SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Mengadukan Perbuatan Kawan Ke Orangtuanya


Ikhwan (Bekasi)
4 months ago on Keluarga

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Saya mengetahui teman saya sering melakukan hubungan suami istri dengan kekasihnya, dan fatalnya orang tua dia tidak tahu mengenai masalah itu dan selalu mengizinkan anaknya jalan dengan kekasihnya. Padahal sudah saya nasihati tapi tidak didengar. pertanyaan saya bolehkah jika saya memberitahu aib teman saya kepada orang tuanya mengingat jika tidak seperti itu maka mereka tidak akan jera dan sadar akan perbuatannya .. makasih ustadz
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

 

وعيلكم السلام ورحمة الله وبركاته

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه

Nahi mungkar yang anda lakukan merupakan bentuk kebaikan yang perlu dipraktekkan oleh seluruh kaum muslimin, mengingat ketika amar ma`ruf dan nahi munkar ini terwujud, maka kemaslahatan manusia dan kestabilan keadaan mereka akan didapatkan dan umat ini akan menjadi sebagaimana yang dipuji oleh Allah dengan firman-Nya,  

{كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ}

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

Orang yang melakukan tugas ini harus menasihati orang-orang yang hatinya keras dengan cara yang dapat melembutkan hati mereka, menenteramkan jiwanya, dan mau taat dan beribadah kepada Allah. Dia harus mengadakan perdebatan dengan orang yang mempunyai kerancuan pikiran dengan cara yang baik sehingga kebenaran menjadi terang dan jelas baginya lalu dia mengikuti jalan yang lurus (benar). Allah Ta`ala berfirman,  

{ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ}

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. 

Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya: Apa hukum Islam mengenai perbuatan amar ma`ruf nahi munkar berdasarkan kepada Kitabullah, Sunah Rasul-Nya, hadis-hadis dan riwayat yang disebutkan di atas, manhaj salaf saleh, dan sikap pemimpin dan rakyat terhadap amar ma`ruf?

 
Mereka menjawab: Kaum muslimin harus memiliki sekelompok orang yang menyeru kepada kebaikan dan melakukan amar ma`ruf dan nahi munkar. Allah Ta`ala berfirman,  ( Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.)
 
Ketika amar ma`ruf dan nahi munkar ini terwujud, maka kemaslahatan manusia dan kestabilan keadaan mereka akan didapatkan dan umat ini akan menjadi sebagaimana yang dipuji oleh Allah dengan firman-Nya,  ( Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.)
 
Orang yang melakukan tugas ini harus menasihati orang-orang yang hatinya keras dengan cara yang dapat melembutkan hati mereka, menenteramkan jiwanya, dan mau taat dan beribadah kepada Allah. Dia harus mengadakan perdebatan dengan orang yang mempunyai kerancuan pikiran dengan cara yang baik sehingga kebenaran menjadi terang dan jelas baginya lalu dia mengikuti jalan yang lurus (benar). Allah Ta`ala berfirman,   (Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.)
 
Kaum muslimin dalam menjalankan kewajiban ini terbagi dalam beberapa tingkatan. Ada yang menyeru kepada kebaikan dan berjanji untuk melaksanakannya dengan tangannya, seperti para pemegang kebijakan, baik bersifat umum seperti presiden dan wakilnya maupun yang bersifat khusus, seperti bapak dan orang yang menempati posisinya. Ada yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan lisannya, seperti ulama dan orang yang sama kedudukannya dengan mereka. Ada yang tidak mempunyai pengaruh, kekuasaan, dan kekuatan berbicara sehingga dia wajib mengingkari kemungkaran dengan hatinya. Ini berdasarkan riwayat sahih dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam yang bersabda,   "Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya dan itulah iman yang paling lemah."
 
Barangsiapa mengabaikan kewajibannya ini, maka dia berdosa dan dia sama dengan orang yang disebut oleh Allah,   (Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.(78) Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.(79) Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan.)
 
Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Ghadyan (Anggota) 
Abdurrazzaq Afifi (Wakil Ketua Komite) 
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz (Ketua)
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 12/337-338 Pertanyaan Pertama dari Fatwa Nomor:10719
 
Syaikh Ibnu Baz menerangkan juga: Seorang Muslim wajib menasihati saudaranya apabila ia melihat saudaranya tersebut melakukan kemungkaran walaupun ia tahu bahwa saudaranya itu menyadari bahwa perbuatan yang dilakukannya adalah perbuatan mungkar. Hal ini sesuai firman Allah Subhanahu wa Ta'ala,   (dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa)
 
Dan firman Allah 'Azza wa Jalla,   (Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.) dan seterusnya
 
Serta sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam,   "Agama adalah nasihat." Ia ditanya, "Bagi siapa, Rasulullah?" Ia menjawab, "Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan bagi kaum Muslimin pada umumnya."
 
Dan sabdanya Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, "Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaklah ia mengubahnya dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka hendaklah ia mengubahnya dengan hati dan itulah iman yang paling lemah." Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Shahihnya. Wabillahittaufiq.

