SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

apakah saya perlu menegur orang tua?


Ikhwan (Jakarta )
1 month ago on Fiqih

Assalaamu'alaikum pak saya ingin bertanya saya melihat orang tua saya tidak tuma'ninah ketika i'tidal,saya ingin memberi tahunya teteapi saya khawatir akan menimbulkan masalah.apa solusinya pak? terimakasih
Redaksi salamdakwah.com
1 month ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Tuma'ninah adalah unsur penting dalam shalat yaitu rukun shalat. Dalam salah satu hadits shahih disebutkan:


قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " " أسوأ الناس سرقة الذي يسرق من صلاته " ". قالوا: يا رسول الله، وكيف يسرق من صلاته؟ قال:" لا يتم ركوعها ولا سجودها 

 

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda“Seburuk-buruk orang yang mencuri adalah orang yang mencuri dari shalatnya.” Para sahabat bertanya: bagaimana (bentuk.pen) mencuri dari shalatnya?. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab: dia tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. HR. Ahmad no.22642

Orang yang mencuri dari shalatnya adalah orang yang tidak Tuma’ninah dalam shalatnya, tidak menyempurnakan gerakan shalatnya karena terburu-buru. Misalnya ketika Ruku’ dan sebelum tulang punggungnya lurus dia sudah bangkit untuk I’tidal. Ketika dia duduk diantara dua sujud dan tulang punggungnya belum lurus untuk duduk dia sudah sujud lagi.

Jadi Orang yang mencuri dari shalatnya adalah orang yang tidak Tuma’ninah dalam shalatnya. Tuma’ninah contohnya Ruku’ dengan tenang dan menempatkan semua anggota badan pada tempatnya saat ruku’ seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Begitu pula dalam sujud, duduk diantara dua sujud dan I’tidal. Lih. Fatawa Nur ala Ad-Darbi oleh syaikh Ibnu Baz juz.8 Hal.38-39. 

Dalam salah satu riwayat disebutkan,"


عن رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي المَسْجِدِ يَوْمًا، قَالَ رِفَاعَةُ وَنَحْنُ مَعَهُ: إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ كَالبَدَوِيِّ، فَصَلَّى فَأَخَفَّ صَلَاتَهُ، ثُمَّ انْصَرَفَ، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَعَلَيْكَ، فَارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ» ، فَرَجَعَ فَصَلَّى، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، فَقَالَ: «وَعَلَيْكَ، فَارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ» ، فَفَعَلَ ذَلِكَ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا، كُلُّ ذَلِكَ يَأْتِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيُسَلِّمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَقُولُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«وَعَلَيْكَ، فَارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ» ، فَخَافَ النَّاسُ وَكَبُرَ عَلَيْهِمْ أَنْ يَكُونَ مَنْ أَخَفَّ صَلَاتَهُ لَمْ يُصَلِّ، فَقَالَ الرَّجُلُ فِي آخِرِ ذَلِكَ: فَأَرِنِي وَعَلِّمْنِي، فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُصِيبُ وَأُخْطِئُ.


Dari Rifaa’ah bin Raafi’ : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah duduk di dalam masjid pada suatu hari. Pada waktu itu kamu bersama beliau ketika datang seorang laki-laki Badui kepada beliau. Ia lalu shalat dengan cepat. (Setelah selesai.pent), lalu berpaling dan mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : “Hendaknya kamu kembali ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat”. Ia pun mengulanginya sampai dua atau tiga kali, dimana setiap selesai shalat, ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun menjawab : “Kembalilah ulangi shalatmu, karena kamu belum shalat”. Orang-orang menjadi khawatir dan menjadi besarlah perkara itu bagi mereka, bahwasannya barangsiapa yang paling cepat shalatnya, maka dianggap belum melakukan shalat. Orang tersebut berkata pada akhirnya : “Nasihatilah aku dan ajarkanlah kepadaku, karena aku hanyalah manusia yang kadang benar dan kadang pula salah”. HR. Tirmidzi no. 302

Dengan demikian orang tua penanya telah melakukan kesalahan dan perlu diberi masukan. Nasehatilah mereka dengan memilih kata-kata yang bagus dan bijak dengan tetap menunjukkan penghormatan ke orang tua. 

Salah satu contoh bagi kita terkait proses memberikan masukan ke orang tua adalah Nabi Ibrohim alaihissalam. Berikut ini kisah dakwah Nabi Ibrahim kepada ayahnya yang tidak beriman dalam surat Maryam


قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لأرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا (٤٦)قَالَ سَلامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا


46. berkata bapaknya: "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, Hai Ibrahim? jika kamu tidak berhenti, Maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama".

47. berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menafsirkan ayat yang menunjukkan respon Nabi Ibrohim terhadap sikap keras kepala ayahnya padahal sudah didakwahi:

Maka alkholil (Ibrahim.pen) menjawab dengan jawaban hamba Allah ketika berbicara dengan orang yang tidak mengetahui. Beliau tidak mencelanya dan tidak meresponnya dengan sesuatu yang tidak disukai, akan tetapi beliau bersabar. Beliau mengatakan:


سَلاَمٌ عَلَيْكَ


Anda akan selamat dari celaanku yang tidak Anda sukai.


سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا


Aku tetap mendoakan Anda supaya mendapat hidayah untuk memeluk Islam dan supaya Anda mendapat maghfiroh sehingga Anda mendapat ampunan. Taisir Al-Karim Ar-Rahman Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di hal.494

Wallahu ta'ala a'lam 

 

 

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com