SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Pembayaran Hutang Apakah Mengikuti Inflasi


Akhwat (Surabaya)
4 weeks ago on Riba

Ustad, saya mau tanya. Semisal saya kan ada hutang yang sudah lama sekali baru saya lunasi sisanya, saya berhutang pada teman saya dan ketika hutang dulu tidak ada perjanjian apa-apa. Tapi karena saya melunasinya cukup lama bahkan saya sempat tidak ada kabar, beliau meminta semacam bunga. Jadi misal sisa hutang masih 500 saya harus bayar 800. Apa yang harus saya lakukan ustad? Apa itu jatuhnya bukan riba? Apa salah bila saya ngotot hanya ingin mengembalikan sesuai jumlah yang kurang saja yaitu 500? Atau saya harus menuruti kemauannya untuk membayar sesuai yg beliau minta?
Redaksi salamdakwah.com
4 weeks ago

 

Alhamdulillah was shalatu was salamu ala Rasulillah

Apabila perbedaan nilai uang (inflasi) saat hutang dan saat bayar di bawah 30 persen maka penanya membayar sesuai dengan nominal hutang nya. Kalau inflasi yang terjadi di atas 60 persen maka penanya perlu menyesuaikan pembayaran hutangnya dengan nilai inflasi sekarang, bisa dengan cara membandingkan antara harga emas saat pemberian hutang dan saat akan melunasi nya. Misalnya ketika berhutang, nominal hutangnya senilai emas 10 gr 24 karat maka saat membayar berarti penanya harus membayar ke orang yang memberi hutang senilai emas 10 gr 24 karat saat pelunasan akan dilakukan.

Berikut ini kami kutip keterangan Dr. Erwandi di buku harta haram muamalat kontemporer:

Para ulama kontemporer sepakat bahwa tidak boleh membayar utang melebihi nominal sebagai penutup inflasi, jika inflasi yang terjadi pada sebuah mata uang dengan tingkat rendah (kurang dari 30%). Karena hal ini termasuk riba, yaitu membayar utang melebihi nominal yang dipinjam.

Mereka juga sepakat bahwa utang jatuh tempo yang berada pada pihak yang mampu dan tidak menunda-nunda pelunasan, seperti uang yang berada di rekening tabungan, begitu juga modal mudharabah dan modal musyarakah tidak boleh dibayar oleh pihak debitur dengan nominal berlebih, sebagai kompensasi dari turunnya daya beli uang disebabkan inflasi, sekalipun inflasi tinggi. Karena, keberadaan uang di pihak kedua sama dengan keberadaannya di tangan pemilik uang. Sebagaimana uang yang berada di tangannya terkena inflasi begitu juga dengan uang yang berada di pihak kedua yang telah jatuh tempo pembayaran.

Para ulama juga sepakat bahwa bila inflasi yang terjadi terlalu tinggi (lebih dari 60%) sehingga nominal uang tidak bisa dijadikan patokan sama sekali, Maka boleh utang dibayar sesuai dengan indeks harga barang pada waktu pembayaran sekalipun jauh melebihi nominal utang yang diterimanya. Karena pada saat itu, mata uang tersebut ama dengan mata uang munqathi' (tidak laku). Selesai 

 

Apabila maksud penanya: yang dipermasalahkan adalah sisa hutang maka tinggal dihitung inflasi yang terjadi saat sisa hutang belum dibayar dan saat dilunasi. 

Wallahu ta'ala

 

 

 

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com