SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Bagaimana Sikap Seorang Istri Terhadap Suami yang Mencuri Harta Mertuanya


Akhwat (Serang - BANTEN)
2 weeks ago on Keluarga

Assalamualaikum Wr Wb. Pak Ustad, saya mau tanya bagaimana menyikapi dan solusi saya sebagai istri pada suami yang telah berbohong dalam menafkahi istrinya? Suami saya pengangguran tidak bekerja. Kejadiannya, pas pulang bersilaturahmi dari orang tua saya, 2 hari kemudian ada telp dari orang tua saya bahwa emas ibu saya hilang terus menanyakan apakah saya ngambil emas ibu saya?? saya jawab tidak bu, bahkan saya tanya sama suami perihal kehilangan emas itu tapi suami bilang tidak mengambil. keluarga besar saya positif thingking saja akhirnya mengihklaskan. tapi anehnya setiap saya sama suami saya bersilaturahmi ke orang tua saya pasti ada saja yang hilang, fatalnya uang ibu saya hilang hampir 5 juta setelah kita main ke rumah ibu saya sontak saja keluarga menuduh sama suami saya karena tidak ada orang lain lagi dan ada saksi juga. Saya selaku istri langsung bertanya sama suami apakah yang melakukan itu suami saya? Awalnya suami saya kekeh tidak mengakui perbuatannya itu tapi saya selalu desak akhirya suami mengakui perbuatannya. Pantas saja setiap balik dari tempat ibu suami selalu punya uang, dan saya juga sempat curiga dan bertanya uang dari mana tapi suami selalu jawab ada bisnis sama teman. namanya istri yaudah percaya saja. Saya suruh suami minta maaf ke orang tua saya dan harus bertanggung jawab, tapi pak ustad sampe sekarang suami belum berani minta maaf dan datang langsung ke ibu saya dengan alesan malu. Akhirnya kluarga besar jengkel dengan sikap suami saya yg tidak datang-datang ke rumah, sampai ibu menyuruh saya bercerai dengan suami saya dan saya di cap ANAK DURHAKA sam IBU. Suami sudah menyadari kesalahannya dan mau mengganti semua yang sudah di ambilnya dari ibu saya tapi untuk minta maaf dan langsung datang ke ibu saya belum bisa dengan alesan malu itu. Pak Ustad, Apakah saya berdosa masih ngebela suami saya dan mempertahankan rumah tangga saya walau keluarga saya membenci saya? Terus Pak Ustad Apakah Saya juga disebut anak durhaka sam ibu kandung saya? dan harus bagaimana sikap saya sam suami? Mohon Pencerahannya pak Ustad, Terimakasih Wassalamualaikum Wr WB...
Redaksi salamdakwah.com
2 weeks ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Hal pertama yang harus dilakukan oleh suami anda adalah mengembalikan barang yang dicurinya. Diantara syarat taubat dari mencuri adalah pengembalian barang, bahkan bila pencurian itu dilakukan saat sebelum pencuri itu mencapai usia akil baligh. 

Apa yang Anda ambil sebelum masa baligh harus dikembalikan bila barangnya masih ada, namun bila barangnya sudah rusak maka anda perlu menggantinya atau yang senilai dengannya. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya 
Sejak kecil saya melihat ayah saya meletakkan sesuatu yang berupa uang atau sesuatu yang bermanfaat saya suka mengambilnya tanpa sepengetahuan beliau. Setelah saya dewasa saya takut kepada Allah dan saya tinggalkan seluruh perbuatan ini. Sekarang apakah boleh saya memberikan pengakuan di hadapan ayah saya tentang hal itu ataukah tidak ?

Anda wajib mengembalikan apa yang anda curi dari ayah anda yang berupa uang dan yang lainnya kecuali bila apa yang anda curi nilainya kecil digunakan untuk memberi nafkah maka kala itu tidak apa-apa.

