SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Prioritas Suami Dalam Memberi Nafkah


Akhwat (Jawa barat)
4 weeks ago on Keluarga

Assalammualaikum wr. wb .... Mohon maaf ustadz, saya mau bertanya... Bagaimana sikap istri seharusnya, menghadapi saudara perempuan suami yang selalu meminta uang padahal keuangan suami hanya cukup untuk membayar hutang, menyisihkan untuk orangtuanya, membeli rokok, dan makan nya saja, bahkan seringkali temannya meminta uang.. Sedangkan istri bekerja untuk kebutuhannya sendiri tanpa bisa menikmati uang suami...maaf ustadz bukannya saya mengeluh, ketika saya ada saya InsyaAllah akan berikan...tapi posisinya keuangan kami memang hanya cukup untuk itu...bagaimana seharusnya saya memberi pengertian kepada suami ya ustadz?terimaksih sebelumnya, wassalammualaikum wr wb
Redaksi salamdakwah.com
4 weeks ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Yang perlu dilakukan istri adalah memberi pengertian kepada suami tentang prioritas dalam mengatur pengeluaran. Suami harus diberitahu tentang kewajibannya sebagai seorang kepala keluarga dan suami juga harus diberitahu tentang prioritas memberi nafkah dilihat dari sudut pandang syariat. 

Seorang kepala rumah tangga wajib untuk memberi nafkah lahir dan batin kepada istrinya, ia wajib untuk berusaha mencari rizki yang halal untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Allah ta’ala berfirman dalam surat Ath-Tholaq:7 

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ .

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.. 

Apabila seseorang lalai dalam mencukupi kebutuhan orang yang berada di bawah tanggungannya maka ia telah berdosa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ، عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ

Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa bila dia menahan makan budaknya. HR. Muslim no.996  

Dalam riwayat lain disebutkan

Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa bila dia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya. HR. Abu Daud no.1692  dan yang lainnya

Termasuk perbuatan dosa berdasarkan hadits di atas adalah seorang suami yang tidak memberikan nafkah kepada orang yang berada dibawah tanggungannya seperti istri dan anak-anaknya. 

Al-Imam ash-Shan'ani menerangkan," yang mereka beri nafkah adalah dan berhak atas nafkah itu adalah orang yang wajib diberi infak yakni istri-istri mereka, anak-anak mereka dan budak-budak mereka. Subulussalam 2/323 

Terkait prioritas memberi nafkah seorang suami perlu mencukupi kebutuhan dirinya sendiri kemudian istri, anak dan seterusnya. Dalam salah satu hadits disebutkan:


ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا» يَقُولُ: فَبَيْنَ يَدَيْكَ وَعَنْ يَمِينِكَ وَعَنْ شِمَالِكَ


"Manfaatkanlah uang ini untuk dirimu sendiri, bila ada sisanya maka untuk keluargamu, jika masih tersisa, maka untuk kerabatmu, dan jika masih tersisa, maka untuk orang-orang disekitarmu. HR. Muslim no.997

Setelah membawakan hadits di atas, imam Asy-Syaukani berkomentar: Apabila seseorang setelah berinfaq atas dirinya sendiri masih memiliki kelebihan maka ia wajib menginfaqkannya ke istrinya. Termasuk Ijma' ulama': Kewajiban seseorang untuk berinfaq atas istri, kemudian apabila masih berlebih maka ia menginfaqkannya ke kerabatnya. Asy-Syaukani, Nail Al-Awthor, Dar Al-Hadist, Mesir, 1413 H, Juz 6, hal.381

Imam an-Nawawi menerangkan," Apabila seseorang memiliki kewajiban  menafkahi beberapa orang yang membutuhkan maka perlu dilihat, apabila harta dan penghasilannya bisa digunakan untuk menafkahi mereka semua maka dia wajib menafkahi mereka semua, baik itu keluarga dekat maupun keluarga jauh. Apabila setelah ia menafkahi dirinya sendiri hartanya hanya cukup untuk nafkah satu orang maka menafkahi istri lebih didahulukan dibanding menafkahi kerabat. Ini disepakati oleh Ulama' Syafi'i sebab menafkahi istri lebih ditekankan. Menafkahi istri tidak gugur dengan berlalunya masa dan tidak gugur meski dalam keadaan sulit." Raudhatu ath-Thalibin 9/93

