SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Berhubungan Suami Istri Ketika WFH


Ikhwan (DKI JAKARTA)
2 weeks ago on Keluarga

Bismillah Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Ustad ana ikhwan berusia 33tahun dengan dua orang putri dan Insya Allah Istri akan melahirkan anak ke 3 kami di tahun depan, Ustad ana ada pertanyaan,apakah dibolehkan berhubungan Suami Istri ketika ana sedang WFH (WORK FROM HOME) dengan kondisi pekerjaan sedang lowong atau tidak ada pekerjaan atau perintah dari atasan ataupun yang lainnya yg harus dikerjakan? Jazaakumullah Khayran Wa Barokallahu Fiikum
Redaksi salamdakwah.com
2 weeks ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Semoga Allah ta'ala berkahi penanya dan keluarga. Terkait kepentingan pribadi (termasuk di sini hubungan suami-istri) di saat jam kerja WFH maka ini bergantung ke sistem kerja resmi kantor penanya, apabila penanya sistem kerjanya menggunakan target perhari, di mana bila target tercapai maka penanya bebas mengerjakan kepentingan pribadi dia, dengan begitu bila penanya sudah selesai mencapai targetnya maka penanya bebas mengerjakan kepentingan pribadinya, apabila belum selesai maka kami nasehatkan untuk menyelesaikannya terlebih dahulu.

Kalau sistem kerja penanya bukannya target namun stand by dan siap-siap menerima tugas sewaktu-waktu selama jam kerja masih ada, maka bila penanya ingin mengerjakan kepentingan pribadinya di saat jam kerja maka ia perlu meminta izin kepada pihak kantor untuk mengerjakan kepentingan pribadinya.   

Berikut terjemahan hukum penyelewengan waktu oleh pekerja yang disampaikan oleh para Ulama’
1. Lajnah daimah lilifta’ ditanya: para pegawai yang terikat jam kerja resmi, keluar (tempat kerja.red) ditengah-tengah jam kerja untuk melakukan jual beli, apa hukum perbuatan mereka itu? 
Jawaban Lajnah: keluarnya pegawai ditengah jam kerja untuk jual beli tidak boleh, baik itu mendapat izin dari penanggung jawab atau tidak, karena 

- itu menyelisihi perintah waliyul amri yang melarang hal tersebut 

- dengan begitu dia juga menelantarkan pekerjaan yang   diamanatkan  kepadanya dan kemudian itu berakibat penelantaran hak-hak kaum muslimin yang terikat dengan pekerjaannya

- menjadikan pekerjaannya tidak sempurna, Abu Ya’la dan Al-Askari meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha (perkataan.red) yang dinisbatkan ke Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam: sesungguhnya Allah suka jika seseorang diantara kalian mengerjakan suatu pekerjaan, dia membaguskannya (profesional)  

 
2. Syaikh Utsaimin rahimahullah ditanya: Negara memiliki peraturan resmi jam kerja, anda mendapati sebagian orang datang (ke tempat kerja.red) terlambat setengah jam atau meninggalkannya setengah jam lebih awal sebelum jam kerja habis.dan kadang-kadang terlambat satu jam atau lebih, maka apa hukumnya seperti itu?
Beliau menjawab: secara dhohir ini tidak memerlukan jawaban (karena begitu jelasnya pelanggaran ini.red) disebabkan karena (ganti sesuatu) harus diberikan sebgai timbal balik atas sesuatu yang digantikan.sebagaimana seorang pegawai tidak rela sedikitpun jika Negara mengurangi gaji mereka maka wajib atasnya untuk tidak mengurangi hak Negara (jam kerja/target kerja) sedikitpun.jadi seseorang tidak boleh terlambat datang dari jam kerja resmi yang ditentukan atau keluar sebelum waktunya 
 
3. Fatwa Lajnah Daimah : Orang yang diserahi pekerjaan dengan imbalan gaji maka wajib atasnya melaksanakan pekerjaan itu seperti yang diminta,jika dia lalai dalam pekerjaan itu tanpa udzur syar’I maka tidak halal baginya apa yang dia terima dari gaji tersebut karena dia mengambilnya tanpa ada timbal balik.         
sumber :
3. Fatwa Lajnah Daimah, juz.15 hal.153

PERTANYAAN TERKAIT

© 2020 - Www.SalamDakwah.Com