Jilid Kelima dari Kumpulan Fatwa dan kumpulan artikel karya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Baz.
 
Kejelekan yang anda buka dihadapan orang tua pelaku tidaklah termasuk ghibah yang dilarang dalam Islam karena memang orang tua pelakulah yang memiliki kekuasaan untuk merubah kemungkaran dengan tangannya sebagaimana yang disebutkan dalam fatwa Lajnah Daimah di atas.
 
Berikut ini kami bawakan terjemahan keterangan imam an-Nawawi dalam masalah ghibah," 

“Ghibah dibolehkan untuk tujuan syar’i. Demikian itu bolehn untuk enam sebab. Pertama: Mengadukan kezhaliman. Lantaran itu, boleh bagi yang terzhalimi untuk mengadukan kezhaliman seseorang kepada penguasa dan hakim, serta yang lainnya dari kalangan orang yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk memberikannya keadilan dari yang menzhaliminya, seraya berkata, “Si fulan telah menzhalimi aku”, atau “Dia telah melakukan demikian pada diriku”.

Kedua: meminta pertolongan dalam mengubah kemungkaran, dan mengembalikan si pelaku maksiat kepada kebenaran. Maka dia (yang meminta pertolongan) berkata kepada orang yang ia harapkan kemampuannya untuk menolong, “Si fulan melakukan demikian, maka cegahlah ia berbuat itu”, dan semisalnya.

Ketiga: Meminta fatwa, dengan cara ia berkata kepada si mufti, “Si fulan telah menzhalimi aku, bapakku, saudaraku, suamiku dengan perbuatan demikian. Bolehkah dia berbuat itu? Apa solusi bagiku agar selamat darinya, dan mencegah kezhalimannya dariku?”, dan semisal itu. Ini boleh jika diperlukan. Yang terbaik, ia katakan tentang seorang lelaki, suami, atau orang tua dan anak, “Diantara permasalahanya demikian”. Meski demikian, menentukan orangnya adalah boleh berdasarkan hadits Hindun dan ucapannya, “Sesungguhnya Abu Sufyan adalah suami yang kikir”.

Keempat: Men-tahdzir (memperingatkan) kaum muslimin tentang suatu keburukan. Hal seperti ini ada beberapa bentuknya. Diantaranya, men-jarh (mencacat) orang-orang cacat dari kalangan para periwayat, saksi, dan penulis. Hal itu boleh berdasarkan ijma’ (kesepakatan). Bahkan itu wajib demi menjaga syari’at. Diantaranya juga, mengabarkan aibnya ketika bermusyawarah dalam meneruskannya. Termasuk juga dalam hal ini, jika anda melihat seorang yang akan membeli sesuatu yang cacat atau hamba sahaya (yang suka mencuri, tukang zina atau pemabuk dan sejenisnya). Anda menyebutkan aibnya kepada si pembeli itu, jika ia belum mengetahui hal itu. Ini sebagai bentuk nasihat baginya, bukan untuk tujuan menyakiti dan merusak. Diantaranya juga, jika anda melihat seorang pelajar yang berbolak-balik kepada seorang yang fasiq, atau ahli bid’ah, sedang ia mengambil ilmu darinya, dan anda khawatirkan madhorot akan menimpa dirinya, maka wajib bagi anda menasihatinya dengan menjelaskan kepadanya tentang kondisi si fasiq/ahli bid’ah itu didasari niat menasehati. Termasuk pula, jika seseorang memiliki tugas namun ia tak kerjakan sebagaimana mestinya karena dia tidak memiliki kecakapan atau karena kefasiqannya. Maka ia (penasihat) menyebutkan aibnya bagi orang yang memiliki kekuasaan atasnya, agar dijadikan petunjuk tentang kondisinya. Sehingga ia (yang dinasihati) tak tertipu dengan orang itu, dan ia tetap istiqomah”.

Kelima: jika seseorang menampakkan kefasiqan atau bid’ahnya, seperti minum khomer, menyita harta masyarakat, memungut pajak, melakukan perkara-perkara batil. Boleh menyebutkannya dengan dosa yang ia tampakkan, dan tak boleh yang lain, tanpa ada sebab lain.

Keenam: memperkenalkan seseorang. Jika ia terkenal dengan suatu gelar, seperti: Al-A’masy (si juling), Al-A’rooj (si pincang), Al-Azroq (sejenis burung elang), Al-Qoshir (si pendek), Al-A’maa (si buta), Al-Aqtho’ (yang putus tangannya), dan sejenisnya, maka boleh memperkenalkannya dengan hal itu. Namun haram menyebutnya dengan hal itu demi merendahkannya. Jika mungkin memperkenalkannya dengan selain hal itu, maka itulah yang lebih utama, wallahu a’lam“. Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim Ibn Al-Hajjaj 16/142-143

والله تعالى أعلم بالحق والصواب
© 2019 - Www.SalamDakwah.Com