SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Mau Menjadi Orang Sholeh Tapi Takut Karena Cobaannya Berat


Ikhwan (Jakarta )
4 months ago on Aqidah

Assalaamu'alaikum pak saya ingin bertanya terkdanag saya terlintas ingin mengikuti sunah-sunah tapi di satu sisi saya takut cobaan berat
Redaksi salamdakwah.com
4 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Cobaan orang yang agamanya bagus lebih berat dibandingkan yang kualitas agamanya kurang. Diriwayatkan oleh Sa’d bin Abi Waqqos radhiallahu anhu, dia berkata:

 

 قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ! أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً ؟ قَالَ : الأَنْبِيَاءُ ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ ، فَمَا يَبْرَحُ البَلاَءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ 

 

 

“Wahai Rasulullah !! siapakah manusia yang paling berat cobaannya? Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian yang paling bagus dan paling bagus. Sehingga seseorang dicoba sesuai dengan agamanya. Kalau agamanya kuat, maka dia akan diberi cobaan yang berat. Kalau agamanya lemah, maka dicoba sesuai dengan agamanya. Tidaklah cobaan ditimpakan pada seorang hamba sampai dia meninggalkannya  berjalan di atas bumi sementara dia tidak mempunyai kesalahan (karena dihapus.pent).” HR. Tirmizi, (2398) dan mengatakan, “Hasan Shoheh

 

Perlu difahami bahwa kalaupun penanya tidak ingin menjadi orang yang kuat agamanya maka ia akan tetap terkena ujian karena semua orang yang beriman akan diuji oleh Allah ta'ala. Allah Taala berfirman di surat al-Ankabut 1-3, 

الم * أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ * وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ 

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” SQ. Al-Ankabut: 1-3.

Kalau penanya ingin lepas dari ujian dengan cara menghindarkan diri dari peningkatan kualitas kesholehan dan keimanan pada dirinya maka ini juga berat mengingat setiap anak Adam berpotensi melakukan dosa. Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda:

 كل ابن آدم خطاء وخير الخطائين التوابون

“Semua bani Adam adalah pelaku dosa, dan sebaik-baik pelaku dosa adalah mereka yang bertaubat”. (HR. Tirmidzi: 2499)

Padahal, dosa bisa berefek musibah juga. Allah Azza Wajallan berfirman di surat An-Nisa ayat 79

( وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ ) 

“Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.

Para ahli tafsir mengatakan maksudnya disebabkan dosa anda. Allah ta'ala juga berfirman di surat As-Syuro: 30:

 وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ 

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” 

 

Di sisi lain, kalau penanya tidak melaksanakan amalan sunnah apakah ia yakin amalan wajibnya sudah dijalankan dengan baik. Kalau amalan wajibnya tidak dijalankan dengan baik maka ia memerlukan amalan sunnahnya. 

Dalam hadits Shahih dari Huraits bin Qobisah berkata:

قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فَقُلْتُ اللَّهُمَّ يَسِّرْ لِي جَلِيسًا صَالِحًا قَالَ فَجَلَسْتُ إِلَى أَبِي هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ إِنِّي سَأَلْتُ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي جَلِيسًا صَالِحًا فَحَدِّثْنِي بِحَدِيثٍ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَنْفَعَنِي بِهِ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ 

 

“Saya datang di Madinah dan berdoa, ‘Ya Allah mudahkan diriku untuk mendapatkan teman yang saleh. Maka saya duduk disamping Abu Hurairah dan mengatakan, “Sesungguhnya saya memohon kepada Allah agar diberi rezki teman saleh, maka beritahukan kepada diriku dengan hadits yang anda dengarkan dari Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam semoga Allah dapat memberikan manfaat untuk diriku. Maka beliau mengatakan, saya mendengar Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amal seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Kalau shalatnya baik, maka dia akan selamat. Kalau shalatnya rusak, maka dia celaka dan merugi. Kalau (shalat) Fardunya ada yang kurang, Tuhan berfirman ‘Lihatlah apakah hambaKu mempunyai shalat sunah untuk melengkapi yang kurang dari shalat fardu. Lalu hal itu berlaku untuk seluruh amalan lainnya.” (HR. Tirmizi no. 413, terdapat dalam kitab Shahih Al-Jami, no. 2020)

Apabila maksud penanya dengan sunnah di sini adalah gaya hidup yang dijalankan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang dianggap sebagai syariat maka apabila ditinggalkan itu bisa berbahaya pada diri seorang hamba. Sunnah –sebagaimana perkataan Imam Malik rahimahullah- bagaikan kapal Nabi Nuh, siapa yang naik akan selamat. Siapa yang tertinggal akan tenggelam.

Perlu diketahui juga bahwa semakin kuat agama seseorang maka semakin kuat dalam menghadapi syahwat duniawi. Syaikh Utsaimin menerangkan:

yekh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Bepergian ke negara kafir diharamkan kecuali jika ada     tiga syarat:

Pertama: Mempunyai ilmu yang dapat menangkal syubhat

Kedua: Memiliki basis agama yang kuat agar dapat menangkal syahwat

Ketiga: Adanya keperluan untuk itu. Kebutuhan itu bisa karena ilmu yang tidak didapatkan di   negaranya, atau bepergian untuk berobat dari penyakit, atau untuk perniagaan yang  memang harus dilakukan. Jika tidak ada keperluan, maka tidak dibolehkan pergi. (AL-Liqa As-Syahri no. 6)

Oleh karena itu jangan termakan syubhat setan yang menjadikan penanya tidak mau menaikkan level keislamannya. Wallahu ta'ala a'lam 

  

 

PERTANYAAN TERKAIT

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com