SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Istri Marah


Ikhwan (Timika papua)
2 weeks ago on Keluarga

Istri memarahi suaminya dengan kalimat makian dan membentaknya
Redaksi salamdakwah.com
2 weeks ago

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه


Apabila makian itu disertai dengan celaan dan perendahan martabat suami maka ini adalah perbuatan dosa. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


" سِبَابُ المُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ"

"Mencaci muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran." Muttafaq Alaihi

Wanita yang membentak dan memaki suaminya berarti dia tidak begitu memahami hak suami. Dalam salah satu riwayat disebutkan


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى، قَالَ: لَمَّا قَدِمَ مُعَاذٌ مِنَ الشَّامِ سَجَدَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَا هَذَا يَا مُعَاذُ؟» قَالَ: أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَافَقْتُهُمْ يَسْجُدُونَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ، فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ نَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَلَا تَفْعَلُوا، فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللَّهِ، لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ»

“Dari Abdillah Ibnu Abi ‘Aufa berkata: Tatkala Muadz tiba dari Syam (ke Madinah) maka ia langsung sujud kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata: “Apa ini wahai Muadz ?” Muadz menjawab: “Saya telah mendatangi Syam ternyata mendapatkan mereka (orang-orang Nashrani) sujud kepada uskup-uskup dan para pendeta mereka, maka terbesit dalam hati saya untuk melakukan hal itu terhadap engkau,” maka Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengatakan: ” Jangan kalian lakukan sesungguhnya aku seandainya memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada selain Allah tentu akan aku perintahkan perempuan sujud kepada suaminya, demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan-Nya wanita itu tidak menunaikan hak Rabb-nya sampai ia menunaikan hak suaminya, dan seandainya ia (sang suami) meminta dirinya untuk melayaninya sedangkan dia (sang isteri) lagi sedang masak maka dia tidak boleh menolaknya.”HR. Ibnu Majah no. 1853

Wanita yang bila marah melakukan hal yang demikian berarti dia punya sifat yang menyelisihi sifat wanita penghuni surga. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَلَاْ أُخْبِرُكُم بِرِجَالِكُم فِي الجَنَّةِ ؟
النَّبِي فِي الجَنَّةِ ، وَالصِّدِّيقُ فِي الجَنَّةِ ، وَالشَّهِيدُ فِي الجَنَّةِ ، وَالمَوْلُودُ فِي الجَنَّةِ ، وَالرَّجُلُ يَزُورُ أَخَاهُ فِي نَاحِيَةِ المِصْرِ - لَاْ يَزُورُهُ إِلَّا لِلَّهِ - فِي الجَنَّةِ.
أَلَاْ أُخبِرُكُم بِنِسَائِكُم فِي الجَنَّةِ ؟
كُلُّ وَدُودٍ وَلُودٍ ، إِذَا غَضِبَت أَو أُسِيءَ إِلَيهَا أَو غَضِبَ زَوجُهَا ، قَالَت : هَذِه يَدِي فِي يَدِكَ ، لَاْ أَكْتَحِلُ بِغُمضٍ َحتَّى تَرضَى

"Maukah kalian aku beritahu laki-laki di antara kalian yang menjadi penghuni surga?! Nabi di surga, orang yang jujur di surga, orang yang mati syahid di surga, anak yang meninggal saat dilahirkan di surga, seseorang yang mengunjungi saudaranya di ujung kota semata karena Allah di surga.

Maukah kalian aku beritahu wanita di antara kalian yang menjadi penghuni surga?! Setiap wanita yang penuh kasih (kepada suaminya), banyak keturunannya, jika dia (istri) marah, atau suaminya marah kepadanya, dia berkata, 'Tanganku di tanganmu, mataku tak dapat terpejam sebelum engkau ridha kepadaku."

Diriwayatkan dari hadits Anas dan Ibnu Abbas dan Ka'ab bin Ajurah radhiallahu anhum. Dikeluarkan oleh Nasa'i dalam Sunan Nasa'i Al-Kubro, 5/371, Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Kabir, 19/14, Al-Ausath, 2/242, 6/301, Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah, 4/303. Syekh Al-Albany berkata, para perawinya tsiqah standar perawi Imam Muslim, hanya saja ada perawi yang bercampur, akan tetapi hadits ini memiliki beberapa riwayat yang menguatkan, As-Silsilah Ash-Shahihah, 287 dan 3380)

Namun perlu difahami bahwa ini tidak bermakna seorang wanita selalu menjadi pihak yang salah dan suami adalah menjadi pihak yang benar. Suami bisa menjadi pihak yang salah sebagaimana istri juga bisa demikian. Apabila suami salah maka istri wajib menasehatinya dengan cara yang bijaksana tanpa harus memaki dan merendahkan kehormatan suami, bahka bila perlu sampai seorang istri mengajukan cerai (bila kesalahan suami fatal) namun istri tetap tidak perlu mencela dan memaki, sebagaimana suami juga harus bermuamalah dengan baik kepada istri dan anak-anaknya tanpa ada celaan dan makian dst.

Suami yang mendapati istrinya punya akhlak yang buruk sebagaimana yang disebutkan dalam pertanyaan kami sarankan kepadanya untuk introspeksi diri, apakah hubungannya dengan Allah sudah baik ataukah tidak. Karena maksiat juga bisa menjadi pemicu hubungan buruk dengan keluarga. Ibnu Katsir menukil perkataan Fudhail bin Iyadh

إني لأعصي الله فأعرف ذلك في خلق حماري وخادمي وامرأتي وفأر بيتي.

Aku bermaksiat kepada Allah dan aku mengetahui itu pada akhlak keledaiku, pembantuku, istriku dan tikus di rumahku

Dia juga perlu introspeksi diri apakah muamalah dia ke istri sudah bagus atau belum, bisa jadi sikap demikian istri untuk membalas sikap serupa dari suami. Semoga Allah ta'ala memperbaiki keluarga penanya dan keluarga kaum muslimin.

Wallahu ta'ala a'lam

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com