Salah seorang  ulama' Hanbali yang bernama Mardawi menerangkan:Ketahuilah bahwa yang benar dalam madzhab Hanbali adalah wajib menafkahi kedua orang tua (kakek nenek dan seterusnya), wajib menafkahi anak (cucu dan seterusnya) sesuai dengan yang makruf...ini bila ada kelebihan setelah menafkahi diri sendiri kemudian istrinya. Al-Inshaf fi Makrifati ar-Rajih min al-Khilaf 9/392

Dengan demikian apabila yang disampaikan oleh oleh penanya adalah fakta di lapangan maka telah terjadi kesalahan. Idealnya kebutuhan istri dan anak-anak lebih diutamakan dibandingkan dengan memberi adik dan teman-teman suami. Adik tidak masalah menerima tunjangan kebutuhan pokok hidup bila memang kebutuhan diri, istri dan anak sudah terpenuhi. Bila urutan prioritas ini tidak diterapkan maka suami telah berbuat kedholiman(ini jika orang-orang yang mendapatkan prioritas tidak rela haknya ditunda).

Terkait teknis mendakwahi dan memberi pengertian kepada suami, wallahu ta'ala a'lam, dilihat dari sisi teknis di lapangan seorang istri lebih tahu tentang karakter suami yang dengan itu istri bisa memilih cara terbaik supaya nasehat yang disampaikan bisa diterima seperti apakah suami mudah terpengaruh dengan tulisan atau audio atau audio visual, kemudian saat bagaimana suami biasanya mudah untuk menerima masukan apakah saat ia makan, saat habis shalat atau yang lain, istri juga lebih tahu bahwa kata-kata yang bagaimana yang bisa diterima suaminya, begitu pula tekanan suara dan intonasi. Namun secara umum ada arahan dalam mendakwahi seseorang. Allah ta'ala berfirman dalam surat an-Nahl ayat 125,


ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ


Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. 

Syaikh Sa'di menerangkan makna ayat tersebut," Berdakwahlah kepada jalan Rabb mu yang lurus yang mencakup ilmu yang bermanfaat dan amal shalih (baik dakwah itu kepada orang muslim atau orang kafir) dengan hikmah yakni menyesuaikan dengan keadaan, pemahaman, ucapan dan ketundukan objek dakwah.

Termasuk hikmah dalam berdakwah adalah:
- dakwah didasari dengan ilmu bukan dengan kebodohan
- memprioritaskan materi dakwah yang paling penting
- Mendahulukan apa yang mudah dicerna di benak dan pemahaman objek dakwah, dan mendahulukan yang mudah diterima dengan sempurna
- dilakukan dengan lembut dan halus

Apabila dakwah yang dilakukan dengan hikmah tidak diterima maka beralih ke cara selanjutnya yakni dengan al- Mauidhoh al-Hasanah yakni perintah dan larangan yang disertai dengan dorongan dan ancaman
- itu bisa dilakukan dengan menyebutkan dan memperinci maslahat dari perintah-perintah agama dan bisa dilakukan dengan menyebutkan dan memperinci mudhorot dari larangan agama. 
- atau dengan menyebutkan kemuliaan yang diberikan kepada orang yang melaksanakan aturan agama Allah dan menyebutkan kehinaan yang ditimpakan kepada orang yang tidak melaksanakan aturan agama Allah 
- atau menyebutkan pahala yang disegerakan dan pahala yang disiapkan nanti bagi orang-orang yang taat serta menyebutkan balasan yang disegerakan atau yang disiapkan nanti bagi orang-orang yang tidak mau taat 

Apabila objek dakwah berpendapat bahwa sikap dia benar atau dia mengajak orang kepada kebatilan maka dia diajak untuk berdiskusi dengan cara yang baik. Itulah metode-metode yang lebih dekat dengan kemungkinan diterimanya dakwah oleh objek dakwah baik itu ditinjau dari sisi logika atau nash. Taisir al-Karim ar-Rahman 452 

Semoga Allah ta'ala memberikan kemudahan untuk suami-istri tersebut menata keluarganya dengan baik sesuai dengan yang digariskan oleh Allah ta'ala. 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com