Abdullah bin Ghadyan selaku anggota
Abdurazzaq Afifi selaku wakil ketua
Abdul Aziz bin Abdullah bin baz selaku ketua
Fatawa al-lajnah ad-Daimah 12/352-353 fatwa no.13605

Ada pertanyaan lain juga yang ditujukan kepada Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan fatwa Arab Saudi: Saat masih kecil, bertahun-tahun silam, kami dalam kondisi labil, bodoh, dan kelaparan, hingga akhirnya kami mencuri beberapa binatang ternak. Sekarang saya bertobat dan ingin melunasi kewajiban saya kepada orang lain. Saya perlu menanyakan beberapa hal berikut ini:
1. Saya pernah mencuri kapulaga senilai 120 riyal empat puluh tahun yang lalu dan ingin saya bayar sekarang. Apakah pembayarannya disesuaikan dengan harga sekarang, atau harga jual pada waktu itu?
2. Saya pernah mencuri beberapa ekor kambing, dan dari kambing tersebut ada hasil harta lain dan berkembang. Apakah saya cukup membayar beberapa ekor kambing (sesuai jumlah yang dicuri) atau saya harus menyerahkan kambing-kambing itu beserta seluruh hasilnya yang telah berkembang?
3. Apabila saya mencuri bersama rekan lainnya, apakah saya cukup membayar kewajiban saya saja, atau bagaimana?
Semoga Allah menjaga Anda semua.

Mereka menjawab: 
Kapulaga yang Anda curi harus dikembalikan kepada pemiliknya dengan nilai yang sama saat Anda curi, jika pemiliknya masih hidup. Atau, dapat Anda berikan kepada ahli warisnya (jika pemiliknya sudah meninggal dunia). Apabila itu semua tidak memungkinkan, maka Anda harus menyedekahkannya kepada kaum fakir dengan niat sedekah atas nama pemilik harta tersebut. 
Apabila setelah Anda bersedekah ternyata pemiliknya datang, atau Anda mengetahui tempat tinggal ahli warisnya, maka Anda harus menyerahkannya senilai harta itu. Insya Allah, Anda akan mendapatkan pahala bersedekah. Mengenai kambing yang Anda curi, Anda harus mengembalikannya kepada pemiliknya, beserta seluruh hasil yang telah berkembang, jika pemiliknya masih hidup. Atau boleh kepada ahli warisnya jika mereka ada. Jika mereka tidak ada atau tidak diketahui, maka Anda dapat memperkirakan nilai kambing itu ketika dicuri sekaligus nilai harta yang telah berkembang, kemudian Anda sedekahkan atas nama pemiliknya. 

Apabila pemiliknya datang, atau Anda mengetahui keberadaannya atau ahli warisnya di mana pun mereka berada, maka Anda harus menyerahkan kambing tersebut beserta harta yang telah berkembangbiak, atau yang senilai dengan itu, sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Insya Allah, Anda akan mendapatkan pahala bersedekah. Jika Anda melakukan pencurian tersebut bersama rekan, maka Anda dapat membebaskan sejumlah tanggungan Anda dengan mengembalikan apa yang Anda curi kepada pemilik, atau bersedekah sesuai nilai harta curian atas nama pemiliknya (Ini jika Anda tidak menemukan pemilik atau ahli warisnya, sama seperti sebelumnya). Selain itu, Anda harus bertobat dengan sebenar-benarnya dan tidak mengulangi tindakan buruk seperti itu. Anda harus menasihati rekan yang terlibat dalam pencurian supaya mereka membebaskan tanggungan kewajiban mereka atas perbuatan yang mereka lakukan, sambil memperingati mereka akan beratnya siksaan Allah. Mengambil harta orang lain adalah tindakan kezaliman atas mereka. Itu semua tidak dapat gugur kecuali dengan mengembalikan hak-hak mereka, atau hingga pemiliknya mau memaafkan dan merelakan haknya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Bakr Abu Zaid selaku  Anggota    
Shalih al-Fawzan selaku Anggota    
Abdullah bin Ghadyan  selaku Anggota    
Abdul Aziz Alu asy-Syaikh selaku Wakil Ketua    
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa 11/208-210 Fatwa Nomor:20777

Oleh karena itu suami anda perlu mengembalikan semua yang dia curi dari ibu anda atau barang lain sebagai gantinya bila memang barang curiannya telah digunakan disertai permintaan maaf kepada ibu anda selaku pemilik barang. Apabila dia malu maka kami usulkan anda membawa barang yang dia curi atau gantinya kepada ibu anda sambil anda menyampaikan permintaan maaf dari suami anda. Kemudian suami anda datang lagi bersama anda ke ibu anda untuk meminta maaf secara pribadi saat tidak ada keluarga anda yang lain, selanjutnya suami anda meminta maaf ke keluarga anda lainnya satu persatu atas terjadinya masalah ini. 

Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu ta'ala menerangkan: Terkait orang yang ia kenal (yang ia ambil haknya dengan cara yang batil.pent), ia wajib mengembalikan hak mereka sesuai dengan usaha dia (usaha memperkirakan.pent) dan sesuai perkiraannya yang kuat. Atau ia meminta maaf dan meminta kerelaan hati ke mereka atas apa yang telah lalu dan apa yang telah terjadi. Adapun orang yang tidak dikenal dan tidak diketahui statusnya apakah ia meninggal atau masih hidup dan ahli warisnya pun tidak diketahui keadaannya maka ketika itu orang tersebut seharusnya mensedekahkan harta yang ia ambil dengan mengatasnamakan pemilik harta tersebut. Ini harus disertai taubat dari orang yang mengambil barang secara dholim dan kesungguhan dalam taubat ini. Dengan begini ia akan terlepas dari tanggungan insya Allah. http://www.binbaz.org.sa/mat/9338 

Sebagai istri anda harus terus mendorong suami anda untuk mengembalikan dan meminta maaf kepada ibu anda. Ingatkanlah suami anda bahwa perbuatan dosa sesama hamba yang tidak dibereskan di dunia akan menjadi beban beat di akhirat karena nanti yang dijadikan alat penebus kedholiman adalah amal baik padahal amal baik amat sangat diperlukan oleh seorang hamba. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ ، إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ  


“Siapa yang berbuat kedzaliman kepada saudaranya baik dari sisi kehormatan atau sesuatu hal, maka mohonlah dihalalkan darinya sekarang (pada hari ini) sebelum tidak berguna lagi dinar dan dirham. Kalau dia mempunyai amal shaleh, maka akan diambil darinya sesuai dengan kadar kedzalimannya. Kalau tidak mempunyai kebaikan, maka keburukan orang tersebut akan diambil dan dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari, no. 2449)

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda:


قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " الظُّلْمُ ثَلَاثَةٌ: فَظُلْمٌ لَا يَتْرُكُهُ اللهُ، وَظُلْمٌ يُغْفَرُ، وَظُلْمٌ لَا يُغْفَرُ، فَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُغْفَرُ فَالشِّرْكُ لَا يَغْفِرُهُ اللهُ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي يُغْفَرُ فَظُلْمُ الْعَبْدِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ، وَأَمَّا الظُّلْمُ الَّذِي لَا يُتْرَكُ فَظُلْمُ الْعِبَادِ فَيَقْتَصُّ اللهُ بَعْضَهُمْ مِنْ بَعْضٍ " 


“Kedzaliman itu ada tiga; kedzaliman yang tidak akan Allah biarkan, kedzaliman yang akan dia ampuni, dan kezhaliman yang tidak akan dia ampuni. Adapun kedzaliman yang tidak Allah ampuni adalah syirik, itu tidak akan Allah ampuni. Adapun kedzaliman yang akan diampuni adalah kedhaliman hamba (terhadap dirinya sendiri) dalam perkara yang ada antara dirinya dan Rabb-nya. Adapun kedzaliman yang tidak akan Allah biarkan adalah kezhaliman sesama hamba hingga Alah akan mengqishah yang satu dengan yang lain.” Hilyatul auliya' wa Tabaqat al-Ashfiya' 6/309 . Hadits ini hasan menurut syaikh al-Albani, lih. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah 4/560

Semoga Allah ta'ala memudahkan suami anda untuk bertaubat kepada Allah ta'ala dan dimudahkan menjalankan konsekwensi taubat tersebut. Semoga Allah ta'ala melapangkan dada ibu anda dan keluarga anda supaya mau memaafkan suami anda saat barang yang dicuri dikembalikan.

Wallahu ta'ala a'lam  

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com