SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Suami Pelit


Akhwat (Jakarta)
1 week ago on Keluarga

Asalamualaikum, saya ingin bertanya ustad saya sudah menikah selama 1tahun tetapi suami saya masih mementingkan kesenangannya sendiri. Saya binggung harus bersikap apa disaat saya sudah belajar menjadiistri yg baik untuk suami apalagi soap keuangan suami saya hanya tau uangnya utuh tidak terpakai. Sementara saya Dan anak perlu makan ditambah lg saya hrus mencari uang untuk mkn stlh dia plg kerja dia hanya tau saya slalu mempunyai uang banyak. Suami saya masih minta uang kepada orang tuanya. Kadang saya makan minta sm mertua saya. Saya malu saya sdh menikah tp masih menyusahkan. Disaat kita bertengkar ibu mertua slalu mengucap "tidak niat untuk menikahkan anaknya dengan saya" hati saya sakit ditambah lg suami saya bilang "dia adalah laki2 tidak ada bekasnya" Tanpa dia mikir tentang saya. Tolong pencerahannya pak ustad. Wasallam
Redaksi salamdakwah.com
1 week ago

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Suami sebagai seorang kepala rumah tangga wajib untuk memberi nafkah lahir dan batin kepada istri dan anak-anaknya, ia wajib untuk berusaha mencari rizki yang halal untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Allah ta’ala berfirman:


لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ... (٧


Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.. Ath-Tholaq:7
 
Apabila seseorang lalai dalam mencukupi kebutuhan orang yang berada di bawah tanggungannya maka ia telah berdosa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ، عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ


Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa orang-orang yang menahan makan (upah dan sebagainya) orang yang menjadi tanggungannya. HR. Muslim no.996
 
Termasuk perbuatan dosa berdasarkan hadits di atas adalah seorang suami yang tidak memberikan nafkah sama sekali (Sehingga keluarga tidak bisa memenuhi kebutuhan dasarnya).

Cobalah menasehati suami dengan cara yang paling baik terkait kewajibannya dalam memberi nafkah. Apabila dia tetap tidak mau memberi nafkah maka istri boleh mengambil uang suami sesuai kebutuhannya. Bila seorang suami pelit dan tidak mau memberi nafkah untuk kebutuhan istri dan anak-anaknya maka boleh bagi istrinya untuk mengambil uang suami tersebut tanpa sepengetahuannya dengan ukuran yang wajar untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ulama' yang duduk di Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi pernah ditanya,"Saya adalah seorang istri, Suami saya tidak mau menafkahi atau memberikan uang kepada saya sebagai nafkah untuk anak-anak kami. Ketika uang yang saya miliki habis, akhirnya saya mengambil sejumlah uang suami untuk keperluan saya dan anak-anak tanpa sepengetahuannya. Apakah dalam hal ini saya berdosa?
Mereka menjawab," Jika kenyataannya seperti yang anda sebutkan di mana anda mengambil tanpa sepengetahuannya didasari keperluan untuk memenuhi kebutuhan Anda dan anak-anak, maka diperbolehkan untuk mengambilnya sesuai jumlah yang dibutuhkan sewajarnya. Ini didasarkan pada keterangan yang menyebutkan bahwa istri Abu Sufyan pernah berkata, 


يَا رَسُولَ الله إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيحٌ وَلَيْسَ يُعْطِينِي مَا يَكْفِينِي وَوَلَدِي، إِلَّا مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ، فَقَالَ: «خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ، بِالْمَعْرُوفِ»


"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah lelaki yang kikir. Dia tidak memberi saya nafkah yang dapat mencukupi kebutuhan saya dan anak-anak, jika saya tidak mengambil hartanya secara diam-diam." Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam pun bersabda, "Ambillah apa yang mencukupimu dan anakmu secara wajar!" (HR. Bukhari no.5364 dan yang lainnya)

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.
Komite Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa
Abdullah bin Qu'ud selaku Anggota 
Abdullah bin Ghadyan selaku Anggota 
Abdurrazzaq Afifi selaku Wakil Ketua 
Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz selaku Ketua
Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 21/166 Pertanyaan Kedua dari Fatwa Nomor:5101

Apabila suami terus berusaha maksimal untuk menahan hak nafkah istri sehingga istri tidak bisa memperoleh apa yang dibutuhkan maka istri berhak mengangkat masalah ini ke hakim untuk menegur suaminya atau meminta cerai. 

Muhammad bin Ibrohim at-Tuwaijiri menerangkan diantara sebab yang dengannya seorang wanita boleh meminta talak dari suaminya:

1. Apabila suami lalai dalam memberi nafkah

2. Jika suami menimbulkan mudhorot untuk istri yang karenanya menjadikan hubungan suami istri tidak bisa berlangsung seperti selalu mencelanya, memukulnya, menyakitinya dan istri tidak mampu menahannya atau memaksanya berbuat mungkar atau semacamnya.

3. Bila istri terkena mudharat karena tidak hadirnya suami dan ia pun khawatir terkena fitnah karena itu.

4. Jika suaminya ditahan untuk waktu yang lama dan istri merasa terkena mudharat karena terpisah dengannya

5. Bila wanita mendapati ada aib yang berat seperti mandul, tidak mampu untuk melakukan penetrasi, berbau tidak sedap atau sakit dalam jangka waktu lama yang menyebabkan dia tidak mampu melakukan hubungan suami istri dan bersenang-senang dengan pasangan, atau suaminya memiliki penyakit berbahaya dan menular atau sejenisnya.

6. Apabila suaminya tidak melaksanakan apa yang Allah wajibkan,  atau dia biasa saja  ketika melakukan dosa besar  dan hal yang haram seperti laki-laki yang kadang-kadang tidak melaksanakan shalat, atau dia meminum khamr, atau dia berzina, atau memakai narkoba dan yang semacamnya. Maushu'ah al-Fiqhi al-Islami 4/191

© 2018 - Www.SalamDakwah.Com