SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Pacar Masih Sayang


Ikhwan (Yogyakarta)
2 months ago on Aqidah

Assalamualaikum ustadz saya mau bertanya, saya kan pernah berzina dengan pacar saya, setelah itu saya ingin bertaubat bener" taubat, saya mau ninggalin pacar saya kan syarat" taubat itu harus ninggalin apa yang membuat pikiran zina, tetapi pacar saya tidak mau untuk di tinggal kan?? Apa tetap harus di tinggal kan atau gimana soalnya saya yaa kasian dengan pacar saya...
Redaksi salamdakwah.com
2 months ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Zina bukanlah perbuatan dosa biasa. Zina merupakan salah satu dosa besar yang pelakunya diancam dengan hukuman yang keras di dunia dan adzab yang pedih setelah kematian. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,"


خُذُوْا عَنِّي خُذُوْا عَنِّي قَدْ جَعَلَ اللهُ لَهُنَّ سَبِيْلاً اَلْبِكْرُ بِالْبِكْرِ جَلْدُ مِائَةٍ وَنَفْيُ سَنَةٍ وَالثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ جَلْدُ مِائَةٍ وَالرَّجْمُ


"Ambillah dariku, ambillah dariku! Allah telah menjadikan bagi mereka jalan keluar. (jika berzina) perejaka dengan gadis (maka hadnya) dicambuk seratus kali dan diasingkan setahun. (Apabila berzina) dua orang yang sudah menikah (maka hadnya) dicambuk seratus kali dan dirajam.” HR. Muslim no.1690

Dalam nash yang lain disebutkan siksaan pezina setelah ia mati,"


"فانطلقنا فأتينا على مثل بناء التنور " - قال عوف: أحسب أنه قال -: " فإذا لغط وأصوات، فاطلعنا فإذا فيه رجال ونساء، وإذا هم يأتيهم اللهب من أسفل منهم، فإذا أتاهم ذلك ضوضووا، قال: قلت: من هؤلاء؟ قال: لي انطلق " - فذكر الحديث ثم قال في التفسير: " أما الرجال والنساء العراة الذين في مثل بناء التنور فإنهم الزناة والزواني


“Kemudian kami berlalu, lalu sampai pada sebuah bangunan seperti tungku pembakaran.” -Auf, perawi hadits- berkata, “Sepertinya beliau juga bersabda, ‘Tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dan teriakan.’” Beliau melanjutkan, “Kemudian aku menengoknya, lalu aku dapati di dalamnya laki-laki dan perempuan yang telanjang. Tiba-tiba mereka didatangi nyala api dari bawah mereka, mereka pun berteriak-teriak.” Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Aku bertanya (pada Jibril dan Mika-il), ‘Siapa mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Adapun laki-laki dan perempuan yang berada di tempat seperti tungku pembakaran, mereka adalah para pezina.’ HR. al-Baihaqi di Syu'ab al-Iman no.5036 Dishahihkan oleh al-Albani di Shahih al-Jami' ash-Shaghir 1/651

 

Diantara dalil yang menunjukkan keharaman zina adalah firman Allah ta'ala dalam surat al-Furqon:68:


وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا


Dan orang-orang yang tidak menyembah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya),


Berikut ini beberapa hal yang perlu anda lakukan:


Pertama: Berataubat kepada Allah ta'ala dengan taubat nasuha terutama dari dosa muamalah dengan lawan jenis yang melampaui batas serta putuskanlah hubungan pacaran dengan wanita tersebut.

