apa yang Allah ciptakan baik berupa suara burung deburan ombak. Itu adalah suara-suara Allah ciptakan dan dapat menentramkan hati , bukan dari peralatan yang dilarang agama untuk digunakannya.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam saja mencoba menghindari alat musik yang sederhana, seperti suara seruling. Dari Nafi’ pembantu Ibnu Umar berkata:

 

سَمِعَ ابْنُ عُمَرَ صَوْتَ زَمَّارَةِ رَاعٍ فَوَضَعَ إِصْبَعَيْهِ فِى أُذُنَيْهِ وَعَدَلَ رَاحِلَتَهُ عَنِ الطَّرِيقِ وَهُوَ يَقُولُ : يَا نَافِعُ أَتَسْمَعُ ؟ فَأَقُولُ : نَعَمْ ، قَالَ : فَيَمْضِى حَتَّى قُلْتُ : لاَ ، قَالَ : فَوَضَعَ يَدَيْهِ وَأَعَادَ الرَّاحِلَةَ إِلَى الطَّرِيقِ ، وَقَالَ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَسَمِعَ صَوْتَ زَمَّارَةِ رَاعٍ فَصَنَعَ مِثْلَ هَذَا 

“Ibnu Umar mendengar suara seruling penggembala, maka beliau memasukkan jemarinya di telinganya dan mengalihkan  kendaraannya ke jalan lain. Sementara itu beliau berkata, “Wahai Nafi’ apakah anda (masih) mendengarnya?” Saya jawab, “Ya.”  Beliau berjalan sampai saya mengatakan, “Tidak (terdengar suara serulingnya).” Maka beliau menaruh jemarinya dan mengembalikan kendaraan di jalan semula. Dan berkata, “Saya melihat Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam ketika mendengar seruling penggembala, lalu melakukan seperti ini.” (HR. Abu Dawud, no. 4924 dinyatakan shahih AlAlbany dalam kitab ‘Tahrim Alat Tharbi, hal. 116).islamqa.info

wallahu ta'ala a'lam

 

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com