SALWA RADIO - Menebar Salam, Menyebar Dakwah
Stay in touch with us:

Orang Yang Disukai Ditolak Oleh Orang Tua


Akhwat (Jakarta)
11 months ago on Keluarga

Assalamu'alaikum. Saya ingin bertanya. Sekarang saya sedang menyukai seseorang, namun ketika saya memberitahu orang tua saya, mereka tidak setuju dikarenakan ayah dari orang yang saya suka bekerja di pabrik (saya berasal dari keluarga ustadz). Padahal orang yang saya sukai orangnya tidak berasal dari keluarga yang buruk, sholat wajib juga dia jalankan. Orang tua saya menurut saya terlalu banyak tuntutan dalam memilih pasangan untuk anaknya, seperti harus yang berpendidikan, latar belakang keluarga, bisa mengaji. Dia sama seperti saya, sedang berkuliah, yg mana artinya itu sdh menunjukkan dia berpendidikan, toh latar belakang keluarga tdk bisa diubah dan kesuksesan seseorang tdk mengenal latar belakang. Dulu ketika kakak saya punya pacar org tua saya jga tdk setuju, pdhl latar blkg sudah bagus (keluarga tni), hnya krn si cowonya stlh lulus sma langsung daftar tni (tdk kuliah) ortu saya tdk setuju. Saya capek sekali mendengar tuntutan ini itunya, tolong, saya hrs bagaimana?
Redaksi salamdakwah.com
11 months ago

 

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 

Kafa'ah maknanya adalah persamaan (antara laki-laki dan perempuan yang akan menikah) dalam agama, nasab, strata ekonomi dan beberapa hal lain itu adalah hal yang memang secara logis diperlukan untuk membantu meminimalisir gesekan yang menimbulkan masalah antara suamidan istri ketika sudah menikah. Namun tidak semua kesetaraan menjadi syarat sahnya pernikahan. Ulama' juga berbeda pandangan terkait kesetaraan mana saja yang menjadi syarat sahnya pernikahan. Kami pribadi condong dengan pendapat yang dikeluarkan oleh Ulama' Yang duduk di Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa Arab Saudi yang menyatakan bahwa yang menjadi syarat sahnya pernikahan adalah kesetaraan dalam agama saja. Mereka menerangkan: kafa'ah yang dianggap adalah persamaan dalam agama, itu adalah yang benar, bukan kafa'ah dalam nasab. ini berdasarkan firman Allah ta'ala:


إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ


Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu (Al-Hujurat:13)

Dan berdasarkan riwayat dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Beliau menikahkan Fatimah binti Qois -wanita Quraish- dengan Usamah bin Zaid radhiyallahu anhum (anak dari bekas budak.pen)......Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah I 18/186.

Sehingga bila calon pasangan penanya tidak setara dengan penanya dan keluarganya maka bisa dilihat apakah ini termasuk kesetaraan yang menjadi syarat sahnya pernikahan ataukah tidak. 

Apabila laki-laki itu baik agama dan akhlaknya dan juga penanya tidak berpacaran dengan laki-laki yang ia sukai maka bisa mengkomunikasikan lagi dengan orang tua dan menyampaikan kepada mereka bahwa pernikahan tetap sah meski calon suami berasal dari kalangan orang yang tidak kaya, meski calon suami belum lulus S1.

Adapun persyaratan orang tua bahwa calon suami adalah orang yang bisa mengaji maka ini perlu dipenuhi demi kebaikan di masa mendatang. 

Jadi ada persyaratan (pra nikah) orang tua yang tidak wajib dipenuhi dan ada yang perlu dipenuhi. Oleh karena itu silahkan dikomunikasikan lagi dengan orang tua, bila perlu diskusi ini juga menghadirkan pihak ketiga yang memang alim dalam masalah agama sehingga bisa memberikan keterangan yang tepat dilihat dari sudut pandang agama Islam.

Apabila orang tua penanya tetap tidak mau rujuk dari pandangannya yang salah maka ini bisa menjadi faktor yang menggugugurkan perwaliannya. Mengingat orang tua tersebut menghalangi pernikahan putrinya tanpa alasan yang syar'i. 