 
Berikut ini kami terjemahkan secara bebas keterangan syaikh Utsaimin rahimahullah terkait syarat taubat yang harus dipenuhi oleh orang yang ingin bertaubat:
- Ikhlas karena Allah ta’ala : maksudnya adalah karena takut kepada Allah ta’ala dan ingin mendekat kepadaNya - Menyesal atas perbuatan dosa yang telah dia perbuat sebelumnya
- Segera meninggalkan dosa tersebut dan tidak menunda-nundanya
- Bertekad kuat untuk tidak kembali kepada dosa tersebut
- Taubat itu dilaksanakan pada saat taubat masih diterima, yaitu sebelum ajal menjemput dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat. Diterjemahkan secara bebas dari Asy-Syarh Al-Mumti’ Ala Zad Al-Mustaqni’ oleh syaikh Utsaimin 14/380

Sebagai tambahan, hendaknya ia banyak berbuat baik, supaya kebaikan itu menghapus dosa yang telah lalu. Dan bukanlah termasuk syarat taubat dari perzinaan adalah menikahi lawan jenis yang ia zinai. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Ikutilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapus kejelekan tersebut dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik.” HR. Tirmidzi no.1987. Dihasankan oleh Al-Albani


Di sisi lain hindarilah muamalah dengan lawan jenis sampai melampaui batas meskipun lawan jenis itu calon suami atau calon istri. Hubungan spesial antar lawan jenis meskipun tidak sampai perzinaan itu terlarang dalam Islam. Diantara sebabnya adalah dalam hubungan spseial itu ada hal-hal yang terlarang, diantaranya:

 
1. Khalwat, yaitu berduaan tanpa ada mahram yang menemani, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ

“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.”HR. Bukhari no.5233 dan Muslim no.1341


2. Melihat kepada lawan jenis yang bukan mahram dengan sengaja tanpa alasan yang syar'i, Allah ta'ala berfirman dalam surat An-Nur ayat 30-31:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ.....

“Katakanlah kepada laki – laki yang beriman :”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ

“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya”

 
3. Bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram, Rasulullah shallallahu alihi wa sallam bersabda:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagiannya untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” HR. Muslim no.2657


Meski zina Tangan tidak seperti zina Farj tapi itu tetaplah dosa sebagaimana yang disebutkan dalam hadits, karena julukan untuk perbuatan tertentu dengan julukan yang sama dengan julukan perbuatan yang haram, maka yang pertama dihukumi dengan hukum kedua (haram)


4. Secara umum pacaran mengantarkan dua sejoli ke arah perzinahan, dan semua yang mengantarkan kepada zina dilarang oleh Allah ta'ala dalam surat Al-Isra' ayat 32:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” Kalau dikatakan: jika point-point diatas bisa dihindari maka pacaran tersebut boleh. Kami katakan bahwa itu tidak mungkin karena kalaupun amalan anggota badan dhohir bisa dijaga tapi syahwat yang ada dalam batin tidak bisa dihindari ketika dua sejoli sedang dimabuk asmara, dan jika demikian maka perbuatan itu bisa dikategorikan zina hati sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Kalau memang dua sejoli sudah benar-benar saling mencintai maka tidak ada jalan keluar yang benar untuk menyatukan keduanya kecuali pernikahan dan bukannya berhubungan di luar pernikahan.


Kedua: jagalah pergaulan anda dengan lawan jenis di lingkungan anda sehari-hari. Meski anda pernah melakukan perbuatan keji itu namun bila anda bertaubat dengan sungguh-sungguh maka insyaAllah Allah ta'ala mengampuni. Perlu diketahui bahwa seseorang yang telah berzina dengan lawan jenis kemudian ia bertaubat dari perbuatan keji itu maka telah terangkatlah sifat zina dari dirinya. Syaikh Utsaimin pernah ditanya: Apa makna ayat mulia (An-Nur:3)

الزَّانِي لا يَنْكِحُ إلا زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لا يَنْكِحُهَا إِلا زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin.Dan apakah keimanan terangkat dri diri seseorang serta ia menuju kemusyrikan bila ia melakukan dosa ini?


