SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Berat Membayar Hutang Riba


Akhwat (Surabaya)
5 months ago on Riba

Assalamualaikum pak ustadz , saya terlilit hutang riba. Saya sudah jual semua barang yg saya miliki dn skrg saya sudah tdk punya apa" dn saya harus melunasi hutang saya yg terus berjalan. Bagaimana cara menutup semua hutang riba saya pak ustadz. Terima kasih
Redaksi salamdakwah.com
5 months ago

 

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Bertaubatlah kepada Allah ta'ala atas dosa hutang riba ini, apabila masih memungkinkan menjual barang hasil hutang riba maka itu perlu dilakukan untuk melunasi hutangnya. Apabila sudah tidak ada yang bisa dijual maka bisa pinjam ke orang untuk melunasi hutang itu supaya tidak terikat dengan riba. Apabila tidak ada yang mau menghutangi maka teruslah bekerja dan melakukan pembayaran bertahap ke bank.

jangan lupa untuk berdo'a dengan do'a do'a yang ada riwayatnya untuk mengatasi hutang. Diantaranya:

pertama:
Anas bin Malik radhiyallahu anhu bercerita mengenai do’a yang sering dibaca Rasul shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan tertentu bunyinya:
 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحَزَنِ، وَالعَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالبُخْلِ وَالجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ


Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, kelemahan dan kemalasan, sifat bakhil dan penakut, lilitan utang dan penindasan orang lain.”HR. Bukhari no.2893
 
Kedua:
Dari ‘Ali, ada seorang budak mukatab (yang berjanji pada tuannya ingin memerdekakan diri dengan dengan syarat melunasi pembayaran tertentu) yang mendatanginya, ia berkata, “Aku tidak mampu melunasi untuk memerdekakan diriku.” Ali pun berkata, “Maukah kuberitahukan padamu beberapa kalimat yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya padaku yaitu seandainya engkau memiliki utang sepenuh gunung, maka Allah akan memudahkanmu untuk melunasinya. Ucapkanlah doa,
 
 

اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ


Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu (HR. Tirmidzi no. 3563)
 
 
Ketiga:


اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ

 
Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat dosa dan sulitnya utang. (HR. Bukhari no. 2397 dan Muslim no. 5)
 
Keempat:


-حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ سُهَيْلٍ، قَالَ: كَانَ أَبُو صَالِحٍ يَأْمُرُنَا، إِذَا أَرَادَ أَحَدُنَا أَنْ يَنَامَ، أَنْ يَضْطَجِعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ، ثُمَّ يَقُولُ: «اللهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ» وَكَانَ يَرْوِي ذَلِكَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،

 
Imam Muslim menceritakan: Zuhair telah bercerita ke saya, Jarir telah bercerita ke kami, dari Sah, dulu Abu Shaleh memerintahkan salah seorang dari kami (bila ingin tidur) supaya berbaring di sisinya yang kanan dan berdo'a:   
“Ya Allah, Rabb yang menguasai langit yang tujuh, Rabb yang menguasai ‘Arsy yang agung, Rabb kami dan Rabb segala sesuatu. Rabb yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah, Rabb yang menurunkan kitab Taurat, Injil dan Furqan (Al-Qur’an). Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau memegang ubun-ubunnya (semua makhluk atas kuasa Allah). Ya Allah, Engkau-lah yang awal, sebelum-Mu tidak ada sesuatu. Engkaulah yang terakhir, setelahMu tidak ada sesuatu. Engkau-lah yang lahir, tidak ada sesuatu di atasMu. Engkau-lah yang Batin, tidak ada sesuatu yang luput dari-Mu. Lunasilah utang kami dan berilah kami kekayaan (kecukupan) hingga terlepas dari kefakiran.”  Abu Sholeh meriwayatkan itu dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam. (HR. Muslim no. 2713)
 
 
Apabila susah mendapatkan uang untuk melunasi maka bisa mengajukan diri menjadi penerima zakat
 
Syekh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah penah ditanya, “Orang yang berhutang dengan cara haram, apakah boleh kita berikan zakat?”
 
Beliau menjawab: Jika dia bertaubat, maka boleh kita berikan. Tapi jika tidak, maka tidak boleh, karena hal itu berarti membantu orang dalam perkara haram. Karena kalau kita bantu dia akan berhutang lagi (dengan cara haram).” (Asy-Syarhul Mumti, 6/235)
 
Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin juga pernah ditanya:
Siapa yang berkewajiban membayar hutang riba, dia berinteraksi dengan bank kemudian dia bangkrut apakah dia diberi zakat?
 
Syaikh: Siapa yang bangkrut?
 
Penanya: Orang yang berhutang

Syaikh: Ya, Diberi zakat, karena dia berhutang dan masuk dalam firman Allah ta'ala (والغارمين) surat at-Taubah ayat 60... Liqo' Bab al-Maftuh

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2019 - Www.SalamDakwah.Com