Ibnu Qudamah Rahimahullah mengungkapkan, “Maksud dari kata menghalang-halangi adalah mencegah pernikahan seorang perempuan dengan orang yang sepadan dan selaras ketika dia meminta dinikahkan dengannya dan masing-masing dari keduanya saling menyukai satu sama lain.”

Ma’qil bin Yasar berkata, “Aku pernah menikahkan saudara perempuanku dengan seorang lelaki yang kemudian dia menceraikannya, hingga ketika saudariku telah selesai dari masa ‘iddahnya lelaki tadi datang kembali dan melamarnya, maka aku katakan kepadanya, ‘Aku telah menikahkanmu, aku telah memberikan tempat tinggal untukmu dan aku juga telah memuliakanmu akan tetapi engkau malah menceraikannya kemudian engkau datang kembali untuk melamarnya, Demi Allah jangan engkau rujuk lagi dengannya selamanya, padahal dia adalah seorang lelaki yang tidak ada masalah padanya, dan pada saat yang sama saudara perempuannya pun ingin rujuk dengannya, maka turunlah firman Allah Ta’ala:

فلا تَعْضُلُوهُنَّ

“Dan janganlah kalian menghalang-halangi mereka (para wanita untuk menikah)”

Maka aku berkata, “Sekarang saya mentaati perintah wahai Rasulullah,” Beliau bersabda, “Nikahkanlah dia (Putrimu) dengannya.” (HR. Bukhari)

Syekh Muhammad bin Ibrahim Rahimahullah berkata, “Ketika seorang wanita telah sampai pada usia aqil baligh lalu ada seorang pria meminangnya yang engkau ridha akan agama, akhlak dan kemampuannya, dan wali tidak mencelanya terhadap sesuatu yang bisa menjauhkannya dari  perangai kebaikannya, maka wajib bagi wali untuk menerima lamarannya dan menikahkannya dengan putrinya. Namun apabila wali menolak kondisi yang demikian maka hendaklah dia diingatkan akan wajibnya menjaga kewenangan dalam perwaliannya, dan apabila setelah yang demikian itu dia tetap bersikukuh dalam penolakannya maka gugurlah perwaliannya dan beralih kepada kerabatnya yang terhimpun dalam Ashobah.” (Dari Fatawa Syekh Muhammad bin Ibrahim, rahimahullah, 10/97).

Apabila penanya berpacaran dengan laki-laki tersebut maka penanya dan laki-laki itu harus bertaubat kepada Allah ta'ala karena pacaran sebelum pernikahan hukumnya tidak boleh. Silahkan membaca link berikut terkait pacaran: http://www.salamdakwah.com/pertanyaan/2654-barpacaran-yang-baik

Apabila penanya dan laki-laki itu sudah bertaubat dari pacaran kemudian mereka ingin menjalin hubungan maka mereka harus masuk ke jenjang pernikahan. Apabila orang tua penanya tetap menolak laki-laki itu tanpa alasan yang syar'i maka penanya bisa mengadukan ini ke hakim agama di negeri kita supaya dia mendapatkan keadilan.Syekh Ibnu Utsaimin juga mengungkapkan, “Sesungguhnya pernah sampai kepada kami tentang keberanian seorang gadis ketika orang tuanya menolaknya untuk menikahkannya dengan lelaki yang sepadan dari sisi agama dan akhlaknya, lalu dia mendatangi seorang hakim dan menceritakan kondisinya dan hakim tersebut berkata kepada ayahnya, “Nikahkan dia atau aku yang akan menikahkannya atau orang lain selain anda yang akan menikahkannya, karena sesungguhnya hal tersebut hak bagi seorang gadis jika orang tuanya menolak menikahkannya (yaitu hendaknya dia melapor kepada hakim) dan hal ini merupakan hak yang dibenarkan oleh syari’at. Maka apabila ada para gadis menghadapi kasus yang sama dengan yang tersebut diatas hendaklah dia datang kepada kami dan kami akan memediasi perkaranya, akan tetapi kebanyakan para gadis memendam dan menyimpannya karena perasaan malu yang mendominasi mereka” (Dikutip dari Al Liqo As Syahri) 

Wallahu ta'ala a'lam

© 2021 - Www.SalamDakwah.Com