SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Ingin Menikahi Seorang Perempuan Namun Maharnya Tinggi


Ikhwan (DKI Jakarta)
9 months ago on Aqidah

Assalamualaikum. bismillah,saya igin menceritakan pengalaman saya. saya mempunyai pacar yg sudah tidak perawan.kami menjalani pacaran sudah 3tahun. #maaf. Saya pernah zina sama dia. saya ingin sekali untuk menikahi dia,karna saya pikir saya sbg lelaki saya ingin bertanggung jawab atas apa yg pernh kami lakukan(berzina). saya ingin memperbaiki diri,saya ingn taubat. tpi perkara yg sedang saya hadapi ini,dia meinta mahar yg cukup memberatkan saya,karna menurut dia,dia adalah keluarga yg cukup terhormat. tolong berikan saya pencerajan ustads. terimakasih.
Redaksi salamdakwah.com
8 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Terkait masalah zina, pacaran dan menikah dengan pacar yang sudah dizinai silahkan membuka jawaban kami di link berikut dan membacanya: 

http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/8937-pacar-masih-sayang

 

Setelah membaca dan melaksanakan apa yang tertuang di tulisan tersebut kami sarankan kepada penanya untuk memberikan masukan kepada wanita itu (bila dia sudah bertaubat dan akan dinikahi) terkait mahar dan ongkos nikah yang bagusnya tidak mahal, supaya mendapatkan keberkahan. Rasul shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

 

أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَئُونَةً 

 

‘Perkawinan yang paling tinggi keberkahannya adalah perkawinan yang paling ringan ongkosnya,’HR. Ahmad 24595, dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Al-Iraqi menerangkan sanadnya jayyid


Apabila wanita itu tetap ingin mahar tinggi maka penanya bisa berhutang untuk memenuhi mahar itu bila memang ada perkiraan kemampuan untuk membayarnya di kemudian hari. Dalam salah satu keterangannya syaikh Utsaimin menyebutkan:
Sumbangan-sumbangan: Di mana sumbangan dititipkan di pengumpulan dana tertentu. Kemudian pemuda yang ingin menikah diberi hutang dari pengumpulan sumbangan ini untuk mahar, selanjutnya pemuda itu membayar hutangnya dalam bentuk cicilan bulanan (cicilan yang sesuai dengan gajinya dan cicilan yang tidak memberatkannya). Majmu' Fatawa wa Rasail al-Utsaimin 18/449

Apabila seorang pria berhutang kepada seseorang untuk membeli mahar kemudian ia membayarkan maharnya secara kontan terhadap wanita yang ia nikahi maka saat akad pria tersebut menyebutkan bahwa pembayarannya "tunai".


Apabila tidak mendapati orang yang mau memberikan hutang untuk mahar maka dibolehkan seorang laki-laki memberikan mahar kepada wanita yang ia nikahi tidak secara tunai dan kontan (berhutang kepada istri), misalnya dia memberikan mahar kepada si wanita bila ada keleluasaan rizki atau membayar dengan cara mengangsur. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa pernah ditanya:
Termasuk adat yang tersebar pada masa kini: seorang laki-laki menikahkan putri atau saudarinya dengan mahar yang diserahkan ketika itu dan yang ditunda pembayarannya (suami membayarnya ketika terjadi talaq). Mereka menamainya dengan: Dain adz-Dzimmah. Apakah mahar yang ditunda ini diperbolehkan ataukah tidak?apabila ini diperbolehkan kemudian suami meninggal sedangkan ia tidak mentalaq istrinya apakah ini menjadi hutang yang di tanggung oleh simayit ataukah tidak?

Mereka menjawab: Mahar boleh seluruhnya dibayar di muka atau dibayar belakangan, atau sebagian dibayar di muka dan sebagian di bayar belakangan.

Mahar yang ditunda pembayarannya wajib untuk diserahkan bila masanya tiba, dan mahar yang belum ditentukan masa penyerahannya harus diserahkan kala terjadi talaq. Apabila suami itu meninggal maka maharnya dibayar dari warisan yang ditinggalkan. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 19/54 fatwa no.4907

Wallahu ta'ala a'lam

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com