Beliau menjawab: Apabila kita membaca ayat ini (yang ditutup oleh Allah dengan: dan yang demikian itu diharamkan atas orang-orang yang mukmin) kita bisa mengambil sebuah hukum, yaitu haramnya menikahi pezina wanita dan haramnya menikahi pezina laki-laki. Maksudnya seseorang tidak boleh menikahi pezina wanita dan seorang laki-laki tidak boleh menikahkan putrinya dengan pezina laki-laki...Akan tetapi hukum ini hilang dengan taubat. Apabila seorang pezina laki-laki atau perempuan bertaubat dari zinanya maka akan hilanglah darinya pensifatan tersebut darinya, yakni pensifatan sebagai seorang pezina.. Apabila pezina laki-laki telah bertaubat dari perbuatan zinanya atau pezina wanita dari perbuatan zinanya maka boleh menikahinya. Fatawa Islamiah syaikh Utsaimin 3/246-247

 

Ketiga: Arahkanlah mantan pacar anda untuk bertaubat kepada Allah ta'ala, menuntut ilmu agama dan memilih lingkungan yang baik sehingga dia bisa istiqomah. Apabila mantan pacar anda sudah bertaubat maka silahkan menikahinya. Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya: Seorang pria hidup bersama seorang wanita tanpa ikatan pernikahan (kumpul kebo) dan memiliki banyak anak. Setelah itu, laki-laki tersebut menikahi dua orang wanita secara syar'i dan keduanya pun melahirkan banyak anak. Kemudian, laki-laki itu ingin mengusir wanita yang pertama dari rumah, tetapi anak-anaknya melarang. Bagaimana hukum atas permasalahan ini?


Mereka menjawab: "kumpul kebo" merupakan perbuatan zina yang diharamkan menurut Alquran, Sunah, dan ijmak umat Islam. Kedua pasangan zina itu harus berpisah, bertobat kepada Allah, dan meminta ampun kepada-Nya. Apabila keduanya sudah bertobat dengan sungguh-sungguh lalu menikah secara syar'i, maka tidak ada lagi yang dipersoalkan...Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 22/24-25 Pertanyaan Kelima dari Fatwa Nomor:6575

 
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa juga pernah ditanya: Apabila seorang laki-laki berzina dengan seorang wanita kemudian ia menikahinya. Setelah 4 bulan laki-laki itu bertaubat kepada Allah ta'ala. Apakah akad nikahnya sah?


Mereka menjawab: Tidak boleh menikahi pezina wanita dan tidak sah menikahinya sampai dia bertaubat dan masa iddahnya telah berlalu. Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 18/383-384. Pertanyaan ke 3 dari fatwa no 17776


Apabila seseorang yang pernah berbuat zina bertaubat dengan sungguh-sungguh maka dia tidak wajib untuk meminta hukum cambuk (bagi yang belum menikah) atau rajam (bagi yang sudah menikah). Saran kami tutupilah aib ini dan jangan katakan kepada calon suami yang akan datang. Carilah laki-laki sholeh utntuk menjadi suami anda. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ آنَ لَكُمْ أَنْ تَنْتَهُوا عَنْ حُدُودِ اللَّهِ، مَنْ أَصَابَ مِنْ هَذِهِ الْقَاذُورَاتِ شَيْئًا فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِي لَنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ كِتَابَ اللَّهِ

Wahai manusia! Sudah tiba masanya kalian berhenti melanggar hukum-hukum Allah. dan barang siapa yang melakukannya, maka hendaknya ia menutupi dirinya dengan tabir Allah Azza wa Jalla , karena barang siapa yang menampakkan kepada kami jati dirinya, maka kamipun akan menegakkan hukum Allah."HR. Malik dalam Muwaththo' no.12. Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi lih shahih at-Targhib dan at-Tarhib 2/305


Keempat: Apabila sudah bertaubat dari zina dan bertaubat dari pacaran serta hubungan spesia dengan lawan jenis yang bukan mahram maka bersegeralah merubah gaya hidup. Jadikanlah al-Qur'an dan as-Sunnah sebagai pedoman hidup. Perbanyaklah waktu yang dikhususkan untuk menuntut ilmu agama (Islam) supaya bisa jelas bagi anda jalan yang diridhoi oleh Allah ta'ala dan jalan yang dibenci oleh-Nya.

Kelima: Jangan lupa untuk mencari lingkungan yang memberikan pengaruh positif. Lingkungan yang buruk dan tidak kondusif untuk agama seseorang seharusnya segera ditinggalkan (khususnya bagi orang yang baru bertaubat kepada Allah ta'ala) kecuali bagi orang yang sudah memiliki keilmuan dan keimanan yang cukup kuat untuk bisa menghadapi lingkungan yang buruk tersebut dalam dakwahnya ke jalan Allah ta'ala. Rasul shallallahu alaihi wa sallam pernah membawakan cerita yang mengandung pelajaran tentang urgensi hijrah dari tempat yang buruk ke tempat yang baik:


كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ، فَأَتَاهُ فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: لَا، فَقَتَلَهُ، فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ، فَقَالَ: إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ؟ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللهَ فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ، وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ، فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ، فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ، فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ، فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ: جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ، وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ: إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ، فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ، فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ، فَقَالَ: قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ، فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ، فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ، فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ "، قَالَ قَتَادَةُ: فَقَالَ الْحَسَنُ ذُكِرَ لَنَا، أَنَّهُ لَمَّا أَتَاهُ الْمَوْتُ نَأَى بِصَدْرِهِ


"Pada jaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian orang tersebut mencari orang alim yang banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepada seorang rahib dan ia pun langsung mendatanginya. Kepada rahib tersebut ia berterus terang bahwasanya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang dan apakah taubatnya itu akan diterima? Ternyata rahib itu malahan menjawab; 'Tidak. Taubatmu tidak akan diterima.' Akhirnya laki-laki itu langsung membunuh sang rahib hingga genaplah kini seratus orang yang telah dibunuhnya. Kemudian laki-laki itu mencari orang lain lagi yang paling banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepadanya seorang alim yang mempunyai ilmu yang banyak. Kepada orang alim tersebut, laki-laki itu berkata; 'Saya telah membunuh seratus orang dan apakah taubat saya akan diterima? ' Orang alim itu menjawab; 'Ya. Tidak ada penghalang antara taubatmu dan dirimu. Pergilah ke daerah ini dan itu, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Setelah itu, beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu itu termasuk lingkungan yang buruk.' Maka berangkatlah laki-laki itu ke daerah yang telah ditunjukan tersebut. Di tengah perjalanan menuju ke sana laki-laki itu meninggal dunia. Lalu malaikat Rahmat dan Azab saling berbantahan. Malaikat Rahmat berkata; 'Orang laki-laki ini telah berniat pergi ke suatu wilayah untuk bertaubat dan beribadah kepada Allah dengan sepenuh hati.' Malaikat Azab membantah; 'Tetapi, bukankah ia belum berbuat baik sama sekali.' Akhirnya datanglah seorang malaikat yang berwujud manusia menemui kedua malaikat yang sedang berbantahan itu. Maka keduanya meminta keputusan kepada malaikat yang berwujud manusia dengan cara yang terbaik. Orang tersebut berkata; 'Ukurlah jarak yang terdekat dengan orang yang meninggal dunia ini dari tempat berangkatnya hingga ke tempat tujuannya. Mana yang terdekat, maka itulah keputusannya.' Ternyata dari hasil pengukuran mereka itu terbukti bahwa orang laki-laki tersebut meninggal dunia lebih dekat ke tempat tujuannya. Dengan demikian orang tersebut berada dalam genggaman malaikat Rahmat.' Qatadah berkata; 'Al Hasan berkata; 'Seseorang telah berkata pada kami bahwasanya laki-laki itu meninggal dunia dalam kondisi jatuh terlungkup. HR. Muslim no.2766

 

Wallahu ta'ala a'lam 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com